FPIB © All rights reserved
FPIB
  • Home
  • Artikel
  • Info
  • Berita
  • Ramadhan
  • About
Join Grup
FPIB
Join Grup

Artikel

Home / Artikel / Artikel
02Jun

Gema Takbir Kurban di Bumi Bu’uts: MerajutKeikhlasan dan Kehangatan di Negeri Seribu Menara

2 Juni 2026 Admin Web FPIB Artikel

Meniti Dalil Menuju Hari Raya

Pondasi utama gerakan ini diletakkan pada Senin sore, 25 Mei 2026, bertempat di Qo’ah Sab’ah. dihadiri beberapa peserta serta jajaran panitia berkumpul dalam “Seminar Kurban dan Praktik Penyembelihan” yang menghadirkan Ustadz Irfan Wahid, Lc., Dipl. Di bawah temaram ruang ilmiah tersebut, kitab Dalilul Mudhohi (دليل المضحي) dibedah secara mendalam, membekali para panitia dengan panduan fikih praktis serta kesiapan mental yang presisi sebelum terjun ke lapangan.

“Belajar fikih untuk diterapkan, dan berkurban sesuai yang disyariatkan,” tutur Ustadz Irfan Wahid, mengingatkan bahwa kesempurnaan pahala kurban berkelindan erat dengan pemenuhan syarat ritual yang sahih.

Kematangan teoretis itulah yang menjadi modal utama yang langsung diuji di lapangan hanya dalam hitungan hari, tepat saat fajar Idul Adha menyingsing di bumi Kairo.

Estafet Lintas Hari di Lapangan Kurban

Ujian nyata itu tiba ketika gema takbir resmi membelah langit. Di bawah nakhoda Ketua Pelaksana dari Angkatan Avicenna, kepanitiaan bergerak dengan ritme yang taktis dan penuh dedikasi. Hal yang paling mengesankan di lapangan adalah hadirnya antusiasme luar biasa dari para kakak kelas, jajaran Steering Committee (SC), hingga para Punggawa yang turun langsung membimbing, mengawal, dan menyuntikkan energi optimisme kepada para panitia baru.

Dinamika pelaksanaan di lapangan diatur mengalir mengikuti garis waktu yang presisi demi menjaga efisiensi wilayah dan jangkauan distribusi. Perjuangan fisik dimulai tepat pada siang hari Idul Adha, Rabu, 27 Mei 2026. Di bawah arahan dan keahlian jagal profesional di kawasan Tsamin Wafa Amal serta wilayah Manhal, tim pertama bergerak taktis mendampingi prosesi pemotongan hewan kurban. Kerja sama yang apik dan kehati-hatian tingkat tinggi benar-benar diuji saat menangani setiap prosesi penyembelihan di hari pertama raya tersebut. Keesokan harinya, Kamis, 28 Mei 2026, estafet pergerakan beralih sepenuhnya ke lini internal asrama Bu’uts untuk merampungkan agenda penyembelihan hari kedua. Pembagian jadwal lintas hari ini terbukti ampuh menjaga ritme kerja panitia agar tetap prima tanpa kehilangan momentum kekhusyukan ibadah.

Peluh yang bercucuran selama hari-hari penyembelihan terbayar lunas ketika seluruh logistik berhasil disalurkan secara merata. Senyum bahagia merekah dari para shohibul kurban, rekan-rekan panitia, hingga masyarakat serta mahasiswa yang membutuhkan di sekeliling wilayah Bu’uts. Keberhasilan ini mengukuhkan bahwa rapinya manajemen waktu dan sebaran lokasi bukanlah sekat, melainkan perluasan sayap kemaslahatan.

Malam Puncak Stadion Bu’uts: Melepas Lelah dalam Hangatnya Kebersamaan

Rangkaian panjang yang menguras tenaga itu akhirnya menemui muara indahnya tepat sehari setelah tuntasnya seluruh agenda penyembelihan. Sebuah malam Open House yang berlangsung spektakuler digelar di Stadion Madinatil Bu’uts Al-Islamiyyah pada Jumat malam, 29 Mei 2026. Puluhan Masisir memadati area tersebut, meleburkan segala lelah dalam kehangatan malam kebersamaan.

Rundown malam puncak bergerak sangat rapi dan khidmat. Agenda diawali dengan pelaksanaan salat berjamaah terlebih dahulu, meneguhkan esensi spiritual sebelum perayaan dimulai. Selepas itu, suasana stadion seketika semarak oleh lantunan selawat yang dibawakan oleh tim Hadroh. Bersamaan dengan itu, panitia resmi membuka stan pembagian konsumsi, di mana masing-masing peserta dengan tertib mengambil hidangan makan malam mereka sendiri secara prasmanan.

Sembari para hadirin menikmati hidangan diiringi syahdunya tabuhan Hadroh yang menggema, rangkaian acara formal mulai bergulir di atas panggung utama. Estafet mikrofon diawali oleh laporan dari Ketua Panitia Pelaksana Saudara Mufid, disusul dengan sambutan hangat dari Ketua Umum FPIB, Muhammad Al-Fatih Nazar. Kehadiran dan pesan dari Kepala Sektor Pemukiman Pelajar Al-Azhar (Rais Qita’), Dr. Issam al-Qady, turut menambah bobot malam itu dengan apresiasi tingginya terhadap dedikasi para wafidin Indonesia.

Sebagai puncak dari seluruh rangkaian acara, suasana stadion mendadak hening pertanda khusyuk saat untaian mauidzah hasanah dari Ustadz Fahmi Shiddiq Efendi disampaikan. Petuah mendalam beliau mengenai esensi perjuangan dan keikhlasan di tanah rantau ditutup dengan doa bersama yang menggetarkan malam Kairo. Begitu tirai doa usai, acara pun mencair ke dalam sesi ramah tamah—sebuah ruang hangat tempat ribuan Masisir bercengkerama, melepas rindu, dan merayakan indahnya persaudaraan.

Ala kulli haal, alhamdulillah tsumma alhamdulillah. Idul Adha tahun ini bukan sekadar tentang bilah pisau dan daging yang dibagikan, melainkan potret nyata bagaimana Angkatan Avicenna dan segenap keluarga FPIB menyembelih ego demi melahirkan kepedulian yang abadi.
Lebih dari sekadar perayaan, agenda tahunan yang selalu ada dari tahun ke tahun ini menjadi bukti estafet kepedulian yang tak pernah padam di tanah rantau. Ia telah menjelma menjadi tradisi luhur yang terus dirawat, di mana setiap generasi baru datang membawa semangat yang sama untuk mengabdi dan berbagi kehangatan di bumi Bu’uts.

Menemukan Diri dalam Lipatan Amanah

Gema Takbir Kurban

Di balik suksesnya acara, Ketua Pelaksana merefleksikan bahwa amanah ini adalah cara Allah mendidik setiap panitia untuk tumbuh dewasa, melatih kontrol diri, dan menemukan potensi terpendam. Momen ini menjadi ruang hangat untuk melebur perbedaan daerah, memahami ragam karakter, serta belajar menurunkan ego demi berkolaborasi tanpa rasa paling hebat. Bagi mereka, kesulitan lapangan adalah proses pembentuk mental tangguh yang ditenangkan oleh janji “Fainna ma’al ‘usri yusra” dan kesadaran bahwa Allah tidak membebani hamba-Nya di luar batas kemampuan “La yukallifullahu nafsan illa wus’aha”. Tugas mereka hanyalah berikhtiar maksimal, lalu berserah diri dalam dekap “Fa idza ‘azamta fa tawakkal ‘alallah.”

Sebagai penutup, beliau mengajak seluruh keluarga besar organisasi untuk terus bergerak dan meluruskan niat murni demi mengejar rida Allah, bukan berburu validasi manusia. Di tanah perantauan, menggantungkan harapan pada sesama hanya akan mengundang kecewa. Menjadikan rida-Nya sebagai alasan tertinggi adalah kunci agar setiap peluh, rencana, dan langkah perjuangan bersama ini bermuara sebagai ibadah yang bernilai abadi

Read more
22Sep

Diaspora Indonesia Bahas Peran Strategis dalam Membangun Negeri: Fajruna Batch ke-7 di Kairo

22 September 2025 buutsfpib Artikel, Berita

Kairo, 21 September 2025 — Sore itu, langit Kairo perlahan meredup, menyisakan sinar matahari yang hangat di halaman hijau Bustan Thol’at, Madinatul Buuts. Permadani terhampar, dan beberapa mahasiswa Indonesia duduk rapi melingkar. Tidak ada panggung megah, tidak ada peralatan mewah. Namun suasana diskusi yang berlangsung justru penuh khidmat, sarat semangat, dan kaya gagasan.

Forum bulanan Fajruna kembali hadir. Kali ini, Fajruna Batch ke-7 mengangkat tema yang menyentuh inti kesadaran mahasiswa perantau: “Potensi dan Peran Diaspora Indonesia dalam Membangun Negeri dari Luar Negeri.”

Acara yang dipandu oleh Ustadz Khubaib ini menghadirkan dua narasumber utama. Ustadz Ach. Muhajir membawakan paparan dengan sudut pandang syariat, sementara Ustadz Ihsanul Fikri menyoroti potensi dan dimensi sejarah diaspora. Diskusi berjalan dinamis; para peserta tidak hanya mendengarkan, tetapi juga aktif bertanya dan berdialog, menciptakan ruang interaksi intelektual yang hangat.

*Diaspora dalam Tinjauan Syariat: Warisan Sejak Rasulullah*

Dalam sesi pertamanya, Ustadz Ach. Muhajir membuka cakrawala dengan membawa peserta kembali ke masa awal Islam. Ia menekankan bahwa fenomena diaspora bukanlah hal baru. Sejak zaman Rasulullah SAW, umat Islam telah membuktikan peran besar mereka sebagai perantau yang berkontribusi bagi dakwah dan peradaban.

“Hijrah ke Habsyah adalah salah satu bentuk diaspora awal dalam Islam. Begitu pula hijrah ke Madinah, yang justru menjadi titik awal lahirnya masyarakat Islam yang kuat. Dari sinilah kita belajar bahwa perantauan bukanlah keterputusan, melainkan kelanjutan perjuangan,” jelasnya.

Menurut beliau, mahasiswa Indonesia di luar negeri hari ini memiliki tanggung jawab moral dan spiritual yang sama. Keberadaan mereka bukan hanya untuk menuntut ilmu, tetapi juga bagian dari amanah dakwah dan pengabdian, baik bagi umat setempat maupun bagi tanah air yang mereka tinggalkan.

*Potensi Diaspora di Era Teknologi: Menembus Batas Jarak*

Setelah itu, Ustadz Ihsanul Fikri mengajak peserta menatap masa kini dan masa depan. Ia menyoroti betapa besar peluang yang dimiliki diaspora Indonesia, terutama di era digital saat ini.

“Hari ini, teknologi telah menjembatani jarak. Diaspora tidak lagi terhalang oleh batas geografis. Dari Kairo, dari Timur Tengah, bahkan dari benua mana pun, kita bisa tetap hadir untuk bangsa. Ilmu bisa dibagikan, gagasan bisa disebarkan, jejaring bisa dibangun, dan kontribusi nyata bisa terus mengalir,” ujarnya.

Beliau juga mengingatkan bahwa diaspora memiliki dua kekuatan strategis: modal intelektual dan modal jaringan. Di luar negeri, mahasiswa dan pekerja Indonesia memiliki akses pada ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan hubungan lintas bangsa. Jika semua ini dikelola dengan baik, diaspora dapat menjadi lokomotif yang mempercepat kemajuan Indonesia.

*Fajruna: Forum yang Menyulam Kesadaran dan Kebersamaan*

Fajruna bukan sekadar diskusi. Forum ini telah menjadi ruang belajar bersama, tempat mahasiswa Indonesia di Kairo saling menguatkan dan menyadarkan diri tentang peran yang mereka emban.

Di bawah pepohonan Bustan Thol’at yang rindang, suasana diskusi kali ini terasa akrab sekaligus reflektif. Peserta merasakan bahwa meski berada jauh dari tanah air, rasa cinta kepada Indonesia justru semakin tumbuh. Kerinduan itu melahirkan tekad untuk berbuat sesuatu, sekecil apa pun, bagi bangsa.

Acara ditutup dengan Sholat Maghrib bersama. Tidak ada sorak-sorai, tetapi tersisa cahaya semangat dalam hati setiap peserta: keyakinan bahwa diaspora adalah bagian penting dari sejarah dan masa depan Indonesia.

*Diaspora: Jembatan Indonesia dengan Dunia*

Diskusi ini meninggalkan kesimpulan kuat bahwa diaspora bukan sekadar status “perantau.” Ia adalah peran, peluang, sekaligus amanah. Mahasiswa Indonesia di luar negeri adalah duta bangsa, pembawa wajah Indonesia di mata dunia. Mereka adalah jembatan yang menghubungkan Indonesia dengan peradaban global.

Fajruna Batch ke-7 di Kairo telah menegaskan kembali pesan itu. Bahwa dari tanah rantau, cinta kepada tanah air tidak pernah padam. Justru di situlah ia ditempa, diperkuat, dan akhirnya siap untuk diwujudkan dalam kontribusi nyata.

Read more
30Okt

3 Madrasah di Masjid Al-Azhar pada Era Mamalik

30 Oktober 2022 buutsfpib Artikel

Bab Al-Muzaiyyinin (tengah), Madrasah Al-Taybarsiyyah (kanan), dan Madrasah Al-Aqbughawiyah (kiri) yang ada kubah dan menaranya diambil dari maidan Al-Azhar.

Kalian tahu gak? Bahwa Masjid Al-Azhar pernah ditutup oleh Sultan Shalahudin Al-Ayubbi selama 100 tahun. Lama sekali kan? Hal ini untuk memberantas pengaruh Syiah di Mesir pada waktu itu. Kalian bisa baca sejarah Masjid Al-Azhar di Era Ayyubbiyah di tulisanku sebelumnya. https://fpib.web.id/2022/08/12/masjid-al-azhar-dari-syiah-fatimiyah-hingga-ayubbiyyah/.

Setelah Dinasti Ayyubbiyah runtuh dan berdirilah dinasti baru bernama Dinasti Mamalik. Pada era ini Al-Azhar mengalami perubahan besar yang sebelumnya digunakan sebagai pembelajaran madzhab syiah menjadi sunni. Hingga akhirnya Al-Azhar digunakan lagi untuk kegiatan belajar dan mengajar.

Nah kalian pasti berpikir bahwa kegiatan belajar dan kajian di Al-Azhar hanya di ruwaq-ruwaq masjid. Ternyata ada sebuah bangunan tambahan yang disebut dengan ziyada/mulhaq yang terhubung dengan Masjid Al-Azhar. Pada Era Mamalik ditambahkan 3 bangunan berupa madrasah di masjid Al-Azhar.

Dua madrasah dibangun pada masa Sultan Nasir Muhammad bin Qalawun yaitu Madrasah Al-Taybarsiyyah dan Madrasah Al-Aqbughawiyah yang terletak di antara pintu utama Masjid Al-Azhar yang bernama Bab Al-Muzayyinin, yaitu pintu yang dihiasi oleh ornamen dan khat khufi dengan tinta emas, terletak di Utara menuju Masjid Abu Dzahab.

Bab Al-Muzaiyyinin, walaupun sederhana tapi pada masanya pintu ini merupakan pintu paling indah yang ditulis dengan tinta emas.

Madrasah yang ketiga dibangun pada masa Sultan Al-Asyraf Baybars, yaitu Madrasah Al-Jauhariyyah yang terletak di Timur Laut Masjid Al-Azhar.

            Berikut akan saya ajak kalian keliling dan memasuki madrasah-madrasah ini:

  1. Madrasah Al-Taybarsiyyah

Untuk yang pertama adalah madrasah Al-Taybarsiyyah, dibangun oleh Amir ‘Alauddin Taybars Al-Khazindar, seorang kepala militer di masa pemerintahan Sultan Nasir Muhammad bin Qalawun pada tahun 1309 M/709 H.

Jika kita memasuki Masjid Al-Azhar dari pintu utama yang bernama Bab Al-Muzayyinin maka madrasah ini ada di sebelah kanan kita. Pintu madrasah terletak dekat dengan pintu Qietbay.

Pintu Madrasah Al-Taybarsiyyah terlatak dekat dengan Pintu Qietbay, dan Menara Qeitbay
Pintu Madrasah Al-Taybarsiyyah

Berikut suasana zaman dulu ketika syekh/guru memasuki madrasah, terlihat bagaimana orang dahulu menghormati ulama.
Ini adalah kubah makam di dalam madrasah, terlihat di kelilingi rak-rak buku
Suasana belajar mengajar di dalam Madrasah Al-Taybarsiyyah. Bangunan kecil ini yang terdiri dari tiga ruwaq ini digunakan sebagai pembelajaran Fikih Syafi’i.

Selain itu dalam madrasah ini terdapat tempat wudhu, perpustakaan, dan kubah makam kecil tempat dikuburnya Amir Taybars setelah wafat.

Salah satu unsur arsitektur dan dekorasi khusus yang sangat penting dari Madrasah Al-Taybarsiyyah adalah mihrabnya yang dilapisi dengan marmer warna-warni dan kombinasi mozaik dari marmer dan kaca yang indah yang merupakan contoh mozaik langka di Mesir.

Indahnya mihrab Madrasah Al-Taybarsiyyah dengan detail mozaik marmer warna-warni dan kaca.

Adapun arsitektur lainnya adalah jendela-jendela dari perunggu. Selain itu, Madrasah Al-Taybarsiyyah juga mengalami perbaikan dan pembaharuan oleh Abdurrahman Katkuda 1753 M/1167 H.

Menurut sejarawan abad 15, Al-Maqrizi, dalam pembangunan madrasah ini membutuhkan biaya yang sangat besar. Tetapi ada kisah yang menarik dari pembangunan madrasah ini. Ketika Amir Taybars selesai membangunnya dan diperlihatkan kertas nota biaya pembangunan. Sebelum itu, dia meminta baskom berisi air kemudian mencuci semua kertas nota tanpa melihatnya dan berkata, “Sesuatu yang kita keluarkan darinya untuk Allah Swt. kita tidak memperhitungkannya.”

Read more
01Okt

Kupas Tuntas Arsitektur dan Kisah di balik Qal’ah; Benteng Salahuddin Al Ayyubi/ Saladin Citadel

1 Oktober 2022 buutsfpib Artikel

Sebenarnya kita tak perlu jalan-jalan jauh untuk bisa menyaksikan situs-situs bersejarah Islam yang berada di Mesir ini, di dalam kota Kairo sendiri terdapat banyak sekali peninggalan yang mengandung unsur sejarah dari segi arsitektur maupun kisah di baliknya. Jika kalian berjalan ke arah Sayyida Aisyah atau makam Imam Syafi’i, tentu kita akan melihat sebuah benteng megah dan membentang di atas bukit Muqattam. Ya..tentu kalian pasti tak asing dengan sebuah benteng berbentuk kuil yang bernama Benteng Salahuddin atau Qal’ah Jabal.

Dilihat dari namanya, tentu kita tahu bahwa yang membangun benteng ini adalah Salahuddin Al-Ayyubi; Sultan sekaligus pendiri Dinasti Ayyubiyah. Benteng ini dibangun pada tahun 1176 M, guna untuk melindungi kota Kairo dari serangan Tentara Salib ketika itu. Begitu banyak peninggalan-peningalan dan situs-situs kuno yang terdapat di dalam benteng ini. Selain benteng itu sendiri, ada beberapa bangunan lain yang tak kalah menarik, yaitu Masjid Al-Nashir Muhammad bin Qalawoon, Masjid Muhammad Ali, Museum Tentara, Museum Polisi, dan Qashrul Jauhara. Namun, hanya beberapa dari destinasi di atas yang saat ini boleh dikunjungi. Dan artikel ini hanya akan lebih terfokus pada pendiri dan bentengnya saja.

  1. Salahuddin Al Ayyubi dari Irak menuju Mesir

Mempunyai nama asli Salahuddin Yusuf bin Najmuddin Ayyub bin Syadziy bin Marwan yang oleh keluarganya sering dipanggil dengan nama Yusuf. Dia lahir pada tahun 532 H dan tinggal bersama keluarganya di kota Tikrit (daerah utara Irak saat ini), dan berpindah ke kota Baghdad dan Moushul. Menurut Ibnu Washil seorang sejarawan di zaman Ayyubiyah, mengatakan bahwa nasab dari kakeknya adalah Syadziy bin Marwan bin Abi Ali bin Hasan salah satu keturunan Bani Umayyah. Tapi pendapat yang paling kuat mengatakan bahwa Salahuddin adalah bangsa Kurdi dan bukan bangsa Arab.

Dia tumbuh dan berkembang bersama ayah dan pamannya, Najmuddin Ayyub dan Asaduddin Syirkuh. Ia mendapatkan pendidikan kepemimpinan dan manajemen administrasi pemerintahan dari sang ayah yang di kala itu menjabat sebagai pemimpin Seljuk di Tikrit serta mendapat pendidikan strategi peperangan dan militer dari sang paman, Asaduddin Syirkuh. Saat itu, baik ayah maupun pamannya sama-sama mengabdi kepada Imaduddin Zanki, gubernur Seljuk untuk Irak. Saat Imaduddin wafat, Nuruddin Zanki putra dari Imaduddin Zanki-lah yang menggantikannya memimpin Suriah dan Mosuhul. Dari sinilah Salahuddin mulai tekun mempelajari politik, strategi, dan teknik perang, bahkan ia melanjutkan pendidikannya ke Damaskus untuk mempelajari theologi sunni selama 10 tahun dalam naungan kekuasaan Nuruddin.

Singkat cerita, Pada tahun 1169 M Salahuddin diangkat menjadi seorang  menteri di Mesir menggantikan Asaduddin Syirku yang telah wafat. Waktu terus berjalan, tidak ada yang menyangka bahwa peran Salahuddin membawa perubahan besar bagi pemerintahan Mesir yang sebelumnya bisa dibilang lemah. Pada saat Al-‘Adid Abu Muhammad Abdillah, Khalifah terakhir Dinasti Fathimiyyah wafat pada tahun 1171 M, Salahuddin menduduki pemerintahan tertinggi Mesir dan memecat garis keturunan Fathimiyyah, sehingga ia mengganti yang sebelumnya Dinasti Fathimiyyah menjadi Dinasti Ayyubiyah. Meski ia telah menguasai Mesir, secara resmi Salahuddin tetap berposisi sebagai wakil Nuruddin. Begitu banyak perkembangan dan perbaikan pemerintahan di zamannya, mulai dari segi ekonomi, militer, akademis dst. Dan salah satu peran Salahuddin Al Ayyubi yang paling fenomenal adalah perbaikan tembok kota Kairo yang sudah ada sejak zaman fathimiyyah dan membangun Benteng Salahuddin/Qal’ah Jabal di atas bukit Muqattam.

  • Benteng Pertahanan

Bangunan ini merupakan tembok yang menyerupai sebuah benteng yang dirancang dan didesain oleh Salahuddin Al Ayyubi dan dibangun pada tahun 1176 M – 1183 M dibawah direksi arsiteknya yang bernama Baha’uddin Qaraqusy Al-Asadiy dan disempurnakan lagi pada zaman saudaranya Sultan Al-Malik Al-Adil pada tahun 1208 M. Kecerdasan Salahuddin terlihat ketika penentuan letak benteng yang akan dibangun. Ia memilih bukit Muqattam karena akan mempermudah penyerangan dan pengintaian dalam satu waktu. Menurut Imam Al Maqriziy salah satu sejarawan yang hidup di Era Mamalik menyebutkan bahwa sebelum Salahuddin menentukan tempat, ia meletakkan sepotong daging di daerah tersebut (Kairo). kemudian daging itu membusuk dalam waktu satu hari satu malam, kemudian ia meletakkan sebuah daging lain di atas bukit tersebut dan bertahan selama dua hari dua malam, maka dibangunlah benteng di sana.

Benteng ini mempunyai tinggi 10 m, dan ketebalan 3 m, benteng ini dibangun khusus untuk melindungi kota Kairo dari serangan Pasukan Salib ketika itu. Benteng ini juga dilengkapi menara-menara kokoh yang menjulang dalam jarak setiap 100 m. Di menara yang dijadikan konsentrasi pertahanan dari serangan musuh itu terdapat banyak lubang jendela yang berguna bagi pasukan pemanah dalam membidik sasaran. Sedangkan bagian paling atas adalah dek terbuka untuk menempatkan meriam.

Dari sisi pertahanan, benteng ini memiliki fungsi arsitektur termaju pada zamannya, dengan tiga step pertahanan sebagai berikut:

  1. Pertahanan jarak jauh; menggunakan meriam dan senjata panah yang dilakukan lewat menara-menara.
  2. Jika pasukan musuh berhasil menembus dinding benteng, mereka akan disambut ruang terbuka yang dikelilingi tembok-tembok tinggi. Di area ini pasukan musuh tentu akan bersiap di atas benteng.
  3. Dan jika musuh berhasil melewati bagian tersebut, mereka akan melewati lorong-lorong bercabang yang panjangnya mencapai 2.100 m. Di situ pasukan musuh yang tidak mengenal medan menjadi lebih mudah ditumbangkan satu persatu.

Tadi sudah disebutkan, bahwa ada sebuah menara untuk mengintai serangan musuh, ada sekitar 13 menara di setiap sisi dari benteng tersebut.

Burj Al Shahra’ (Utara)
Burj Al-Muqottom
Burj Al Haddad & Burj Al-Ramlah
Burj Al Imam (Timur)
Burj Al Tharfah (Selatan)
Burj Kyrkilan (Selatan)
Burj Al Mathar (Selatan)
Burj Al Muqaushar (Timur)
Burj Al Muballath (Timur)
  • Dan, beberapa menara lainnya:
  • Burj Al ‘Ulwah (Selatan)
  • Burj Al Saffa (Selatan)
  • Bab Al Qullah (Barat daya)
  • Bab Al Mudarraj (Barat)

Konsep benteng ini jika kita lihat sekarang, terdapat dua bagian yang berbeda dari segi bentuk dan luas tanahnya, yaitu sisi Timur laut dan sisi Barat daya.

  1. Sisi Timur laut, memiliki bentuk persegi panjang cenderung lebih abstrak dengan panjang 560 m membentang dari Timur ke Barat, dan 317 m dari Utara ke Selatan.
  2. Sisi Barat daya, benteng ini lebih kecil dari bagian pertama dan memiliki bentuk tak beraturan juga. Dengan panjang 510 m dari Utara ke Selatan, dan 270 m dari Timur ke Barat. Pada bagian benteng ini memiliki bentuk tembok pagar yang berbeda dengan benteng bagian Timur laut. (Fajar Ilman Nafi’/ Mahasiswa Universitas Al-Azhar Jurusan Peradaban)

Referensi:

  1. Ahmad Abdul Razaq Ahmad. al-Imarah al-Islamiyyah fii Mishr Mundzu al-Fathi al-Arabiy Hatta Nihayat al-Ashri al-Mamlukiy, Kairo: Darul Fikri Al-Arabi. 2018.
  2. Manshur Abdul Hakim Muhammad. Salah al-Din al-Ayoubi al-Munqidz al-Muntadzar, Cetakan ke-7, Damaskus: Darul Kitab Al-Arabi. 2007.
  3. Khalid ‘Azb. Fiqh al-‘Umran al-Imarah wal Mujtama’ wal Dual fii al-Hadharah al-Islamiyyah, Kairo: Darul Mishriyah Al-Lubnaniyyah. 2013.
Read more
12Agu

Masjid Al-Azhar dari Syiah Fatimiyah hingga Ayubbiyyah

12 Agustus 2022 buutsfpib Artikel

Masjid Al-Azhar saat pertama kali dibangun hanya sebuah shahnul (pelataran) masjid terbuka yang berbentuk persegi panjang yang dikeliling 3 dzillah (bangunan dengan atap untuk berteduh), yang paling besar adalah dzillah kiblat yang terdapat mihrab di dalamnya.

Masjid Al-Azhar saat pertama kali dibangun.

Dzillah Kiblat terdiri dari 5 ruwaq (serambi) yang sejajar dengan dinding kiblat sehingga memotong membentuk koridor masjid. Di atas “Dzillah Kiblat” terdapat 3 kubah, satu di tengah tepat di atas mihrab dan dua di ujung koridor.

Pada awalnya masjid Al-Azhar hanya mempunyai 3 pintu, pintu utama di tengah sebelah Utara dan 2 pintu lainnya terdapat di samping yang berada di dzillah sisi kanan dan kiri.

Bentuk bangunan Al-Azhar tetap seperti itu hingga pada zaman Khalifah Al-Hafidz Li Dinillah dengan menambah satu dzillah, maka sejak saat itu Al-Azhar memiliki 4 dzillah yang mengeliling shahnul masjid.

Dzillah yang dibangun pada zaman Kekhalifahan Al-Hafidz Li Dinillah.

Selain itu Al-Hafidz Li Dinillah juga menambah kubah yang dikenal dengan “Kubah Fatimiyah”, kubah ini terletak di tengah-tengah ruwaq dengan dekorasi hiasan tanaman dan khat kufi dari dalam kubah, dan kubah ini merupakan kubah paling lama yang masih tersisa dengan hiasan dari dalam.

Kubah Fatimiyah

Masjid Al-Azhar pertama kali dibangun sebagai masjid resmi untuk Dinasti Fatimiyah yang baru memerintah Mesir. Selain itu juga sebagai pusat ruh dan penyebaran madzhab syiah di Mesir.

Pada zaman Khalifah Al-Aziz Billah, Al-Azhar digunakan pertama kali sebagai lembaga pendidikan ilmiah. Perdana Menteri Ya’qub bin Killis merupakan orang pertama yang mempunyai ide ini ketika meminta izin kepada khalifah pada tahun 378 H/ 988 M untuk menjadikan Al-Azhar tempat para ahli fiqih membuat majlis ilmu dengan mengaji buku dan belajar.

Selain menjadi kepala dan pengurus masjid kegiatan ilmiah di Al-Azhar, Ya’qub bin Killis juga memberikan gaji kepada para pengajar, membangun rumah tinggal untuk mereka di sekitar masjid Al-Azhar. Jumlah para pengajar mencapai 37. Mereka membuat halaqah ilmiah dari setelah Shalat Jumat hingga Shalat Ashar.

Pemberhentian Shalat Jumat di Masjid Al-Azhar di Zaman Dinasti Ayyubiyyah

Kegiatan keagamaan masih berlangsung hingga runtuhnya Fatimiyah oleh Sultan Shalahudin Al-Ayubbi yang sebelumnya adalah Menteri Khilafah Fatimiyah dengan bermadzab Sunni Syafi’i.

Pada zamannya semua kegiatan dan renovasi diberhentikan. Seperti juga menghentikan shalat dan khutbah Jumat di Masjid Al-Azhar dengan cukup memusatkannya di Masjid Hakim bi Amrillah; hal ini berdasarkan dengan madzhab syafi’iyyah yang melarang dua Khutbah Jum’at di dalam satu wilayah, dan juga karena luas Masjid Al-Azhar lebih kecil dari Masjid Hakim bi Amrillah. Apalagi setelah bertambahnya jumlah penduduk Kairo pada waktu saat ini.

Sebab lain yang sebenarnya dari pemindahan kegiatan agama dan politik dari Masjid Al-Azhar ke Masjid Hakim bi Amrillah adalah ide Sultan Shalahudin Al-Ayubbi dalam melemahkan pengaruh madzhab syiah di Mesir.

Sultan Shalahuddin juga membangun banyak madrasah baru, yang pertama kali di bangun adalah Madrasah An-Nashiriyyah yang dibangun pada tahun 566 H di samping Masjid Amru bin Ash untuk pengajaran Fiqih Syafi’i.

Begitu pula Madrasah Al-Qamhiyah (Fiqih Maliki) di Faiyum, yang terkenal bahwa Sejarawan Ibnu Khaldun mengajar di sana. Kemudian banyak para sultan, amir dan orang-orang tinggi yang berlomba-lomba membuat madrasah di Kairo dan Mesir hingga membuat Al-Azhar kehilangan pamornya sebagai kegiatan ilmiah pada masa Dinasti Ayyubiyyah.

Namun walaupun kegiatan agama sudah dipindah, dan kegiatan ilmiah di masjid Al-Azhar mengalami kemunduran selama 100 tahun di masa Dinasti Ayyubiyyah, Al-Azhar masih digunakan sebagai kegiatan ilmiah yang tidak berhubungan madzhab syiah seperti Bahasa Arab, Kedokteran, Matematika, Mantik, Filsafat, dsb. (Tri Wi Farma/Mahasiswa Jurusan Peradaban di Universitas Al-Azhar)

Referensi:

Muhammad Ali Abdul Hafidz, Al-Atsar Al-Arabiyyah Al Islamiyyah Hatta Muntashof Al-Qarni As-Sabi’ Al-Hijri, Mathba’at Al-Thayyib, Kairo: 2020. Hal 94-95.

Ibnu Abdul Dzahir, Ar-Raudhah Al-Bahiyah Az-Zahirah fii Khuthathi Al-Muizziyah Al-Qahirah, Tahqiq Aiman Fuad Said, Jilid 1, Kairo: 1996.

Su’aad Mahir Muhammad.  Masajidu Misr wa Auliya’aha al-Sahalihuun, jilid 1. Majlis al-A’la li al Syuun al- Islamiyyah. Kairo: 2014. Hal 165-168.

Read more
31Jul

Sebab Didirikan dan Sebab Penamaan Masjid Al-Azhar Kairo

31 Juli 2022 buutsfpib Artikel

Masjid Al-Azhar adalah masjid ke-4 di Mesir setelah Masjid Amru bin Ash, Masjid Kota Askar, dan Masjid Ibnu Tulun. Masjid pertama yang didirikan di Fatimiyah Kairo, serta termasuk salah satu peninggalan tertua yang tersisa dari Dinasti Fatimiyah di Kairo.

Panglima Jauhar Ash-Shiqily mulai membangun Masjid Al-Azhar dengan perintah dari Khalifah Fatimiyah, Al-Muiz Li Dinillah, pada hari Sabtu, 23 Jumadal Ula 359 H/ 4 April 970 M. Selesai pembangunan pada Tahun 361 H/972 M, dan dibuka pertama kali awal Jumat pada Bulan Ramadhan pada tahun yang sama.

Pembangunan Masjid ini dibangun setelah pembangunan kota Kairo beserta tembok, dan istananya di Timur Laut Kota Fustat di tempat yang sebenarnya hanya padang pasir dan bebatuan.

Sebab Awal Mengapa Didirikan Masjid Al-Azhar

Ada beberapa sebab mengapa Panglima Jauhar Ash-Shiqily membangun masjid jami’ untuk ibu kota baru Mesir, Kairo, berikut penjelasanya:

  1. Mengikuti apa yang sudah dilakukan Rasulullah Saw ketika merancang kota Madinah Munawarah dan apa yang telah dilakukan Khulafa’ al-Rasyiddin serta kaum muslim dalam merancang kota mereka, yaitu dengan membuat istana dan masjid sebagai pusat kota.
  2. Dari sisi lain Jauhar Ash-Shiqily dengan kepandaian dan pandangan siasatnya yang baik ingin menjadikan masjidnya sebagai tempat penyebaran dan pembelajaran ajaran syiah, hingga penduduk Mesir tidak lagi menggunakan masjid lainnya sebagai tempat untuk syiar sunni dan khutbah agama.

Sebab Penamaan Masjid Al-Azhar

Ada banyak perbedaaan pendapat tentang penamaan Al-Azhar untuk masjid ini:

  1. Sebagaian besar peneliti nama Al-Azhar diambil dari Sayyidah “Fatimah Az-Zahra Ra”, putri Rasulullah Saw, karena berdasarkan perkataan syiah bahwa Fatimiyah merupakan keturunannya.
  2. Pendapat lain mengatakan berdasarkan istana-istana yang penuh bunga yang dibangun berdekatan dengan masjid ii.
  3. Pemberian nama Al-Azhar sebagai optimisme Fatimiyah bawah suatu saat nanti masjid ini akan menjadi besar dalam “izdzihar” atau perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan di dalamnya.
  4. Pendapat terakhir mengatakan bahwa perberian nama Al-Azhar ((الأزهر merupakan kebiasaan orang-orang Fatimiyah dalam pemberian nama masjid-masjid mereka dalam bentuk Af’alu al-Tafdhil(أفعل التفضيل)  seperti masjid Fatimiyah lainnya, Masjid Hakim bi Amrillah (Al-Anwar), Masjid Al-Amru bi al-Ahkamillah (Al-Aqmar) yang keduanya berada di Syari’ Muiz Li ad-Dinillah.

Kesimpulannya, bahwa tidak ada pendapat yang jelas dalam penamaan masjid ini, tapi pendapat paling terkenal bahwa nama Al-Azhar berhubungan dengan nama Sayyidah Fatimah Az-Zahra Ra.

Referensi:

Muhammad Ali Abdul Hafidz. Al-Atsar Al-Arabiyyah Al Islamiyyah Hatta Muntashof Al-Qarni As-Sabi’ Al-Hijri, Kairo: Mathba’at Ath-Thayyib. 2020.

Ibnu Abdul Dzahir. Ar-Raudhah Al-Bahiyah Az-Zahirah fii Khuthathi Al-Muizziyah Al-Qahirah, Tahqiq Aiman Fuad Said, Jilid 1. Kairo: 1996.

Penulis: Tri Wi

Editor : Nusaibah Masyfu’ah

Read more
29Mei

Masjid Abu Dzahab, Saksi Bisu Membludaknya Masjid Al-Azhar

29 Mei 2022 buutsfpib Artikel

Jika kita melewati lorong yang memisahkan jalan ke Masjid Sayyidina Husein dan Maidan Al-Azhar kita akan dibawa ke deretan toko-toko yang melekat pada sebuah bangunan. Toko-toko ini menjual beberapa pernak-pernik, rempah-rempah, buku-buku, mushaf Al-Quran, pakaian, bahkan daging hewan. Tapi jika kita mau melihat ke atas dan keseluruhan bangunan itu, sebenarnya bangunan itu bukan hanya deretan toko-toko.

Bangunan yang berseberangan dengan gerbang Utara Masjid Azhar ini merupakan kumpulan dari Masjid Abu Dzahab Bek. Dibangun oleh Muhammad Bek Abu al-Dzahab, seorang sultan Mamluk yang memerintah Mesir dari 1772 sampai 1775, yaitu di antara pemerintahan tuannya Ali Bek al-Kabir dan dua sultan Mamluk yang memerintah secara bersamaan, yaitu Murad Bek al-Qazdughli and Ibrahim Bek.

Menurut sejarawan, al-Jabarti, Muhammad Bek dikenal dengan Abu al-Dzahab karena dia membagi emas secara gratis tanpa menghitungnya kepada orang-orang miskin sepanjang jalan dimana berkendara sampai  memasuki rumahnya. Muhammad Bek dikenal dengan nama ini, karena belum ada satu pun sultan sebelumnya yang membagikan emas secara suka rela.

Hingga ia dikenal sebagai orang yang tidak menaruh sesuatu di kantongnya kecuali emas, tidak memberi kecuali emas, tidak menggengam kecuali emas, dan dia berkata, “Aku Abu Dzahab.” Dari sinilah masjid ini dikenal dengan nama Masjid Abu al-Dzahab. Dzahab dalam Bahasa Indonesia berarti emas.

Masjid yang dibangun pada tahun 1774 ini dikenal sebagai pusat kegiatan keagamaan. Selain itu Masjid Abu Dzahab juga membantu Masjid Al-Azhar dalam menyebarkan ilmu pengetahuan pada masa itu. Al-Azhar sangatlah sibuk dan dipenuhi dengan jumlah murid yang terus bertambah dari penjuru dunia. Sehingga kekurangan tempat untuk menjalankan kegiatan ilmiah. Terlebih pada masa pemerintahan Dinasti Utsmaniyyah, khususnya setelah runtuhnya Baghdad di tangan Mongol, jatuhnya Andalusia, serta mundurnya Universitas Zaitunah di Tunisia dan Universitas Karaouiyn di Maroko setelah datangnya kolonialisme barat.

Hal ini dibuktikan dengan adanya madrasah di dalam Masjid Abu Al-Dzahab, serta beberapa syekh yang mengajar di Al-Azhar juga mengajar di sini. Seperti Syekh Ali Al-Sha’idi. Syekh Ahmad Al-Dardir, Syekh Hasan Kafrawi, Syekh Abdurrahman Al-‘Arisyi, dan masih banyak lagi.

Selain madrasah juga terdapat perpustakaan dengan 650 buku dari berbagai ilmu, dan takiya atau tempat tinggal orang-orang sufi dari Turki. Di selatan masjid juga terdapat sabil, yaitu tempat untuk minum bagi para musafir, pelajar, maupun binatang.

Sesuatu yang sangat menarik, masjid ini menggantung dan melekat dengan beberapa toko-toko di bawahnya dari sisi timur dan utara masjid. Di pintu timur terdapat tangga melingkar, sedangkan terdapat tangga dari marmer warna-warni untuk naik ke pintu Utara dengan tulisan di atasnya.

أمير اللواء أنشأت لله مسجدًا                 عليه بهاء العز جل الذي وهب

لك الفوز فيه بالثواب مؤرج                 لقد حاز الطاف القبول أبو الذهب

Sayangnya sekarang masjid ini sudah tidak digunakan lagi untuk shalat maupun tempat belajar dikarenakan  mengikuti berubahnya sistem Al-Azhar dari masjid untuk kuliah, banyaknya pelajar yang dahulu  tinggal di ruwaq kini pindah ke asrama dan rumah-rumah di sekitar Al-Azhar.

Bangunan ini kini hanya menjadi saksi bisu bahwa sedari dulu Al-Azhar membludak dengan banyaknya pelajar dari seluruh dunia. Masjid Abu Dzahab telah banyak digunakan membantu Masjid Al-Azhar dalam mencetak ulama-ulama hebat di masa lalu. (Tri Wi Farma/ Mahasiswa Universitas Al-Azhar Jurusan Peradaban)

Sumber:

Abdurrahman Al-Jabarti. ’Ajaibu al-Atsar fii al-Tarajim wa al-Akhbar. Bulaq: 1938.

Ali Mubarak. Al-Khuthath al-Taufiqiyyah. Bulaq: 1305.

Caroline Williams. Islamic Monuments in Cairo. Kairo: The American University in Cairo Press. 2018.

Su’aad Mahir Muhammad. Masajidu Misr wa Auliya`aha al-Shalihuun, Jilid 5. Kairo: Majlis al-A’la li al-Syuun al-Islamiyyah 2014.

Read more
14Apr

Menilik Hubungan Universitas Al-Azhar Mesir dengan Indonesia

14 April 2022 buutsfpib Artikel
Kisah Para Ulama Menghormati Kepakaran Satu Sama Lain – Basis 13

(Edisi Spesial Ramadhan: Milad Al-Azhar ke-1082 Vol. 07)

Tahukah kamu bahwa Al-Azhar menyebarkan risalah perdamaian ke penjuru dunia? Pada tahun 2018 Grand Syekh memberikan perhatian yang sangat besar bagi Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar. Grand Syekh Al-Azhar, Ahmad Al-Thayyib melakukan pertemuan dengan alumninya di seluruh dunia demi menyambung tali antara Al-Azhar dengan alumni-alumninya yang tersebar penjuru dunia.

Al-Azhar juga mengadakan pelatihan imamah dan dai bagi pelajar luar negeri agar menjadi utusan Al-Azhar di negaranya, serta menyambung komunikasi antaralumni yang sudah ada dengan mengadakain festival budaya dan olahraga.

Dikutip dalam Al-Ahram, Muhyiyuddin Afify, Sekretaris Umum Majma’ Al-Buhust Al-Islamiyyah (Akademi Riset Islam), mengatakan bahwa Grand Syekh Al-Azhar, Ahmad Al-Thayyib melakukan tour ke Asia dengan mengunjungi negara-negara Islam seperti, Indonesia, Singapura dan Brunei untuk menyebarkan dan menekankan nilai-nilai kemanusian dan kemoderetan Islam.

Melihat 2 tahun sebelumnya, pada tahun 2016 Grand Syekh Al-Azhar, Ahmad Al-Thayyib sudah mengunjungi Indonesia beserta rombongan Majlis Hukama Al-Muslimin. Kunjungan ini untuk mempererat hubungan antara masyarakat muslim Indonesia dengan Al-Azhar. Beliau memberikan kuliah umum dengan para alumninya di Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Grand Syekh juga menerima penganugrahan gelar doktor kehormatan dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, serta mengadakan pertemuan dengan keluarga besar Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, sekaligus pembukaan perayaan 90 tahun Pondok Gontor.

Dilansir dalam Website Sekretariat Kabinet RI, pada 30 April 2018 Presiden Indonesia, Jokowi menerima kunjungan Grand Syekh Al-Azhar, Ahmad Al-Thayyib di pintu Istana Merdeka, Jakarta. Kedatangan beliau merupakan  undangan langsung dari Presiden Jokowi.

Masih di Istana Merdeka, Grand Syekh bertemu dengan Anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan ketuanya, Megawati Soekarnoputri. Menurut Detik News dalam pertemuan ini, Grand Syekh memuji ideologi Pancasila, beliau berharap BPIP diadopsi di negara lain yang mengalami konflik akibat masalah ideologi. Karena Pancasila seperti Universitas Al-Azhar yang juga mengemban misi perdamain dunia yang mengembangkan sikap saling menghormati sesama umat manusia tanpa membedakan latar belakang SARA.

Sebenarnya kedatangan Grand Syekh Al-Azhar, Ahmad Al-Thayyib ke Indonesia untuk menghadiri KTT Ulama dan Cedikiawan Muslim Dunia atau High Level Consultation (HLC) of World Muslim Scholars on Wasatiyat Islam.

Acara yang digelar awal Mei 2018 di Bogor, Jawa Barat ini dihadiri 100 ulama dan tokoh-tokoh dari dalam dan luar negeri. Dalam acara ini Grand Syekh Al-Azhar mengatakan bahwa wasatiyah Al-Azhar Al-Syarif berdasarkan pada wasathiyah Islam yang mengimbau masyarakat akan bahaya pemikiran sempit yang menyeleweng dan mengatasnamakan agama dalam tindakannya yang bertentangan.

Perlu diketahui alumni Al-Azhar mencapai 30 ribu tersebar di Indonesia, dengan jumlah yang sangat besar ini Grand Syekh menginginkan komunikasi dengan alumni Al-Azhar di Indonesia. Selama kunjungan ini Grand Syekh juga menghadiri reuni alumni Universitas Al-Azhar di Solo, acara ini juga dihadiri oleh tokoh Indonesia, antara lain Menteri Agama Saat itu, Lukman Hakim Saifuddin, Muhammad Quraish Shihab, dan Gubenur NTB, Muhammad Zainul Majdi alias Tuan Guru Bajang (TGB) selaku Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA).

Selain mengikuti KTT, Grand Syekh juga mengisi kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Surakarta dan Pondok Modern Darussalam Gontor Putri. Seperti apa yang dilasir NU Online, Grand Syekh juga membahas tentang Islam Moderat dan Islam Nusantara di PBNU.

Dalam Majalah Tazakka Edisi Khusus Kunjungan Syekh Al-Azhar ke Indonesia, sebenarnya sebelum dua kunjungan Grand Syekh Ahmad Al-Thayyib pada tahun 2016 dan 2018, kunjungan ke Indonesia sudah dilakukan oleh Para Syekh Al-Azhar sebelumnya, seperti, Syekh Mahmud Syaltut (1960), Syekh Abdul Halim Mahmud (1976), Syekh Jadul Haq Ali Jadul Haq (1995 M), Syekh Muhammad Sayyid Al-Thanthawi (2006). Dari kunjungan-kunjungan ini terbukti bahwa selama bertahun-tahun mempunyai hubungan yang sangat baik dengan Indonesia.

Selain Universitas Al-Azhar sendiri, Mesir sudah memiliki ikatan emosional dengan bangsa Indonesia sejak dahulu. Pada 22 Maret 1946, Mesir menjadi negara yang yang mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia pertama kalinya. Karena Indonesia dan Mesir memiliki banyak kesamaan, Indonesia termasuk negara yang banyak menganut Islam, sehingga Mesir bersama Liga Arab mendukung kemerdekaan Indonesia dengan ikatan saudara sesama muslim. Indonesia dan Mesir juga memiliki banyak kesamaan ideologi, terbukti dengan kedua negara ini menjadi negara anggota GNB (Gerakan No Blok) dan peserta dai KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) Asia-Afrika.

Hubungan Indonesia dengan Al-azhar sudah dari zaman dahulu bahkan sebelum Indonesia merdeka, banyaknya pelajar Indonesia inilah yang membuat hubungan Indonesia, Mesir, dan Al-Azhar semakin kuat. Sebagai bukti banyaknya ulama-ulama Indonesia lulusan Al-Azhar dan adanya Ruwaq Jawi yang dikhususkan bagi masyarakat Nusantara di Masjid Al-Azhar.

Sampai sekarang setiap tahunnya ribuan pelajar Indonesia selalu datang ke Universitas Al-Azhar untuk menuntut ilmu, bukan hanya pelajar tingkat strata satu, mamun juga tingkat magister hingga pelatihan khusus imamah dan dai.

Risalah perdamaian Al-Azhar untuk penjuru dunia sangatlah penting di saat menyebarnya paham keras menyeleweng seperti radikalisasi dan takfirisasi dengan banyaknya umat yang saling mengkafirkan satu sama lain untuk membuat perpecahan. Mengkafir-kafirkan orang lain merupakan kebodohan terhadap memahami ruh dan substansi agama.

Islam adalah agama perdamaian yang disebarkan dengan kasih sayang dan menjalin hubungan baik dengan orang lain. Untuk itu hubungan baik Indonesia dan Al-Azhar merupakan secuil contoh risalah perdamaian, sebuah kebaikan yang harus tetap kita jaga dan lestarikan di mana saja. Untuk itu kita sebagai pelajar di Universitas maupun sudah alumni harus tetap menjaga hubungan baik ini dengan belajar lebih giat, berprestasi, serta selalu bertanggung jawab dengan seluruh kepercayaan Al-Azhar dalam memudahkan mahasiswa Indonesia belajar di Universitas Al-Azhar. (Wi Farma/Mahasiswa Jurusan Peradaban di Universitas Al-Azhar)

Referensi:

شيماء عبد الهادي، جولة الإمام الأكبر الآسيوية تؤكد عالمية الأزهر ودوره في ترسيخ دعائم السلام، تم إصدار في بوابة الأهرام 2 من مايو 2018.

Humas Sekretariat Kabinet RI, Terima Syekh Al-Azhar, Presiden Jokowi Bahas Kerja Sama Syiarkan Wasathiyah. www.setkab.go.id, dipublikasikan pada 30 April 2018.

Humas Sekretariat Kabinet RI, Terima Grand Syekh Al-Azhar, Ketua Dewan Pengarah BPIP Mengaku Bicara Soal Islam Moderat. www.setkab.go.id, dipublikasikan pada 3 Mei 2018.

Andhika Prasetia, Imam Temui Mega ddk, Puji Ideologi Pancasila. www.news.detik.com, dipublikasikan pada 3 Mei 2018.

Budi Ardi Isnanto, Grand Syekh, TGB, Menag Hadiri Reuni Alumni Al-Azhar Indonesia. www.news.detik.com, dipublikasikan pada 1 Mei 2018.

Fathoni, Poin Utama Grand Syekh Al-Azhar dengan PBNU. www.nu.or.id, dipubliksikan pada 3 Mei 2018.

مجلة تزكى، العدد الخاض زيارة الشيخ الأزهر لإندونيسيا عام 2018م.

Kementrian Luar Negeri RI, Sejarah Hubungan Indonesia Mesir, www.kemenlu.go.id

Read more
12Apr

Observatorium; Implementasi Kemodernan Al Azhar Dalam Misi Perdamaian

12 April 2022 buutsfpib Artikel

(Edisi Spesial Ramadhan: Milad Al-Azhar ke-1082 Vol. 06)

Akhir-akhir ini dunia digemparkan dengan publikasi media terkait invasi Rusia terhadap Ukraina. Yang bahkan diperkirakan bisa mendorong terjadinya perang dunia ke-3. Ini bukan kali pertama dunia dihadapkan dengan permasalahan yang demikian. Problematika perdamaian seakan tak pernah usai.

Hal ini relavan dengan data yang ada. Menurut Global Index Peace 2020 tingkat rata-rata kedamaian negara global telah memburuk dengan 0,07%, ini merupakan penurunan kesembilan dalam 13 tahun terakhir. Tedapat 73 Negara yang mengalami penurunan perdamaian. Penurunan didorong oleh perubahan yang terjadi dalam: militerisasi, pengeluaran militer, serta keselamatan dan keamanan.

Tidak hanya itu, pergerakan-pergerakan yang bersifat radikalis serta ekstrimis masih sering kali pula terdeteksi. Pergerakannya memiliki kontinuitas yang bisa dikatakan stabil, baik secara terang-terangan ataupun sebaliknya. Paham-paham mereka mulai tersebar luas di masyarakat baik melalui media, seperti situs web, surat kabar, ataupun acara televisi. Bahkan mereka tidak segan untuk merambah ranah pendidikan, baik menyusup dalam kurikulum sekolah atau dari seorang oknum radikalis yang menyamar menjadi kontributor dalam dunia pendidikan. Ancaman teror pun juga gencar mereka gaungkan. Serangan di berbagai daerah tidak dapat dihindari. Korban-korban berjatuhan, serta kerugian menyeluruh dalam segala aspek.

Hal-hal semacam ini tidak bisa dianggap angin lalu begitu saja. Satu-persatu lembaga mulai menaruh perhatiannya pada masalah ini. Berbagai upaya di usahakan demi mencapai perdamaian dunia.

Begitupula yang dilakukan oleh Al-Azhar, sebuah lembaga yang eksistensinya tidak lekang oleh zaman. Berdiri lebih dari 1080 tahun yang lalu menjadikan usianya sudah lebih dari dewasa. Kiprahnya terhadap dunia sudah tidak diragukan lagi. Wujud-wujud kontribusi nyata baik dalam bidang pendidikan atau apapun itu semua berjalan selaras dengan kearifannya sebagai kiblat ilmu.

Dengan diresmikannya Observatorium Al-Azhar pada 3 Juni 2015 silam, menjadi salah satu pilar modernitas Al-Azhar dalam kontribusinya terhadap perdamaian dunia khususnya dalam penanganan radikalisme dan ekstrimisme. Dilansir dari laman al-ain.com, dalam acara peresmiannya Grand Syekh Al-Azhar, Ahmad Thayeb, menyampaikan tujuan didirikan observatorium tersebut bahwa Al-Azhar ingin mengadopsi visi modern baru serta ingin mendorong kader-kader muda yang mampu merespon budaya dan peradaban yang berbeda. Orang-orang yang bertanggung jawab atas pekerjaan ini dipilih dari mereka yang fasih berbahasa asing, peneliti di bidang ilmu forensik, dan mampu memahami permasalahan dari perspektif Islam. Sehingga mampu membedakan yang buruk dari yang baik dalam pondasi sesuai pilar-pilar yang ada dalam agama yang murni ini.

Beliau juga menyampaikan bahwa ide pendirian observatorium ini sebagai mata Al-Azhar untuk melihat apa yang terjadi di dunia serta untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang datang mengenai pendapat Al-Azhar terhadap isu-isu kontemporer dan perkembangan yang terjadi di berbagai tempat khususnya dalam Islam dan Muslim.

Sejak didirikannya, observatorium sendiri telah menerima lebih dari 200 kunjungan pejabat tinggi, kepala negara, menteri, delegasi lokal maupun asing, dan juga peneliti yang peduli dengan bidang ekstrimisme dan terorisme dari berbagai negara di dunia. Selain itu observatorium juga telah mengeluarkan lebih dari 25.000 laporan berkala baik harian, mingguan, dan bulanan. 2.100 diantaranya di laman media sosial dan 2.350 di portal elektronik Al-Azhar. Sedangkan jumlah publikasi dalam bahasa asing mencapai sekitar 3.300 berupa media cetak dan 2.625 diunggah melalui portal elektronik sebagaimana dilansir dari alwafd.news.

Mekanisme kerja dalam observatorium ini terbagi menjadi 13 unit yang bekerja dalam bahasa Arab dan asing. Diantara tugas para peneliti adalah mengoreksi kesalahpahaman, menghilangkan kecurigaan yang disebarkan oleh kelompok teroris, serta menghadapi fenomena “Islamophobia”. Pusat penelitian ini sendiri bekerja dalam 12 bahasa yang mana dari setiap unit mengeluarkan artikel, tindak lanjut, berita, ataupun pesan kesadaran untuk dipublikasikan dalam bahasa masing-masing. Bahasa-bahasa tersebut adalah Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol, Urdu, Persia, Swahili, Cina, Italia, Ibrani, dan tentunya yang terakhir adalah bahasa Arab.

Perlu menjadi catatan bahwa Observatorium Al-Azhar juga turut berpartisipasi dalam Pameran Buku Internasional Kairo ke-53 dengan sejumlah publikasi yang dicetak dalam bahasa Arab dan asing, Mengutip gate.ahram.org.eg buku-buku yang diterbitkan tersebut diantaranya: “Pelanggaran Terhadap Rakyat dan Kesucian Palestina”, “Realitas Jihad dalam Islam, Ekstrimisme, dan Ciri-ciri Kepribadian Ekstrimis”, “Kilasan Terang Sejarah Islam di Cina”, “Bangkitnya Islamofobia di Eropa”, “Dokumen Persaudaraan Kemanusiaan”, dan “Ujaran Kebencian di Media Global”.

Berbanding lurus dengan misinya untuk menegakkan wasatiyatul ummah Al-Azhar mengambil jalan tengah terbaik yang dapat kita lihat secara gamblang. Contohnya saja dalam menghadapi hal-hal yang berkaitan dengan intelektual atau hukum, Al-Azhar khususnya obeservatorium berusaha menjawab dengan proporsi yang tepat agar dapat dipahami berbagai kalangan. Tidak hanya intelektual, namun juga umat non-muslim dan masyarakat awam. Pemaparan tersebut tidak hanya berhenti dalam pemaparan ayat-ayat Al-Qur’an, hadis nabi, ataupun narasi-narasi keagamaan lainnya, namun juga memaparkan bagaimana cara memahaminya dengan baik, menghadapinya, juga memproyeksikan dalam kejadian nyata sehari-hari. Termasuk dalam realitas perubahan dan lingkungan serta budaya yang berbeda-beda. Hal-hal tersebut yang menjadi cermin kemoderatan Al-Azhar sendiri dengan pembaharuan yang logis dan seimbang memberikan kita kejelasan tujuan dalam gaya yang lebih sederhana serta lebih mudah diterima oleh khalayak. Seperti tujuan didirikannya, observatorium hadir tidak hanya ditujukan kepada orang Islam, tetapi untuk manusia seluruhnya dari berbagai daerah dan budaya yang berbeda. Oleh karena itu, dirasa sangat perlu merangkum segala sesuatunya dalam diksi yang lebih sederhana dengan tetap berlandaskan ilmu syariah dan akal yang seimbang.

Berangkat dari kontirbusi dan upaya Al-Azhar di atas, sudah cukup menjadi bukti akan kemoderatan Al-Azhar tanpa mengecilkan nilai-nilai keagamaan. Melainkan sebaliknya, justru nilai-nilai keagamaan inilah yang melandasi Al-Azhar dalam segala misinya. Dari sini pula kita bisa melihat bahwa bukan hanya dunia yang memandang Al-Azhar. Tetapi juga Al-Azhar memandang dunia. Perhatian Al-Azhar begitu besar dalam segala aspek kehidupan manusia. Kasih Al-Azhar kepada dunia abadi sepanjang masa. (Atina Husna/ Mahasiswi Universitas Al-Azhar Jurusan Psikologi)

Read more
10Apr

Peran Al Azhar dalam Menjaga Perdamaian

10 April 2022 buutsfpib Artikel

(Edisi Spesial Ramadhan: Milad Al-Azhar ke-1082 Vol. 05)

Budaya perdamaian merupakan pilar peradaban yang harus senantiasa dijaga dari masa ke masa. Lenyapnya perdamaian menandakan lenyapnya rahmat di atas muka bumi, dan hilangnya rahmat menandakan bahwa umat Islam sedang kehilangan kendali akan substansi ajaran Islam itu sendiri. Mengapa demikian? Karena Nabi Muhammad SAW diutus untuk membawa rahmat bagi alam semesta. Bahkan, Islam tidak hanya melarang aksi terorisme dan kekerasan, sekedar menukut-nakuti yang dilakukan untuk bergurau dan bercanda pun dilarang.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ أَشَارَ إِلَى أَخِيْهِ بِحَدِيْدَةٍ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَلْعَنُهُ حَتَّى يَدَعَهُ وَإِنْ كَانَ أَخَاهُ لِأَبِيْهِ وَأُمِّهِ (رواه مسلم)

“Barang siapa yang mengacungkan besi kepada saudaranya, sesungguhnya malaikat melaknatnya hingga ia meninggalkannya,meskipun itu kepada saudara seayah dan seibunya” (H.R. Muslim) [1].

Dalam hadits lain disebutkan:

لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا (رواه أبو داود)

“Tidak dihalalkan bagi seorang muslim untuk menakut-nakuti muslim lainnya” (H.R. Abu Daud) [2].

Al-Azhar sebagai benteng keilmuan dan mercusuar peradaban yang telah mengawal umat dari masa ke masa tentu memiliki beban moral untuk mengambil sikap dan tindakan yang mampu memadamkan kobaran kebencian dan permusuhan di Barat dan Timur. Harus diakui bahwa saat ini kita sedang berada dalam situasi yang banyak mengorbankan umat Islam. Hal ini dikarenakan hilangnya pandangan maqashid yang tentu saja menggelisahkan dunia ijtihad. Di samping itu, krisis ini juga disebabkan munculnya fatwa impor dalam bentuk kemasan lintas negara tanpa memperhatikan kondisi masyarakat yang memiliki perbedaan adat-istiadat, budaya, dan bahasa.

Dengan demikian, Al-Azhar telah menyiapkan kader-kader yang kredibel dengan membentuk para imam di luar negeri dengan memberikan penyuluhan kepada mereka tentang permasalahan yang bersinggungan dengan kebutuhan kaum muslim dalam berbagai bidang. Mereka juga telah diberikan pelatihan melalui seminar-seminar yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Al-Azhar Internasional di Kairo, yaitu sebanyak 538 imam dari Afghanistan, Pakistan, Kurdistan, Iraq, Cina, Indonesia, Inggris, Yaman, juga negara-negara Afrika dan Amerika Selatan [3].

Teror yang dalam banyak kesempatan menggunakan topeng agama serta datangnya dukungan dari politik-politik gelap internasional dengan jumlah uang yang berlimpah, telah mendorong Dewan Cendekiawan Muslim untuk bekerja sama dengan Al-Azhar dengan mengirimkan delegasi perdamaian ke berbagai negara dunia [4]. Hal ini bertujuan untuk mengenali kondisi kaum muslimin di negara-negara tersebut dan menyebarkan Fikih Perdamaian di antara mereka, serta berkontribusi dalam menjaga mereka dari teror yang sama sekali tidak mempedulikan perlindungan, dan kasih sayang.

Misi menghidupkan Fikih Perdamaian telah menjadi pintu pertolongan untuk menyelamatkan umat manusia secara umum, dan umat islam pada khususnya dari bahaya teror dan bencana ekstrimisme bersenjata.

Ketetapan hakikat secara teoritis yang bersumber dari berbagai referensi dalam akidah Ahlussunnah wal Jama’ah, merupakan metode yang dianut Al-Azhar dalam penyelenggaraan pendidikan dan pembentukan pengajaran di institut yang berusia tua ini. Lembaga ini diwarnai dengan corak pemikiran yang seimbang, serta perpaduan intelektualitas yang komprehensif guna mewujudkan persatuan umat islam selama mereka bersatu menghadap satu kiblat.

Prof. Dr. Ahmad At-Thayyeb selaku Syaikhul Azhar senantiasa memperhatikan kurikulum diktat fakultas-fakultas di Universitas Al-Azhar, agar para mahasiswa terbiasa berinteraksi dengan berbagai teks para imam dari berbagai madrasah pemikiran dan aliran ijtihad [5]. Oleh karena itu, spirit moderatisme telah tertanam teguh dalam diri mereka guna membendung kecenderungan fanatisme, ekstrimisme, dan sempitnya pandangan yang dapat menggerogoti tubuh umat.

Hal ini berdasarkan peringatan Rasulullah SAW melalui sabdanya:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِيْ الدِّيْنِ ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الْغُلُوَّ فِيْ الدِّيْنِ (رواه ابن ماجه)

“Wahai Manusia! Jauhilah sikap berlebih-lebihan (ekstrem) dalam beragama, karena kaum sebelum kalian telah musnah disebabkan sikap berlebih-lebihan dalam beragama” (HR. Ibnu Majah) [6].

Pemahaman terhadap upaya-upaya yang dilakukan Al-Azhar dalam membangun hubungan kemanusiaan, tidak akan terwujud dalam bentuk yang benar kecuali jika ia telah berdamai dengan dirinya sendiri dan dengan Allah SWT. Jika rasa damai ini telah sempurna, maka ia akan berpengaruh positif terhadap hubungannya dengan yang lain. Dengan kata lain, jika hati dan iman telah menyatu, maka buahnya adalah adanya interaksi yang baik dengan orang lain, karena Islam meminta pemeluknya agar mampu beradaptasi dengan baik [7].

Kehidupan yang harmonis dapat terwujud dengan cara memberikan pendidikan hati dan nilai-nilai agama. Bersatunya iman dan kasih sayang dalam diri seseorang, akan membentuk pribadi-pribadi tangguh yang menjadikan masyarakat seperti bangunan kokoh yang saling nenguatkan satu sama lain. (Fatias Risantara Akbar/ Mahasiswa Universitas Al-Azhar Jurusan Syariah Islamiyah)

[1] H.R. Muslim, No: 2616.

[2] H.R. Abu Daud No. 5004 dari sekelompok sahabat Nabi Saw., Al-Munawi berkata dalam “Al-Taysir bin Syarh Al-Jami’ As-Shaghir”: 2/504: “Sanadnya Hasan”.

[3] Pidato Grand Syaikh tentang Toleransi dan Peradaban, jilid 1, hal. 13.

[4] Ibid, hal. 89.

[5] Ibid, hal.19.

[6] H.R. Ibnu Majah, No: 3029.

[7] Prof. Dr. Mahmud Hamdi Zaqzuq, Manusia dan Norma dalam Perspektif Islam, hal. 62.

Read more
    12
Logo FPIB Kecil Web

FPIB (Forum Pelajar Indonesia Bu’uts) merupakan forum sosial yang mewadahi seluruh pelajar Indonesia yang terdaftar di Madinatul Bu’uts Al Islamiyyah.

FPIB © All rights reserved

Kategori

  • News
  • Info

Info

  • Ijroat Adventure Minhah Dakhili
  • Ijroat Adventure Minhah Khoriji
  • Taqdim Minhah

Tentang Kami

  • About FPIB
  • Kontak