FPIB © All rights reserved
FPIB
  • Home
  • Artikel
  • Opini
  • Esai
  • Info
  • Berita
  • Ramadhan
  • About
Join Grup
FPIB
Join Grup

Ramadhan

Home / Artikel / Ramadhan
01Mei

Ramadan Selesai, Bahagia atau Sedih?

1 Mei 2022 buutsfpib Ramadhan 56

Edisi Spesial Ramadhan Vol. 14

Semasa saya kecil, akhir Ramadan berarti perayaan. Makin dekat dengan hari raya, berarti baju baru, juga uang saku banyak. Semasa saya kecil, berakhirnya Ramadan adalah sebuah kebahagiaan. Bertemu kerabat-kerabat jauh yang dalam kurun waktu satu tahun tak pernah ditemui. Akhir Ramadan berarti kemenangan, apalagi saat berhasil berpuasa penuh tanpa bolong.

Namun, makna itu sedikit bergeser begitu saya beranjak remaja. Narasi bersedih karena berpisah dengan Ramadan mulai banyak saya jumpai. Ada yang sekadar menceritakan bagaimana kesedihan itu terjadi, tapi juga ada yang menambahinya dengan banyak bumbu retorika. Mengungkap ketakjuban terhadap orang-orang yang berbahagia di hari-hari terakhir bulan Ramadan. Membuat kebahagiaan dalam menyambut datangnya hari raya terkesan salah, dan praktis membuat saya—yang biasanya bahagia—juga merasa bersalah.

Kesedihan yang dirasakan saat hendak berpisah dengan bulan Ramadan adalah kesedihan alami. Siapa pun bisa merasakan itu, apalagi mereka yang sudah mengetahui keistemawannya, pembahasan yang saya kira tak payah diulas—lagi—di sini. Kesedihan ini adalah hal yang pasti, sebagaimana kesedihan yang terjadi karena berpisah dengan kekasih. Dalam kitab Lathaif al-Ma’arif, Ibnu Rajab mengatakan, “Bagaimana mungkin seorang mu’min tak menangis saat Ramadan berakhir? Sedangkan ia tak tahu apakah masih punya kesempatan menjumpainya lagi.”

Tidak ada yang salah dengan kesedihan yang dirasakan di akhir Ramadan. Sekali lagi, itu alami. Menjadi salah bila melazimkan kesedihan dengan larangan berbahagia, menempatkan rasa bahagia di posisi bersalah. Padahal, gembira dengan berakhirnya Ramadan juga merupakan hal yang dianjurkan. Purna Ramadan bermakna bahwa umat islam telah sempurna melaksanakan kewajibannya, berpuasa satu bulan penuh. Hal yang saya kira sangat patut untuk disyukuri. “Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (QS al-Baqarah 2:185)

 Belum lagi, ada momen penting yang datang begitu bulan Ramadan benar-benar berakhir, Hari Raya Idul Fitri. Seperti namanya, Raya, momen ini memanglah sebuah perayaan. Perayaan karena sudah berhasil menjalani rukun Islam ke-4, perayaan karena sudah mencapai kemenangan, perayaan yang sudah sepantasnya dirayakan dengan bahagia. Ibnu al-‘Arabi dalam buku Syarh ‘Umdah al-Fiqh, juga menjabarkan alasan mengapa hari raya disebut ‘ied yang berarti kembali. Ia mengatakan, “Idul Fitri disebut ‘ied karena ia senantiasi kembali setiap tahun dengan kebahagian yang baru.”

Lebih lanjut, Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari mengatakan, “Manifestasi kebahagiaan di hari Raya merupakan syiar agama,” jelaslah, bahwa kebahagiaan yang dirasakan di hari Raya adalah sebuah anjuran dan kita diganjar untuk itu. Namun, bersedih akan berakhirnya waktu dimana kebajikan yang kita lakukan dilipatgandakan pahalanya juga bukan sebuah kesalahan. Kebahagiaan dan kesedihan yang umat Islam rasakan secara bersamaan bukanlah hal yang tidak mungkin dilakukan. Jeff Larsen, profesor psikologi di Universitas Tennessee, Knoxville pun mengatakan demikian, “Biasanya, kita merasakan emosi satu per satu. Namun, ada saat-saat dimana kita bisa merasakan keduanya, meskipun itu sangan jarang, tetapi cukup menarik.”

 Larsen yakin momen itu langka, tapi mungkin. Momen akhir bulan Ramadan menjelang Idul Fitri bisa jadi salah satunya. Ada kesedihan yang teramat karena harus berpisah dengan Ramadan, bulan dimana umat Islam sudah sangat menantikannya. Bulan yang begitu istimewa itu harus berakhir, bergantian dengan bulan lain yang sudah mulai tampak hilalnya. Namun, bebarengan dengan kesedihan itu, ada kebahagiaan yang merayap dalam hati. Kebahagian karena telah purna menyempurnakan kewajiban, kebahagiaan yang tumbuh dari rasa syukur pada-Nya, kebahagiaan menyambut kemenangan.

Bagaimana pun, Ramadan hanyalah satu bulan di antara bulan-bulan lain. Bedanya, ia diberi keistimewaan yang tidak dimiliki bulan lain. Namun, sudah menjadi hukum alam, bahwa waktu akan terus bergerak, berganti. Pun bulan Ramadan, sudah waktunya ia purna, digantikan dengan bulan Syawwal. Yang perlu digarisbawahi, berakhirnya Ramadan tidaklah bermakna bahwa ibadah kita juga purna. Ramadan pasti berlalu, tapi Tuhan yang kita sembah ajeg, tak berubah.

Bulan Ramadan memang telah menemui ujungnya, tapi Allah adalah Dzat Yang Maha Hidup. Ia kekal abadi, dan kepada-Nya lah kita menyembah dan berserah. Bukan karena Ramadan, tapi tumbuh dari keimanan dan ketakwaan yang kita miliki atas-Nya. Bulan Ramadan memang niscaya berakhir, tapi tidak dengan kesempatan untuk terus berbuat bajik, untuk terus beribadah. Allah menciptakan manusia tak lain untuk beribadah pada-Nya, bukan hanya pada bulan Ramadan, tapi sepanjang masih diberi kesempatan bernafas. Jangan sampai, alih-alih menjadi hamba Allah, kita justru menjadi hamba Ramadan, yang hanya menghamba saat bulan Ramadan dan berhenti saat Ramadan selesai.

Sebagai penutup, saya hanya bisa berdoa. Semoga Allah menerima semua amal baik yang kita lakukan selama bulan Ramadan. Semoga senantiasa diberi kekuatan dan keistikamahan untuk terus berbuat baik selepas Ramadan, hingga dipertemukan kembali pada edisi Ramadan tahun-tahun berikutnya. Taqabbala Allah minna wa minkum shaliha al-a’mal, wa ja’alana min al-‘aidin wa al-faizin. Selamat Hari Raya Idul Fitri dan sampai jumpa di edisi Ramadan berikutnya. (Tafri’ Itsbatul Hukmi/ Mahasiswi Universitas Al Azhar Jurusan Sastra Arab)

Read more
29Apr

Mengulik Keistimewaan Lailatul Qadar

29 April 2022 buutsfpib Ramadhan 56

(Edisi Spesial Ramadhan Vol.13)

Bulan Ramadhan memiliki sekian banyak keistimewaan salah satu diantaranya adalah lailatul qadar—satu malam yang dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa “lebih baik daripada seribu bulan.” Tetapi, apa dan bagaimana malam itu? Apakah ia terjadi sekali saja yakni  pada malam ketika turunnya Al-Qur’an sekitar lima belas abad yang lalu atau terjadi setiap bulan Ramadhan sepanjang sejarah? Bagaimana kedatangannya, apakah setiap orang yang menantinya pasti akan mendapatkannya? Benarkah ada tanda-tanda fisik material yang menyertai kehadirannya (seperti membekunya air, heningnya malam, menunduknya pepohonan dan sebagainya)? Masih banyak lagi pertannyaan yang sering muncul berkaitan dengan malam al-Qadr itu.

Terlepas dari pertanyaan-pertanyaan di atas, yang pasti hal ini harus diimani oleh setiap muslim berdasarkan pernyataan al-Quran, bahwa “Ada suatu malam yang bernama lailatul qadar” (QS 97:1) dan bahwa malam itu adalah “Malam yang penuh berkah dimana dijelaskan segala urusan besar dengan penuh kebijaksanaan” (QS 44:3). Malam tersebut terjadi pada bulan Ramadhan, karena kitab suci al-Quran diturunkkan oleh Allah Swt. pada bulan Ramadhan serta pada malam al-Qadr.

Malam tersebut adalah malam mulia yang tidak mudah diketahui betapa besarnya kemuliaannya. Ini diisyaratkan oleh adanya pertanyaan dalam bentuk pengagungan, yaitu wa ma adraka ma laylat al-Qadr. Kalimat ma adraka dalam Al-Quran menjadi sebuah objek yang digunakan untuk menjelaskan hal-hal yang sangat hebat dan sulit dijangkau hakikatnya secara sempurna oleh akal pikiran manusia. Oleh sebab itu, persoalan malam lailatul qadar harus dirujuk kepada Al-Quran dan sunah Rasulullah Saw.

 Kembali kepada pertanyaan semula, bagaimana tentang malam itu? Apa arti malam al-Qadr dan mengapa malam itu dinamai demikian?

Kata qadr sendiri memiliki tiga makna: pertama, penetapan dan pengaturan. Sehingga lailatul qadr dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia, pendapat ini dikuatkan oleh firman Allah surah al-Dukhan: ayat 3. Akan tetapi ada ulama yang memahami penetapan itu dalam batas setahun. Al-Quran yang turun pada malam lailatul qadr diartikan bahwa malam itu Allah SWT mengatur dan menetapkan khiththah dan strategi bagi Nabi-Nya, Muhammad Saw., guna mengajak manusia kepada agama yang benar, yang pada akhirnya akan menetapkan perjalanan sejarah umat manusia, baik secara individu maupun kelompok.

Kedua, kemuliaan. Malam tersebut adalah malam mulia yang tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya al-Quran serta karena menjadi titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih. Kata qadr yang berarti mulia terdapat dalam surah al-An’am: ayat 91, yang berbicara tentang kaum musyrik; Ma qadaru Allaha haqqa qadrihi idz qalu ma anzala Allahu ‘ala basyarin min syay’i (mereka itu tidak memuliakan Allah sebagaimana kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia).

Ketiga, sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam surah al-Qadr, pada malam itu turun malaikat-malaikat dan ruh (jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Kata qadr yang berarti sempit digunakan dalam al-Quran dalam surah al-Ra’d: ayat 26. Allah yabsuthu al-rizqa liman yasya’ wa yaqdiru (Allah melapangkan rezeki bagi yang dikehendaki dan mempersempitnya [bagi yang dikehendaki-Nya]).

Ketiga makna tersebut, pada hakikatnya dapat menjadi benar, karena bukankah malam tersebut adalah malam mulia, yang bila dapat diraih maka ia menetapkan masa depan manusia, dan bahwa pada malam itu malaikat-malaikat turun ke bumi membawa kedamaian dan ketenangan. Lantas, apakah malam mulia tersebut datang setiap tahun atau hanya sekali, yakni ketika turunnya al-Quran sekitar lima belas abad yang lalu?.

 Memang, turunnya al-Qur’an sekitar lima belas abad yang lalu terjadi pada lailatul qadar, tetapi bukan berarti bahwa malam mulia itu hadir pada saat itu saja. Ini juga menunjukkan bahwa kemuliaannya bukan hanya disebabkan al-Quran ketika itu turun, tetapi karena ada faktor intern pada malam itu sendiri. Hal ini dikuatkan dengan penggunaan bentuk kata kerja mudhari’ pada ayat, Tanazzal al-mala’ikat wa al-ruh, kata Tanazzal adalah bentuk yang mengandung arti  kesinambungan, atau terjadinya sesuatu pada masa kini dan masa datang.

Dengan hadirnya malam mulia tersebut di setiap tahun, maka umat muslim selalu menunggu kehadirannya, akan tetapi tak sedikit umat islam yang menganggap bahwa malam mulia itu akan menemui setiap orang yang terjaga (tidak tidur) pada malam kehadirannya. Namun, anggapan itu—hemat penulis—keliru, karena itu dapat berarti bahwa yang memperoleh keistimewaan adalah yang ‘terjaga’ untuk menyambutnya maupun tidak. Di sisi lain ini berarti bahwa kehadirannya ditandai oleh hal-hal yang bersifat fisik material, sedangkan riwayat-riwayat demikian tidak dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya.

Pun seandainya, ada tanda-tanda fisik material, maka itu pun tidak akan ditemui oleh orang-orang yang tidak mempersiapkan diri dan menyucikan jiwa guna menyambutnya. Air dan minyak tidak mungkin akan menyatu dan bertemu. Kebaikan dan kemuliaan yang dihadirkan oleh lailatul qadar tidak akan diraih kecuali oleh orang-orang tertentu saja. Tamu agung yang berkunjug di suatu tempat, tidak akan datang menemui setiap orang di lokasi itu, walaupun setiap orang di tempat itu mendambakannya.

Demikian juga dengan lailatul qadar, itu sebabnya bulan Ramadhan menjadi bulan kehadirannya, karena bulan ini adalah bulan penyucian jiwa, dan itu pula sebabnya Rasulullah mengatakan bahwa malam mulia itu datang pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Tersebab, ketika malam itu, diharapkan jiwa manusia yang berpuasa selama dua puluh hari sebelumnya telah mencapai satu tingkat kesadaran dan kesucian yang memungkinkan malam mulia itu berkenan mampir menemuinya. Dan itu pula sebabnya Rasulullah menganjurkan sekaligus mempraktikkan i’tikaf (berdiam diri dan merenung di masjid) pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan.

Di atas telah dikemukakan bahwa dalam rangka menyambut lailatul qadar, Rasulullah menganjurkan umat muslim untuk melakukan i’tikaf  di masjid sebagai bentuk perenungan dan penyucian jiwa. Di masjid, seseorang diharapkan merenung tentang dirinya serta di sana seseorang dapat menghindar dari hiruk-pikuk yang menyesatkan jiwa dan pikiran, guna memperoleh tambahan pengetahuan dan iman. Itulah sebabnya, ketika melakukan i’tikaf  seseorang dianjurkan untuk memperbanyak doa dan bacaan al-Quran, atau bahkan bacaan-bacaan lain yang dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan.

Adapun doa yang sering Rasulullah baca dan hayati maknanya di sepuluh hari terakhir Ramadhan yaitu: Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina adzabannar (Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka).

Doa ini bukan sekedar berarti permohonan untuk memperoleh kebajikan dunia dan akhirat, tetapi lebih-lebih lagi bertujuan untuk memantapkan langkah dalam berupaya meraih kebajikan yang dimaksud, karena doa mengandung arti permohonan yang disertai usaha. Permohonan itu juga berarti upaya untuk menjadikan kebajikan dan kebahagiaan yang diperoleh dalam kehidupan dunia ini, tidak hanya terbatas dampaknya di dunia, tetapi berlanjut hingga hari kemudian. Semoga pada Ramadhan kali ini kita bisa mendapatkan serta  merasakan kehadiran lailatul qadar. (Ainul Mamnuah/ Mahasiswi Universitas Al-Azhar Jurusan Sastra Arab).

Read more
26Apr

Urgensi Zakat Fitrah Dalam Menciptakan Kesejahteraan Umat Islam

26 April 2022 buutsfpib Ramadhan 48

Edisi Spesial Ramadhan Vol. 12

Zakat menurut bahasa berarti membersihkan dan berkembang. Zakat secara istilah berarti kadar harta tertentu yang diberikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya dengan syarat-syarat tertentu. Sedangakan fitrah dapat diartikan dengan suci, dan bisa juga diartikan dengan asal kejadian manusia. Maka dari pengertian di atas dapat ditarik dua pengertian tentang zakat fitrah. Pertama, zakat fitrah merupakan zakat yang dikeluarkan untuk mensucikan orang yang berpuasa dari perkataan dan perilaku keji. Kedua, zakat fitrah adalah karena sebab ciptaan, yang berarti dwajibkan untuk semua orang yang lahir ke bumi selama mereka mereka mempunyai persediaan makanan di malam Idul Fitri, sebanyak satu sha atau 3,5 liter dari makanan yang menyenangkan di setiap negara.

Islam merupakan agama yang sangat sempurna, syariatnya merupakan hukum-hukum yang ditetapkan untuk ketertiban, kedamaian, hingga kemaslahatan hidup manusia. Maka dari itu kandungan al-Quran terbagi menjadi tiga bagian besar, yaitu aqidah, khuluqiyah, dan ‘amaliyah. Bagian ‘amaliyah dari kandungan al-Quran dalam sistematika hukum dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu ibadah dan muamalah. Hukum ibadah dan muamalah yang telah ada dalam al-Quran untuk menjaga hak manusia dari kezaliman manusia lainnya. Dalam hal kebutuhan hidup dengan harta misalnya, umat Islam dituntut untuk memenuhi kebutuhan primer dan sekundernya sendiri. Akan tetapi, bila tidak mampu maka saudaranya sesama muslimlah yang memiliki kewajiban untuk memenuhinya. Dengan ini, maka akan terwujud kesejahteraan masyarakat dan hilangnya kejahatan yang disebabkan oleh kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin.

Setiap hukum yang Allah tetepkan pasti ada hikmah dan tujuan yang sangat berkontribusi besar dalam kelancaran hidup manusia. Layaknya syahadat, shalat, puasa, dan pergi haji ke tanah suci, zakat fitrah merupakan perintah Allah yang urgensinya sangat tinggi hingga menjadi salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh seluruh umat Muslim di dunia yang mampu melakukannya. Zakat fitrah bukanlah sebuah tujuan, tapi merupakan alat untuk mencapai tujuan dalam mewujudkan keadilan sosial. Kewajiban zakat fitrah tidak hanya berhubungan dengan ibadah mahdhah saja melainkan merupakan amal sosial yang berkaitan dengan masyarakat luas. Seperti sabda Rasulullah Saw:

عن عبد الله بن عمر بن الخطاب رضي الله عنهما قال: «سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: بني الإسلام على خمس: شهادة أن لا إله إلا الله، وأن محمدا عبد ه ورسوله، وإقام الصلاة، وإيتاء الزكاة، وحج البيت، وصوم رمضان،» رواه البخاري ومسلم.

 Atas dasar inilah Abu Bakar Ash-Shidiq menindak tegas orang-orang yang tidak mau membayar zakat, bahkan memerangi mereka.

Zakat sering dikaitkan dengan shalat dalam al-Quran. Dimana sholat merupakan wujud hubungan seorang hamba dengan Tuhannya, dan zakat merupakan wujud hubungan antara hamba, Tuhannya, dan manusia lainnya. Seperti firman Allah dalam Qs. Al-Baqarah:43

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِين

Dari sini dapat terlihat bahwa hukum Islam sangat memperhatikan fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Dengan ini hukum Islam membagi umat muslim menjadi dua kelompok; kelompok yang harus mengeluarkan zakat dan kelompok yang berhak menerima zakat. Adapun kelompok wajib mengeluarkan zakat adalah orang-orang muslim, merdeka, yang hartanya telah mencapai batas minimum untuk wajib mengeluarkan zakat. Adapun golongan yang berhak menerima zakat adalah fakir, miskin, amil zakat, muallaf, hamba sahaya, orang yang berhutang dan sama sekali tidak mampu melunasinya, orang yang berjuang di jalan Allah, dan musafir.

Dalam perspektif maqhasid al-syari’ah zakat jelas merupakan suatu kewajiban yang dapat memenuhi kesejahteraan umat manusia. Dimana dengan pendekatan tersebut  manusia dapat melihat nilai-nilai berupa kemaslahatan manusia dalam setiap taklif yang diturunkan Allah Swt. pada hamba-Nya. Tapi sayang, banyak umat muslim yang tidak menyadarinya dan menganggap taklif yang diturunkan Allah merupakan suatu beban yang hanya menyusahkan dirinya, bukan sesuatu yang mempermudah dirinya.

Dapat dianalogikan seperti manusia yang hidup di dalam pagar. Ada sebagian manusia yang menganggap pagar itu sebagai pelindung dirinya dari berbagai bahaya yang ada di luar, dengan mengetahui hikmah dipasangnya pagar dia menyadari bawa pagar itu mempermudah kehidupannya. Dan ada pula yang menganngap bahwa pagar itu merupakan kekangan karena ia tidak mengetahui hakikat sebenarnya, tujuan dipasangnya pagar di sekitarnya.

Idul Fitri merupakan hari raya seluruh umat Islam di dunia. Semua merasa bahagia, terasa seperti baru terlahir kembali di dunia. Semua telah berhasil menaklukkan kewajiban di bulan Ramadhan untuk berpuasa sebulan penuh, mensucikan diri, mendekatkan diri pada Allah, hingga mencapai puncaknya di Idul Fitri. Idul Fitri merupakan anugerah yang diberikan Allah kepada hamba-Nya. Di hari itu umat Islam tidak diperbolehkan berpuasa, menahan lapar di hari yang penuh dengan kemenangan. Setelah berlapar-lapar merasakan pahitnya kehidupan orang-orang yang tidak mampu. Di hari itu, semua orang tanpa terkecuali merasakan nikmatnya makanan dan kesenangan yang dirasakan oleh orang-orang kaya. Sungguh Allah Maha Adil. Bayangkan jika tidak ada kewajiban zakat fitrah bagi umat muslim, betapa sedihnya orang-orang yang kurang mampu, setelah berlapar-lapar sebulan penuh, mereka harus berlapar-lapar kembali di hari yang penuh dengan kemenangan. (Rizka Salzabila/ Mahasiswi Universitas Al-Azhar Jurusan Psikologi)

Read more
23Apr

Menjadi Hina atau Mulia Pasca Ramadhan

23 April 2022 buutsfpib Ramadhan 47

Edisi Spesial Ramadhan Vol 11

Ramadhan berasal dari kata رَمَضَ yaitu panas yang sangat terik membakar. Jika ditambahkan alif dan nun di ujung katanya menjadi رَمَضَان  mengubah arti kata menjadi super latif atau shighah mubalagah yang berarti panas semakin terik hingga menghanguskan setiap benda di sekitarnya dan tidak menyisakan apapun bahkan debunya tidak tampak bekasnya. Bulan ini disebut dengan ramadhan karena menurut para ulama pada bulan ini Allah membakar dan menghapuskan dosa-dosa hamba-Nya. Pemaknaan ini disampaikan para ulama bukan berdasarkan kalimat biasa, tapi berdasarkan hadis Rasulullah Saw:

مَنْ صَامَ رَمَضَان إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ, وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosanya yang telah lalu, dan barangsiapa sholat di malam lailatul qodr diampuni dosanya yang telah lalu.”(HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu).

Maksud dari kalimat إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا yakni melakukan puasa karena Allah semata, وَاحْتِسَابًا seakar dengan kata muhasabah (haasaba-yuhaasibu-muhaasabtan) dan (ihtasaba-yahtasibu-ihtisaaban) yang mana keduanya berasal dari kata hisab. Yang artinya mengevaluasi dan menghitung. Setiap amalan yang dilakukan oleh anak Adam pasti akan digandakan dari sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Sebagaimana firman Allah:

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَثَرِهَا (الأنعام : 160)

“Barangsiapa mengerjakan satu kebaikan maka dia akan mendapatkan balasan sepuluh kali lipatnya”. (QS. Al-An’am : 160).

Allah memuliakan bulan Ramadhan dengan menurunkan ampunan, rahmat, hidayah, keutamaan-keutamaan yang tidak dijumpai selain pada bulan ini dan mengakhirinya dengan kemenangan pada bulan Syawwal. Syekh Abdul Aziz Syihawi menyatakan bahwa Baginda Nabi Muhammad Saw. sangat merindukan, mengenang dan mengistimewakan bulan Ramadhan. Kebiasaan Sang Baginda meningkat drastis di bulan Ramadhan dari bulan lainnya dengan memperbanyak ibadah dan menghidupkan malam-malamnya.

Kita Dalam Menyikapi Akhir Ramadhan

Menurut Zainudin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in, diantara amalan yang dapat kita kerjakan dalam menyikapi akhir bulan Ramadhan seperti memperbanyak sedekah (tidak hanya diberikan kepada manusia dan berbentuk materi saja, melainkan makhluk Allah lainnya seperti hewan dan tumbuhan), memenuhi kebutuhan keluarga, berbuat baik kepada sesama dan tetangga, memperbanyak membaca Al-Qur’an dan beriktikaf.

Adapun amalan lainnya yang bisa kita lakukan dalam menyikapi akhir ramadhan dan mempersiapkan diri menemui lailatul qadar seperti meruntinkan qiyamul lail dan shalat tahajjud. Menurut Al-Ustadz Adi Hidayat, Lc. M.A terdapat perbedaan antara qiyamul lail dan shalat tahajjud. Dimana qiyamul lail merupakan shalat yang dilakukan tanpa didahului tidur sebelumnya dan waktunya dari setelah isya hingga pertengahan malam. Sedangkan shalat tahajjud yang berasal dari kata هَجَدَ  yang artinya adalah tidur berbaring, kemudian ditambah ت menjadi تَهَجَدَ  yang adanya usaha untuk bangkit dari tidur, kemudian ditambah ّ menjadi تَهَجَّدَ dengan adanya keseriusan dan perjuangan untuk mewujudkan bangkit secara serius dari tidur. Dan diubah menjadi sifat yaitu تَهَجُّدْ yaitu sholat yang dikerjakan setelah tidur terlebih dahulu, dan umumnya dikerjakan pada pertengahan malam. Amalan lain yang dapat dikerjakan adalah mendirikan shalat tasbih, mengerjakan amalan-amalan sunah, dan membaca do’a akhir Ramadhan sebagaimana yang disebutkan dalam hadis riwayat Jabir bin Abdillah:

اللهُمَّ لَاتَجْعَلْ آخِرَ الْعَهْدِ مِنْ صِيَامِنَا إِيَّاهُ, فَإِنْ جَعَلْتَهُ فَاجْعَلْنِيْ مَرْحُوْمًا وَلَا تَجْعَلْنِيْ مَحْرُوْمًا.

“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan bulan Ramadhan ini sebagai bulan Ramadhan terakhir dalam hidupku. Jika Engkau menjadikannya sebagai Ramadhan terakhirku, maka jadikanlah aku sebagai orang yang Engkau sayangi”.

Betapa mulianya bulan Ramadhan dengan segala keutamaan yang terkandung di dalamnya. Sungguh disayangkan jika seorang muslim tidak memanfaatkan momen emas pada bulan suci Ramadhan dengan sebaik mungkin. Karena di dalamnya terdapat pahala yang berlipat dan kemuliaan yang tidak ada di bulan lainnya. Sedang kita tidak mengetahui apakah masih bisa menjumpai bulan ini di masa nanti atau justru kita yang mendahului. Maka hendaknya kita menikmati indahnya ibadah di bulan penuh berkah, berlomba-lomba dalam kebaikan sebagai bentuk ketaatan, bermuhasabah diri untuk menjadi lebih berarti dalam menggapai ridho Ilahi.

Jika orang yang buta tidak bisa melihat sinar matahari, begitupula orang yang buta mata hatinya tidak bisa melihat cahaya Ilahi. Jika cinta bisa membutakan seseorang akan segala hal, maka berbeda dengan kecintaan seorang hamba kepada Rabb-nya karena cinta itu tidak akan membuatnya buta akan segala hal. Justru apa yang ada dalam hati dan fikirannya akan terbuka, sehingga mampu untuk memilah haq dan bathil, membuka fikiran dan hatinya dengan Al-Qur’an, sunah dan iman, menyeru pada kebaikan dan ketaatan, tertanam dalam jiwanya Islam, iman dan ihsan. Bersih dari perilaku keji, kebencian dan kemungkaran, serta menjadikan Allah adalah alasan dalam setiap perbuatan.

Mengutip perkataan Dr. Ahmad Isa al-Mashry:

كيف أعرف هل قُبل عمل في رمضان أم لا؟ فعل الطاعة بعد الطاعة. مثلا : كان يغض بصره بصعوبة، أما الآن فيغض بصره بسهولة. كان في السابق يتثاقل عن القيام للصلاة، فأصبحت الصلاة عليه بعد رمضان سهلة.

Maknanya antara lain, diantara cara untuk kita mengetahui apakah ibadah yang kita lakukan ketika Ramadhan diterima atau tidak, bersungguh-sungguh karena Allah atau sebaliknya adalah kita bisa melihat bagaimana kerakter, kepribadian dan keseharian kita setelah Ramadhan, apakah menjadi lebih baik atau sebaliknya, apakah lebih hina atau mulia? Wallahu’alam. (Hanura Dewi Fadilah/ Mahasiswi Universitas Al-Azhar Jurusan Ushuluddin)

Read more
20Apr

Kumandang Senja Ramadhan Nadi Gamalia

20 April 2022 buutsfpib Ramadhan 58

Edisi Spesial Ramadhan Vol. 10

Sebagaimana surya yang selalu menemani hangatnya pagi, senjapun memiliki caranya sendiri untuk turut menghidupkan hari-hari di bulan yang suci ini. Kawan, izinkan aku bercerita tentang kumandang senja Ramadhan di Nadi Gamalia yang berhasil menghanyutkan ratusan kaum Adam dan Hawa.

Kembali mengingat hari itu, deretan meja beserta bangkunya memenuhi pekarangan Nadi Gamalia. Satu, dua, tiga hamba Allah berangsur-angsur memenuhi tempat sepetak itu.

Tak terhitung hitungan jam, pekarangan Nadi Gamalia yang sebelumnya kosong sudah dipenuhi dengan ratusan kaum muslimin. Perbincangan diantara orang-orang yang saling bertukar sapa pada hari itu, lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an pun turut menemani waktu, menunggu datangnya kumandang senja Ramadhan.

“Maidaturrahman”, begitu orang menyebut tempat itu. “Maidah” yang berarti meja makan dan “Al-Rahman” yang berarti Maha Pengasih. Diambil dari Al-Quran surat Al-Maidah ayat 114-115 dimana Allah Swt menurunkan “maidah” kepada Nabi Isa As, sebagai bukti kebenaran untuk seluruh umat manusia. Di sisi lain, kata “Al-Rahman” yang berarti Maha Pengasih penuh dengan ajakan dan nuansa untuk menebar kasih sayang antar sesama umat manusia. Menjadi  salah satu ciri khas utama bulan Ramadhan yang diadakan hampir secara merata di seluruh penjuru Mesir. Tenda-tenda “maidaturrahman” yang menghiasi sebagian besar jalan-jalan utama Mesir dapat terlihat sepanjang bulan Ramadhan.

Senja Ramadhan yang ditunggu pun berkumandang, datangnya diiringi dengan naungan “Rahman” sebagaimana artinya. Nyaring suara doa kaum muslimin menyambut waktu berbuka, mengakhiri “imsak” pada hari itu. Para petugas pun berbondong-bondong mempersiapkan “maidah” yang sebagai judul utamanya.

Terlihat sederhana, sekotak nasi beserta lauknya, ditemani dengan sunah 3 biji kurma, dan minuman seadanya. Namun, hal itu tak sebanding dengan kegembiraan, kehangatan, bahkan perasaan tawakkal, berserah, menikmati indahnya bulan suci, Ramadhan, yang terasa, hadir, menyelimuti dinginnya senja, menyambut malam di atas pekarangan Nadi Gamalia.

Kawan, andaikan bisa kubagikan luapan emosi sore itu, perasaan yang tak terbendung ini bisa saja memenuhi perasaan kita bersama, tak habis dibagikan layaknya “Al-Rahman” yang menjadi asas hadirnya kebersamaan ini.

Kucukupkan kisahku pada tanda titik sebelum paragraf ini. Lain hari, luangkan waktumu. Mari sejenak kita nikmati kumandang senja Ramadhan di Nadi Gamalia. Salam hangat dari kawanmu. (Almas Shopia/ Mahasiswi Universitas Al-Azhar Jurusan Psikologi)

Read more
18Apr

Ada Apa di Malam Nuzulul Qur’an?

18 April 2022 buutsfpib Ramadhan 58

Edisi Spesial Ramadhan: Milad Al Azhar ke-1082 Vol. 09

Nuzulul_Qur’an merupakan sebuah persitiwa yang bersejarah bagi umat Islam. Tentu kita sebagai seorang muslim sering memperingati persitiwa tersebut dengan berbagai macam kegiatan, seperti; membaca Al-qur’an, Shalawatan, qasidahan, pengajian, pentas seni, tasyakuran dan lain-lain. Hal ini merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap malam tersebut dengan esensi memperingati suatu hal yang menakjubkan dan sulit diterima akal pada zaman itu, serta mengajarkan kepada anak cucu kita betapa agungnya kitab suci yang selalu kita baca setiap saat yaitu Al-Quran. Juga, agar mereka lebih mengerti tentang sejarah umat Islam terkhusus pada malam Nuzulul Qur’an.

Adapun secara makna, Nuzulul Qur’an terdiri dari kata nuzul dan Al-qur’an yang berbentuk idhafah. Penggunaan kata nuzul dalam istilah nuzulul Qur’an (turunnya Al-Quran) tidaklah dapat kita pahami maknanya secara harfiah, yaitu menurunkan sesuatu dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, sebab Al-Quran tidaklah berbentuk fisik atau materi, tetapi pengertian nuzulul qur’an yang dimaksud adalah pengertian majazy, yaitu penyampaian informasi langit (wahyu) kepada Nabi Muhammad Saw. dari alam gaib ke alam nyata melalui perantara malakikat Jibril As.

Jika dilihat dari sisi sejarahnya, Nuzulul Qur’an adalah fenomena langka yang dialami oleh baginda Rasulullah Saw. ketika awal perjalanan beliau menjadi seorang nabi dan rasul. Tentu sering sekali kita mendengar cerita tentang turunnya wahyu bukan? Yang di mana ketika Muhammad Saw. berumur 40 tahun dan keadaan kota Makkah saat itu mulai terkontaminasi kemaksiatan dan kebiasaan-kebiasaan jahiliyyah yang sangat melenceng dari millah nabi Ibrahim As. sehingga membuat Nabi Saw. merasa resah dan risau akan moral penduduk di sekitarnya. Maka, saat masa kekosongan nabi inilah (fatrah) Nabi Saw. mulai merenungi keagungan Tuhan yang telah menciptakan segala apa yang ada di langit dan di bumi, serta bertafakkur tentang segala moralitas dan kelakuan umat akhir zaman ini.

Nabi Saw. mulai menyendiri atau uzlah atau khalwat di gua Hira’ yang terletak di barat daya kota Makkah. Beliau terus bertafakkur, berteman dengan sunyi, mentadabburi ciptaan-Nya agar hati terus terhubung dengan Sang Illahi. Berhari-hari, bahkan Nabi Saw. membersihkan hati dan nurani di sana, hingga sang istri; sayyidah Khadijah hampir setiap hari membawakan bekal untuk suami tercinta. Meski pada akhirnya, tidak jarang pula beliau membagikan bekal makanannya kepada orang-orang di sekitar area tersebut.

Di suatu malam ketika Nabi Saw. bermunajat dan bertafakkur, muncullah suara dari langit yang dimana suara itu berasal dari pancaran cahaya putih terang bersinar di atas sebuah kursi singgahsana yang seketika membuat beliau bergetar dengan tetap menatap ke atas langit. Yang tak lain cahaya tersebut adalah malaikat Jibril As. yang diutus Allah Saw. untuk menyampaikan sebuah wahyu suci kepada Muhammad Saw.

Jibril pun berkata, “Bacalah…”

Nabi menjawab, “Aku tidak bisa membaca”,

Dialog tersebut terus berulang sampai turunlah surah Al-Alaq ayat 1 – 5, malaikat Jibril membacakan dan Muhammad Saw. mengikuti apa yang disampaikan.

Bergetarlah tubuh nabi dengan penuh keringat serta ketakutan, kemudian pulanglah beliau ke rumahnya dan menyuruh Khadijah ra. untuk menyelimutinya seraya berkata, “Selimuti aku, selimuti aku.”

Nabi Saw. berfikir bahwa akan ada malapetaka bagi dirinya, lalu Khadijah pun menenangkannya seraya mengakatan, “Sekali-kali tidak, Allah Saw. tidak akan pernah menghinakanmu selamanya.”

 Keesokan harinya, datanglah Waraqah bin Nauval bin Asad bin Abdul Uzza menemui Nabi Saw. dan memintanya untuk menceritakan apa saja yang dilihat. Sungguh suatu kejadian yang mulia, adalah benar bahwa yang datang itu adalah Jibril yang diutus Allah Swt. kepada setiap nabi-Nya seperti halnya Musa dan Isa.

Dari sinilah titik awal bermulanya ajaran Islam muncul dengan sesuci-suci kitab dan seagung-agung manusia. Di malam itulah diturunkan Al-Qur’an tepat pada 17 Ramadhan dan bertepatan pada malam Lailatul Qadar atau malam seribu bulan dimana pada malam itu, ribuan malaikat turun ke bumi memburu untuk manyampaikan doa orang-orang shalih yang bermunajat dan melontarkan doa ke langit. Maka, di dalam nuzulul qur’an terdapat banyak pelajaran yang dapat kita jadikan ibrah untuk direnungkan dan sirah untuk diambil hikmahnya, terutama di bulan yang suci yaitu bulan Ramadhan Mubarak (Fajar Ilman Nafi’/ Mahasiswa Universitas Al Azhar Jurusan Bahasa Arab)

Read more
16Apr

Lampu Fanus, Budaya Ramadhan di Mesir

16 April 2022 buutsfpib Ramadhan 56

Edisi Spesial Ramadhan: Milad Al Azhar ke-1082 Vol. 08

Ramadhan tiba… Ramadhan tiba…

Marhaban yaa Ramadhan….

Segala macam gorengan tertata rapi di atas meja. Iklan sirup sesekali lewat di selingan acara tv saat sahur. Anak kecil sampai lansia bersemangat meramaikan masjid. Jadwal reuni berkedok buka puasa mulai meramaikan grup whatsapp. Jalan raya semakin ramai dan macet menjelang adzan maghrib oleh pedagang kaki lima. Bagaimana? Rindu tanah air? Membayangkan keluarga besar berkumpul mengelilingi meja makan? Keliling kota dan berbagi nasi kotak di pagi buta bersama teman dan rekan kerja?

Banyak cara untuk merayakan rasa syukur. Banyak pilihan untuk mengekspresikan cinta dan bahagia. Lampu hias menggantung berjejer di pinggiran jalan. Menghiasi malam-malam kota Kairo. Menambah suka cita warga Kairo merayakan datangnya bulan Ramadhan.

Jauh sebelum hilal terlihat, banyak pedagang yang mendirikan terop dan menata rapi lampu-lampu hias. Warnanya keemasan dengan beberapa hiasan menambah cantik dan menarik perhatian pembeli yang melewatinya. Lampu hias ini dikenal dengan bahasa arabnya, faanus dan fawanis dalam bentuk jama’nya.

Dari yang ukurannya kecil sampai besar, harganya pun beragam. Fanus selalu menjadi ciri khas warga Mesir khususnya Kairo dalam menyambut bulan Ramadhan. Seperti tamu istimewa yang langka untuk ditemui karena hanya datang sekali dalam setahun. Menjadi wujud perayaan mereka turut berbahagia dengan berkahnya Ramadhan.

Berawal pada 5 Ramadhan 362 H, ketika Mu’iz Lidiinillah Al-Fathimiy berhasil memasuki kota Kairo. Malam itu, banyak warga Mesir keluar dari rumah mereka dan menerima kedatangannya. Di antaranya ikut serta juga wanita dan anak-anak. Mereka membawa lampu-lampu fanus di tangannya untuk menerangi sekitar dan menyambut kedatangan Mu’iz. Lalu, mereka membiarkan menaruh fanus-fanus tersebut di pinggiran jalan dan bergantungan di pekarangan rumah-rumah selama satu bulan penuh Ramadhan. Sejak saat itulah, fanus menjadi adat Mesir dalam menyambut bulan suci Ramadhan.

Ada yang mengatakan, bahwa dulu, khalifah Mu’iz melarang perempuan Mesir agar tidak keluar rumah di malam hari kecuali di bulan Ramadhan. Dikarenakan Mu’iz memberi izin dan kesempatan bagi mereka untuk mengikuti shalat atau ziarah, juga turut merasa bahagia dengan bulan yang mulia. Dengan syarat, ada anak lelaki atau laki-laki dewasa yang membersamainya dengan membawa fanus untuk menerangi jalan dan sebagai tanda bagi pejalan kaki yang lewat agar memberi jarak kepada perempuan yang jalan melewatinya lantas menjaga pandangan mereka.

Beredar juga rumor lain tentang bagaimana warga Mesir yang menaruh perhatian lebih terhadap perayaan hari-hari besar mereka. Khususnya dengan bulan Ramadhan. Mereka mengadakan gotong royong untuk membersihkan kota dan jalanannya, rumah-rumah, mengecat ulang dinding-dinding agar terlihat baru. Para pedagang sibuk menata kembali dan membereskan toko dan barang dagangannya. Serta menghiasinya dengan fanus yang menerangi dan mempercantik toko, masjid, jalan raya, kantor dan beberapa market besar.

Tidak ada yang bisa memastikan bagaimana asal mula fanus ini menjadi adat dan budaya Mesir. Karena ini sudah menjadi hal turun temurun dari beberapa generasi dulunya. Yang awalnya hanya berfungsi sebagai sumber cahaya seperti lampu teplok di negara kita, Indonesia, obor, lilin, dsb.

Terlepas dari itu semua, fanus menjadi simbol bahagia dan syukur mereka atas keberkahan bulan suci Ramadhan. Sebagaimana Rasulullah SAW berbahagia menyambut Ramadhan, maka fanus menjadi salah satu cara warga Mesir untuk mengutarakan kebahagiaan mereka. (Wanda Muflihah/ Mahasiswi Al Azhar Jurusan Ushuluddin)

Referensi:

www.cairo.gov.eg

https://gate.ahram.org.eg

https://www.almasryalyoum.com/news/details/2314682

Read more
04Apr

Al Azhar, Berkah Ramadhan Untuk Seluruh Umat

4 April 2022 buutsfpib Ramadhan 60

(Edisi Spesial Ramadhan: Milad Al-Azhar ke-1082 Vol. 02)

Telah disyariatkan puasa Ramadhan pada umat Islam selama 1442 tahun, tepatnya pada 10 Sya’ban tahun kedua hijriah. Begitu banyak keutamaan dan keistimewaan bulan Ramadhan yang menjadi berkah bagi tiap individu muslim. Diri yang mampu mengendalikan hawa nafsu, dosa-dosa yang terampuni, pahala yang dilipatkangandakan, juga limpahan berkah lainnya yang kembali kepada pribadi muslim tersebut.

Ramadhan tidak hanya membawa keberkahan bagi individu, namun juga untuk seluruh penjuru dunia. Diantara keberkahan jama’iy tersebut adalah peristiwa yang terjadi pada 361 tahun setelah Nabi Muhammad Saw. berhijrah. Pada tahun tersebut, tepat di hari ketujuh bulan Ramadhan, lahirlah masjid Al-Azhar pada era Dinasti Fathimiyyah. Masjid tersebut kemudian menjadi pusat keilmuan dan penyebaran agama Islam bermadzhab Syi’ah. Hari demi hari berlalu, penguasa berganti, dan era kepemimpinan berubah. Hal tersebut berdampak pula pada peran dan fungsi masjid Al-Azhar sebagai mimbar resmi agama Islam di Mesir. Hingga akhirnya, kini Al-Azhar dikenal sebagai pusat agama dan keilmuan Islam bermadzhab Sunni, bukan lagi Syi’ah.

Masjid Al-Azhar terus berdinamika seiring dengan kemajuan zaman. Terlihat dari perkembangannya yang bermula dari masjid hingga kini terdapat sekolah-sekolah modern, universitas, pusat riset, asrama mahasiswa, perpustakaan, observatorium, dan lembaga-lembaga lainnya. Tentu saja, itu semua masih dalam koridor menyebarkan agama rahmatan lil ‘alamin ke seluruh penjuru dunia.

1082 tahun bukanlah umur yang pendek bagi Al-Azhar. Silih berganti kepemimpinan, hingga kini terhitung 44 sosok Imam Besar Al-Azharyang telah memegang amanah mulia ini. Kesyukuran serta ketakjuban yang luar biasa, Al-Azhar tetap eksis dan memegang peranan penting di berbagai lini, khususnya dalam bidang pendidikan dan penyebaran agama Islam. Al-Azhar juga semakin dikenal dunia dengan konsep wasathiyat al-Islam dan wakafnya yang produktif. Sehingga menarik minat pelajar lokal maupun asing untuk datang menuntut ilmu di bawah naungan masyayikhnya. Terlebih lagi dengan subsidi pendidikan yang begitu besar sehingga para pelajar dapat menuntut ilmu dengan nyaman dan optimal.

Sebuah populasi yang besar, Al-Azhar menelurkan ulama-ulama dan pakar-pakar di berbagai disiplin ilmu. Ketika mereka kembali ke tanah air masing-masing, merekalah yang menjadi penyambung lidah Al-Azhar dalam menyampaikan agama Islam yang wasati dan seluruh ilmu yang mereka dapatkan di Al-Azhar. Hal tersebut merupakan bentuk keberkahan dan keridaan dari Sang Pencipta yang bermula di bulan yang penuh berkah, Ramadhan.

Tentu saja, keberkahan Al-Azhar tidak hanya sampai pada apa yang penulis sampaikan. Melainkan masih banyak lagi yang penulis tidak ketahui akan hal tersebut. Namun, di artikel “Edisi Spesial Ramadhan: Milad Al-Azhar ke-1082”, para penulis sedikit banyak mencoba mengulas Al-Azhar dari berbagai sisi dengan tujuan menjaga dan mempertahankan nilai-nilai Al-Azhar sehingga tetap melekat dalam sanubari para santrinya. Semoga Allah Swt. selalu menjaga Al-Azhar, masyayikhnya, santrinya, pendukungnya, dan semua orang yang terlibat dalam kemajuan ilmu dan agama Islam. Dan semoga Allah meridai usaha para penulis sehingga rampunglah edisi spesial ini.

Selamat menikmati!

Oleh : Nusaibah Masyfu’ah

Read more
02Apr

Aku dan Tuhanku di Bulan Ramadhan

2 April 2022 buutsfpib Ramadhan 57

(Edisi Spesial Ramadhan Vol. 01)

Credit : Pexels

Matahari telah tenggelam dan bulan mulai melukiskan keindahannya di langit. Tarawih pertama telah didirikan memulai rentetan keberkahan bulan suci Ramadhan. Seluruh umat Islam di seluruh penjuru dunia menyambut hangat dengan gegap gempita kebahagiaan. Selamat datang bulan yang dirindukan, selamat datang bulan yang penuh berkah, selamat datang bulan Ramadhan.

Sebuah kesyukuran untuk kita semua masih diberikan kenikmatan untuk beribadah di bulan suci ini. Dengan segala keterbatasan akibat pandemi Covid-19, tidak menghalangi kerinduan sang hamba untuk meraup berkah sebanyak-banyaknya. Sehingga, menaati protokol kesehatan dan menjaga asupan gizi adalah bentuk ikhtiar untuk mencapai kesempurnaan ibadah.

Bulan Ramadhan menjadi saat yang selalu dinanti-nanti bagi setiap muslim karena berbagai keutamaan dan keberkahan di dalamnya. Banyak orang berlomba-lomba untuk bersedekah, seperti menyediakan hidangan berbuka, bingkisan Ramadhan, hingga uang tunai. Tidak jarang pula para pedagang menutup tokonya agar lebih fokus beribadah. Juga majelis-majelis ilmu yang semakin ramai menambah keindahan nuansa Ramadhan.

Patutlah setiap muslim berbahagia dan bersemangat di bulan Ramadhan. Sebab, Allah Swt. melipatgandakan pahala setiap ibadah. Dimulai dari sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat, kecuali ibadah puasa yang pahalanya tidak terbatas bilangan apapun. Abu Hurairah pernah meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda,

 كل عمل ابن آدم له، الحسنة بعشر أمثالها إلى سبعمائة ضعف، قال الله عز وجل: إلا الصيام فإنه لي وأنا أجزي به، إنه ترك شهوته وطعامه وشرابه من أجلي، للصائم فرحتان: فرحة عند فطره وفرحة عند لقاء ربه، ولخلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك. (متفق عليه)

“Setiap amalan anak Adam miliknya, setiap kebaikan dibalas sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat (pahala). Allah Swt. Berfirman: ‘Kecuali puasa, sesungguhnya ia milik-Ku dan Aku sendiri yang akan memberikan ganjarannya. Sesungguhnya ia telah meninggalkan syahwatnya, makanannya, dan minumannya karena Aku’. Bagi orang yang berpuasa, ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Tuhannya. Dan aroma mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah Swt. daripada wangi minyak kasturi.” (HR. Bukhari-Muslim)

Keistimewaan Bulan Ramadhan

Ramadhan menjadi momen yang begitu istimewa dengan diwajibkannya berpuasa satu bulan penuh. Puasa adalah ajang melatih diri untuk sabar dan dapat mengendalikan hawa nafsu. Yang mana, pada dasarnya makan, minum, dan syahwat adalah hal yang diperbolehkan dalam syariat. Namun dengan berpuasa, Allah Swt. ingin hamba-Nya ikhlas atas apa yang telah disyariatkan dan mensyukuri nikmat yang telah diberikan. Beberapa ulama menyampaikan keistimewaan Ramadhan dalam dua poin utama sebagaimana berikut.

Pertama, puasa adalah satu-satunya ibadah yang dilakukan dengan meninggalkan segala bentuk hawa nafsu seperti makan, minum, dan syahwat. Meninggalkan hal-hal tersebut tidak ada dalam ibadah lain kecuali puasa.

Ketika berihram misalnya, setiap muslim dilarang untuk berhubungan suami-istri dan memakai wewangian, tetapi diperbolehkan untuk makan dan minum. Ketika mendirikan sholat, ia wajib menahan semua hawa nafsunya seperti puasa. Namun, tidak dalam durasi yang lama sebagaimana halnya puasa.

Kedua, ibadah puasa merupakan ibadah yang diklaim khusus oleh Sang Pencipta sebagai milik-Nya. Puasa adalah rahasia antara Tuhan dan hamba. Sebab, ibadah tersebut dapat dilakukan secara sembunyi-sembunyi, tanpa diketahui selain keduanya. Dengan begitu, seorang hamba dapat menjaga hatinya dari sifat pamrih dan riya’.

Sesungguhnya Allah Swt. mencintai hamba-Nya yang menemui-Nya secara diam-diam. Dan orang yang mencintai-Nyapun akan senang melakukannya secara rahasia sehingga orang-orang tidak melihat kemesraan dirinya dengan Tuhannya.

Tenggelam dalam Cinta Ilahi

Tidak ada setetes air yang melewati kerongkongan semenjak fajar terbit hingga matahari kembali ke peraduannya. Pada hakikatnya, puasa tidaklah sekadar menahan lapar, dahaga, dan syahwat. Meski demikian, ia adalah nafsu terberat yang manusia selalu condong kepadanya.

Puasa adalah bahasa cinta antara Tuhan dan hamba. Demi keridaan Tuhan, seorang hamba harus menahan diri dari kenikmatan makan, minum, dan berhubungan suami-istri. Yang mana hal itu dapat membawa dirinya kepada kelalaian, keangkuhan, dan kejahatan. Selain itu, hawa nafsu dapat mengeraskan hati dan membutakan hamba dari ibadah. Maka ketika sang hamba sudah terlepas dari belenggu hawa nafsunya, hatinya menjadi luluh dan lembut. Seketika itu ia berhasil membebaskan hatinya untuk berpikir jernih dan berzikir kepada Allah Swt.

Di lain sisi, puasa mendikte hamba betapa besar cinta yang diberikan Allah Swt. untuk mencukupi kebutuhannya, yang tidak semua orang beruntung mendapatkannya. Kehidupannya jauh lebih beruntung dibanding fakir miskin yang tidak bisa makan, minum, bahkan menikah karena tidak ada biaya. Maka sepatutnya, setiap muslim selalu bersyukur, mengasihi saudaranya, dan ringan tangan membantu sesamanya yang sedang kesusahan.

Layaknya hubungan asmara, setan selalu datang mencoba memisahkan sepasang kekasih. Namun usahanya terhalangi oleh puasa yang merupakan perisai yang menjaga hubungan Tuhan dan hamba. Sebab, menahan diri dari makan, minum, dan syahwat dapat mengecilkan pembuluh darah yang menjadi celah bersarangnya setan. Maka, kandaslah segala usaha setan menggoda hamba, melalaikannya dari ibadah, dan membisikkan hawa nafsu serta amarah.

Setiap detik di bulan Ramadhan, baik siang ataupun malamnya merupakan waktu-waktu yang spesial untuk setiap muslim. Sembah sujud berlinang air mata memohon ampunan Rabbnya. Serta duduknya bersimpuh dengan perut kosong penuh harap akan rahmat dan karunia-Nya. Atas izin Allah Swt. Dia menjadikan Ramadhan penuh dengan keberkahan. Melipatgandakan pahala hamba-Nya yang berusia singkat dengan wasilah Ramadhan yang mulia. (Nusaibah Masyfu’ah / Mahasiswi Universitas Al-Azhar Jurusan Syariah wal Qanun)

Oleh : Nusaibah Masyfu’ah

Read more
  • 123
Logo FPIB Kecil Web

FPIB (Forum Pelajar Indonesia Bu’uts) merupakan forum sosial yang mewadahi seluruh pelajar Indonesia yang terdaftar di Madinatul Bu’uts Al Islamiyyah.

FPIB © All rights reserved

Kategori

  • News
  • Info

Info

  • Ijroat Adventure Minhah Dakhili
  • Ijroat Adventure Minhah Khoriji
  • Taqdim Minhah

Tentang Kami

  • About FPIB
  • Kontak