FPIB © All rights reserved
FPIB
  • Home
  • Artikel
  • Opini
  • Esai
  • Info
  • Berita
  • Ramadhan
  • About
Join Grup
FPIB
Join Grup

Artikel

Home / Artikel
23Apr

Menjadi Hina atau Mulia Pasca Ramadhan

23 April 2022 buutsfpib Ramadhan 47

Edisi Spesial Ramadhan Vol 11

Ramadhan berasal dari kata رَمَضَ yaitu panas yang sangat terik membakar. Jika ditambahkan alif dan nun di ujung katanya menjadi رَمَضَان  mengubah arti kata menjadi super latif atau shighah mubalagah yang berarti panas semakin terik hingga menghanguskan setiap benda di sekitarnya dan tidak menyisakan apapun bahkan debunya tidak tampak bekasnya. Bulan ini disebut dengan ramadhan karena menurut para ulama pada bulan ini Allah membakar dan menghapuskan dosa-dosa hamba-Nya. Pemaknaan ini disampaikan para ulama bukan berdasarkan kalimat biasa, tapi berdasarkan hadis Rasulullah Saw:

مَنْ صَامَ رَمَضَان إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ, وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosanya yang telah lalu, dan barangsiapa sholat di malam lailatul qodr diampuni dosanya yang telah lalu.”(HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu).

Maksud dari kalimat إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا yakni melakukan puasa karena Allah semata, وَاحْتِسَابًا seakar dengan kata muhasabah (haasaba-yuhaasibu-muhaasabtan) dan (ihtasaba-yahtasibu-ihtisaaban) yang mana keduanya berasal dari kata hisab. Yang artinya mengevaluasi dan menghitung. Setiap amalan yang dilakukan oleh anak Adam pasti akan digandakan dari sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Sebagaimana firman Allah:

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَثَرِهَا (الأنعام : 160)

“Barangsiapa mengerjakan satu kebaikan maka dia akan mendapatkan balasan sepuluh kali lipatnya”. (QS. Al-An’am : 160).

Allah memuliakan bulan Ramadhan dengan menurunkan ampunan, rahmat, hidayah, keutamaan-keutamaan yang tidak dijumpai selain pada bulan ini dan mengakhirinya dengan kemenangan pada bulan Syawwal. Syekh Abdul Aziz Syihawi menyatakan bahwa Baginda Nabi Muhammad Saw. sangat merindukan, mengenang dan mengistimewakan bulan Ramadhan. Kebiasaan Sang Baginda meningkat drastis di bulan Ramadhan dari bulan lainnya dengan memperbanyak ibadah dan menghidupkan malam-malamnya.

Kita Dalam Menyikapi Akhir Ramadhan

Menurut Zainudin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in, diantara amalan yang dapat kita kerjakan dalam menyikapi akhir bulan Ramadhan seperti memperbanyak sedekah (tidak hanya diberikan kepada manusia dan berbentuk materi saja, melainkan makhluk Allah lainnya seperti hewan dan tumbuhan), memenuhi kebutuhan keluarga, berbuat baik kepada sesama dan tetangga, memperbanyak membaca Al-Qur’an dan beriktikaf.

Adapun amalan lainnya yang bisa kita lakukan dalam menyikapi akhir ramadhan dan mempersiapkan diri menemui lailatul qadar seperti meruntinkan qiyamul lail dan shalat tahajjud. Menurut Al-Ustadz Adi Hidayat, Lc. M.A terdapat perbedaan antara qiyamul lail dan shalat tahajjud. Dimana qiyamul lail merupakan shalat yang dilakukan tanpa didahului tidur sebelumnya dan waktunya dari setelah isya hingga pertengahan malam. Sedangkan shalat tahajjud yang berasal dari kata هَجَدَ  yang artinya adalah tidur berbaring, kemudian ditambah ت menjadi تَهَجَدَ  yang adanya usaha untuk bangkit dari tidur, kemudian ditambah ّ menjadi تَهَجَّدَ dengan adanya keseriusan dan perjuangan untuk mewujudkan bangkit secara serius dari tidur. Dan diubah menjadi sifat yaitu تَهَجُّدْ yaitu sholat yang dikerjakan setelah tidur terlebih dahulu, dan umumnya dikerjakan pada pertengahan malam. Amalan lain yang dapat dikerjakan adalah mendirikan shalat tasbih, mengerjakan amalan-amalan sunah, dan membaca do’a akhir Ramadhan sebagaimana yang disebutkan dalam hadis riwayat Jabir bin Abdillah:

اللهُمَّ لَاتَجْعَلْ آخِرَ الْعَهْدِ مِنْ صِيَامِنَا إِيَّاهُ, فَإِنْ جَعَلْتَهُ فَاجْعَلْنِيْ مَرْحُوْمًا وَلَا تَجْعَلْنِيْ مَحْرُوْمًا.

“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan bulan Ramadhan ini sebagai bulan Ramadhan terakhir dalam hidupku. Jika Engkau menjadikannya sebagai Ramadhan terakhirku, maka jadikanlah aku sebagai orang yang Engkau sayangi”.

Betapa mulianya bulan Ramadhan dengan segala keutamaan yang terkandung di dalamnya. Sungguh disayangkan jika seorang muslim tidak memanfaatkan momen emas pada bulan suci Ramadhan dengan sebaik mungkin. Karena di dalamnya terdapat pahala yang berlipat dan kemuliaan yang tidak ada di bulan lainnya. Sedang kita tidak mengetahui apakah masih bisa menjumpai bulan ini di masa nanti atau justru kita yang mendahului. Maka hendaknya kita menikmati indahnya ibadah di bulan penuh berkah, berlomba-lomba dalam kebaikan sebagai bentuk ketaatan, bermuhasabah diri untuk menjadi lebih berarti dalam menggapai ridho Ilahi.

Jika orang yang buta tidak bisa melihat sinar matahari, begitupula orang yang buta mata hatinya tidak bisa melihat cahaya Ilahi. Jika cinta bisa membutakan seseorang akan segala hal, maka berbeda dengan kecintaan seorang hamba kepada Rabb-nya karena cinta itu tidak akan membuatnya buta akan segala hal. Justru apa yang ada dalam hati dan fikirannya akan terbuka, sehingga mampu untuk memilah haq dan bathil, membuka fikiran dan hatinya dengan Al-Qur’an, sunah dan iman, menyeru pada kebaikan dan ketaatan, tertanam dalam jiwanya Islam, iman dan ihsan. Bersih dari perilaku keji, kebencian dan kemungkaran, serta menjadikan Allah adalah alasan dalam setiap perbuatan.

Mengutip perkataan Dr. Ahmad Isa al-Mashry:

كيف أعرف هل قُبل عمل في رمضان أم لا؟ فعل الطاعة بعد الطاعة. مثلا : كان يغض بصره بصعوبة، أما الآن فيغض بصره بسهولة. كان في السابق يتثاقل عن القيام للصلاة، فأصبحت الصلاة عليه بعد رمضان سهلة.

Maknanya antara lain, diantara cara untuk kita mengetahui apakah ibadah yang kita lakukan ketika Ramadhan diterima atau tidak, bersungguh-sungguh karena Allah atau sebaliknya adalah kita bisa melihat bagaimana kerakter, kepribadian dan keseharian kita setelah Ramadhan, apakah menjadi lebih baik atau sebaliknya, apakah lebih hina atau mulia? Wallahu’alam. (Hanura Dewi Fadilah/ Mahasiswi Universitas Al-Azhar Jurusan Ushuluddin)

Read more
20Apr

Kumandang Senja Ramadhan Nadi Gamalia

20 April 2022 buutsfpib Ramadhan 58

Edisi Spesial Ramadhan Vol. 10

Sebagaimana surya yang selalu menemani hangatnya pagi, senjapun memiliki caranya sendiri untuk turut menghidupkan hari-hari di bulan yang suci ini. Kawan, izinkan aku bercerita tentang kumandang senja Ramadhan di Nadi Gamalia yang berhasil menghanyutkan ratusan kaum Adam dan Hawa.

Kembali mengingat hari itu, deretan meja beserta bangkunya memenuhi pekarangan Nadi Gamalia. Satu, dua, tiga hamba Allah berangsur-angsur memenuhi tempat sepetak itu.

Tak terhitung hitungan jam, pekarangan Nadi Gamalia yang sebelumnya kosong sudah dipenuhi dengan ratusan kaum muslimin. Perbincangan diantara orang-orang yang saling bertukar sapa pada hari itu, lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an pun turut menemani waktu, menunggu datangnya kumandang senja Ramadhan.

“Maidaturrahman”, begitu orang menyebut tempat itu. “Maidah” yang berarti meja makan dan “Al-Rahman” yang berarti Maha Pengasih. Diambil dari Al-Quran surat Al-Maidah ayat 114-115 dimana Allah Swt menurunkan “maidah” kepada Nabi Isa As, sebagai bukti kebenaran untuk seluruh umat manusia. Di sisi lain, kata “Al-Rahman” yang berarti Maha Pengasih penuh dengan ajakan dan nuansa untuk menebar kasih sayang antar sesama umat manusia. Menjadi  salah satu ciri khas utama bulan Ramadhan yang diadakan hampir secara merata di seluruh penjuru Mesir. Tenda-tenda “maidaturrahman” yang menghiasi sebagian besar jalan-jalan utama Mesir dapat terlihat sepanjang bulan Ramadhan.

Senja Ramadhan yang ditunggu pun berkumandang, datangnya diiringi dengan naungan “Rahman” sebagaimana artinya. Nyaring suara doa kaum muslimin menyambut waktu berbuka, mengakhiri “imsak” pada hari itu. Para petugas pun berbondong-bondong mempersiapkan “maidah” yang sebagai judul utamanya.

Terlihat sederhana, sekotak nasi beserta lauknya, ditemani dengan sunah 3 biji kurma, dan minuman seadanya. Namun, hal itu tak sebanding dengan kegembiraan, kehangatan, bahkan perasaan tawakkal, berserah, menikmati indahnya bulan suci, Ramadhan, yang terasa, hadir, menyelimuti dinginnya senja, menyambut malam di atas pekarangan Nadi Gamalia.

Kawan, andaikan bisa kubagikan luapan emosi sore itu, perasaan yang tak terbendung ini bisa saja memenuhi perasaan kita bersama, tak habis dibagikan layaknya “Al-Rahman” yang menjadi asas hadirnya kebersamaan ini.

Kucukupkan kisahku pada tanda titik sebelum paragraf ini. Lain hari, luangkan waktumu. Mari sejenak kita nikmati kumandang senja Ramadhan di Nadi Gamalia. Salam hangat dari kawanmu. (Almas Shopia/ Mahasiswi Universitas Al-Azhar Jurusan Psikologi)

Read more
18Apr

Banyak Salah Paham, Begini Cara Masuk Universitas Al-Azhar!

18 April 2022 buutsfpib Info 90

Ada banyak kesalahpahaman mengenai cara mendapatkan beasiswa Universitas Al-Azhar di kalangan pelajar Indonesia yang dibahas oleh Muhammad Aulia Rozaq dalam kegiatan Webinar Tips dan Trik Lolos Seleksi Beasiswa Jalur Kedubes.

“Begini teman-teman, beasiswa Al-Azhar itu tidak terbatas pada universitas saja, mulai dari jenjang ‘idadi (SMP), tsanawy (SMA) hingga perguruan tinggi semuanya di bawah beasiswa Al-Azhar. Jika teman-teman memang ingin masuk universitas secara langsung, maka teman-teman harus punya ijazah muadalah atau ijazah yang disetarakan dengan Mahad Azhar. Kebanyakan dari pelajar Indonesia salah paham, bahwa kalau ingin ke universitas tinggal masuk saja, padahal tidak demikian,” terang pemateri pada (17/04/2022) melalui platform zoom meeting waktu Kairo-Indonesia.

Banyak pelajar yang baru mengetahui mengenai kebijakan tersebut, sehingga webinar yang diselenggarakan oleh KPBA (Komite Pemberkasan Beasiswa Al-Azhar) memberikan banyak informasi yang dibutuhkan oleh para pelajar yang ingin melanjutkan pendidikan di Negeri Kinanah.

“Sebetulnya cukup kaget, ternyata kalau tidak memiliki ijazah muadalah, maka akan sulit masuk universitas dan harus ke mahad azhar terlebih dahulu. Setidaknya ini memberikan gambaran ke depannya. Saya harus bagaimana, mulai dari mempersiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan dan saya akan belajar di mana saat di Mesir,” ungkap Bagia salah satu peserta yang mengikuti webinar.

Webinar ditutup dengan sesi diskusi dan kata penutup yang disampaikan oleh pemateri dengan harapan ke depannya para peserta webinar mendapatkan edukasi yang baik mengenai beasiswa Al-Azhar secara umum dan beasiswa kedubes secara khusus. []

Read more
18Apr

Ada Apa di Malam Nuzulul Qur’an?

18 April 2022 buutsfpib Ramadhan 58

Edisi Spesial Ramadhan: Milad Al Azhar ke-1082 Vol. 09

Nuzulul_Qur’an merupakan sebuah persitiwa yang bersejarah bagi umat Islam. Tentu kita sebagai seorang muslim sering memperingati persitiwa tersebut dengan berbagai macam kegiatan, seperti; membaca Al-qur’an, Shalawatan, qasidahan, pengajian, pentas seni, tasyakuran dan lain-lain. Hal ini merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap malam tersebut dengan esensi memperingati suatu hal yang menakjubkan dan sulit diterima akal pada zaman itu, serta mengajarkan kepada anak cucu kita betapa agungnya kitab suci yang selalu kita baca setiap saat yaitu Al-Quran. Juga, agar mereka lebih mengerti tentang sejarah umat Islam terkhusus pada malam Nuzulul Qur’an.

Adapun secara makna, Nuzulul Qur’an terdiri dari kata nuzul dan Al-qur’an yang berbentuk idhafah. Penggunaan kata nuzul dalam istilah nuzulul Qur’an (turunnya Al-Quran) tidaklah dapat kita pahami maknanya secara harfiah, yaitu menurunkan sesuatu dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, sebab Al-Quran tidaklah berbentuk fisik atau materi, tetapi pengertian nuzulul qur’an yang dimaksud adalah pengertian majazy, yaitu penyampaian informasi langit (wahyu) kepada Nabi Muhammad Saw. dari alam gaib ke alam nyata melalui perantara malakikat Jibril As.

Jika dilihat dari sisi sejarahnya, Nuzulul Qur’an adalah fenomena langka yang dialami oleh baginda Rasulullah Saw. ketika awal perjalanan beliau menjadi seorang nabi dan rasul. Tentu sering sekali kita mendengar cerita tentang turunnya wahyu bukan? Yang di mana ketika Muhammad Saw. berumur 40 tahun dan keadaan kota Makkah saat itu mulai terkontaminasi kemaksiatan dan kebiasaan-kebiasaan jahiliyyah yang sangat melenceng dari millah nabi Ibrahim As. sehingga membuat Nabi Saw. merasa resah dan risau akan moral penduduk di sekitarnya. Maka, saat masa kekosongan nabi inilah (fatrah) Nabi Saw. mulai merenungi keagungan Tuhan yang telah menciptakan segala apa yang ada di langit dan di bumi, serta bertafakkur tentang segala moralitas dan kelakuan umat akhir zaman ini.

Nabi Saw. mulai menyendiri atau uzlah atau khalwat di gua Hira’ yang terletak di barat daya kota Makkah. Beliau terus bertafakkur, berteman dengan sunyi, mentadabburi ciptaan-Nya agar hati terus terhubung dengan Sang Illahi. Berhari-hari, bahkan Nabi Saw. membersihkan hati dan nurani di sana, hingga sang istri; sayyidah Khadijah hampir setiap hari membawakan bekal untuk suami tercinta. Meski pada akhirnya, tidak jarang pula beliau membagikan bekal makanannya kepada orang-orang di sekitar area tersebut.

Di suatu malam ketika Nabi Saw. bermunajat dan bertafakkur, muncullah suara dari langit yang dimana suara itu berasal dari pancaran cahaya putih terang bersinar di atas sebuah kursi singgahsana yang seketika membuat beliau bergetar dengan tetap menatap ke atas langit. Yang tak lain cahaya tersebut adalah malaikat Jibril As. yang diutus Allah Saw. untuk menyampaikan sebuah wahyu suci kepada Muhammad Saw.

Jibril pun berkata, “Bacalah…”

Nabi menjawab, “Aku tidak bisa membaca”,

Dialog tersebut terus berulang sampai turunlah surah Al-Alaq ayat 1 – 5, malaikat Jibril membacakan dan Muhammad Saw. mengikuti apa yang disampaikan.

Bergetarlah tubuh nabi dengan penuh keringat serta ketakutan, kemudian pulanglah beliau ke rumahnya dan menyuruh Khadijah ra. untuk menyelimutinya seraya berkata, “Selimuti aku, selimuti aku.”

Nabi Saw. berfikir bahwa akan ada malapetaka bagi dirinya, lalu Khadijah pun menenangkannya seraya mengakatan, “Sekali-kali tidak, Allah Saw. tidak akan pernah menghinakanmu selamanya.”

 Keesokan harinya, datanglah Waraqah bin Nauval bin Asad bin Abdul Uzza menemui Nabi Saw. dan memintanya untuk menceritakan apa saja yang dilihat. Sungguh suatu kejadian yang mulia, adalah benar bahwa yang datang itu adalah Jibril yang diutus Allah Swt. kepada setiap nabi-Nya seperti halnya Musa dan Isa.

Dari sinilah titik awal bermulanya ajaran Islam muncul dengan sesuci-suci kitab dan seagung-agung manusia. Di malam itulah diturunkan Al-Qur’an tepat pada 17 Ramadhan dan bertepatan pada malam Lailatul Qadar atau malam seribu bulan dimana pada malam itu, ribuan malaikat turun ke bumi memburu untuk manyampaikan doa orang-orang shalih yang bermunajat dan melontarkan doa ke langit. Maka, di dalam nuzulul qur’an terdapat banyak pelajaran yang dapat kita jadikan ibrah untuk direnungkan dan sirah untuk diambil hikmahnya, terutama di bulan yang suci yaitu bulan Ramadhan Mubarak (Fajar Ilman Nafi’/ Mahasiswa Universitas Al Azhar Jurusan Bahasa Arab)

Read more
16Apr

Lampu Fanus, Budaya Ramadhan di Mesir

16 April 2022 buutsfpib Ramadhan 56

Edisi Spesial Ramadhan: Milad Al Azhar ke-1082 Vol. 08

Ramadhan tiba… Ramadhan tiba…

Marhaban yaa Ramadhan….

Segala macam gorengan tertata rapi di atas meja. Iklan sirup sesekali lewat di selingan acara tv saat sahur. Anak kecil sampai lansia bersemangat meramaikan masjid. Jadwal reuni berkedok buka puasa mulai meramaikan grup whatsapp. Jalan raya semakin ramai dan macet menjelang adzan maghrib oleh pedagang kaki lima. Bagaimana? Rindu tanah air? Membayangkan keluarga besar berkumpul mengelilingi meja makan? Keliling kota dan berbagi nasi kotak di pagi buta bersama teman dan rekan kerja?

Banyak cara untuk merayakan rasa syukur. Banyak pilihan untuk mengekspresikan cinta dan bahagia. Lampu hias menggantung berjejer di pinggiran jalan. Menghiasi malam-malam kota Kairo. Menambah suka cita warga Kairo merayakan datangnya bulan Ramadhan.

Jauh sebelum hilal terlihat, banyak pedagang yang mendirikan terop dan menata rapi lampu-lampu hias. Warnanya keemasan dengan beberapa hiasan menambah cantik dan menarik perhatian pembeli yang melewatinya. Lampu hias ini dikenal dengan bahasa arabnya, faanus dan fawanis dalam bentuk jama’nya.

Dari yang ukurannya kecil sampai besar, harganya pun beragam. Fanus selalu menjadi ciri khas warga Mesir khususnya Kairo dalam menyambut bulan Ramadhan. Seperti tamu istimewa yang langka untuk ditemui karena hanya datang sekali dalam setahun. Menjadi wujud perayaan mereka turut berbahagia dengan berkahnya Ramadhan.

Berawal pada 5 Ramadhan 362 H, ketika Mu’iz Lidiinillah Al-Fathimiy berhasil memasuki kota Kairo. Malam itu, banyak warga Mesir keluar dari rumah mereka dan menerima kedatangannya. Di antaranya ikut serta juga wanita dan anak-anak. Mereka membawa lampu-lampu fanus di tangannya untuk menerangi sekitar dan menyambut kedatangan Mu’iz. Lalu, mereka membiarkan menaruh fanus-fanus tersebut di pinggiran jalan dan bergantungan di pekarangan rumah-rumah selama satu bulan penuh Ramadhan. Sejak saat itulah, fanus menjadi adat Mesir dalam menyambut bulan suci Ramadhan.

Ada yang mengatakan, bahwa dulu, khalifah Mu’iz melarang perempuan Mesir agar tidak keluar rumah di malam hari kecuali di bulan Ramadhan. Dikarenakan Mu’iz memberi izin dan kesempatan bagi mereka untuk mengikuti shalat atau ziarah, juga turut merasa bahagia dengan bulan yang mulia. Dengan syarat, ada anak lelaki atau laki-laki dewasa yang membersamainya dengan membawa fanus untuk menerangi jalan dan sebagai tanda bagi pejalan kaki yang lewat agar memberi jarak kepada perempuan yang jalan melewatinya lantas menjaga pandangan mereka.

Beredar juga rumor lain tentang bagaimana warga Mesir yang menaruh perhatian lebih terhadap perayaan hari-hari besar mereka. Khususnya dengan bulan Ramadhan. Mereka mengadakan gotong royong untuk membersihkan kota dan jalanannya, rumah-rumah, mengecat ulang dinding-dinding agar terlihat baru. Para pedagang sibuk menata kembali dan membereskan toko dan barang dagangannya. Serta menghiasinya dengan fanus yang menerangi dan mempercantik toko, masjid, jalan raya, kantor dan beberapa market besar.

Tidak ada yang bisa memastikan bagaimana asal mula fanus ini menjadi adat dan budaya Mesir. Karena ini sudah menjadi hal turun temurun dari beberapa generasi dulunya. Yang awalnya hanya berfungsi sebagai sumber cahaya seperti lampu teplok di negara kita, Indonesia, obor, lilin, dsb.

Terlepas dari itu semua, fanus menjadi simbol bahagia dan syukur mereka atas keberkahan bulan suci Ramadhan. Sebagaimana Rasulullah SAW berbahagia menyambut Ramadhan, maka fanus menjadi salah satu cara warga Mesir untuk mengutarakan kebahagiaan mereka. (Wanda Muflihah/ Mahasiswi Al Azhar Jurusan Ushuluddin)

Referensi:

www.cairo.gov.eg

https://gate.ahram.org.eg

https://www.almasryalyoum.com/news/details/2314682

Read more
14Apr

Menilik Hubungan Universitas Al-Azhar Mesir dengan Indonesia

14 April 2022 buutsfpib Artikel 69
Kisah Para Ulama Menghormati Kepakaran Satu Sama Lain – Basis 13

(Edisi Spesial Ramadhan: Milad Al-Azhar ke-1082 Vol. 07)

Tahukah kamu bahwa Al-Azhar menyebarkan risalah perdamaian ke penjuru dunia? Pada tahun 2018 Grand Syekh memberikan perhatian yang sangat besar bagi Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar. Grand Syekh Al-Azhar, Ahmad Al-Thayyib melakukan pertemuan dengan alumninya di seluruh dunia demi menyambung tali antara Al-Azhar dengan alumni-alumninya yang tersebar penjuru dunia.

Al-Azhar juga mengadakan pelatihan imamah dan dai bagi pelajar luar negeri agar menjadi utusan Al-Azhar di negaranya, serta menyambung komunikasi antaralumni yang sudah ada dengan mengadakain festival budaya dan olahraga.

Dikutip dalam Al-Ahram, Muhyiyuddin Afify, Sekretaris Umum Majma’ Al-Buhust Al-Islamiyyah (Akademi Riset Islam), mengatakan bahwa Grand Syekh Al-Azhar, Ahmad Al-Thayyib melakukan tour ke Asia dengan mengunjungi negara-negara Islam seperti, Indonesia, Singapura dan Brunei untuk menyebarkan dan menekankan nilai-nilai kemanusian dan kemoderetan Islam.

Melihat 2 tahun sebelumnya, pada tahun 2016 Grand Syekh Al-Azhar, Ahmad Al-Thayyib sudah mengunjungi Indonesia beserta rombongan Majlis Hukama Al-Muslimin. Kunjungan ini untuk mempererat hubungan antara masyarakat muslim Indonesia dengan Al-Azhar. Beliau memberikan kuliah umum dengan para alumninya di Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Grand Syekh juga menerima penganugrahan gelar doktor kehormatan dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, serta mengadakan pertemuan dengan keluarga besar Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, sekaligus pembukaan perayaan 90 tahun Pondok Gontor.

Dilansir dalam Website Sekretariat Kabinet RI, pada 30 April 2018 Presiden Indonesia, Jokowi menerima kunjungan Grand Syekh Al-Azhar, Ahmad Al-Thayyib di pintu Istana Merdeka, Jakarta. Kedatangan beliau merupakan  undangan langsung dari Presiden Jokowi.

Masih di Istana Merdeka, Grand Syekh bertemu dengan Anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan ketuanya, Megawati Soekarnoputri. Menurut Detik News dalam pertemuan ini, Grand Syekh memuji ideologi Pancasila, beliau berharap BPIP diadopsi di negara lain yang mengalami konflik akibat masalah ideologi. Karena Pancasila seperti Universitas Al-Azhar yang juga mengemban misi perdamain dunia yang mengembangkan sikap saling menghormati sesama umat manusia tanpa membedakan latar belakang SARA.

Sebenarnya kedatangan Grand Syekh Al-Azhar, Ahmad Al-Thayyib ke Indonesia untuk menghadiri KTT Ulama dan Cedikiawan Muslim Dunia atau High Level Consultation (HLC) of World Muslim Scholars on Wasatiyat Islam.

Acara yang digelar awal Mei 2018 di Bogor, Jawa Barat ini dihadiri 100 ulama dan tokoh-tokoh dari dalam dan luar negeri. Dalam acara ini Grand Syekh Al-Azhar mengatakan bahwa wasatiyah Al-Azhar Al-Syarif berdasarkan pada wasathiyah Islam yang mengimbau masyarakat akan bahaya pemikiran sempit yang menyeleweng dan mengatasnamakan agama dalam tindakannya yang bertentangan.

Perlu diketahui alumni Al-Azhar mencapai 30 ribu tersebar di Indonesia, dengan jumlah yang sangat besar ini Grand Syekh menginginkan komunikasi dengan alumni Al-Azhar di Indonesia. Selama kunjungan ini Grand Syekh juga menghadiri reuni alumni Universitas Al-Azhar di Solo, acara ini juga dihadiri oleh tokoh Indonesia, antara lain Menteri Agama Saat itu, Lukman Hakim Saifuddin, Muhammad Quraish Shihab, dan Gubenur NTB, Muhammad Zainul Majdi alias Tuan Guru Bajang (TGB) selaku Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA).

Selain mengikuti KTT, Grand Syekh juga mengisi kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Surakarta dan Pondok Modern Darussalam Gontor Putri. Seperti apa yang dilasir NU Online, Grand Syekh juga membahas tentang Islam Moderat dan Islam Nusantara di PBNU.

Dalam Majalah Tazakka Edisi Khusus Kunjungan Syekh Al-Azhar ke Indonesia, sebenarnya sebelum dua kunjungan Grand Syekh Ahmad Al-Thayyib pada tahun 2016 dan 2018, kunjungan ke Indonesia sudah dilakukan oleh Para Syekh Al-Azhar sebelumnya, seperti, Syekh Mahmud Syaltut (1960), Syekh Abdul Halim Mahmud (1976), Syekh Jadul Haq Ali Jadul Haq (1995 M), Syekh Muhammad Sayyid Al-Thanthawi (2006). Dari kunjungan-kunjungan ini terbukti bahwa selama bertahun-tahun mempunyai hubungan yang sangat baik dengan Indonesia.

Selain Universitas Al-Azhar sendiri, Mesir sudah memiliki ikatan emosional dengan bangsa Indonesia sejak dahulu. Pada 22 Maret 1946, Mesir menjadi negara yang yang mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia pertama kalinya. Karena Indonesia dan Mesir memiliki banyak kesamaan, Indonesia termasuk negara yang banyak menganut Islam, sehingga Mesir bersama Liga Arab mendukung kemerdekaan Indonesia dengan ikatan saudara sesama muslim. Indonesia dan Mesir juga memiliki banyak kesamaan ideologi, terbukti dengan kedua negara ini menjadi negara anggota GNB (Gerakan No Blok) dan peserta dai KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) Asia-Afrika.

Hubungan Indonesia dengan Al-azhar sudah dari zaman dahulu bahkan sebelum Indonesia merdeka, banyaknya pelajar Indonesia inilah yang membuat hubungan Indonesia, Mesir, dan Al-Azhar semakin kuat. Sebagai bukti banyaknya ulama-ulama Indonesia lulusan Al-Azhar dan adanya Ruwaq Jawi yang dikhususkan bagi masyarakat Nusantara di Masjid Al-Azhar.

Sampai sekarang setiap tahunnya ribuan pelajar Indonesia selalu datang ke Universitas Al-Azhar untuk menuntut ilmu, bukan hanya pelajar tingkat strata satu, mamun juga tingkat magister hingga pelatihan khusus imamah dan dai.

Risalah perdamaian Al-Azhar untuk penjuru dunia sangatlah penting di saat menyebarnya paham keras menyeleweng seperti radikalisasi dan takfirisasi dengan banyaknya umat yang saling mengkafirkan satu sama lain untuk membuat perpecahan. Mengkafir-kafirkan orang lain merupakan kebodohan terhadap memahami ruh dan substansi agama.

Islam adalah agama perdamaian yang disebarkan dengan kasih sayang dan menjalin hubungan baik dengan orang lain. Untuk itu hubungan baik Indonesia dan Al-Azhar merupakan secuil contoh risalah perdamaian, sebuah kebaikan yang harus tetap kita jaga dan lestarikan di mana saja. Untuk itu kita sebagai pelajar di Universitas maupun sudah alumni harus tetap menjaga hubungan baik ini dengan belajar lebih giat, berprestasi, serta selalu bertanggung jawab dengan seluruh kepercayaan Al-Azhar dalam memudahkan mahasiswa Indonesia belajar di Universitas Al-Azhar. (Wi Farma/Mahasiswa Jurusan Peradaban di Universitas Al-Azhar)

Referensi:

شيماء عبد الهادي، جولة الإمام الأكبر الآسيوية تؤكد عالمية الأزهر ودوره في ترسيخ دعائم السلام، تم إصدار في بوابة الأهرام 2 من مايو 2018.

Humas Sekretariat Kabinet RI, Terima Syekh Al-Azhar, Presiden Jokowi Bahas Kerja Sama Syiarkan Wasathiyah. www.setkab.go.id, dipublikasikan pada 30 April 2018.

Humas Sekretariat Kabinet RI, Terima Grand Syekh Al-Azhar, Ketua Dewan Pengarah BPIP Mengaku Bicara Soal Islam Moderat. www.setkab.go.id, dipublikasikan pada 3 Mei 2018.

Andhika Prasetia, Imam Temui Mega ddk, Puji Ideologi Pancasila. www.news.detik.com, dipublikasikan pada 3 Mei 2018.

Budi Ardi Isnanto, Grand Syekh, TGB, Menag Hadiri Reuni Alumni Al-Azhar Indonesia. www.news.detik.com, dipublikasikan pada 1 Mei 2018.

Fathoni, Poin Utama Grand Syekh Al-Azhar dengan PBNU. www.nu.or.id, dipubliksikan pada 3 Mei 2018.

مجلة تزكى، العدد الخاض زيارة الشيخ الأزهر لإندونيسيا عام 2018م.

Kementrian Luar Negeri RI, Sejarah Hubungan Indonesia Mesir, www.kemenlu.go.id

Read more
12Apr

Observatorium; Implementasi Kemodernan Al Azhar Dalam Misi Perdamaian

12 April 2022 buutsfpib Opini 65

(Edisi Spesial Ramadhan: Milad Al-Azhar ke-1082 Vol. 06)

Akhir-akhir ini dunia digemparkan dengan publikasi media terkait invasi Rusia terhadap Ukraina. Yang bahkan diperkirakan bisa mendorong terjadinya perang dunia ke-3. Ini bukan kali pertama dunia dihadapkan dengan permasalahan yang demikian. Problematika perdamaian seakan tak pernah usai.

Hal ini relavan dengan data yang ada. Menurut Global Index Peace 2020 tingkat rata-rata kedamaian negara global telah memburuk dengan 0,07%, ini merupakan penurunan kesembilan dalam 13 tahun terakhir. Tedapat 73 Negara yang mengalami penurunan perdamaian. Penurunan didorong oleh perubahan yang terjadi dalam: militerisasi, pengeluaran militer, serta keselamatan dan keamanan.

Tidak hanya itu, pergerakan-pergerakan yang bersifat radikalis serta ekstrimis masih sering kali pula terdeteksi. Pergerakannya memiliki kontinuitas yang bisa dikatakan stabil, baik secara terang-terangan ataupun sebaliknya. Paham-paham mereka mulai tersebar luas di masyarakat baik melalui media, seperti situs web, surat kabar, ataupun acara televisi. Bahkan mereka tidak segan untuk merambah ranah pendidikan, baik menyusup dalam kurikulum sekolah atau dari seorang oknum radikalis yang menyamar menjadi kontributor dalam dunia pendidikan. Ancaman teror pun juga gencar mereka gaungkan. Serangan di berbagai daerah tidak dapat dihindari. Korban-korban berjatuhan, serta kerugian menyeluruh dalam segala aspek.

Hal-hal semacam ini tidak bisa dianggap angin lalu begitu saja. Satu-persatu lembaga mulai menaruh perhatiannya pada masalah ini. Berbagai upaya di usahakan demi mencapai perdamaian dunia.

Begitupula yang dilakukan oleh Al-Azhar, sebuah lembaga yang eksistensinya tidak lekang oleh zaman. Berdiri lebih dari 1080 tahun yang lalu menjadikan usianya sudah lebih dari dewasa. Kiprahnya terhadap dunia sudah tidak diragukan lagi. Wujud-wujud kontribusi nyata baik dalam bidang pendidikan atau apapun itu semua berjalan selaras dengan kearifannya sebagai kiblat ilmu.

Dengan diresmikannya Observatorium Al-Azhar pada 3 Juni 2015 silam, menjadi salah satu pilar modernitas Al-Azhar dalam kontribusinya terhadap perdamaian dunia khususnya dalam penanganan radikalisme dan ekstrimisme. Dilansir dari laman al-ain.com, dalam acara peresmiannya Grand Syekh Al-Azhar, Ahmad Thayeb, menyampaikan tujuan didirikan observatorium tersebut bahwa Al-Azhar ingin mengadopsi visi modern baru serta ingin mendorong kader-kader muda yang mampu merespon budaya dan peradaban yang berbeda. Orang-orang yang bertanggung jawab atas pekerjaan ini dipilih dari mereka yang fasih berbahasa asing, peneliti di bidang ilmu forensik, dan mampu memahami permasalahan dari perspektif Islam. Sehingga mampu membedakan yang buruk dari yang baik dalam pondasi sesuai pilar-pilar yang ada dalam agama yang murni ini.

Beliau juga menyampaikan bahwa ide pendirian observatorium ini sebagai mata Al-Azhar untuk melihat apa yang terjadi di dunia serta untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang datang mengenai pendapat Al-Azhar terhadap isu-isu kontemporer dan perkembangan yang terjadi di berbagai tempat khususnya dalam Islam dan Muslim.

Sejak didirikannya, observatorium sendiri telah menerima lebih dari 200 kunjungan pejabat tinggi, kepala negara, menteri, delegasi lokal maupun asing, dan juga peneliti yang peduli dengan bidang ekstrimisme dan terorisme dari berbagai negara di dunia. Selain itu observatorium juga telah mengeluarkan lebih dari 25.000 laporan berkala baik harian, mingguan, dan bulanan. 2.100 diantaranya di laman media sosial dan 2.350 di portal elektronik Al-Azhar. Sedangkan jumlah publikasi dalam bahasa asing mencapai sekitar 3.300 berupa media cetak dan 2.625 diunggah melalui portal elektronik sebagaimana dilansir dari alwafd.news.

Mekanisme kerja dalam observatorium ini terbagi menjadi 13 unit yang bekerja dalam bahasa Arab dan asing. Diantara tugas para peneliti adalah mengoreksi kesalahpahaman, menghilangkan kecurigaan yang disebarkan oleh kelompok teroris, serta menghadapi fenomena “Islamophobia”. Pusat penelitian ini sendiri bekerja dalam 12 bahasa yang mana dari setiap unit mengeluarkan artikel, tindak lanjut, berita, ataupun pesan kesadaran untuk dipublikasikan dalam bahasa masing-masing. Bahasa-bahasa tersebut adalah Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol, Urdu, Persia, Swahili, Cina, Italia, Ibrani, dan tentunya yang terakhir adalah bahasa Arab.

Perlu menjadi catatan bahwa Observatorium Al-Azhar juga turut berpartisipasi dalam Pameran Buku Internasional Kairo ke-53 dengan sejumlah publikasi yang dicetak dalam bahasa Arab dan asing, Mengutip gate.ahram.org.eg buku-buku yang diterbitkan tersebut diantaranya: “Pelanggaran Terhadap Rakyat dan Kesucian Palestina”, “Realitas Jihad dalam Islam, Ekstrimisme, dan Ciri-ciri Kepribadian Ekstrimis”, “Kilasan Terang Sejarah Islam di Cina”, “Bangkitnya Islamofobia di Eropa”, “Dokumen Persaudaraan Kemanusiaan”, dan “Ujaran Kebencian di Media Global”.

Berbanding lurus dengan misinya untuk menegakkan wasatiyatul ummah Al-Azhar mengambil jalan tengah terbaik yang dapat kita lihat secara gamblang. Contohnya saja dalam menghadapi hal-hal yang berkaitan dengan intelektual atau hukum, Al-Azhar khususnya obeservatorium berusaha menjawab dengan proporsi yang tepat agar dapat dipahami berbagai kalangan. Tidak hanya intelektual, namun juga umat non-muslim dan masyarakat awam. Pemaparan tersebut tidak hanya berhenti dalam pemaparan ayat-ayat Al-Qur’an, hadis nabi, ataupun narasi-narasi keagamaan lainnya, namun juga memaparkan bagaimana cara memahaminya dengan baik, menghadapinya, juga memproyeksikan dalam kejadian nyata sehari-hari. Termasuk dalam realitas perubahan dan lingkungan serta budaya yang berbeda-beda. Hal-hal tersebut yang menjadi cermin kemoderatan Al-Azhar sendiri dengan pembaharuan yang logis dan seimbang memberikan kita kejelasan tujuan dalam gaya yang lebih sederhana serta lebih mudah diterima oleh khalayak. Seperti tujuan didirikannya, observatorium hadir tidak hanya ditujukan kepada orang Islam, tetapi untuk manusia seluruhnya dari berbagai daerah dan budaya yang berbeda. Oleh karena itu, dirasa sangat perlu merangkum segala sesuatunya dalam diksi yang lebih sederhana dengan tetap berlandaskan ilmu syariah dan akal yang seimbang.

Berangkat dari kontirbusi dan upaya Al-Azhar di atas, sudah cukup menjadi bukti akan kemoderatan Al-Azhar tanpa mengecilkan nilai-nilai keagamaan. Melainkan sebaliknya, justru nilai-nilai keagamaan inilah yang melandasi Al-Azhar dalam segala misinya. Dari sini pula kita bisa melihat bahwa bukan hanya dunia yang memandang Al-Azhar. Tetapi juga Al-Azhar memandang dunia. Perhatian Al-Azhar begitu besar dalam segala aspek kehidupan manusia. Kasih Al-Azhar kepada dunia abadi sepanjang masa. (Atina Husna/ Mahasiswi Universitas Al-Azhar Jurusan Psikologi)

Read more
10Apr

Peran Al Azhar dalam Menjaga Perdamaian

10 April 2022 buutsfpib Artikel 67

(Edisi Spesial Ramadhan: Milad Al-Azhar ke-1082 Vol. 05)

Budaya perdamaian merupakan pilar peradaban yang harus senantiasa dijaga dari masa ke masa. Lenyapnya perdamaian menandakan lenyapnya rahmat di atas muka bumi, dan hilangnya rahmat menandakan bahwa umat Islam sedang kehilangan kendali akan substansi ajaran Islam itu sendiri. Mengapa demikian? Karena Nabi Muhammad SAW diutus untuk membawa rahmat bagi alam semesta. Bahkan, Islam tidak hanya melarang aksi terorisme dan kekerasan, sekedar menukut-nakuti yang dilakukan untuk bergurau dan bercanda pun dilarang.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ أَشَارَ إِلَى أَخِيْهِ بِحَدِيْدَةٍ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَلْعَنُهُ حَتَّى يَدَعَهُ وَإِنْ كَانَ أَخَاهُ لِأَبِيْهِ وَأُمِّهِ (رواه مسلم)

“Barang siapa yang mengacungkan besi kepada saudaranya, sesungguhnya malaikat melaknatnya hingga ia meninggalkannya,meskipun itu kepada saudara seayah dan seibunya” (H.R. Muslim) [1].

Dalam hadits lain disebutkan:

لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا (رواه أبو داود)

“Tidak dihalalkan bagi seorang muslim untuk menakut-nakuti muslim lainnya” (H.R. Abu Daud) [2].

Al-Azhar sebagai benteng keilmuan dan mercusuar peradaban yang telah mengawal umat dari masa ke masa tentu memiliki beban moral untuk mengambil sikap dan tindakan yang mampu memadamkan kobaran kebencian dan permusuhan di Barat dan Timur. Harus diakui bahwa saat ini kita sedang berada dalam situasi yang banyak mengorbankan umat Islam. Hal ini dikarenakan hilangnya pandangan maqashid yang tentu saja menggelisahkan dunia ijtihad. Di samping itu, krisis ini juga disebabkan munculnya fatwa impor dalam bentuk kemasan lintas negara tanpa memperhatikan kondisi masyarakat yang memiliki perbedaan adat-istiadat, budaya, dan bahasa.

Dengan demikian, Al-Azhar telah menyiapkan kader-kader yang kredibel dengan membentuk para imam di luar negeri dengan memberikan penyuluhan kepada mereka tentang permasalahan yang bersinggungan dengan kebutuhan kaum muslim dalam berbagai bidang. Mereka juga telah diberikan pelatihan melalui seminar-seminar yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Al-Azhar Internasional di Kairo, yaitu sebanyak 538 imam dari Afghanistan, Pakistan, Kurdistan, Iraq, Cina, Indonesia, Inggris, Yaman, juga negara-negara Afrika dan Amerika Selatan [3].

Teror yang dalam banyak kesempatan menggunakan topeng agama serta datangnya dukungan dari politik-politik gelap internasional dengan jumlah uang yang berlimpah, telah mendorong Dewan Cendekiawan Muslim untuk bekerja sama dengan Al-Azhar dengan mengirimkan delegasi perdamaian ke berbagai negara dunia [4]. Hal ini bertujuan untuk mengenali kondisi kaum muslimin di negara-negara tersebut dan menyebarkan Fikih Perdamaian di antara mereka, serta berkontribusi dalam menjaga mereka dari teror yang sama sekali tidak mempedulikan perlindungan, dan kasih sayang.

Misi menghidupkan Fikih Perdamaian telah menjadi pintu pertolongan untuk menyelamatkan umat manusia secara umum, dan umat islam pada khususnya dari bahaya teror dan bencana ekstrimisme bersenjata.

Ketetapan hakikat secara teoritis yang bersumber dari berbagai referensi dalam akidah Ahlussunnah wal Jama’ah, merupakan metode yang dianut Al-Azhar dalam penyelenggaraan pendidikan dan pembentukan pengajaran di institut yang berusia tua ini. Lembaga ini diwarnai dengan corak pemikiran yang seimbang, serta perpaduan intelektualitas yang komprehensif guna mewujudkan persatuan umat islam selama mereka bersatu menghadap satu kiblat.

Prof. Dr. Ahmad At-Thayyeb selaku Syaikhul Azhar senantiasa memperhatikan kurikulum diktat fakultas-fakultas di Universitas Al-Azhar, agar para mahasiswa terbiasa berinteraksi dengan berbagai teks para imam dari berbagai madrasah pemikiran dan aliran ijtihad [5]. Oleh karena itu, spirit moderatisme telah tertanam teguh dalam diri mereka guna membendung kecenderungan fanatisme, ekstrimisme, dan sempitnya pandangan yang dapat menggerogoti tubuh umat.

Hal ini berdasarkan peringatan Rasulullah SAW melalui sabdanya:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِيْ الدِّيْنِ ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الْغُلُوَّ فِيْ الدِّيْنِ (رواه ابن ماجه)

“Wahai Manusia! Jauhilah sikap berlebih-lebihan (ekstrem) dalam beragama, karena kaum sebelum kalian telah musnah disebabkan sikap berlebih-lebihan dalam beragama” (HR. Ibnu Majah) [6].

Pemahaman terhadap upaya-upaya yang dilakukan Al-Azhar dalam membangun hubungan kemanusiaan, tidak akan terwujud dalam bentuk yang benar kecuali jika ia telah berdamai dengan dirinya sendiri dan dengan Allah SWT. Jika rasa damai ini telah sempurna, maka ia akan berpengaruh positif terhadap hubungannya dengan yang lain. Dengan kata lain, jika hati dan iman telah menyatu, maka buahnya adalah adanya interaksi yang baik dengan orang lain, karena Islam meminta pemeluknya agar mampu beradaptasi dengan baik [7].

Kehidupan yang harmonis dapat terwujud dengan cara memberikan pendidikan hati dan nilai-nilai agama. Bersatunya iman dan kasih sayang dalam diri seseorang, akan membentuk pribadi-pribadi tangguh yang menjadikan masyarakat seperti bangunan kokoh yang saling nenguatkan satu sama lain. (Fatias Risantara Akbar/ Mahasiswa Universitas Al-Azhar Jurusan Syariah Islamiyah)

[1] H.R. Muslim, No: 2616.

[2] H.R. Abu Daud No. 5004 dari sekelompok sahabat Nabi Saw., Al-Munawi berkata dalam “Al-Taysir bin Syarh Al-Jami’ As-Shaghir”: 2/504: “Sanadnya Hasan”.

[3] Pidato Grand Syaikh tentang Toleransi dan Peradaban, jilid 1, hal. 13.

[4] Ibid, hal. 89.

[5] Ibid, hal.19.

[6] H.R. Ibnu Majah, No: 3029.

[7] Prof. Dr. Mahmud Hamdi Zaqzuq, Manusia dan Norma dalam Perspektif Islam, hal. 62.

Read more
08Apr

Sejak Kapan Al Azhar Menjadi Kiblat Keilmuan Islam?

8 April 2022 buutsfpib Artikel 66

(Edisi Spesial Ramadhan: Milad Al-Azhar ke-1082 Vol. 04)

Pertanyaan yang agak rumit. Sebab harus menoleh ke belakang; melihat sejak kapan Al-Azhar melahirkan bintang-gemintang ulama yang ilmunya diteguk oleh umat Islam sepanjang masa ke masa.

Muiz Lidinillah mulai membangun Al-Azhar pada hari sabtu bulan Jumadil Awal tahun 359 H (970 M) dan pembangunan itu selesai tanggal 7 Ramadhan 361 H atau 22 Juni 972 M. Ketika itu tentu Al-Azhar masih belum menjadi kiblat keilmuan Islam. Sebab pusat keilmuan Islam masih terpusat di Baghdad dengan mahligai keindahan Bayt al-Hikmah-nya dan Andalusia yang mempesona dengan ulamanya. Al-Azhar masih kanak-kanaknya untuk disebut sebagai kiblat keilmuan.

Meskipun demikian, Al-Azhar telah memulai halakah-halakah keilmuannya dengan mengajarkan kitab-kitab mazhab Syiah Imamiyah. Al-Maqrizi, murid kesayangan Ibnu Khaldun mengatakan bahwa kitab yang pertama kali diajarkan di Al-Azhar adalah kitab matan fikih syiah, al-Iqtishar.

Pengajian di Al-Azhar tidak hanya untuk laki-laki, tapi juga ada majelis khusus untuk para perempuan, baik perempuan kerajaan maupun perempuan umum.

Berabad kemudian, Baghdad dan Andalusia di ambang kehancuran perang. Para warga termasuk ulama banyak yang melarikan diri. Tentara Mongol menghancurkan dan meluluhlantakkan Baghdad beserta perpustakaan besarnya; Bayt al-Hikmah. Buku-buku yang ada di dalamnya dibuang ke sungai. Sayang sekali tidak ada PDF yang bisa menjaga kitab-kitab yang dibuang itu. Bahkan bukan cuma itu,  sekitar satu juta orang dibunuh oleh pasukan jahanam kaum Mongol. Syekh Usamah Sayyid Azhari sampai mengatakan bahwa kejadian itu merupakan musibah terbesar dalam sejarah manusia setelah banjir besar yang menimpa kaum Nabi Nuh.

Andalusia juga begitu. Menemui ajalnya. Orang-orang dibunuh, dibantai dan disiksa sepuasnya.

Kedua pusat keilmuan itu runtuh.

Pada masa Saladin al-Ayyubi al-Syafii al-Asy’ari, beliau menciptakan madrasah-madrasah di Mesir. Jumlahnya mencapai puluhan. Tujuannya tak lain untuk menandingi Al-Azhar yang pada masa itu masih memegang erat pemahaman Syiah.

Al-Azhar akhirnya ditutup selama hampir seabad. Lockdown yang amat lama sekali. Akan tetapi, madrasah-madrasah yang dibuat oleh Saladin di Mesir tetap berjalan sebagaimana biasa. Hingga pada suatu hari, Al-Azhar dibuka kembali.

Imam Suyuthi mengatakan:

وقد غدا الأزهر منذ أواخر القرن السابع أي منذ غلق معاهد بغداد وقرطبة كعبة الأساتذة والطلاب من سائر العالم. وغدا أعظم مركز للدراسات الإسلامية العامة حتى أطلق عليه في عصر الممالك العصر الذهبي للأزهر.

“Sungguh Al-Azhar di akhir abad ke tujuh, yaitu sejak ditutupnya madrasah-madrasah Baghdad dan Cordoba (Andalus), Al-Azhar telah menjadi kiblat para ulama dan pencari ilmu di seluruh persada bumi. Dia telah menjadi pusat pembelajaran Islam secara umum sampai-sampai disebutkan bahwa al-Azhar yang ada pada masa Mamalik itu sebagai masa keemasan bagi Al-Azhar.”

Pernyataan itu tidaklah berlebihan. Sebab akhir abad ketujuh, memang banyak bermunculan ulama-ulama kibar yang mengunjunginya Al-Azhar atau lahir di sana. ‘Allamah Ibnu Khaldun menginjakkan kakinya di teras Al-Azhar sekitar pada tahun 783 H. Di Al-Azhar beliau menuliskan beberapa karyanya. Abad ketujuh muncul juga ulama sekaliber Imam Ibnu Hajar Asqalani, Imam Mahalli, Badruddin Zarkasyi, dan lain-lain.

Ibnu Mandhur, seorang ulama lughah (bahasa) yang memiliki kitab fenomenal;  Lisan al-Arab yang mencakup sekitar 80 ribu akar kata bahasa Arab, menuliskan kitabnya di Al-Azhar. Fairruzabadi sempat menuliskan kamusnya yang fenomenal, Qamus al-Muhith, di Al-Azhar. Demikian pula al-Damamini dan Ibnu Aqil, dua pakar bahasa kenamaan yang sempat mengajar di Al-Azhar. Imam Murtadha al-Zabidi menulis kitab Tajul Arus, Syarah Qamus al-Muhith milik Fairuzabadi juga di Al-Azhar. Demikian ditulis dalam buku Al-Azhar Fi Alfi ‘Am. Al-Azhar, lautan ilmu lughah. Para ulama lughah mencari keberkahan dengan menulis kitabnya di sana.

Syaikhul Azhar, Maulana Ahmad Thayyib mengatakan:

فمن المعلوم تاريخا: أن مركز الثقل في تراث المسلمين كان في بغداد، وفي بلاد فيما وراء النهرين، وأن زعيم المغول دمر بجيشه الوثني تراث المسلمين في هذه البلاد، ومحاه من الوجود عام ٦١٦ ه – ١٢٢٠ م، ثم جاء حفيده هولاكو عام ٦٥٦ ه – ١٢٥٨ فدمر بغداد برجالها ونسائها واطفالها ومدارسها ومكتباتها.

ولك أن تتساءل: أين قدر لهذا التراث أن ينبعث ويتماسك من جديد، ويستعيد دوره في حماية أمة بحجم أمة المسلمين؟

والإجابة التي لا يعرف التاريخ إجابة غيرها: إنه الأزهر الشريف وعلماؤه وأروقته، ولولاه لأصبحت الأمة بلا رأس، وأصبح اندماجها في الحضارات الأخرى وانسحاقها في تراثها أمرا محتوما تفرضه عوامل التطور وحركات التاريخ.

“Sudah diketahui dalam sejarah bahwa pusat besar turats umat Islam di Baghdad dan di Bilad Fi Ma Waraa al-Nahr (Transoxiania). Panglima Mongol menghancurkan turats umat Islam. Meluluhlantakkan Baghdad, rakyatnya, anak-anak kecil dan perempuan di dalamnya, beserta perpustakaannya.

Kalian bisa bertanya-tanya: ‘Di mana turats mampu kembali dan dapat dicengkeram kembali seperti semula serta mengembalikan perannya untuk menjaga umat Islam?’

Satu-satunya jawabnya yang diketahui oleh sejarah: ‘Ya. Dialah Al-Azhar, ulamanya, ruwaq-ruwaqnya. Tanpa Al-Azhar, umat Islam akan menjadi umat tanpa kepala. Dan keberadaannya dalam peradaban-peradaban dan keterbelakangan umat Islam dalam turatsnya menjadi sebuah kenyataan yang tak bisa dielakkan tanpa Al-Azhar yang bisa dibuktikan dengan aspek-aspek sebuah kemajuan dan pergerakan sejarah’.”

Setelah itu, Syaikhul Islam wa Al-Azhar melanjutkan dengan mengutip perkataan Zaki Najib Mahmud, Filsuf modern,

“Barangkali para pembaca mengira saya sedang membanggakan peran madrasah ini (Al-Azhar), atau memujinya melebihi batas. Saya akan mengutip perkataan filsuf Mesir yang dikenal dengan ensiklopedisnya, kepakaran dan penggabungannya antara dua kebudayaan barat dan timur,

‘Peradaban Islam datang dan tiap muslim mengetahui bahwa sumbangsih Mesir bagi peradaban Islam. Sekiranya tidak ada sumbangsih dan peran Al-Azhar pada abad 12, 13 dan 14 H, tidak akan ada turats Arab Islam. Di mana kita menemuinya sementara Tartar membakar turats Islam dan Andalusia telah hilang di tangan orang-orang yang berperang. Akan tetapi Al-Azhar bersegera mengumpulkan kembali turats itu sebelum hilang. Dikumpulkan kembali. Tapi pengumpulan apa yang dimaksud? Yaitu tidak sekedar mengumpulkan, melainkan menciptakan hal yang baru dan tujuan’.”

Qultu: Itu bisa disaksikan gencar keilmuan pada zaman Utsmaniyah di Al-Azhar. Para ulama Azhar berlomba-lomba membuat kitab matan, syarah, hasyiah, taqrir di fan-fan keilmuan yang bermacam-macam. Bahkan tak berlebihan jika dikatakan bahwa zaman itu adalah zaman penghasyiahan sebuah fan ilmu. Syekh Athhar, Syekh Mallawi, Syekh Amir Kabir, Syekh Baijuri, Syekh Suja’i, dan ribuan nama lainnya menghiasi dinding peradaban Islam hingga saat ini.

Jika dilihat di abad sembilan belas, dua puluh dan dua puluh satu, kita akan menemukan seabrek nama-nama ulama yang telah menjaga agama ini pernah menghirup udara dan debu Al-Azhar. Di Mesir, kita menemui Syekh Bakhit, Syekh Musthafa Imran (guru Syekh Azhar Ahmad Thayyib, Syekh Hasan Syafi’i dan Syekh Muallim Syekh Husam). Di Syiria, kita menemukan Syekh Hassan Hanabakeh, Syekh Buthi, Syekh Wahbah Zuhail, Syekh Nurudin ‘Ithr. Di Tunisia, kita temukan Syekh Kimtir, Syekh Jami’ Zaitunah sekarang. Di Indonesia, Syekh Nawawi al-Bantani al-Azhary, Syekh Mahmud Yunus, Syekh al-Habib Muhammad Quraish Shihab dan lain-lain.

Jika ditelusuri lagi, akan banyak kita temukan. Namun, sebagaimana bintang-gemintang di langit sulit dihitung, demikian pula para ulama Al-Azhar.

وامدح بأمدح ما في الشعرِ أَزهَــرَنَا

فأمدح الشعر عن أوصـافه عــجــزا!

[الشيباني الإندونيسي]

Pujilah Al-Azhar kita dengan pujian yang maha memuji yang terdapat dalam sebuah syair

Paling memujinya syair telah lemah dalam menyifati Al-Azhar!

Paling terpenting bukan bagaimana kita hanya membanggakan al-Azhar, tapi yang jauh lebih penting dari itu, bagaimana Al-Azhar bisa bangga kepada kita. Dengan apa? Menjaga turast-turats yang mereka tinggalkan kepada kita dengan memahaminya dan menyelam dalam samudera rahasia-rahasianya.

Hari ini ulang tahun Al-Azhar yang ke 1082 tahun. Tepatnya pada 7 Ramadhan. Selamat ulang tahun, Sayyidina Al-Azhar!

(Syihab Syaibani-Beben/ Mahasiswa Universitas Al-Azhar Jurusan Dirasat Islamiyah wal Arabiyah)

Sumber:

Al-Azhar Fi Alfi ‘Am

Al-Azhar Wa Dauruh Fi Nasyr Tsaqafah

Read more
06Apr

Al Azhar dan Wakafnya

6 April 2022 buutsfpib Artikel 64

(Edisi Spesial Ramadhan: Milad Al-Azhar ke-1082 Vol. 03)

Memasuki 1082 tahun sebagai kiblat ilmu pengetahuan, Al-Azhar tetap eksis mengawal perkembangan zaman dalam bidang kelimuan. Selain sebagai kiblat ilmu pengetahuan, al-Azhar juga terkenal dengan wakafnya. Karena wakafnya itulah, Al-Azhar dijadikan tonggak perwakafan dalam bidang pendidikan.

Sistem perwakafan menjadi salah satu faktor dari maju dan bertahannya suatu lembaga. Untuk itu, mengetahui bagaimana Al-Azhar dalam sistem perwakafan dan penerapannya adalah sesuatu yang perlu dikaji. Di sini penulis akan mencoba membahas secara singkat bagaimana Al-Azhar dan wakafnya dalam bidang pendidikan dan pengajaran.

Perekonomian Al-Azhar menuju ke sistem perwakafan dialami secara bertahap. Saat berdirinya, pemasukan keuangan masjid Al-Azhar didapatkan dari Daulah Fathimiyah, seperti halnya masjid-masjid lainnya. Ketika masuk kepemimpinan khalifah kedua Daulah Fathimiyah, Al-Aziz Billah, halaqah keilmuan diadakan dengan saran dari Ibnu Kilis. Adapun keuangan Al-Azhar saat itu didapatkan dari infaq pribadi Khalifah dan Perdana Menteri, baik untuk para muridnya, tempat tinggal, sandang pangan, serta hal-hal lain yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pengajar dan murid.

Masuk ke pemerintahan Khalifah ketiga -Hakim bi Amrillah- sistem perwakafan mulai diterapkan agar keuangan yang masuk ke Al-Azhar bisa terus menerus berputar dan tidak tergantung dengan seorang khalifah. Sejak itulah Al-Azhar menganut sistem perwakafan sebagai masjid dan tempat belajar-mengajar di Daulah Fathimiyah.

Terkait wakaf pertama al-Azhar, Dr. Abdul Aziz Muhammad al-Sinawy dalam bukunya Al-Azhar Jami’ wa Jami’ah, mengutip dari Maqrizi dalam bukunya Al-Khothoth, menjelaskan mengenai piagam wakaf bahwa Hakim bi Amrillah memberikan sebagian hartanya sebagai wakaf –tertulis di pembukaan piagam-. Yaitu diwakafkan untuk tiga masjid: pertama Al-Azhar, yang kedua Masjid Rasyidah, dan yang ketiga Masjid Muqish, kemudian disusul dengan Dar Hikmah. Piagam tersebut dikeluarkan ketika bulan Ramadhan tahun 400 H (sekitar 18 April – 17 Mei 1010 M).

Wakaf tersebut berupa harta yang tetap, seperti tanah pertanian, pasar, dan lain sebagainya. Harta yang telah diwakafkan tersebut tidak diperjualbelikan, namun dikelola agar terus berputar dan hasilnya kembali ke Al-Azhar sendiri. Dari Al-Azhar untuk Al-Azhar dan umat Islam. Akhirnya keuangan berputar secara terus-menerus tanpa bergantung pada seseorang yang menginfakkan hartanya.

Sistem tersebut diterapkan Al-Azhar sepanjang perjalanannya hingga saat ini kecuali ketika Daulah Ayyubiyyah, yaitu ketika Al-Azhar ditutup dan menghentikan wakafnya untuk menepis penyebaran madzhab Syiah. Sejak saat itulah sistem keuangan dan perputaran ekonomi Al-Azhar tidak terbatas dari seorang Khalifah atau perdana menteri yang menyokong keuangannya. Melainkan dari pemilik harta tetap yang mewakafkan pada Al-Azhar secara umum untuk dikelola, atau secara khusus diberikan kepada para pengajar, murid, atau halaqah dan ruwaq tertentu.

Sistem perwakafan tersebut dikelola oleh para qudhat, atau sekarang ini dikenal sebagai menteri. Tak lain seperti Al-Azhar saat ini yang telah dikelola oleh Kementerian Wakaf Mesir. Wakaf berkembang pesat, tak hanya diterapkan oleh Al-Azhar, melainkan Mesir pun mengembangkan dan mengelola wakaf secara produktif. Wakaf berkembang pesat ketika pemerintah Mesir menerbitkan Undang-undang No. 80 Tahun 1971 yang mengatur pembentukan Badan Wakaf Mesir yang khusus menangani masalah wakaf dan pengembangannya, berserta struktur, tugas, tanggung jawab dan wewenangnya. (ZISWAF, Vol. 4 No. 1, Juni 2017).

Setelah dipaparkan bagaimana sejarah dan permulaan sistem perekonomian dan wakaf al-Azhar secara singkat, kita bisa melihat sekilas gambaran sistem perwakafan dalam bidang pendidikan dan pengajaran sebagai penunjang keduanya.

Eksistensi Al-Azhar dalam bidang perwakafan dan keilmuannya tidak disempitkan dalam bentuk harta yang tetap seperti tanah pertanian, pasar atau toko dan lain-lainnya. Melainkan wakaf dimaknai secara luas sebagai gaya hidup dalam segala lini pendidikan. Selain perputaran keuangan yang mandiri atau ekonomi proteksi, wakaf tercerminkan hampir di setiap lini Al-Azhar, baik wakaf harta, tenaga, ide atau gagasan.

Harta tetap yang merupakan wakaf tersebut –seperti tanah dll- dikelola hingga berputar terus menerus hingga memiliki perekonomian yang mandiri. Hasilnya dikelola dan kembali pada lembaga itu sendiri, bahkan kembali kepada umat Islam. Begitupula seorang guru, telah mengajar dengan ikhlas, ia telah mewakafkan tenaga, ilmu atau ide untuk kesejahteraan umat dengan ilmu yang ia sampaikan pada muridnya. Begitupula ide dan gagasan dari seseorang yang mengelola sistem pengajaran dan pendidikan tersebut pun termasuk wakaf, wakaf ide dan gagasan. Wakaf yang berasal dari diri umat tersebut akan kembali ke umat dan bahkan kebermanfaatannya akan menyebar lebih luas dan terus menerus. Begitulah sekiranya kita mampu mengambil pelajaran dari al-Azhar.

Tapi bukan berarti, belajar di Al-Azhar itu sesuatu yang murah dan bisa kita remehkan. Akan tetapi termasuk hal mahal, karena ukuran mahal dan murahnya suatu hal bukan hanya pada harta/ materil yang dibayarkan atau tidak. Disebut mahal karena kualitas kelimuan dengan guru yang mempunyai otoritas di bidangnya melimpah ruah dan tinggal kita memilihnya. Karena sesuatu yang berkualitas bukanlah hal yang murah. Itu hal Mahal. Itulah wakaf al-Azhar yang telah membantu kita belajar, melalui sistem perwakafan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang meringankan beban para penuntut ilmu, terlebih para mahasiswa rantau. Wallahu a’lam bi al-showwab. (Ummu Maghfiroh/ Mahasiswi Universitas Al-Azhar Jurusan Sastra Arab)

Read more
  • 1…7891011…13
Logo FPIB Kecil Web

FPIB (Forum Pelajar Indonesia Bu’uts) merupakan forum sosial yang mewadahi seluruh pelajar Indonesia yang terdaftar di Madinatul Bu’uts Al Islamiyyah.

FPIB © All rights reserved

Kategori

  • News
  • Info

Info

  • Ijroat Adventure Minhah Dakhili
  • Ijroat Adventure Minhah Khoriji
  • Taqdim Minhah

Tentang Kami

  • About FPIB
  • Kontak