FPIB © All rights reserved
FPIB
  • Home
  • Artikel
  • Info
  • Berita
  • Ramadhan
  • About
Join Grup
FPIB
Join Grup

Artikel

Home / Artikel
13Des

Indonesia Borong Juara di Al-Azhar Cup for International Students

13 Desember 2021 buutsfpib Berita

Kairo, Fpib.web.id- Sabtu (11/12) secara resmi Al-Azhar Cup for International Students ditutup oleh Dr. Nahla Al-Sho’idi, Ketua Pusat Pengembangan Studi Mahasiswa Luar Negri di Stadion Madinatul Bu’uts. Perlombaan yang berlangsung hampir satu bulan tersebut meliputi beberapa cabang olahraga diantaranya sepak bola, basket, voli, bola tangan, kriket, tenis meja dan atletik. Meskipun baru diselenggarakan untuk pertama kalinya oleh Al-Azhar acara ini dapat dikatakan cukup sukses karena dihadiri oleh beberapa delegasi mancanegara.

Sejumlah mahasiswa Indonesia berhasil memborong piala dan medali dari berbagai cabang olahraga dalam perhelatan tersebut. Hal ini merupakan prestasi gemilang yang mengharumkan nama baik Indonesia dalam kancah internasional.

Dari berbagai cabang olahraga yang dilombakan Indonesia berhasil menyabet juara 1 basket kategori putra, juara 2 bola tangan kategori putra dan putri, juara 3 voli kategori putri, juara 1 dan 2 estafet kategori putri, juara 1 dan 2 maraton kategori putri, juara 2 lompat jauh kategori putri, dan juara 3 tolak peluru kategori putri.

Di sela acara penutupan tersebut, kami berhasil mewawancarai salah satu penanggung jawab kontingen putri Indonesia terkait kesan selama acara, “Alhamdulillah para pemain di berbagai cabang olahraga bisa merasakan bagaimana bertanding dengan bangsa lain, mengembangkan skill, dan juga koneksi. Walau acara Al-Azhar Cup yang pertama ini bisa dikatakan sukses, tapi masih banyak evaluasi terkait panitia penyelenggara dan penanggung jawab kontingen Indonesia pula. Semoga di tahun mendatang, menjadi lebih terorganisir dan lebih tertib mengenai waktu juga informasi. Kibarkan sang merah putih di langit sahara! Merahkan bumi kinanah!” ujar Wahidah. Harapan untuk acara ini semoga ke depannya dapat lebih baik lagi dan khususnya kontingen Indonesia mampu meraih lebih banyak juara di berbagai cabang olahraga.

Reporter: Nusaibah Masyfu’ah

Editor: Rima Hasna Fariha

Read more
05Okt

Semangat Keilmuan Di Ruwaq Al-Azhar

5 Oktober 2021 buutsfpib Berita

“Kalau ingin beribadah sepuas-puasnya pergilah ke Mekkah, kalau ingin belajar ilmu sebanyak-banyaknya pergilah ke Mesir (Al-Azhar).” Begitulah kata Trimurti (Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor), penggambaran destinasi yang jelas, ke Mekah untuk ibadah, ke Azhar untuk belajar. Azhar adalah pusat ilmu dunia dari dulu sampai sekarang yang sudah terbukti hasilnya. Seperti Ibnu Khaldun, Imam Nawawi, Imam Syuyuthi, Ibnu Hajar, Ibn Hajib, Thaha Husein, Muhammad Abduh, dsb.

            Masjid Al-Azhar mulai dibangun oleh Panglima Jauhar Al-Shiqilly atas perintah Khalifah Al-Mu’iz Lidinillah, Dinasti Fatimiyyah dan selesai pada Hari Sabtu 24 Jumada Al-Ula 359 H bertepatan dengan 7 Mei 970 M. Pembangunan Masjid Al-Azhar berlangsung selama 2 tahun lebih 3 bulan, setelah selesai pembangunan langsung digunakan pertama kali untuk shalat Jum’at pada 7 Ramadhan 361 H (23 Juni 972 M) sekaligus menandai peresmian bangunan masjid.[1]

            Ruwaq(الرواق)  adalah jamak dari arwiqoh (الأروقة)  yang secara bahasa dapat diartikan sebagai bangunan beratap yang berada di masjid, gereja, atau tempat peribadahan yang lain dengan fungsi sebagai tempat belajar. Ruwaq juga disebut ruang tamu jika disandingkan rumah (ruwaq al-bait). Atau dinamai ruang pojokan yang berfungsi sebagai tempat pertemuan dan bertukar pikiran.[2]

            Jadi ruwaq sendiri adalah bangunan tambahan yang berada di sekitar masjid yang digunakan sebagai tempat bermukim sekaligus untuk kegiatan belajar mengajar. Hal ini seperti halnya santri yang belajar di asrama pesantren, hanya saja ruwaq menyatu dengan masjid. Masjid Azhar berbentuk satu bangunan terbuka di bagian tengahnya, dengan tiga ruwaq yang digunakan sebagai tempat belajar mengajar.

Pada awalnya, ruwaq adalah bagian atau ruangan dalam masjid yang masih kosong, yang terletak di sekeliling serambi masjid, memutari bagian tengah masjid khas Timur Tengah yang terbuka tanpa atap. Kemudian di ruangan itu diberi pemisah antara satu ruangan dengan ruangan lainnya dan diberi nama ruwaq, sebuah ruangan klasik Arab tempo dulu dengan ukiran-ukiran kaligrafi Arab kuno.

            Kemudian Ruwaq Al-Azhar beralih fungsi sebagai tempat tinggal dan tempat belajar mengajar. Sistem kegiatan  keilmuan keagamaan ini dikenal pada pemerintahan Mamalik,  dan dihidupkan kembali setelah vakum selama 98 tahun dari 567-660 H (1171-1267 M)[3], yaitu sejak Dinasti Ayubiyah memerintah Mesir. Dinasti Ayubiyah menutup Masjid al-Azhar selama 100 tahun tersebut untuk menghilangkan pengaruh syi’ah di Mesir. Setelah pemerintahan diganti, masjid dibuka kembali dengan ajaran suni.[4]

            Ruwaq sebagai tempat tinggal sendiri seperti tempat makan, pakaian, mandi, dan melakukan kegiatan sehari-hari, karena masyarakat mesir sangat menghormati tamu yang akan istirahat dan menuntut ilmu di Masjid Al-Azhar.

            Yang menjadi daya tarik Al-Azhar Al-Syarif adalah ulama-ulamanya yang besar dan muridnya dari penjuru dunia, semuanya berbondong-bodong belajar di Azhar maka karena itu dibangun banyak ruwaq.

            Pada abad ke-19 H, Syekh Abdul Hamid Nafi’ dalam kitabnya Adz-Dzail ‘ala al-Maqrizi menyebutkan nama-nama ruwaq yang berada dalam masjid Azhar. Pada pemerintahan Turki Ustmani tercatat ada 29 ruwaq, yang dibagi berdasarkan daerah atau negara asal masing-masing kelompok. Semisal Ruwaq Atrak untuk kelompok dari Turki, Ruwaq Jawi dari Nusantara, Ruwaq Maghoribah dari Maghrib (Maroko) dan masih banyak lagi, beberapa di antaranya ada Ruwaq al-Abbasi yang merupakan salah satu ruwaq yang berukuran cukup besar. Ruwaq ini dibangun pada masa Khedive Abbas Hilmi II, dan di sinilah nama ruwaq tersebut diambil.

            Ada juga ruwaq berdasarkan 4 madzhab yaitu Ruwaq Syafi’iyah, Ruwaq Malikiyah, Ruwaq Hanafiyah dan Ruwaq Hanabilah. Selain itu juga dengan ruwaq penghuni bebas, yaitu daerah tertentu dam madzhah tertentu.

Kebanyakan ruwaq dihuni oleh orang yang berasal dari luar mesir, orang-orang miskin, orang yang putus sekolah untuk menuntut ilmu dan ada juga ruwaq khusus untuk orang Mesir yang berasal dari desa dan tidak punya tempat tinggal di Kairo.

            Di setiap ruwaq terdapat syekh yang mengatur dan membimbing kegiatan ruwaq layaknya pengurus di pesantren.[5] Ada juga naqib al-ruwaq yang menjadi wakil syekh al-ruwaq, dia bertugas membantu dan mengurusi pendaftaran untuk belajar dan tinggal di ruwaq serta membagi pemberian dan sedekah dari masyarakat berupa makanan dan minuman, buku-buku dan lainnya.[6]

            Di dalam ruwaq juga terdapat perpustakaan buku-buku, dimana boleh dipinjam oleh orang dari luar ruwaq dengan syarat dikembalikan secara utuh.[7]

            Kajian-kajian yang diajarkan di ruwaq Azhar sangatlah banyak, salah satunya adalah materi fikih empat madzhab, Bahasa Arab, Hadist, Tafsir, Aqidah dan ilmu lainnya. Bahkan ilmu-ilmu umum seperti Matematika, Geografi, Astronomi, Kedokteran, Farmasi dan Sosiologi diajarkan di ruwaq Azhar.

            Sistem administrasi Azhar pun juga sudah unggul, ada sistem ijazah keilmuan yang diberikan kepada murid oleh ulama pengajar yang disebut sebagai sanad. Metode yang digunakan adalah sistem talaqi, yaitu syekh memberikan pengajaran di setiap ruwaq kemudian para murid berbondong-bondong membawa buku dan duduk memperhatikan syekh menyampaikan ilmu dan hikmah.

            Bahkan Al-Azhar pernah terkenal dengan Syekh al-Amuud (Syekh Tiang), di mana di setiap tiang terdapat guru dengan berbagai keahlian siap mengajar dan memberikan lautan ilmu.

Selain difungsikan sebagai tempat belajar mengajar, ruwaq juga digunakan sebagai tempat membagi-bagikan sedekah dari para dermawan dan bangsawan yang bermaksud untuk memakmurkan masjid dengan memberi santunan kepada mereka. Apalagi di setiap peringatan-peringatan agama seperti Ramadhan, Awal Tahun Hijriah, Maulid Nabi, Hari Raya Idul Adha dan Fitri, para murid ruwaq akan dihidangkan makanan, minuman, manisan, dan pemberian yang sangat melimpah.[8]

            Salah satu Ruwaq yang dihuni oleh masyarakat Nusantara, seperti Indonesia, Malaysia, Thailand adalah Ruwaq Jawi. Ruwaq Jawi mencetak ulama-ulama nusantara berkaliber dunia dengan karya-karyanya, salah satu jebolan dari ruwaq ini yang terkenal adalah Syekh Nawawi al-Bantani.

            Kemudian karena samakin banyaknya orang dari luar ingin belajar dan tinggal di Ruwaq Al-Azhar, dibangun asrama khusus Madinatu Al-Bu’uts Al-Islamiyah dekat dengan Masjid Al-Azhar lengkap dengan tempat untuk belajar, dapur, masjid, toko buku, perpustakaan, aula pertemuan, taman, dan hal lain untuk membantu proses belajar. Asrama ini dibangun oleh Syekh Azhar Muhamamd Musthofa Al-Maroghi.

Tapi terlepas dari semua itu, sekarang masih terdapat beberapa ruwaq yang digunakan untuk majlis ilmiah, yaitu Ruwaq Utsmaniyah, Ruwaq Fathimiyyah, Ruwaq Maghoribah, Ruwaq Al-Atrak dan Ruwaq Al-Abbasiyah. Ditambah Ruwaq Al-Qur’an Al-Karim dan Ruwaq Lughah Arabiyyah yang dibuka bulan Juli 2019 lalu.

Tak pernah sepi Masjid Azhar dari halaqah keilmuan hingga kini, ribuan orang jadi penjuru dunia bahkan dari Jepang, Cina, Rusia, Eropa, dan Amerika yang notabene bukan negara Islam, semuanya datang menimba ilmu di sini, maka tak salah jika Trimurti (Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor) mengatakan bahwa Al-Azhar adalah pusat ilmu. (Tri Wi Farma/Fakultas Bahasa Arab)


[1] Dr. Abdul Aziz Muhammad Al-Asynawi, Al-Azhar Jami’an wa Jami’atan (Juz 1), Kairo: Maktabah Anglo, hal. 24

[2] Al-Mujam al-Wajiz, cet. 2008, Wizarat Tarbiyah wa Ta’lim, hal. 282

[3] Dr. Abdul Aziz Muhammad Al-Asynawi, Op. Cit. hal. 105

[4] Ibid, hal. 93

[5] Ibid, hal. 224

[6] Ibid, hal. 226

[7] Ibid, hal. 226

[8] Ibid, hal. 219

Read more
24Sep

Madinat el Bu’uts al Islamiyyah, Asrama para Duta Al-Azhar

24 September 2021 buutsfpib Artikel

Universitas Al-Azhar merupakan salah satu universitas tertua di dunia. Manhajnya dalam menyebarluaskan ajaran agama Islam banyak diminati oleh pelajar-pelajar muslim dari berbagai negara, yaitu moderat. Dengan manhajnya ini, lahir banyak ulama dan para tokoh intelektual yang tau agama, yang sedikit banyaknya mampu memberi dampak positif bagi lingkungannya. Maka tak heran, jumlah pelajar Al-Azhar terus meningkat setiap tahunnya. Bukan hanya dari negara-negara Timur Tengah, pelajar Al-Azhar datang dari berbagai macam benua.

Melihat pesatnya perkembangan jumlah pelajar dan mahasiswa, maka muncullah gagasan bahwa diperlukannya tindakan untuk menaungi para duta Azhar tersebut dengan menyediakan fasilitas-fasilitas yang diperlukan, seperti kamar, rumah sakit, perpustakaan, masjid, dsb.

Gagasan ini mendapat respon yang sangat baik. Pada November tahun 1954, Dewan Perdana Mentri Mesir mengeluarkan keputusan untuk dibangunnya asrama khusus mahasiswa asing Universitas Al-Azhar, yang pada akhirnya dinamai Madinatul Bu’uts al Islamiyyah atau yang sering disebut dengan Bu’uts. Sekarang, asrama di bawah naungan Universitas al-Azhar ini terdapat di dua ibukota Mesir, yaitu Alexandria dan Kairo, dan sedang dicanangkan pembangunan asrama ketiga di ibukota Qina. Di Kairo, asrama ini terletak di Jalan Ahmad Saeed, Hayy Abbasiyyah, dekat dengan Masjid Al-Azhar.

Pembangunan asrama di Kairo ini dimulai pada tahun 1954 dan mulai dihuni pada 15 September tahun 1959, yaitu saat pemerintahan Presiden Gamal Abd Nasheer dan Grand Syekh Mahmud Syaltut, dengan jumlah pemukim pertama kurang lebih 5000 orang pelajar dari 40 negara.

Selain menaungi sejumlah pelajar asing, pendirian asrama ini juga bertujuan untuk mempererat persaudaraan pelajar antar negara, salah satunya dengan mengadakan nadwah dan kegiatan-kegiatan lain yang dapat menunjang keakraban antar pelajar suatu negara dengan negara lainnya.

Kegiatan-kegiatan asrama ini berlangsung di bawah naungan Grand Syekh Al-Azhar, bahkan tak jarang utusan/perwakilan Grand Syekh datang ke asrama para dutanya hanya sekedar melihat-lihat kondisi sekitar atau bahkan mendengarkan keluh kesah mereka.

Pada masa pemerintahan Presiden Sisi dan Syekh Ahmad at Thayyeb, tepatnya pada April 2016, keluar pernyataan bahwa Bu’uts harus direnovasi karena semakin banyaknya jumlah pelajar asing Al-Azhar. Lahannya diperluas hingga 17 hektar (hitungan Mesir). Pada awalnya, asrama ini hanya dapat menampung sekitar 5000 orang. Namun, setelah direnovasi, asrama ini dapat menampung jumlah yang sangat fantastis, yaitu sekitar 40.000 orang pelajar pertahun.

Bukan tak bermakna, Bu’ust dan semua orang yang didalamnya berharap bahwa setelah kembali ke negara masing-masing, pelajar-pelajar ini “bisa diandalkan” untuk menjadi utusan Al-Azhar (mab’ust al Al-Azhar), yang dapat menyebarkan dan mengaplikasikan wajah islam yang sesungguhnya, yaitu Islam yang damai. (Khairunnisa Panjaitan/Syari’ah al Islamiyah-Tk 2)

Read more
05Sep

Merujuk Arus Lalu Jami’ Al-Azhar

5 September 2021 buutsfpib Artikel

Sebuah kesyukuran yang mendalam kami mahasiswi Al-Azhar, Kairo dapat mengkuti kajian tentang sejarah Al-Azhar bersama Dr. Khalaf Jalal, dibuka dengan penjelasan singkat tentang sejarah Al-Azhar yang berdiri di 3 masa kerajaan Fatimiyyah, Utsmaniyyah dan Mamalik. Bangunan tua ini berhiaskan ukiran ayat-ayat  suci al-Qur’an pada setiap sudut atap dan dinding. Terdapat pula di sudut atas bangunan beberapa corong yang dulunya dikenakan untuk menaruh wewangian dan lampu-lampu lilin.

Ruwaq-ruwaq yang mengitari masjid ini dulunya adalah sebuah asrama tempat tinggal para mahasiswa asing. Hidup, belajar dan menghabiskan penuh waktu mereka sampai pada makan, minum dan mandi di sini. Madinatul Buuts Al-Islamiyyah, bangunan yang sekarang menjadi salah satu tempat tinggal para wafidin dan wafidat atau mahasiswa dan mahasiswi luar Kairo ini merupakan penjelmaan dari wujud Azhar pada zaman dahulu.

Mereka belajar di ruwaq yang berbeda sesuai dengan asal negara kedatangan dan diajar oleh seorang guru yang berasal dari negara mereka masing-masing, maka tidak heran apabila ditemukan beberapa ruwaq seperti ruwaq syawam, magharibah, atrak, dan beberapa ruwaq lain yang sekarang tidak ditemukan lagi dalam lingkup bangunan ini.

Seperti halnya sebuah roti yang mengalami beberapa fase pembuatan hingga menghasilkan kue yang cantik, indah dan enak dimakan. Al-Azhar pun dulunya hanya terdiri dari satu ruwaq yaitu ruwaq Fatimiyyah yang kemudian berkembang seiring majunya zaman sehingga dapat berdiri seperti saat ini.

Bukan hanya asrama, terdapat beberapa madrasah dan maqam di dalam bangunan ini. Diantaranya madrasah Jauhariyyah yang didirikan oleh Jauhar Al-Qurtuby, madrasah Tibrisiyyah yang didirikan oleh Ala’u-d-Din at-Tibrisiyyah, madrasah al-Aqbaghawiyyah dan terdapat maqam Jauhar Al-Qurtuby, Ala’u-d-Din at-Tibrisiyyah dan Abdurrahman Al-Katkudi.

Acara ini pun ditutup dengan sesi perfotoan dan mengulang kajian secara singkat tentang sejarah bangunan ini “Jami’ Al-Azhar”. Semoga apa yang telah diusahakan oleh orang-orang terdahulu dapat kita gunakan dan manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Maka sampailah kita pada titik beruntung apabila kita dapat mengamalkan perbuatan lebih baik dari para ulama terdahulu. Usiikum Wa Iyyaaya Nafsi.

(Berliana Putri Permatasari/Psikologi tk.3)

Read more
24Agu

Madinatul Buuts dan Warna-Warninya yang Melahirkan Energi

24 Agustus 2021 buutsfpib Artikel

Menjalani keseharian sebagai mahasiswa Universitas Al-Azhar Kairo tentu membuat kita turut menikmati segala hal yang ada pada Mesir.

Pancaindra yang ada pada diri kita pun tidak terlewatkan ikut merasakannya, Telinga kita barangkali tidak lagi asing dengan suara dan bunyi keramaian kota Kairo, bunyi klakson yang menemani tiap perjalanan, bahkan siulan khas ‘Zagrudah” yang disenandungkan penduduk Mesir sebagai bentuk kegembiraan dan sukacita. Hidung kita barangkali tidak lagi asing dengan aroma kota Kairo, termasuk harum wewangi yang menguar dari dupa yang dibakar. Lidah kita barangkali tidak lagi asing dengan kuliner kota Kairo, berbagai sajian murah yang disajikan pedagang ramah, dan kusyari yang oleh mahasiswa seperti saya seringkali dicari-cari. Kulit kita barangkali tidak lagi asing dengan tekstur Kairo, pasir yang sering menyelinap di sandal kita, juga debu yang kerap kali menempel di kulit wajah kita, lembut kasarnya kita cukup mengenalnya. Dan, mata kita pun barangkali tidak lagi asing dengan pemandangan warna-warni Kairo, warna-warni yang barangkali tidak seindah pelangi, tapi cukup membuat kita merindukan Kairo berkali-kali.

Warna Kairo dan Buuts

Di Kairo kita melihat bagaimana warna yang mendominasi Kairo adalah warna coklat muda,  tentu yang paling kentara adalah bangunannya –meskipun tidak jarang mobil-mobil yang terparkir lelap di pinggiran jalan Kairo juga berwarna coklat–  pertama kali menyadari hal itu, saya bertanya kepada diri sendiri, “eh, kok coklat semua ya?”

Selanjutnya muncul beberapa asumsi pribadi yang barangkali berusaha menjawab pertanyaan tadi, barangkali memang ada peraturan dari pemerintah setempat untuk kompak serempak mewarnai seluruh bangunan dengan warna coklat muda, barangkali cat warna coklat muda adalah yang paling murah harganya sekaligus paling mudah dijangkau pengelola bangunan di Kairo, hingga asumsi kalau sebenarnya tidak semua bangunan awalnya berwarna coklat, namun karena badai pasir yang rutin mampir, warna-warna dasar itu kini tertutup warna pasir, coklat muda. Sehingga berbagai asumsi terus bermunculan, tapi rasa-rasanya belum ada yang cukup untuk menjadi jawaban.

Namun untuk semua warna-warna di Kairo, saya belakangan menyadari warna-warni Madinatul Buuts memiliki perbedaan. Bangunan-bangunan di Madinatul Buuts mayoritas berwarna senada yakni warna dominan coklat muda plus dengan sentuhan krem di beberapa bagian, juga di beberapa sudut di antara bangunan-bangunan tersebut, mudah mata kita temukan kaligrafi yang menghias, ditambah dengan warna-warni alami yang diberikan oleh tumbuhan-tumbuhan di taman-taman dan pepohonan yang turut mewarnai Madinatul Buuts, seolah memiliki energi, energi yang menular begitu saya merasakannya. Rasanya mirip dorongan energi yang anda dapatkan dari meminum soda dingin di tengah musim panas Mesir.

            Kekuatan Warna

Pernahkah kalian merasa betapa lebih mudahnya bangun di pagi hari yang cerah dibanding bangun pagi di hari yang mendung?

Pernahkah kalian terpikirkan sesuatu yang sesederhana warna bisa mendatangkan perubahan yang barangkali tidak pernah kita pikirkan sebelumnya?

            Edi Rama memenangkan penghargaan sebagai Wali Kota Terbaik tahun 2004 atas keberhasilannya yang menakjubkan dalam merestorasi Tirana, ibu kota Albania, hanya dalam empat tahun setelah ia terpilih. Tirana yang diwariskan ketika Edi Rama mulai menjabat adalah kota yang hancur akibat puluhan tahun kediktatoran yang menekan, dan kehabisan sumber daya akibat puluhan tahun kekacauan, Tirana telah menjadi surga bagi kriminalitas dan korupsi yang terorganisir sejak 1900-an. Edi Rama ketika itu adalah seorang pejabat yang berpendidikan seniman, dia menggambar sendiri desain pertamanya, memilih warna-warna cerah serta mencolok sebagai pemutus kemurungan dari pemandangan kota. Sebenarnya tidak ada yang berubah di Tirana, kecuali di permukaannya saja, seperti sentuhan warna merah dan kuning, hijau zamrud di sana-sini. Namun hanya dengan itu segalanya berubah, kota itu jadi hidup, bersemangat. Berenergi. Bersukacita.

            Ketika pertama kali membaca cerita tentang Tirana, saya terkesima dengan keajaibannya. Ternyata sesuatu sesederhana warna mampu mendatangkan perubahan yang begitu dramatis. Setelah itu, saya menyadari cerita tersebut selaras dengan pengalaman yang saya alami selama hidup di Kairo dan tinggal di Madinatul Buuts. Kemudian saya memikirikan cerita itu dengan sudut pandang yang saya bagikan di bagian akhir artikel ini.

Kita sering memikirkan energi sebagai sesuatu yang datang dari apa yang kita konsumsi, seperti suntikan tenaga dari kopi atau lapisan gula pada kue. Namun, terkadang energi di sekeliling kita memang memengaruhi energi di dalam kita. Seperti yang dikatakan pelukis jerman, Johannes Itten, “warna adalah bagian kehidupan, karena dunia tanpa warna tampak mati bagi kita.” Inti dari estetika energi adalah getaran yang membuat kita tahu bahwa lingkungan sekitar kita ini hidup dan dapat membantu kita untuk tetap tumbuh.

Meski kita jarang memikirkan hubungan antara warna dan perasaan, rasanya mustahil untuk memisahkan keduanya. Bahkan tidak jarang bahasa kita mempertemukan keduanya. Kita menggambarkan suasana hati kita cerah atau sebaliknya, mendung. Di hari yang sedih, mungkin awan yang gelap menyelubungi kita, atau kita hanya merasa agak kelabu. Dan ketika semuanya berjalan baik-baik saja, kita mengatakan hari kita secerah sinar matahari pagi di permulaan hari. Kita bisa “melihat segala sesuatu dalam cahaya gelap” atau “melihat sisi terangnya”. Meski makna berbagai warna bisa berbeda tergantung budaya, tapi warna cerah adalah sebuah dimensi yang dipahami secara universal sebagai sukacita.

Jika warna-warna terang mengangkat energi kita, tidak mengejutkan bahwa orang-orang bersedia mengeluarkan banyak usaha demi mendapatkan warna cerah yang mereka inginkan. Suku Diyari dari Aborigin Australia dikenal melakukan ziarah tahunan dengan berjalan kaki untuk mengumpulkan pigmen tanah kuning kemerahan dari sebuah tambang di Bookartoo, suatu perjalanan pulang-pergi yang ditempuh barangkali melewati ratusan kilometer. Ada banyak tambang tanah kuning kemerahan di sepanjang area itu, tetapi Suku Diyari menginginkan warna yang paling terang berkilau, untuk digunakan dalam ritual mewarnai tubuh mereka.

Bahkan sekarang ini, warna masih terus menginspirasi perjalanan-perjalanan manusia. Seperti orang-orang melakukan perjalanan puluhan bahkan ratusan kilometer dari Kairo untuk menemukan warna biru laut dan sepaket pemandangan warna-warna suasana pantai yang mereka dambakan. Baru-baru ini saya turut belajar bahwa energi dapat berasal dari hal sesederhana warna-warni yang menghidupkan benda mati, warna-warni yang hangat seolah memancarkan sinar matahari yang kita sukai, dan –mungkin hanya perasaan saya saja—juga sedikit optimisme untuk menjalani hari.(Hilmi Ghifaria/Syariah wal Qonun tk.3)

Read more
22Okt

Kunjungan Panitia Kepengurusan Mahasiswa Baru ke Kantor Pimpinan Tansiq dan Pimpinan Syuun Ta’lim

22 Oktober 2020 buutsfpib Berita

FPIB – Ketua FPIB dan panitia kepengurusan mahasiswa baru mengunjungi kantor pimpinan tansiq dan pimpinan syuun ta’lim pada Kamis, (22/10) yang bertempat di kawasan Madinatul Bu’uts Islamiyah.

Pada kunjungan tersebut, Khusni Mubarok, selaku Ketua 1 FPIB, mengenalkan ketua panitia kepengurusan mahasiswa baru kepada pimpinan tansiq dan syuun ta’lim agar dapat berkordinasi dalam mengurus mahasiswa baru nantinya.

Kunjungan tersebut disambut dengan tangan terbuka oleh duktur Sayyid Utsman, selaku ketua Tansiq Wafidin, dan dengan senang hati menyambut panitia kepengurusan mahasiswa baru Indonesia.

Pada kesempatan itu, ustad Sayyid Utsman memuji mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Mesir. Menurutnya, mahasiswa adalaha mahasiswa yang cukup baik dan teladan.

Kegiatan selanjutnya adalah mengunjungi duktur Hamid, Ketua Syuun Talim. Beliau mengucapkan rasa terima kasih atas kunjugan tersebut, dan memberikan info mengenai angka mahasiswa Indonesia yang meraih beasiswa.

Read more
20Okt

Perayaan Maulid Nabi Muhammad di Bu’uts Banat

20 Oktober 2020 buutsfpib Berita
FPIB- Madinatul Bu'uts mengadakan perayaan untuk menyambut maulid Nabi Muhammad pada Senin, (20/10) yang diadakan di Madinatul Bu'uts Banat. Perayaan ini diadakan untuk membangkitkan semangat spiritualitas dengan memperingati kelahiran Nabi Muhammad.
Read more
18Okt

Pengenalan dan Arahan Mengenai Madinatul Bu’uts untuk Pelajar Ma’had

18 Oktober 2020 buutsfpib Berita

FPIB – Para pelajar Ma’had penerima beasiswa Bu’uts berkumpul pada Minggu, (18/10) di depan Qoah 7 dalam kegiatan pengenalan dan arahan mengenai Madinatul Bu’uts.

Kegiatan yang dimulai dari pukul 19.45 malam hingga 21.00 malam ini, diisi oleh ketua 1 FPIB, Khusni Mubarok. Adapun materi-materi yang disampaikan berupa pengenalan akan sejarah Madinatul Bu’uts dan FPIB.

Selain itu, Khusni Mubarok, tak lupa memberikan pesan-pesan kepada para pelajar baru agar senantiasa bersyukur atas nikmat beasiswa yang telah diperoleh para pelajar, dan juga dapat berkumpul dengan kawan-kawan Indonesia yang terhimpun pada Forum Pelajar Indonesia Bu’uts.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh ketua panitia kepengurusan FPIB untuk menyampaikan perihal berkas-berkas apa saja yang dibutuhkan untuk mencatatkan nama di Ma’had dan Bu’uts, serta arahan mengenai tata cara pengurusan berkas-berkas tersebut.

Para pelajar terlihat khidmat ketika pemateri sedang menyampaikan. Di akhir kegiatan, Khusni Mubarok, selaku ketua 1 FPIB, mengucapkan terima kasih kepada ketua panitia kepengurusan serta kepada para pelajar yang sampai saat ini telah mengikuti arahan-arahan dengan baik. Sebelum berpisah, semua hadirin berfoto.

Read more
21Mar

kegiatan Ziarah ke Makam-makam Masyayikh Azhar

21 Maret 2020 buutsfpib Berita

Divisi Sosial & Keagamaan FPIB adakan kegiatan ziarah ke makam-makam masyaikh Azhar yang berada di sekitaran Kairo pada Jumat (6/3) di bawah agenda Rihlah Rohani FPIB. Agenda ini dilaksanakan untuk mengingat kembali sosok-sosok yang telah berjasa dalam perkembangan Al-Azhar. Kegiatan yang diikuti oleh 36 peserta ini, dimulai dari jam 1 siang hingga jam 5 sore.

Sebelum memulai ziarah ke makam-makam Masyaikh, para peserta diminta berkumpul di Masjid Sholih Ja’fari, Darassa, dan dilanjutkan berjalanan kaki menuju komplek pemakaman yang berada tidak jauh dari sana.Ada pun makam-makam yang diziarahi adalah makam dari sheikh Bajuri, sheikh Abdullah Syarkowi, sheikh Abduh, sheikh Damanhuri, sheikh Kharasyi dan sheikh lainnya.

Pada kegiatan ini, para peserta dibimbing langsung oleh ustad Syihabussay Bani dan ustad Amirul Mukminin, yang menghetahui banyak perihal ulama-ulama al-Azhar, terkhusus yang berada di komplek pemakaman ini. Antara ustad Syihabussay Bani dan ustad Amirul Mukmin bergantian menjelaskan tentang sejarah tokoh, karya dan kontribusi tokoh terhadap Islam. Wajah-wajah khidmat terlihat dari wajah peserta ketika kedua pembimbing menjelaskan satu persatu tokoh yang sedang diziarahi. Dan tidak lupa, setelah mendengar penjelasan dari pembimbing, para peserta membacakan al-Fatihah dan berdoa.

Ustad Syihabussay Bani, selaku salah satu pembimbng kegiatan ini mengatakan “Bahwa kegiatan ini dilaksanakan, selain untuk mengingat kembali sosok yang telah berjasa bagi al-Azhar, juga agar kawan-kawan peserta dapat menghetahui bahwa hubungan ulama-ulama Indonesia dengan ulama-ulama Al-Azhar sudah terhubung dari beberapa abad lalu. Contohnya adalah sheikh Abdus Somad al-Palembangiy dan sheikh Assad al-Banjariy yang berguru kepada sheikh Abdullah Syarkowi dan sheikh Damanhuri. Dan dari sana, semoga kita dapat meniru beliau-beliau semua.”

Makam terakhir yang diziarahi pada kegiatan kali ini adalah makam Syeikh Muhammad Abduh. Di penutup kegiatan ini, ustad Nur Kholis, selaku ketua FPIB, mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada pembimbing dan peserta kegiatan. Kemudian ustad Nur Kholis juga menyampaikan harapannya agar kegiatan seperti ini dapat berjalan terus untuk ke depannya. Kalau diperlukan, menurut Nur Kholis, nantinya FPIB akan membentuk komunitas pecinta ziarah sendiri.

Read more
15Mar

Seminar Online Seputar Beasiswa Al-Azhar

15 Maret 2020 buutsfpib Berita

Divisi pendidikan FPIB mengadakan seminar online pada Sabtu (15/03) untuk membahas seputar beasiswa Al-Azhar. Seminar online yang berlangsung selama 3 jam ini, diisi langsung oleh peraih beasiswa al-Azhar, ustad Wahyudi Maulana Hilmi (2017), ustadzah Ghina Rifqotul Husna (2018), sebagai narasumber serta ustad Bagas Ade Prakosa (2019), sebagai moderator.  Seminar online yang diadakan via WhatsApp oni diikuti lebih dari 1000 pelajar di Indonesia.

Seminar online ini dibagi menjadi beberapa sesi. Sesi pertama diisi oleh ustad Wahyudi Maulana Hilmi dan membicarakan mengenai kiat-kiat mendapatkan beasiswa al-Azhar dan tentang jalur-jalur ke Mesir selain beasiswa. Sesi kedua diisi oleh ustadzah Ghina Rifqotul Husni dan membicarakan macam-macam jalur beasiswa al-Azhar dan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi untuk mendapatkan beasiswa al-Azhar. Dan sesi terakhir adalah sesi pertanyaan yang dibuka untuk para peserta.

Para peserta tampak antusias akan pemaparan dari para narasumber. Terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diberikan peserta kepada narasumber ketika sesi pertanyaan mulai dibuka. Pertanyaan-pertanyaan seperti jurusan yang paling diminati di al-Azhar, biaya hidup di Mesir serta mengenai kelas bahasa yang akan diikuti setiap mahasiswa sebelum memasuki fase kuliah.

Seminar online ini ditutup dengan permintaan dari ustadz Bagas selaku moderator kepada para peserta untuk mengisi google form. Agar nantinya, para peserta dapat diberikan sertifikat oleh pihak panitia sebagai penanda para peserta pernah mengikuti seminar online ini.

Seluruh peserta mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada para narasumber atas pengalaman yang telah narasumber bagikan kepada para peserta. Dengan diadakannya seminar online ini, para peserta dapat lebih menghetahui hal-ihwal mengenai belajar di Mesir, dan dapat memotivasi dirinya agar dapat menjadi bagian mahasiswa Indonesia di Mesir.

Read more
  • 1…10111213
Logo FPIB Kecil Web

FPIB (Forum Pelajar Indonesia Bu’uts) merupakan forum sosial yang mewadahi seluruh pelajar Indonesia yang terdaftar di Madinatul Bu’uts Al Islamiyyah.

FPIB © All rights reserved

Kategori

  • News
  • Info

Info

  • Ijroat Adventure Minhah Dakhili
  • Ijroat Adventure Minhah Khoriji
  • Taqdim Minhah

Tentang Kami

  • About FPIB
  • Kontak