FPIB © All rights reserved
FPIB
  • Home
  • Artikel
  • Info
  • Berita
  • Ramadhan
  • About
Join Grup
FPIB
Join Grup

Artikel

Home / Artikel
12Apr

Observatorium; Implementasi Kemodernan Al Azhar Dalam Misi Perdamaian

12 April 2022 buutsfpib Artikel

(Edisi Spesial Ramadhan: Milad Al-Azhar ke-1082 Vol. 06)

Akhir-akhir ini dunia digemparkan dengan publikasi media terkait invasi Rusia terhadap Ukraina. Yang bahkan diperkirakan bisa mendorong terjadinya perang dunia ke-3. Ini bukan kali pertama dunia dihadapkan dengan permasalahan yang demikian. Problematika perdamaian seakan tak pernah usai.

Hal ini relavan dengan data yang ada. Menurut Global Index Peace 2020 tingkat rata-rata kedamaian negara global telah memburuk dengan 0,07%, ini merupakan penurunan kesembilan dalam 13 tahun terakhir. Tedapat 73 Negara yang mengalami penurunan perdamaian. Penurunan didorong oleh perubahan yang terjadi dalam: militerisasi, pengeluaran militer, serta keselamatan dan keamanan.

Tidak hanya itu, pergerakan-pergerakan yang bersifat radikalis serta ekstrimis masih sering kali pula terdeteksi. Pergerakannya memiliki kontinuitas yang bisa dikatakan stabil, baik secara terang-terangan ataupun sebaliknya. Paham-paham mereka mulai tersebar luas di masyarakat baik melalui media, seperti situs web, surat kabar, ataupun acara televisi. Bahkan mereka tidak segan untuk merambah ranah pendidikan, baik menyusup dalam kurikulum sekolah atau dari seorang oknum radikalis yang menyamar menjadi kontributor dalam dunia pendidikan. Ancaman teror pun juga gencar mereka gaungkan. Serangan di berbagai daerah tidak dapat dihindari. Korban-korban berjatuhan, serta kerugian menyeluruh dalam segala aspek.

Hal-hal semacam ini tidak bisa dianggap angin lalu begitu saja. Satu-persatu lembaga mulai menaruh perhatiannya pada masalah ini. Berbagai upaya di usahakan demi mencapai perdamaian dunia.

Begitupula yang dilakukan oleh Al-Azhar, sebuah lembaga yang eksistensinya tidak lekang oleh zaman. Berdiri lebih dari 1080 tahun yang lalu menjadikan usianya sudah lebih dari dewasa. Kiprahnya terhadap dunia sudah tidak diragukan lagi. Wujud-wujud kontribusi nyata baik dalam bidang pendidikan atau apapun itu semua berjalan selaras dengan kearifannya sebagai kiblat ilmu.

Dengan diresmikannya Observatorium Al-Azhar pada 3 Juni 2015 silam, menjadi salah satu pilar modernitas Al-Azhar dalam kontribusinya terhadap perdamaian dunia khususnya dalam penanganan radikalisme dan ekstrimisme. Dilansir dari laman al-ain.com, dalam acara peresmiannya Grand Syekh Al-Azhar, Ahmad Thayeb, menyampaikan tujuan didirikan observatorium tersebut bahwa Al-Azhar ingin mengadopsi visi modern baru serta ingin mendorong kader-kader muda yang mampu merespon budaya dan peradaban yang berbeda. Orang-orang yang bertanggung jawab atas pekerjaan ini dipilih dari mereka yang fasih berbahasa asing, peneliti di bidang ilmu forensik, dan mampu memahami permasalahan dari perspektif Islam. Sehingga mampu membedakan yang buruk dari yang baik dalam pondasi sesuai pilar-pilar yang ada dalam agama yang murni ini.

Beliau juga menyampaikan bahwa ide pendirian observatorium ini sebagai mata Al-Azhar untuk melihat apa yang terjadi di dunia serta untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang datang mengenai pendapat Al-Azhar terhadap isu-isu kontemporer dan perkembangan yang terjadi di berbagai tempat khususnya dalam Islam dan Muslim.

Sejak didirikannya, observatorium sendiri telah menerima lebih dari 200 kunjungan pejabat tinggi, kepala negara, menteri, delegasi lokal maupun asing, dan juga peneliti yang peduli dengan bidang ekstrimisme dan terorisme dari berbagai negara di dunia. Selain itu observatorium juga telah mengeluarkan lebih dari 25.000 laporan berkala baik harian, mingguan, dan bulanan. 2.100 diantaranya di laman media sosial dan 2.350 di portal elektronik Al-Azhar. Sedangkan jumlah publikasi dalam bahasa asing mencapai sekitar 3.300 berupa media cetak dan 2.625 diunggah melalui portal elektronik sebagaimana dilansir dari alwafd.news.

Mekanisme kerja dalam observatorium ini terbagi menjadi 13 unit yang bekerja dalam bahasa Arab dan asing. Diantara tugas para peneliti adalah mengoreksi kesalahpahaman, menghilangkan kecurigaan yang disebarkan oleh kelompok teroris, serta menghadapi fenomena “Islamophobia”. Pusat penelitian ini sendiri bekerja dalam 12 bahasa yang mana dari setiap unit mengeluarkan artikel, tindak lanjut, berita, ataupun pesan kesadaran untuk dipublikasikan dalam bahasa masing-masing. Bahasa-bahasa tersebut adalah Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol, Urdu, Persia, Swahili, Cina, Italia, Ibrani, dan tentunya yang terakhir adalah bahasa Arab.

Perlu menjadi catatan bahwa Observatorium Al-Azhar juga turut berpartisipasi dalam Pameran Buku Internasional Kairo ke-53 dengan sejumlah publikasi yang dicetak dalam bahasa Arab dan asing, Mengutip gate.ahram.org.eg buku-buku yang diterbitkan tersebut diantaranya: “Pelanggaran Terhadap Rakyat dan Kesucian Palestina”, “Realitas Jihad dalam Islam, Ekstrimisme, dan Ciri-ciri Kepribadian Ekstrimis”, “Kilasan Terang Sejarah Islam di Cina”, “Bangkitnya Islamofobia di Eropa”, “Dokumen Persaudaraan Kemanusiaan”, dan “Ujaran Kebencian di Media Global”.

Berbanding lurus dengan misinya untuk menegakkan wasatiyatul ummah Al-Azhar mengambil jalan tengah terbaik yang dapat kita lihat secara gamblang. Contohnya saja dalam menghadapi hal-hal yang berkaitan dengan intelektual atau hukum, Al-Azhar khususnya obeservatorium berusaha menjawab dengan proporsi yang tepat agar dapat dipahami berbagai kalangan. Tidak hanya intelektual, namun juga umat non-muslim dan masyarakat awam. Pemaparan tersebut tidak hanya berhenti dalam pemaparan ayat-ayat Al-Qur’an, hadis nabi, ataupun narasi-narasi keagamaan lainnya, namun juga memaparkan bagaimana cara memahaminya dengan baik, menghadapinya, juga memproyeksikan dalam kejadian nyata sehari-hari. Termasuk dalam realitas perubahan dan lingkungan serta budaya yang berbeda-beda. Hal-hal tersebut yang menjadi cermin kemoderatan Al-Azhar sendiri dengan pembaharuan yang logis dan seimbang memberikan kita kejelasan tujuan dalam gaya yang lebih sederhana serta lebih mudah diterima oleh khalayak. Seperti tujuan didirikannya, observatorium hadir tidak hanya ditujukan kepada orang Islam, tetapi untuk manusia seluruhnya dari berbagai daerah dan budaya yang berbeda. Oleh karena itu, dirasa sangat perlu merangkum segala sesuatunya dalam diksi yang lebih sederhana dengan tetap berlandaskan ilmu syariah dan akal yang seimbang.

Berangkat dari kontirbusi dan upaya Al-Azhar di atas, sudah cukup menjadi bukti akan kemoderatan Al-Azhar tanpa mengecilkan nilai-nilai keagamaan. Melainkan sebaliknya, justru nilai-nilai keagamaan inilah yang melandasi Al-Azhar dalam segala misinya. Dari sini pula kita bisa melihat bahwa bukan hanya dunia yang memandang Al-Azhar. Tetapi juga Al-Azhar memandang dunia. Perhatian Al-Azhar begitu besar dalam segala aspek kehidupan manusia. Kasih Al-Azhar kepada dunia abadi sepanjang masa. (Atina Husna/ Mahasiswi Universitas Al-Azhar Jurusan Psikologi)

Read more
10Apr

Peran Al Azhar dalam Menjaga Perdamaian

10 April 2022 buutsfpib Artikel

(Edisi Spesial Ramadhan: Milad Al-Azhar ke-1082 Vol. 05)

Budaya perdamaian merupakan pilar peradaban yang harus senantiasa dijaga dari masa ke masa. Lenyapnya perdamaian menandakan lenyapnya rahmat di atas muka bumi, dan hilangnya rahmat menandakan bahwa umat Islam sedang kehilangan kendali akan substansi ajaran Islam itu sendiri. Mengapa demikian? Karena Nabi Muhammad SAW diutus untuk membawa rahmat bagi alam semesta. Bahkan, Islam tidak hanya melarang aksi terorisme dan kekerasan, sekedar menukut-nakuti yang dilakukan untuk bergurau dan bercanda pun dilarang.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ أَشَارَ إِلَى أَخِيْهِ بِحَدِيْدَةٍ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَلْعَنُهُ حَتَّى يَدَعَهُ وَإِنْ كَانَ أَخَاهُ لِأَبِيْهِ وَأُمِّهِ (رواه مسلم)

“Barang siapa yang mengacungkan besi kepada saudaranya, sesungguhnya malaikat melaknatnya hingga ia meninggalkannya,meskipun itu kepada saudara seayah dan seibunya” (H.R. Muslim) [1].

Dalam hadits lain disebutkan:

لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا (رواه أبو داود)

“Tidak dihalalkan bagi seorang muslim untuk menakut-nakuti muslim lainnya” (H.R. Abu Daud) [2].

Al-Azhar sebagai benteng keilmuan dan mercusuar peradaban yang telah mengawal umat dari masa ke masa tentu memiliki beban moral untuk mengambil sikap dan tindakan yang mampu memadamkan kobaran kebencian dan permusuhan di Barat dan Timur. Harus diakui bahwa saat ini kita sedang berada dalam situasi yang banyak mengorbankan umat Islam. Hal ini dikarenakan hilangnya pandangan maqashid yang tentu saja menggelisahkan dunia ijtihad. Di samping itu, krisis ini juga disebabkan munculnya fatwa impor dalam bentuk kemasan lintas negara tanpa memperhatikan kondisi masyarakat yang memiliki perbedaan adat-istiadat, budaya, dan bahasa.

Dengan demikian, Al-Azhar telah menyiapkan kader-kader yang kredibel dengan membentuk para imam di luar negeri dengan memberikan penyuluhan kepada mereka tentang permasalahan yang bersinggungan dengan kebutuhan kaum muslim dalam berbagai bidang. Mereka juga telah diberikan pelatihan melalui seminar-seminar yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Al-Azhar Internasional di Kairo, yaitu sebanyak 538 imam dari Afghanistan, Pakistan, Kurdistan, Iraq, Cina, Indonesia, Inggris, Yaman, juga negara-negara Afrika dan Amerika Selatan [3].

Teror yang dalam banyak kesempatan menggunakan topeng agama serta datangnya dukungan dari politik-politik gelap internasional dengan jumlah uang yang berlimpah, telah mendorong Dewan Cendekiawan Muslim untuk bekerja sama dengan Al-Azhar dengan mengirimkan delegasi perdamaian ke berbagai negara dunia [4]. Hal ini bertujuan untuk mengenali kondisi kaum muslimin di negara-negara tersebut dan menyebarkan Fikih Perdamaian di antara mereka, serta berkontribusi dalam menjaga mereka dari teror yang sama sekali tidak mempedulikan perlindungan, dan kasih sayang.

Misi menghidupkan Fikih Perdamaian telah menjadi pintu pertolongan untuk menyelamatkan umat manusia secara umum, dan umat islam pada khususnya dari bahaya teror dan bencana ekstrimisme bersenjata.

Ketetapan hakikat secara teoritis yang bersumber dari berbagai referensi dalam akidah Ahlussunnah wal Jama’ah, merupakan metode yang dianut Al-Azhar dalam penyelenggaraan pendidikan dan pembentukan pengajaran di institut yang berusia tua ini. Lembaga ini diwarnai dengan corak pemikiran yang seimbang, serta perpaduan intelektualitas yang komprehensif guna mewujudkan persatuan umat islam selama mereka bersatu menghadap satu kiblat.

Prof. Dr. Ahmad At-Thayyeb selaku Syaikhul Azhar senantiasa memperhatikan kurikulum diktat fakultas-fakultas di Universitas Al-Azhar, agar para mahasiswa terbiasa berinteraksi dengan berbagai teks para imam dari berbagai madrasah pemikiran dan aliran ijtihad [5]. Oleh karena itu, spirit moderatisme telah tertanam teguh dalam diri mereka guna membendung kecenderungan fanatisme, ekstrimisme, dan sempitnya pandangan yang dapat menggerogoti tubuh umat.

Hal ini berdasarkan peringatan Rasulullah SAW melalui sabdanya:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِيْ الدِّيْنِ ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الْغُلُوَّ فِيْ الدِّيْنِ (رواه ابن ماجه)

“Wahai Manusia! Jauhilah sikap berlebih-lebihan (ekstrem) dalam beragama, karena kaum sebelum kalian telah musnah disebabkan sikap berlebih-lebihan dalam beragama” (HR. Ibnu Majah) [6].

Pemahaman terhadap upaya-upaya yang dilakukan Al-Azhar dalam membangun hubungan kemanusiaan, tidak akan terwujud dalam bentuk yang benar kecuali jika ia telah berdamai dengan dirinya sendiri dan dengan Allah SWT. Jika rasa damai ini telah sempurna, maka ia akan berpengaruh positif terhadap hubungannya dengan yang lain. Dengan kata lain, jika hati dan iman telah menyatu, maka buahnya adalah adanya interaksi yang baik dengan orang lain, karena Islam meminta pemeluknya agar mampu beradaptasi dengan baik [7].

Kehidupan yang harmonis dapat terwujud dengan cara memberikan pendidikan hati dan nilai-nilai agama. Bersatunya iman dan kasih sayang dalam diri seseorang, akan membentuk pribadi-pribadi tangguh yang menjadikan masyarakat seperti bangunan kokoh yang saling nenguatkan satu sama lain. (Fatias Risantara Akbar/ Mahasiswa Universitas Al-Azhar Jurusan Syariah Islamiyah)

[1] H.R. Muslim, No: 2616.

[2] H.R. Abu Daud No. 5004 dari sekelompok sahabat Nabi Saw., Al-Munawi berkata dalam “Al-Taysir bin Syarh Al-Jami’ As-Shaghir”: 2/504: “Sanadnya Hasan”.

[3] Pidato Grand Syaikh tentang Toleransi dan Peradaban, jilid 1, hal. 13.

[4] Ibid, hal. 89.

[5] Ibid, hal.19.

[6] H.R. Ibnu Majah, No: 3029.

[7] Prof. Dr. Mahmud Hamdi Zaqzuq, Manusia dan Norma dalam Perspektif Islam, hal. 62.

Read more
08Apr

Sejak Kapan Al Azhar Menjadi Kiblat Keilmuan Islam?

8 April 2022 buutsfpib Artikel

(Edisi Spesial Ramadhan: Milad Al-Azhar ke-1082 Vol. 04)

Pertanyaan yang agak rumit. Sebab harus menoleh ke belakang; melihat sejak kapan Al-Azhar melahirkan bintang-gemintang ulama yang ilmunya diteguk oleh umat Islam sepanjang masa ke masa.

Muiz Lidinillah mulai membangun Al-Azhar pada hari sabtu bulan Jumadil Awal tahun 359 H (970 M) dan pembangunan itu selesai tanggal 7 Ramadhan 361 H atau 22 Juni 972 M. Ketika itu tentu Al-Azhar masih belum menjadi kiblat keilmuan Islam. Sebab pusat keilmuan Islam masih terpusat di Baghdad dengan mahligai keindahan Bayt al-Hikmah-nya dan Andalusia yang mempesona dengan ulamanya. Al-Azhar masih kanak-kanaknya untuk disebut sebagai kiblat keilmuan.

Meskipun demikian, Al-Azhar telah memulai halakah-halakah keilmuannya dengan mengajarkan kitab-kitab mazhab Syiah Imamiyah. Al-Maqrizi, murid kesayangan Ibnu Khaldun mengatakan bahwa kitab yang pertama kali diajarkan di Al-Azhar adalah kitab matan fikih syiah, al-Iqtishar.

Pengajian di Al-Azhar tidak hanya untuk laki-laki, tapi juga ada majelis khusus untuk para perempuan, baik perempuan kerajaan maupun perempuan umum.

Berabad kemudian, Baghdad dan Andalusia di ambang kehancuran perang. Para warga termasuk ulama banyak yang melarikan diri. Tentara Mongol menghancurkan dan meluluhlantakkan Baghdad beserta perpustakaan besarnya; Bayt al-Hikmah. Buku-buku yang ada di dalamnya dibuang ke sungai. Sayang sekali tidak ada PDF yang bisa menjaga kitab-kitab yang dibuang itu. Bahkan bukan cuma itu,  sekitar satu juta orang dibunuh oleh pasukan jahanam kaum Mongol. Syekh Usamah Sayyid Azhari sampai mengatakan bahwa kejadian itu merupakan musibah terbesar dalam sejarah manusia setelah banjir besar yang menimpa kaum Nabi Nuh.

Andalusia juga begitu. Menemui ajalnya. Orang-orang dibunuh, dibantai dan disiksa sepuasnya.

Kedua pusat keilmuan itu runtuh.

Pada masa Saladin al-Ayyubi al-Syafii al-Asy’ari, beliau menciptakan madrasah-madrasah di Mesir. Jumlahnya mencapai puluhan. Tujuannya tak lain untuk menandingi Al-Azhar yang pada masa itu masih memegang erat pemahaman Syiah.

Al-Azhar akhirnya ditutup selama hampir seabad. Lockdown yang amat lama sekali. Akan tetapi, madrasah-madrasah yang dibuat oleh Saladin di Mesir tetap berjalan sebagaimana biasa. Hingga pada suatu hari, Al-Azhar dibuka kembali.

Imam Suyuthi mengatakan:

وقد غدا الأزهر منذ أواخر القرن السابع أي منذ غلق معاهد بغداد وقرطبة كعبة الأساتذة والطلاب من سائر العالم. وغدا أعظم مركز للدراسات الإسلامية العامة حتى أطلق عليه في عصر الممالك العصر الذهبي للأزهر.

“Sungguh Al-Azhar di akhir abad ke tujuh, yaitu sejak ditutupnya madrasah-madrasah Baghdad dan Cordoba (Andalus), Al-Azhar telah menjadi kiblat para ulama dan pencari ilmu di seluruh persada bumi. Dia telah menjadi pusat pembelajaran Islam secara umum sampai-sampai disebutkan bahwa al-Azhar yang ada pada masa Mamalik itu sebagai masa keemasan bagi Al-Azhar.”

Pernyataan itu tidaklah berlebihan. Sebab akhir abad ketujuh, memang banyak bermunculan ulama-ulama kibar yang mengunjunginya Al-Azhar atau lahir di sana. ‘Allamah Ibnu Khaldun menginjakkan kakinya di teras Al-Azhar sekitar pada tahun 783 H. Di Al-Azhar beliau menuliskan beberapa karyanya. Abad ketujuh muncul juga ulama sekaliber Imam Ibnu Hajar Asqalani, Imam Mahalli, Badruddin Zarkasyi, dan lain-lain.

Ibnu Mandhur, seorang ulama lughah (bahasa) yang memiliki kitab fenomenal;  Lisan al-Arab yang mencakup sekitar 80 ribu akar kata bahasa Arab, menuliskan kitabnya di Al-Azhar. Fairruzabadi sempat menuliskan kamusnya yang fenomenal, Qamus al-Muhith, di Al-Azhar. Demikian pula al-Damamini dan Ibnu Aqil, dua pakar bahasa kenamaan yang sempat mengajar di Al-Azhar. Imam Murtadha al-Zabidi menulis kitab Tajul Arus, Syarah Qamus al-Muhith milik Fairuzabadi juga di Al-Azhar. Demikian ditulis dalam buku Al-Azhar Fi Alfi ‘Am. Al-Azhar, lautan ilmu lughah. Para ulama lughah mencari keberkahan dengan menulis kitabnya di sana.

Syaikhul Azhar, Maulana Ahmad Thayyib mengatakan:

فمن المعلوم تاريخا: أن مركز الثقل في تراث المسلمين كان في بغداد، وفي بلاد فيما وراء النهرين، وأن زعيم المغول دمر بجيشه الوثني تراث المسلمين في هذه البلاد، ومحاه من الوجود عام ٦١٦ ه – ١٢٢٠ م، ثم جاء حفيده هولاكو عام ٦٥٦ ه – ١٢٥٨ فدمر بغداد برجالها ونسائها واطفالها ومدارسها ومكتباتها.

ولك أن تتساءل: أين قدر لهذا التراث أن ينبعث ويتماسك من جديد، ويستعيد دوره في حماية أمة بحجم أمة المسلمين؟

والإجابة التي لا يعرف التاريخ إجابة غيرها: إنه الأزهر الشريف وعلماؤه وأروقته، ولولاه لأصبحت الأمة بلا رأس، وأصبح اندماجها في الحضارات الأخرى وانسحاقها في تراثها أمرا محتوما تفرضه عوامل التطور وحركات التاريخ.

“Sudah diketahui dalam sejarah bahwa pusat besar turats umat Islam di Baghdad dan di Bilad Fi Ma Waraa al-Nahr (Transoxiania). Panglima Mongol menghancurkan turats umat Islam. Meluluhlantakkan Baghdad, rakyatnya, anak-anak kecil dan perempuan di dalamnya, beserta perpustakaannya.

Kalian bisa bertanya-tanya: ‘Di mana turats mampu kembali dan dapat dicengkeram kembali seperti semula serta mengembalikan perannya untuk menjaga umat Islam?’

Satu-satunya jawabnya yang diketahui oleh sejarah: ‘Ya. Dialah Al-Azhar, ulamanya, ruwaq-ruwaqnya. Tanpa Al-Azhar, umat Islam akan menjadi umat tanpa kepala. Dan keberadaannya dalam peradaban-peradaban dan keterbelakangan umat Islam dalam turatsnya menjadi sebuah kenyataan yang tak bisa dielakkan tanpa Al-Azhar yang bisa dibuktikan dengan aspek-aspek sebuah kemajuan dan pergerakan sejarah’.”

Setelah itu, Syaikhul Islam wa Al-Azhar melanjutkan dengan mengutip perkataan Zaki Najib Mahmud, Filsuf modern,

“Barangkali para pembaca mengira saya sedang membanggakan peran madrasah ini (Al-Azhar), atau memujinya melebihi batas. Saya akan mengutip perkataan filsuf Mesir yang dikenal dengan ensiklopedisnya, kepakaran dan penggabungannya antara dua kebudayaan barat dan timur,

‘Peradaban Islam datang dan tiap muslim mengetahui bahwa sumbangsih Mesir bagi peradaban Islam. Sekiranya tidak ada sumbangsih dan peran Al-Azhar pada abad 12, 13 dan 14 H, tidak akan ada turats Arab Islam. Di mana kita menemuinya sementara Tartar membakar turats Islam dan Andalusia telah hilang di tangan orang-orang yang berperang. Akan tetapi Al-Azhar bersegera mengumpulkan kembali turats itu sebelum hilang. Dikumpulkan kembali. Tapi pengumpulan apa yang dimaksud? Yaitu tidak sekedar mengumpulkan, melainkan menciptakan hal yang baru dan tujuan’.”

Qultu: Itu bisa disaksikan gencar keilmuan pada zaman Utsmaniyah di Al-Azhar. Para ulama Azhar berlomba-lomba membuat kitab matan, syarah, hasyiah, taqrir di fan-fan keilmuan yang bermacam-macam. Bahkan tak berlebihan jika dikatakan bahwa zaman itu adalah zaman penghasyiahan sebuah fan ilmu. Syekh Athhar, Syekh Mallawi, Syekh Amir Kabir, Syekh Baijuri, Syekh Suja’i, dan ribuan nama lainnya menghiasi dinding peradaban Islam hingga saat ini.

Jika dilihat di abad sembilan belas, dua puluh dan dua puluh satu, kita akan menemukan seabrek nama-nama ulama yang telah menjaga agama ini pernah menghirup udara dan debu Al-Azhar. Di Mesir, kita menemui Syekh Bakhit, Syekh Musthafa Imran (guru Syekh Azhar Ahmad Thayyib, Syekh Hasan Syafi’i dan Syekh Muallim Syekh Husam). Di Syiria, kita menemukan Syekh Hassan Hanabakeh, Syekh Buthi, Syekh Wahbah Zuhail, Syekh Nurudin ‘Ithr. Di Tunisia, kita temukan Syekh Kimtir, Syekh Jami’ Zaitunah sekarang. Di Indonesia, Syekh Nawawi al-Bantani al-Azhary, Syekh Mahmud Yunus, Syekh al-Habib Muhammad Quraish Shihab dan lain-lain.

Jika ditelusuri lagi, akan banyak kita temukan. Namun, sebagaimana bintang-gemintang di langit sulit dihitung, demikian pula para ulama Al-Azhar.

وامدح بأمدح ما في الشعرِ أَزهَــرَنَا

فأمدح الشعر عن أوصـافه عــجــزا!

[الشيباني الإندونيسي]

Pujilah Al-Azhar kita dengan pujian yang maha memuji yang terdapat dalam sebuah syair

Paling memujinya syair telah lemah dalam menyifati Al-Azhar!

Paling terpenting bukan bagaimana kita hanya membanggakan al-Azhar, tapi yang jauh lebih penting dari itu, bagaimana Al-Azhar bisa bangga kepada kita. Dengan apa? Menjaga turast-turats yang mereka tinggalkan kepada kita dengan memahaminya dan menyelam dalam samudera rahasia-rahasianya.

Hari ini ulang tahun Al-Azhar yang ke 1082 tahun. Tepatnya pada 7 Ramadhan. Selamat ulang tahun, Sayyidina Al-Azhar!

(Syihab Syaibani-Beben/ Mahasiswa Universitas Al-Azhar Jurusan Dirasat Islamiyah wal Arabiyah)

Sumber:

Al-Azhar Fi Alfi ‘Am

Al-Azhar Wa Dauruh Fi Nasyr Tsaqafah

Read more
06Apr

Al Azhar dan Wakafnya

6 April 2022 buutsfpib Artikel

(Edisi Spesial Ramadhan: Milad Al-Azhar ke-1082 Vol. 03)

Memasuki 1082 tahun sebagai kiblat ilmu pengetahuan, Al-Azhar tetap eksis mengawal perkembangan zaman dalam bidang kelimuan. Selain sebagai kiblat ilmu pengetahuan, al-Azhar juga terkenal dengan wakafnya. Karena wakafnya itulah, Al-Azhar dijadikan tonggak perwakafan dalam bidang pendidikan.

Sistem perwakafan menjadi salah satu faktor dari maju dan bertahannya suatu lembaga. Untuk itu, mengetahui bagaimana Al-Azhar dalam sistem perwakafan dan penerapannya adalah sesuatu yang perlu dikaji. Di sini penulis akan mencoba membahas secara singkat bagaimana Al-Azhar dan wakafnya dalam bidang pendidikan dan pengajaran.

Perekonomian Al-Azhar menuju ke sistem perwakafan dialami secara bertahap. Saat berdirinya, pemasukan keuangan masjid Al-Azhar didapatkan dari Daulah Fathimiyah, seperti halnya masjid-masjid lainnya. Ketika masuk kepemimpinan khalifah kedua Daulah Fathimiyah, Al-Aziz Billah, halaqah keilmuan diadakan dengan saran dari Ibnu Kilis. Adapun keuangan Al-Azhar saat itu didapatkan dari infaq pribadi Khalifah dan Perdana Menteri, baik untuk para muridnya, tempat tinggal, sandang pangan, serta hal-hal lain yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pengajar dan murid.

Masuk ke pemerintahan Khalifah ketiga -Hakim bi Amrillah- sistem perwakafan mulai diterapkan agar keuangan yang masuk ke Al-Azhar bisa terus menerus berputar dan tidak tergantung dengan seorang khalifah. Sejak itulah Al-Azhar menganut sistem perwakafan sebagai masjid dan tempat belajar-mengajar di Daulah Fathimiyah.

Terkait wakaf pertama al-Azhar, Dr. Abdul Aziz Muhammad al-Sinawy dalam bukunya Al-Azhar Jami’ wa Jami’ah, mengutip dari Maqrizi dalam bukunya Al-Khothoth, menjelaskan mengenai piagam wakaf bahwa Hakim bi Amrillah memberikan sebagian hartanya sebagai wakaf –tertulis di pembukaan piagam-. Yaitu diwakafkan untuk tiga masjid: pertama Al-Azhar, yang kedua Masjid Rasyidah, dan yang ketiga Masjid Muqish, kemudian disusul dengan Dar Hikmah. Piagam tersebut dikeluarkan ketika bulan Ramadhan tahun 400 H (sekitar 18 April – 17 Mei 1010 M).

Wakaf tersebut berupa harta yang tetap, seperti tanah pertanian, pasar, dan lain sebagainya. Harta yang telah diwakafkan tersebut tidak diperjualbelikan, namun dikelola agar terus berputar dan hasilnya kembali ke Al-Azhar sendiri. Dari Al-Azhar untuk Al-Azhar dan umat Islam. Akhirnya keuangan berputar secara terus-menerus tanpa bergantung pada seseorang yang menginfakkan hartanya.

Sistem tersebut diterapkan Al-Azhar sepanjang perjalanannya hingga saat ini kecuali ketika Daulah Ayyubiyyah, yaitu ketika Al-Azhar ditutup dan menghentikan wakafnya untuk menepis penyebaran madzhab Syiah. Sejak saat itulah sistem keuangan dan perputaran ekonomi Al-Azhar tidak terbatas dari seorang Khalifah atau perdana menteri yang menyokong keuangannya. Melainkan dari pemilik harta tetap yang mewakafkan pada Al-Azhar secara umum untuk dikelola, atau secara khusus diberikan kepada para pengajar, murid, atau halaqah dan ruwaq tertentu.

Sistem perwakafan tersebut dikelola oleh para qudhat, atau sekarang ini dikenal sebagai menteri. Tak lain seperti Al-Azhar saat ini yang telah dikelola oleh Kementerian Wakaf Mesir. Wakaf berkembang pesat, tak hanya diterapkan oleh Al-Azhar, melainkan Mesir pun mengembangkan dan mengelola wakaf secara produktif. Wakaf berkembang pesat ketika pemerintah Mesir menerbitkan Undang-undang No. 80 Tahun 1971 yang mengatur pembentukan Badan Wakaf Mesir yang khusus menangani masalah wakaf dan pengembangannya, berserta struktur, tugas, tanggung jawab dan wewenangnya. (ZISWAF, Vol. 4 No. 1, Juni 2017).

Setelah dipaparkan bagaimana sejarah dan permulaan sistem perekonomian dan wakaf al-Azhar secara singkat, kita bisa melihat sekilas gambaran sistem perwakafan dalam bidang pendidikan dan pengajaran sebagai penunjang keduanya.

Eksistensi Al-Azhar dalam bidang perwakafan dan keilmuannya tidak disempitkan dalam bentuk harta yang tetap seperti tanah pertanian, pasar atau toko dan lain-lainnya. Melainkan wakaf dimaknai secara luas sebagai gaya hidup dalam segala lini pendidikan. Selain perputaran keuangan yang mandiri atau ekonomi proteksi, wakaf tercerminkan hampir di setiap lini Al-Azhar, baik wakaf harta, tenaga, ide atau gagasan.

Harta tetap yang merupakan wakaf tersebut –seperti tanah dll- dikelola hingga berputar terus menerus hingga memiliki perekonomian yang mandiri. Hasilnya dikelola dan kembali pada lembaga itu sendiri, bahkan kembali kepada umat Islam. Begitupula seorang guru, telah mengajar dengan ikhlas, ia telah mewakafkan tenaga, ilmu atau ide untuk kesejahteraan umat dengan ilmu yang ia sampaikan pada muridnya. Begitupula ide dan gagasan dari seseorang yang mengelola sistem pengajaran dan pendidikan tersebut pun termasuk wakaf, wakaf ide dan gagasan. Wakaf yang berasal dari diri umat tersebut akan kembali ke umat dan bahkan kebermanfaatannya akan menyebar lebih luas dan terus menerus. Begitulah sekiranya kita mampu mengambil pelajaran dari al-Azhar.

Tapi bukan berarti, belajar di Al-Azhar itu sesuatu yang murah dan bisa kita remehkan. Akan tetapi termasuk hal mahal, karena ukuran mahal dan murahnya suatu hal bukan hanya pada harta/ materil yang dibayarkan atau tidak. Disebut mahal karena kualitas kelimuan dengan guru yang mempunyai otoritas di bidangnya melimpah ruah dan tinggal kita memilihnya. Karena sesuatu yang berkualitas bukanlah hal yang murah. Itu hal Mahal. Itulah wakaf al-Azhar yang telah membantu kita belajar, melalui sistem perwakafan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang meringankan beban para penuntut ilmu, terlebih para mahasiswa rantau. Wallahu a’lam bi al-showwab. (Ummu Maghfiroh/ Mahasiswi Universitas Al-Azhar Jurusan Sastra Arab)

Read more
04Apr

Al Azhar, Berkah Ramadhan Untuk Seluruh Umat

4 April 2022 buutsfpib Ramadhan

(Edisi Spesial Ramadhan: Milad Al-Azhar ke-1082 Vol. 02)

Telah disyariatkan puasa Ramadhan pada umat Islam selama 1442 tahun, tepatnya pada 10 Sya’ban tahun kedua hijriah. Begitu banyak keutamaan dan keistimewaan bulan Ramadhan yang menjadi berkah bagi tiap individu muslim. Diri yang mampu mengendalikan hawa nafsu, dosa-dosa yang terampuni, pahala yang dilipatkangandakan, juga limpahan berkah lainnya yang kembali kepada pribadi muslim tersebut.

Ramadhan tidak hanya membawa keberkahan bagi individu, namun juga untuk seluruh penjuru dunia. Diantara keberkahan jama’iy tersebut adalah peristiwa yang terjadi pada 361 tahun setelah Nabi Muhammad Saw. berhijrah. Pada tahun tersebut, tepat di hari ketujuh bulan Ramadhan, lahirlah masjid Al-Azhar pada era Dinasti Fathimiyyah. Masjid tersebut kemudian menjadi pusat keilmuan dan penyebaran agama Islam bermadzhab Syi’ah. Hari demi hari berlalu, penguasa berganti, dan era kepemimpinan berubah. Hal tersebut berdampak pula pada peran dan fungsi masjid Al-Azhar sebagai mimbar resmi agama Islam di Mesir. Hingga akhirnya, kini Al-Azhar dikenal sebagai pusat agama dan keilmuan Islam bermadzhab Sunni, bukan lagi Syi’ah.

Masjid Al-Azhar terus berdinamika seiring dengan kemajuan zaman. Terlihat dari perkembangannya yang bermula dari masjid hingga kini terdapat sekolah-sekolah modern, universitas, pusat riset, asrama mahasiswa, perpustakaan, observatorium, dan lembaga-lembaga lainnya. Tentu saja, itu semua masih dalam koridor menyebarkan agama rahmatan lil ‘alamin ke seluruh penjuru dunia.

1082 tahun bukanlah umur yang pendek bagi Al-Azhar. Silih berganti kepemimpinan, hingga kini terhitung 44 sosok Imam Besar Al-Azharyang telah memegang amanah mulia ini. Kesyukuran serta ketakjuban yang luar biasa, Al-Azhar tetap eksis dan memegang peranan penting di berbagai lini, khususnya dalam bidang pendidikan dan penyebaran agama Islam. Al-Azhar juga semakin dikenal dunia dengan konsep wasathiyat al-Islam dan wakafnya yang produktif. Sehingga menarik minat pelajar lokal maupun asing untuk datang menuntut ilmu di bawah naungan masyayikhnya. Terlebih lagi dengan subsidi pendidikan yang begitu besar sehingga para pelajar dapat menuntut ilmu dengan nyaman dan optimal.

Sebuah populasi yang besar, Al-Azhar menelurkan ulama-ulama dan pakar-pakar di berbagai disiplin ilmu. Ketika mereka kembali ke tanah air masing-masing, merekalah yang menjadi penyambung lidah Al-Azhar dalam menyampaikan agama Islam yang wasati dan seluruh ilmu yang mereka dapatkan di Al-Azhar. Hal tersebut merupakan bentuk keberkahan dan keridaan dari Sang Pencipta yang bermula di bulan yang penuh berkah, Ramadhan.

Tentu saja, keberkahan Al-Azhar tidak hanya sampai pada apa yang penulis sampaikan. Melainkan masih banyak lagi yang penulis tidak ketahui akan hal tersebut. Namun, di artikel “Edisi Spesial Ramadhan: Milad Al-Azhar ke-1082”, para penulis sedikit banyak mencoba mengulas Al-Azhar dari berbagai sisi dengan tujuan menjaga dan mempertahankan nilai-nilai Al-Azhar sehingga tetap melekat dalam sanubari para santrinya. Semoga Allah Swt. selalu menjaga Al-Azhar, masyayikhnya, santrinya, pendukungnya, dan semua orang yang terlibat dalam kemajuan ilmu dan agama Islam. Dan semoga Allah meridai usaha para penulis sehingga rampunglah edisi spesial ini.

Selamat menikmati!

Oleh : Nusaibah Masyfu’ah

Read more
02Apr

Aku dan Tuhanku di Bulan Ramadhan

2 April 2022 buutsfpib Ramadhan

(Edisi Spesial Ramadhan Vol. 01)

Credit : Pexels

Matahari telah tenggelam dan bulan mulai melukiskan keindahannya di langit. Tarawih pertama telah didirikan memulai rentetan keberkahan bulan suci Ramadhan. Seluruh umat Islam di seluruh penjuru dunia menyambut hangat dengan gegap gempita kebahagiaan. Selamat datang bulan yang dirindukan, selamat datang bulan yang penuh berkah, selamat datang bulan Ramadhan.

Sebuah kesyukuran untuk kita semua masih diberikan kenikmatan untuk beribadah di bulan suci ini. Dengan segala keterbatasan akibat pandemi Covid-19, tidak menghalangi kerinduan sang hamba untuk meraup berkah sebanyak-banyaknya. Sehingga, menaati protokol kesehatan dan menjaga asupan gizi adalah bentuk ikhtiar untuk mencapai kesempurnaan ibadah.

Bulan Ramadhan menjadi saat yang selalu dinanti-nanti bagi setiap muslim karena berbagai keutamaan dan keberkahan di dalamnya. Banyak orang berlomba-lomba untuk bersedekah, seperti menyediakan hidangan berbuka, bingkisan Ramadhan, hingga uang tunai. Tidak jarang pula para pedagang menutup tokonya agar lebih fokus beribadah. Juga majelis-majelis ilmu yang semakin ramai menambah keindahan nuansa Ramadhan.

Patutlah setiap muslim berbahagia dan bersemangat di bulan Ramadhan. Sebab, Allah Swt. melipatgandakan pahala setiap ibadah. Dimulai dari sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat, kecuali ibadah puasa yang pahalanya tidak terbatas bilangan apapun. Abu Hurairah pernah meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda,

 كل عمل ابن آدم له، الحسنة بعشر أمثالها إلى سبعمائة ضعف، قال الله عز وجل: إلا الصيام فإنه لي وأنا أجزي به، إنه ترك شهوته وطعامه وشرابه من أجلي، للصائم فرحتان: فرحة عند فطره وفرحة عند لقاء ربه، ولخلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك. (متفق عليه)

“Setiap amalan anak Adam miliknya, setiap kebaikan dibalas sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat (pahala). Allah Swt. Berfirman: ‘Kecuali puasa, sesungguhnya ia milik-Ku dan Aku sendiri yang akan memberikan ganjarannya. Sesungguhnya ia telah meninggalkan syahwatnya, makanannya, dan minumannya karena Aku’. Bagi orang yang berpuasa, ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Tuhannya. Dan aroma mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah Swt. daripada wangi minyak kasturi.” (HR. Bukhari-Muslim)

Keistimewaan Bulan Ramadhan

Ramadhan menjadi momen yang begitu istimewa dengan diwajibkannya berpuasa satu bulan penuh. Puasa adalah ajang melatih diri untuk sabar dan dapat mengendalikan hawa nafsu. Yang mana, pada dasarnya makan, minum, dan syahwat adalah hal yang diperbolehkan dalam syariat. Namun dengan berpuasa, Allah Swt. ingin hamba-Nya ikhlas atas apa yang telah disyariatkan dan mensyukuri nikmat yang telah diberikan. Beberapa ulama menyampaikan keistimewaan Ramadhan dalam dua poin utama sebagaimana berikut.

Pertama, puasa adalah satu-satunya ibadah yang dilakukan dengan meninggalkan segala bentuk hawa nafsu seperti makan, minum, dan syahwat. Meninggalkan hal-hal tersebut tidak ada dalam ibadah lain kecuali puasa.

Ketika berihram misalnya, setiap muslim dilarang untuk berhubungan suami-istri dan memakai wewangian, tetapi diperbolehkan untuk makan dan minum. Ketika mendirikan sholat, ia wajib menahan semua hawa nafsunya seperti puasa. Namun, tidak dalam durasi yang lama sebagaimana halnya puasa.

Kedua, ibadah puasa merupakan ibadah yang diklaim khusus oleh Sang Pencipta sebagai milik-Nya. Puasa adalah rahasia antara Tuhan dan hamba. Sebab, ibadah tersebut dapat dilakukan secara sembunyi-sembunyi, tanpa diketahui selain keduanya. Dengan begitu, seorang hamba dapat menjaga hatinya dari sifat pamrih dan riya’.

Sesungguhnya Allah Swt. mencintai hamba-Nya yang menemui-Nya secara diam-diam. Dan orang yang mencintai-Nyapun akan senang melakukannya secara rahasia sehingga orang-orang tidak melihat kemesraan dirinya dengan Tuhannya.

Tenggelam dalam Cinta Ilahi

Tidak ada setetes air yang melewati kerongkongan semenjak fajar terbit hingga matahari kembali ke peraduannya. Pada hakikatnya, puasa tidaklah sekadar menahan lapar, dahaga, dan syahwat. Meski demikian, ia adalah nafsu terberat yang manusia selalu condong kepadanya.

Puasa adalah bahasa cinta antara Tuhan dan hamba. Demi keridaan Tuhan, seorang hamba harus menahan diri dari kenikmatan makan, minum, dan berhubungan suami-istri. Yang mana hal itu dapat membawa dirinya kepada kelalaian, keangkuhan, dan kejahatan. Selain itu, hawa nafsu dapat mengeraskan hati dan membutakan hamba dari ibadah. Maka ketika sang hamba sudah terlepas dari belenggu hawa nafsunya, hatinya menjadi luluh dan lembut. Seketika itu ia berhasil membebaskan hatinya untuk berpikir jernih dan berzikir kepada Allah Swt.

Di lain sisi, puasa mendikte hamba betapa besar cinta yang diberikan Allah Swt. untuk mencukupi kebutuhannya, yang tidak semua orang beruntung mendapatkannya. Kehidupannya jauh lebih beruntung dibanding fakir miskin yang tidak bisa makan, minum, bahkan menikah karena tidak ada biaya. Maka sepatutnya, setiap muslim selalu bersyukur, mengasihi saudaranya, dan ringan tangan membantu sesamanya yang sedang kesusahan.

Layaknya hubungan asmara, setan selalu datang mencoba memisahkan sepasang kekasih. Namun usahanya terhalangi oleh puasa yang merupakan perisai yang menjaga hubungan Tuhan dan hamba. Sebab, menahan diri dari makan, minum, dan syahwat dapat mengecilkan pembuluh darah yang menjadi celah bersarangnya setan. Maka, kandaslah segala usaha setan menggoda hamba, melalaikannya dari ibadah, dan membisikkan hawa nafsu serta amarah.

Setiap detik di bulan Ramadhan, baik siang ataupun malamnya merupakan waktu-waktu yang spesial untuk setiap muslim. Sembah sujud berlinang air mata memohon ampunan Rabbnya. Serta duduknya bersimpuh dengan perut kosong penuh harap akan rahmat dan karunia-Nya. Atas izin Allah Swt. Dia menjadikan Ramadhan penuh dengan keberkahan. Melipatgandakan pahala hamba-Nya yang berusia singkat dengan wasilah Ramadhan yang mulia. (Nusaibah Masyfu’ah / Mahasiswi Universitas Al-Azhar Jurusan Syariah wal Qanun)

Oleh : Nusaibah Masyfu’ah

Read more
31Mar

Ijroat Adventure Minhah Dakhili

31 Maret 2022 buutsfpib Info
Banin

IJROAT ADVENTURE (BANIN)

  • MINHAH DAKHILI

 

PROSEDUR PERBAHARUI SYARKI

Berikut berkas-berkas yang harus disiapkan sebelum pembaharuan syarki:

  1. Paspor asli
  2. 6 lembar FC paspor
  3. Tadarruj dirasi atau ifadah minhah DL
  4. 5 lembar FC tadarruj dirasi atau ifadah DL
  5. 2 lembar FC akhir wusul (visa) yang ada di paspor untuk idaroh minhah dan idaroh amn
  6. 6 lembar foto ukuran 4×6 (tulis nama dan jinsiyah di belakang) untuk idaroh minhah dan idaroh amn
  7. 1 lembar foto ukuran 3×4 (warna background foto bebas) untuk dipasang di syarki
  8. Syarki lama asli
  9. Pulpen biru
  10. Hafalkan nomer telpon (berbahasa arab)

Berikut tahap-tahap mengurus syarki minhah dakhili:

  1. Datang ke daroh minhah dan langsung siapkan:
  2. Paspor asli
  3. 1 lembar FC paspor
  4. Tadarruj Dirosi asli
  5. 2 lembar Foto (Usahakan 3×4, karena ukuran Syarki kecil seperti kerneh)
  6. FC semua Visa yang ada di paspor
  7. Syarki lama asli

NB : Syarki baru langsung difotokopi sebanyak 3 lembar bolak balik

  1. Pergi ke mantiqoh masing-masing untuk minta dituliskan kamar, imarah, dan stempel mantiqah didalam syarki
  2. Pergi ke Amn (lantai ardiyah imaroh 18) untuk minta tanda tangan dan stempel, dengan membawa:
  3. Paspor asli
  4. 1 lembar FC paspor
  5. Syarki baru asli
  6. 1 lembar FC syarki
  7. 1 lembar FC semua isi paspor
  8. 2 lembar foto (tulis nama dan jinsiyah di belakang foto)
  9. Siapkan 1 kontak teman sekamar atau teman dekat
  10. Pergi ke idaroh iskan (ada 2 tanda tangan yang harus dipenuhi), dengan membawa:
  11. Syarki baru asli
  12. 1 lembar FC tadarruj dirosi
  13. ‎FC paspor
  14. ‎Hafalkan nomer telpon (Bahasa Arab)
  15. Minta tanda tangan ke ammu depan idaroh minhah (Mudir Minhah)
  16. Pergi ke Kantor Musyrif (tempat ambil ATM) untuk meminta tanda tangan Dr. Abdul Aziz (Mudir Am Riayatu-l-thullāb) dan stempel dari Ust. Iman (Ruangan Pojok)
  17. Ke Idaroh Syuun Manathiq penanggungjawab data di imaroh Sya’rawi kamar 101. Setorkan syarki baru, hafalkan nomor telpon kemudian minta ke Ammu yang bertugas untuk laminating syarki kemudian tunggu beberapa saat
  18. Kemudian fotokopi syarki baru yang sudah berlaminating dan berstempel sebanyak dua kali
  19. Pergi ke manthiqoh masing-masing untuk kedua kalinya, siapkan:
  20. Syarki baru asli
  21. 1 lembar FC syarki baru (sudah berstempel)
  22. 1 lembar FC tadarruj dirasi
  23. 1 lembar FC paspor
  24. 1 lembar FC Visa terakhir

NB :

Tempat tujuan pengurusan, tempat kerja ammu dan mudir, urutan dsb terkadang berubah sesuai keadaan dan mood ammu. Jangan lupa perbanyak sholawat selama kepengurusan

 

PROSEDUR GANTI KASUR, SPREI, BANTAL DAN SELIMUT

Pergantian kasur dan bantal akan dilaksanakan jika mantiqoh sudah menyediakan kasur bantal yang baru, dengan syarat:

  1. Belum dapat kasur bantal dari awal
  2. Kasur bantal yang sudah tidak layak pakai

Berkas-berkas yang harus disiapkan :

  1. Kertas pink khozinah
  2. Syarki asli
  3. Kasur/bantal yang akan diganti
  4. Pulpen biru

Berikut tahap-tahap yang harus dilakukan :

  1. Ke Mantiqoh untuk minta tanda tangan di kertas khozinah, siapkan :
  2. Syarki asli
  3. Kertas khozinah
  4. Kasur bantal yang akan diganti
  5. Kemudian FC kertas khozinah yang sudah ditandatangani sebanyak 2 lembar
  6. Pergi ke khozinah untuk menukarkan kasur bantal lama dengan yang baru, siapkan :
  7. Kertas pink khozinah
  8. 2 lembar FC kertas pink khozinah
  9. Syarki asli
  10. Kasur bantal yang akan diganti

Disana akan diarahkan sama ammu yang bertugas.

 

PROSEDUR PINDAH KAMAR

  • Proesur pindah kamar ini mencakup pindah kamar dari Tsulasy ke fardiyah dan Fardiyah ke fardiyah, tsulasy ke tsulasy dan fardiyah ke tsulasy
  • Jika perpindahan biasanya dilaksanakan karena ada instruksi langsung dari mantiqoh, maka langsung saja ke mantiqoh minta rekomendasi langsung

Syarat :

  1. S2
  2. Fakultas ilmi
  3. Mumtaz/Jayyid jiddan
  4. Hafidz
  5. Penyakit dalam/udzur lain

Persiapan izin pindah kamar :

  1. Tadarruj asli/rekomendasi dari imam masjid untuk jalur hafidz
  2. Syarki asli
  3. 2 lembar FC syarki
  4. 2 lembar foto ukuran 4×6
  5. Surat permohonan
  6. Pulpen biru
  7. Hafalkan nomer telpon (berbahasa arab)

Tahap-tahap yang harus dilakukan :

  1. Ke idaroh mudir am untuk minta tanda tangan, siapkan :
  2. FC syarki
  3. Surat permohonan
  4. Pergi ke idaroh syuun manatiq (imaroh 25) untuk minta tandatangan tulisan keterangan ditulis oleh Dr. Ayman di surat dan stempel, siapkan :
  5. Syarki asli
  6. 2 lembar FC syarki
  7. Surat permohonan
  8. 2 lembar foto ukuran 4×6

Kumpulkan semuanya ke Dr. Ayman

NB :

  • Untuk Mumtaz dan Jayyid Jiddan, dalam surat akan ditulis keterangan tapi tidak dengan tanda tangan Dr. Ayman akan mengarahkan ke idaroh minhah wa iskan untuk pendataan (syubak paling pojok) sebelum beliau tanda tangan dan dikumpulkan ke beliau
  • Tunggu beberapa minggu, akan ada pengumuman nama-nama pindah kamar di mading syuun manatiq. Apabila nama anda tercantum, lanjut ke tahap berikutnya
  1. Pergi ke syuun manatiq untuk minta kertas kecil keterangan kamar baru, dengan membawa :
  2. Syarki asli
  3. Pergi ke mantan mantiqoh untuk minta map ijroat, siapkan :
  4. Kertas keterangan kamar
  5. Kertas pink khozinah
  6. Syarki asli
  7. Pergi ke mantiqoh baru untuk perpindahan map ijroat dari mantiqoh lama ke mantiqoh yang baru, siapkan :
  8. Map ijroat
  9. Kertas pink khozinah
  10. Syarki asli
  11. Paspor (tergantung mantiqoh)

Kepengurusan akan diarahkan sama ammu yang jaga.

 

IZIN PULANG DENGAN TIKET BUUTS

Jika pulangnya tepat waktu (setelah najah 2 tahun dan tidak di ta’jil atau dita’khir) maka tidak perlu ke konsuler (untuk Izin agaza) dan tidak perlu minta izin ke kuliah (karena libur)

  1. Taqdim berkas (ke ammu tiket/ammu Turki) di idarah minhah wa iskan dengan membawa berkas:
  2. Tadarruj dirasi/tasdiq minhah sebagai bukti najah 2 tahun, yaitu dengan tasdiq baru (tasdiq tahun ketiga/setelah i’lan najah tahun ke 2)
  3. FC paspor depan belakang
  4. FC Visa terakhir
  5. Foto

 

  1. Pihak yang bersangkutan akan menerima istimarah dari pihak minhah wa iskan setelah mengumpulkan berkas secara lengkap. Dimana dalam istimarah tersebut, pihak yang akan izin mengisi beberapa hal diantaranya:
  2. Surat perjanjian (diantaranya tidak boleh mengganti tiket pulang dengan uang, apabila tiket kembali ke Mesir ingin dimaju/mundur kan, maka dendanya ditanggung sendiri)
  3. Mengisi tanggal pulang dan kembalinya sendiri, tapi ketentuan tetap dari buuts

 

  1. Setelah mengisi ‘istimarah’ tersebut, pihak yang akan izin meminta persetujuan/tauqi’ ke Dr. Abdul aziz. Dan setelah disetujui, istimarah dikembalikan lagi ke minhah wa iskan/penanggung jawab tiket

 

  1. Menunggu kabar dari minhah wa iskan untuk tes PCR. Kemudian setelah melakukan tes PCR, maka pihak yang akan izin mengajukan fotocopy hasil tes PCR dan fotocopy kwitansi tes PCR ke minhah wa iskan/ammu tiket. Dan tiket akan diberikan saat itu juga.

NB: Semua barang harus sudah disiapkan, sesuai dengan tanggal pengajuan. Karena biasanya tiket turun mendadak.

 

IZIN PULANG MANDIRI

  1. Mengurus tiket pesawat secara mandiri
  2. Melakukan perizinan ke instansi berikut:
  3. Konsuler untuk izin agaza buuts
  4. Kuliah apabila izin pada saat aktif perkuliahan, sebaliknya tidak perlu izin ke kuliah apabila izin pulang saat libur kuliah

NB:

  • Diberitahukan kepada seluruh warga FPIB ketika ingin pulang ke Indonesia, diharapkan agar meminta izin kepada kuliah maupun ma’had dengan perizinan yang jelas dan menyertakan surat perizinan tersebut ke buuts untuk kebutuhan pemberkasan di buuts.
  • Langkah pemberkasan dan persyaratan dapat berubah sewaktu-waktu.

 

GANTI UANG VISA

  1. Datang ke mantiqah masing-masing dengan membawa:
  2. Kwitansi pembayaran
  3. 2 lembar FC kwitansi pembayaran
  4. 2 lembar FC syarki minhah
  5. 2 lembar FC Visa

Kemudian akan diarahkan oleh ammu yang bertugas.

 

TAHWIL DAKHILI-KHORIJI

  1. Datang ke Ammu Mantiqoh dan bilang kalo mau tahwil minhah
  2. Buat surat keterangan mau tahwil kemudian minta tangan Mudir ‘Am dll
  3. Setelah itu ke Ammu Mantiqoh lagi
  4. Kemudian ke Idaroh sakan
  5. Minta tanda tangan kertas yang diberikan Ammu Idaroh sakan
  6. Mengembatikan barang Buuts seperti selimut dll
  7. Balik lagi ke Idaroh Iskan sambil ngasih kertas untuk minta tanda tangan tadi
  8. Datang ke Muroqib kemudian akan diberikan surat adamul minhah
  9. Keliling ke 5 lembaga beasiswa yang ada di Mesir dan minta tanda tangan ke 5 lembaga tersebut, yaitu:
  • BZ (Ma’adi)
  • Wami (Asyir)
  • Bab At-thin (Sabi)
  • Wizaroh Ta’lim (dekat Bab At-thin)
  • Majelis A’la (dekat KBRI)

-Kembali ke Muroqib menyerahkan surat adamul minhah, akan dibuatkan syarki minhah khoriji

-Menunggu syarki selesai biasanya 1-3 bulan

-Setelah syarki selesai maka minhahnya akan turun di bulan berikutnya

NB:

  • Jika ingin lancar dalam kepengurusan sebaiknya memiliki Visa aktif
  • Jangan menghilangkan kartu ATM karena ATM-nya sama seperti yang digunakan saat masih minhah dakhili

 

TAJIL TIKET

Sama seperti syarat pengajuan tiket, proses ta’jil pun harus melampirkan tadarruj dirosi najah dua tahun di kuliah. Kemudian seandainya tiket ingin dicairkan pada tahun berikutnya maka proses inilah yang dinamakan ta’jil tiket. Berikut prosedur yang diperlukan:

-Menyiapkan berkas sebagai berikut:

  • Tadarruj dirosi asli dan photocopy sebanyak 3 lembar Photocopy syirki baru 3 lembar
  • Photocopy depan paspor 3 lembar
  • Photocopy iqomah yang masih aktif 3 lembar

-Kemudian pergi Idaroh Minhah dan Iskan, ke ammu Turki yang nanti akan diarahkan. selanjutnya menuju Ablah Mudiroh Iskan (yang duduk di pojok) untuk mengisi istimaroh dan ditandatangani oleh Dr. Abdul Aziz.

 

PROSEDUR IZIN ELEKTRONIK

Berikut proses izin memasukkan barang elektronik seperti kulkas, mesin cuci dan lain-lain

  1. Datang ke Mantiqoh masing-masing dengan membawa syarki minhah dan nota (faturoh) dan minta surat izin memasukkan alat elektronik (terkadang. kita diminta untuk membuat surat permohonan sendiri) kemudian ditandatangani oleh Mudir Mantiqoh
  2. Kemudian lapor ke Mudir Kahruba (lantai ardiyah imaroh 17) untuk meminta izin memasukkan alat elektronik dan minta tandatangan di surat dari Mantiqoh tadi
  3. Selanjutnya meminta tanda tangan Mudir Amn (Ustadz Bayumi) di Idaroh Amn (lantai ardiyah imaroh 18)
  4. Kemudian surat permohonan itu di photocopy sebanyak 5 kali dan diserahkan ke Mantiqoh, Idaroh Kahruba. Mudir Idaroh Amn, dan Ammu Bawwab (satpam gerbang) dan disimpan untuk sendiri
  5. Setelah menyerahkan surat permohonan ke Ammu Bawwab baru kita boleh memasukkan alat elektronik tersebut

NB:

  • Biasanya di Mantiqoh atau Bawwab ditanya apakah alat elektronik itu baru (Jadid) atau seken (musta’mal)
  • Terkadang merk dan watt elektronik tersebut juga ditanyakan (jadi hafalkan)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Banat

IJROAT ADVENTURE (BANAT)

  • MINHAH DAKHILI

 

PROSEDUR PERBARUI SYARKI

Datang ke ablah minhah (Ablah Marwah)

dengan membawa:

  • Syarki lama
  • Tasdiq minhah asli
  • 2 lembar FC tasdiq minhah
  • 1 lembar foto
  • FC isi paspor lengkap

-Datang ke Ammu A’la dengan membawa syarki

baru

-Datang ke Mudir Minhah (Ust. Abdul Aziz)

dengan membawa syarki baru

-Ablah akan memberi tahu urutan setelahnya

 

  1. Datang ke Ust. Iman untuk meminta cap
  2. Datang ke ablah keamanan (Ablah Abir)

dengan membawa:

  • FC isi paspor lengkap
  • 1 lembar FC tasdiq minhah
  • 3 lembar foto
  • 2 lembar FC syarki baru
  1. Datang ke ablah imarah untu menyerahkan:
  • 1 lembar FC syarki baru yang sudah ditandatangani ablah keamanan (Ablah Abir)
  • 1 lembar FC paspor depan
  • 1 lembar FC visa terakhir
  • 1 lembar foto

 

PROSEDUR TAHWIL MINHAH DAKHILI-KHORIJI

  1. Datang ke ablah imarah, minta surat ikhla’ atthorof (surat keluar buuts), sertakan alasan keluar dari buuts
  2. Pergi ke mudirah banat, beri keterangan hendak tahwil minhah khoriji. Kemudian akan diberi kertas untuk minta tandatangan ke beberapa departemen buuts
  3. Pergi ke idarah sakan
  4. Mengembalikan barang-barang buuts seperti selimut, bantal, dan sprei
  5. Meminta tanda tangan dari beberapa idaroh yang terletak di buuts banin dan buuts banat (Akan diarahkan saat di idarah sakan)
  6. Kembali ke idarah sakan untuk mengembalikan syarki minhah dakhili
  7. Datang ke qo’ah kubro dan melaporkan tahwil dari dakhili ke khoriji dengan membawa:
  8. Tadarruj dirasi
  9. FC paspor
  10. Foto
  11. Keliling 5 lembaga beasiswa yang ada di Mesir dan minta tanda tangan dari:
  12. Bz (Ma’adi)
  13. Wami (Asyir)
  14. Bab At-thin (Sabi’)
  15. Wizarah ta’lim (dekat bab At-thin)
  16. Majelis A’la (dekat KBRI)
  17. Kembali ke muroqib di qo’ah kubro untuk menyerahkan surat ‘adamul minhah, kemudian akan dibuatkan syarki minhah khoriji
  18. Menunggu syarki selesai sekitar 1-3 bulan
  19. Setelah syarki selesai maka minhah akan turun di bulan berikutnya

*Setelah semua perlengkapan dari buuts dikembalikan dan tanda tangan yang diperlukan sudah lengkap, bisa keluar buuts banat dengan syarat mengembalikan kerneh buuts (jika ada) dan memberi kertas tanda keluar kepada ammu gerbang. Kertas tersebut adalah tulisan tangan dari ablah yang ada di buuts.

*jika Sirki minhah khoriji sudah turun, harus laporan ke buuts satu bulan sekali di awal bulan dengan membawa paspor.

 

PROSEDUR IZIN ELEKTRONIK

Adapun alat elektronik yang diwajibkan untuk mendapatkan izin berupa alat elektronik besar seperti kulkas, mesin cuci, printer, dsb.

  1. Datang ke ablah imarah untuk izin memasukkan alat elektronik

Kemudian ablah imarah akan menuliskan tasreh izin elektronik dan menyerahkannya kepada ammu bawwab

Selanjutnya ammu bawwab akan menelpon ammu kahruba’ perihal perizinan tersebut

  1. Setelah mendapatkan izin dari ammu kahruba’, maka diperbolehkan untuk memasukkan alat elektronik tersebut ke dalam buuts.

 

PROSEDUR GANTI KASUR DAN BANTAL

  1. Kasur dan bantal boleh diganti apabila dari awal belum dapat, atau sudah tidak layak pakai
  2. Datang ke ablah makhzan (Ablah Sayyidah) untuk izin ganti kasur atau bantal di imaroh 5.

 

PROSEDUR TAJIL TIKET

  1. Datang ke masul tiket di idaroh minhah wa iskan, sambil membawa berkas-berkas berikut:
    1. Tasdiq minhah/ tadarruj dirosi asli dan fotokopi (sebagai keterangan telah naik tingkat)
    2. Fotokopi paspor dan kartu ijin tinggal
    3. Fotokopi syarki minhah
  2. Meminta formulir untuk Tajil Tiket buuts dan mengisinya
  3. Meminta persetujuan ke Ustadz Abdul Aziz
  4. Menyerahkan kembali formulir yang telah diberi tauqi dan cap ke masul tiket di idaroh minhah wa iskan
  5. Tajil tiket berlaku bagi mahasiswa/i yang telah 2 kali naik tingkat dan ingin mengundur kepulangan ke tahun setelahnya.

 

 

PROSEDUR PINDAH KAMAR (Masih dalam satu Imaroh)

  1. Datang ke Ablah Imaroh masing-masing untuk izin pindah kamar.
  2. Tunggu perizinan dari Ablah Imaroh dan Ammu Liwa
  3. Apabila sudah mendapatkan izin maka sudah diperbolehkan untuk pindah kamar.

 

PROSEDUR PINDAH KAMAR (Beda Imaroh)

  1. Datang ke Ablah Imaroh lama untuk meminta izin pindah kamar dan Imaroh.
  2. Datang ke Ablah Imaroh yang dituju untuk pindah untuk meminta izin. Adapun berkas yang perlu dibawa:
  • Paspor/Fc Paspor
  • Syarki Buuts
  • Syarat dan ketentuan sesuai dengan Ablah Imaroh masing-masing
  1. Kemudian menunggu perizinan dari Ablah Imaroh pertama, Ablah Imaroh yang dituju dan Ammu Liwa.
  2. Setelah mendapatkan izin, Ablah Imaroh pertama akan memberika surat izin pindah kamar dan Imaroh.
  3. Setelah itu meminta tanda tangan Ablah Imaroh yang dituju.
  4. Setelah itu meminta tanda tangan Ablah Mudir (Ablah Iman Bakri)
  5. Setelah mendapatkan izin dan tanda tangan, menyerahkan surat izin ke Ablah Imaroh yang dituju. Dengan menyertakan:
  • FC visa terakhir
  • FC syarki

 

IZIN PULANG DENGAN TIKET BUUTS

Jika pulangnya tepat waktu (Setelah najah 2 tahun dan tidak ta1’jil atau takhir) maka, tidak perlu ke konsuler (untuk izin agaza) dan tidak perlu minta izin ke kuliah (karena libur):

  1. Taqdim berkas (Ke Ammu tiket/Ammu Turki) di idarah minhah wa iskan dengan membawa berkas sebagai berikut:
  • Tadarruj dirasi/Tasdiq minhah sebagai bukti najah 2 tahun, yaitu dengan tasdiq baru (tasdiq tahun ketiga/setelah I’lan najah tahun ke 2)
  • FC paspor depan belakang
  • FC visa terakhir
  • Foto
  1. Pihak yang bersangkutan akan menerima istimaroh dari pihak minhah wa iskan setelah mengumpulkan berkas secara lengkap. Dimana dalam istimarah tersebut, pihak yang akan izin mengisi beberapa hal diantaranya:
  • Surat perjanjian (diantaranya tidak boleh mengganti tiket pulang dengan uang, apabila tiket Kembali ke Mesir ingin dimajukan/dimundurkan, maka dendanya ditanggung jawab sendiri)
  • Mengisi tanggal pulang dan kembalinya sendiri, tapi ketentuan tetap dari Buuts.
  1. Setelah mengisi istimaroh, pihak yang akan izin meminta persetujuan dan tanda tangan ke Dr. Abdul Aziz. Setelah disetujui, istimaroh dikembalikan lagi ke Minhah wa Iskan atau penanggung jawab tiket.
  2. Menunggu kabar dari Minhah wa Iskan untuk tes PCR, kemudian setelah melakukan tes PCR, maka pihak yang akan izin mengajukan fotocopy hasil tes PCR dan fotocopy kwitansi tes PCR ke Minhah wa Iskan/Ammu tiket. Dan tiket akan diberikan saat itu juga.

 

NB: Semua barang harus udah disiapkan, sesuai dengan tanggal pengajuan. Karena biasanya tiket turun mendadak.

 

IZIN PULANG MANDIRI

  1. Mengurus tiket pesawat secara mandiri
  2. Melakukan perizinan ke instansi berikut:
  • Konsuler untuk izin agaza buuts
  • Kuliah apabila izin pada saat aktif perkuliahan, sebaliknya tidak perlu izin ke kuliah apabila izin pulang saat libur kuliah.

 

PROSEDUR GANTI UANG VISA

-Adapun warga FPIB penerima beasiswa dalam buuts (minhah dakhili) untuk datang ke ablah imarah masing-masing dengan membawa:

  • Kwitansi pembayaran asli
  • 2 lembar FC kwitansi pembayaran
  • 2 lembar FC syarki
  • 3 lembar FC Visa terbaru

-Kemudian ablah imarah akan mengarahkan untuk step selanjutnya

NB: dalam proses penggantian uang biasanya akan dikirimkan melalui rekening di akhir bulan ketika ijroat selesai. Maka apabila akhir bulan uang visa di ATM belum juga ada, kalian bisa menyimpan script faturoh bulan tersebut, kemudian melaporkan kepada Ablah imaroh dengan membawa script sebagai bukti tidak adanya penambahan saldo di ATM. Seandainya ablah bersikeras bilang akan diganti pada bulan selanjutnya, maka lakukan hal yang sama di bulan berikutnya jika masih tidak ada uang badal visa. Script ini nantinya sebagai bukti ketika kita mengajukan ulang pergantian uang badal.

 

 

 

 

 

 

 

 

Read more
26Mar

‘Kutubun Sihhah’, Alasan FPIB Adakan ‘Rihlah Maktabah’

26 Maret 2022 buutsfpib Artikel

Kairo, Fpib.web.id-Kamis (24/3) untuk petama kalinya, FPIB (Forum Pelajar Indonesia Bu’uts) mengadakan rihlah maktabah yang berada di kawasan Darrasah, khususnya maktabah belakang kampus Al Azhar. Rihlah ini diwajibkan bagi para calon mahasiswa/i Al Azhar kedatangan di tahun 2022, dan dibolehkan untuk siapa saja yang ingin berpartisipasi. PSDM (Pemberdayaan Sumber Daya Manusia), sebuah bagian dari FPIB yang mempelopori kegiatan ini, menyiapkan 6 pembimbing untuk 6 kelompok yang sudah dibagi khusus anak baru. Di antaranya, Ustadz Roisul, Ustadz Probo, Ustadz Kamil, Ustadz Irfan Wahid, Ustadz Wildan Edi, dan Ustadz Aqil Palembang.

Abdul Ghofur Musthofa, sebagai ketua koordinasi bagian PSDM, mengatakan,

“Dengan rihlah maktabah ini, kami semua berharap agar anak-anak baru mampu untuk memilih buku secara benar. Sehingga mereka mampu mendapatkan ilmu yang sesuai dengan metode Azhar nantinya.”

Ghofur menjelaskan, bahwa dalam menuntut ilmu, setiap tholib harus memilliki empat macam ini, yaitu:

Guru yang membuka pintu ilmu ( شيخ فتاح ), akal yang mampu menerima secara baik ( عقل رجاح ), buku yang benar dan sesuai ( كتب صحاح ), selalu mengulang apa yang dipelajari ( مداومة و إلحاح ).

Ustadz Roisul Amin, sebagai salah satu pembimbing, menjelaskan bahwa rihlah ini sangat penting bagi semua masisir, khususnya bagi anak-anak baru. Untuk menyadarkan, bahwasanya kita hidup di sebuah kota yang memiliki buku-buku yang tersebar ke seluruh penjuru dunia. Sebagaimana julukannya, ‘kota sejuta buku.’

“Rihlah ini untuk memperkenalkan kepada mereka, bagaimana cara memilih penerbit-penerbit buku dan muhaqqiq yang terbaik dan sesuai metode Azhar. Bahkan terhadap setiap maktabah yang sejalur dengan pemikiran Azhar, sehingga mereka tidak salah pilih di kemudian hari,”

Reporter : Muhammad Awwabinhafizh

Editor : Nusaibah Masyfu’ah

Read more
27Feb

Ketua Angkatan Terpilih, dalam Penutupan Acara Ormabus

27 Februari 2022 buutsfpib Berita

Rangkaian agenda Ormabus (Orientasi Mahasiswa Baru Bu’uts) berakhir pada hari Jum’at (25/2). Sebagai penutup dari rentetan acara, panitia melaksanakannya di Hadiqoh Dauliyah setelah dua hari sebelumnya diadakan secara indoor.

Fery Putra Kurniawan dan Atika Uwaida, selaku panitia Ormabus 2022, memimpin keseruan kegiatan outdoor  kali ini. Berbagai macam permainan menarik disuguhkan panitia kepada para peserta. Tujuannya agar para calon mahasiswa baru saling mengenal satu sama lain dan memupuk ukhuwah diantara mereka.

Para peserta sangat antusias dengan permainan yang ada. Peserta yang sudah dibagi menjadi beberapa kelompok, saling berlomba untuk meraih hasil yang terbaik. Sejak mereka datang, setiap ketua kelompok memimpin anggotanya meneriakkan yel-yel kebanggaan untuk menunjukkan rasa semangat dan kesolidan kelompok.

Sekitar dua jam acara ini berlangsung, akhirnya kelompok lima putra yang dipimpin oleh Ilham Syaifur Ridho dan kelompok satu putri yang dipimpin oleh Fatma Rizky Abdullah berhasil meraih juara umum.

Pada akhirnya, acara ini ditutup dengan pemilihan ketua angkatan untuk kedatangan tahun 2022. Setelah diadakan penghitungan suara di depan seluruh peserta Ormabus, dan juga disaksikan secara langung oleh para petinggi FPIB (Forum Pelajar Indonesia Bu’uts), terpilihlah Abdullah Faqih dan Muhammad Aulia Rozaq sebagai ketua 1 dan 2 putra. Keduanya memperoleh poin yang berbeda tipis, yaitu 88 dan 87 suara sah. Keduanya mengungguli kandidat ketiga yang memperoleh poin 77 suara sah.

Sedangkan untuk ketua 1 dan 2 putri terpilihlah Windi Ajelia dan Nahdiatus Sholihah. Masing-masing berhasil memperoleh poin 45 dan 37 suara sah. Disusul kandidat ketiga meraih 18 suara sah.

Dengan ini, mereka dinyatakan sah untuk menjadi pemimpin angkatan kedatangan Bu’uts 2022.

Read more
24Feb

ORMABUS, Ustadz Ridwan: Jangan Puas dengan Ilmu yang Kita Miliki

24 Februari 2022 buutsfpib Berita

Kairo, Fpib.web.id- Pada hari Senin (21/2), 164 calon mahasiswa kedatangan tahun 2022 mengikuti kegiatan  Orientasi Mahasiswa Baru Bu’uts (ORMABUS) di Aula Kelompok Studi Walisongo (KSW), Distrik 10. Rutinitas yang digelar setiap kedatangan mahasiswa baru ini berguna untuk menyambut dan mengenalkan mahasiswa tentang Negara Mesir secara umum dan Al-Azhar secara khusus.

Materi pertama disampaikan langsung oleh Ustadz Ridwan Misbah, Lc. Pada sesi ini, peserta diberikan gambaran lengkap pemetaan ilmu dalam menjalani studi di kampus Azhar. Dalam pemaparannya beliau menjelaskan, bahwa Al Azhar bersifat moderat dan tidak ekstrimis.

Kemudian, beliau menganjurkan kepada seluruh mahasiswa Indonesia, baik itu peserta ataupun panitia Ormabus, untuk belajar secara serius di Al Azhar. Sebab, banyak di antara kita yang sudah merasa puas saat memiliki ma’lumat. Padahal, kita belum memahami ilmunya secara utuh.

Beliau membedakan sesuatu yang hanya sekedar menjadi pengetahuan yang disebut ma’lumat, dengan sebuah pengetahuan yang sudah dikuasainya yang disebut dengan ilmu. Menurut beliau, bahwa untuk mendapatkan ilmu, seorang pelajar harus mau untuk bekerja keras.

Di akhir pembicaraannya, beliau berpesan tentang keutamaan fokus dalam belajar. Serta, tetap mengulang terhadap apa yang diketahuinya.

قليل قرّ خير من كثير فرّ

Qoliilun Qorro Khoirun_min katsiirun farra

Namun, beliau tidak melarang untuk membaca banyak dari berbagai disiplin ilmu selama mampu. Seperti yang diucapkan beliau,

ولكنّ كثير قرّ خير من قليل قرّ

Wa lakinna, Katsiron qorro khoirun_min qoliilun qorro

Reporter: Muhammad Awwabinhafizh

Editor: Habib Maulana

Read more
  • 1…8910111213
Logo FPIB Kecil Web

FPIB (Forum Pelajar Indonesia Bu’uts) merupakan forum sosial yang mewadahi seluruh pelajar Indonesia yang terdaftar di Madinatul Bu’uts Al Islamiyyah.

FPIB © All rights reserved

Kategori

  • News
  • Info

Info

  • Ijroat Adventure Minhah Dakhili
  • Ijroat Adventure Minhah Khoriji
  • Taqdim Minhah

Tentang Kami

  • About FPIB
  • Kontak