FPIB © All rights reserved
FPIB
  • Home
  • Artikel
  • Info
  • Berita
  • Ramadhan
  • About
Join Grup
FPIB
Join Grup

Artikel

Home / Artikel / Artikel
08Apr

Sejak Kapan Al Azhar Menjadi Kiblat Keilmuan Islam?

8 April 2022 buutsfpib Artikel

(Edisi Spesial Ramadhan: Milad Al-Azhar ke-1082 Vol. 04)

Pertanyaan yang agak rumit. Sebab harus menoleh ke belakang; melihat sejak kapan Al-Azhar melahirkan bintang-gemintang ulama yang ilmunya diteguk oleh umat Islam sepanjang masa ke masa.

Muiz Lidinillah mulai membangun Al-Azhar pada hari sabtu bulan Jumadil Awal tahun 359 H (970 M) dan pembangunan itu selesai tanggal 7 Ramadhan 361 H atau 22 Juni 972 M. Ketika itu tentu Al-Azhar masih belum menjadi kiblat keilmuan Islam. Sebab pusat keilmuan Islam masih terpusat di Baghdad dengan mahligai keindahan Bayt al-Hikmah-nya dan Andalusia yang mempesona dengan ulamanya. Al-Azhar masih kanak-kanaknya untuk disebut sebagai kiblat keilmuan.

Meskipun demikian, Al-Azhar telah memulai halakah-halakah keilmuannya dengan mengajarkan kitab-kitab mazhab Syiah Imamiyah. Al-Maqrizi, murid kesayangan Ibnu Khaldun mengatakan bahwa kitab yang pertama kali diajarkan di Al-Azhar adalah kitab matan fikih syiah, al-Iqtishar.

Pengajian di Al-Azhar tidak hanya untuk laki-laki, tapi juga ada majelis khusus untuk para perempuan, baik perempuan kerajaan maupun perempuan umum.

Berabad kemudian, Baghdad dan Andalusia di ambang kehancuran perang. Para warga termasuk ulama banyak yang melarikan diri. Tentara Mongol menghancurkan dan meluluhlantakkan Baghdad beserta perpustakaan besarnya; Bayt al-Hikmah. Buku-buku yang ada di dalamnya dibuang ke sungai. Sayang sekali tidak ada PDF yang bisa menjaga kitab-kitab yang dibuang itu. Bahkan bukan cuma itu,  sekitar satu juta orang dibunuh oleh pasukan jahanam kaum Mongol. Syekh Usamah Sayyid Azhari sampai mengatakan bahwa kejadian itu merupakan musibah terbesar dalam sejarah manusia setelah banjir besar yang menimpa kaum Nabi Nuh.

Andalusia juga begitu. Menemui ajalnya. Orang-orang dibunuh, dibantai dan disiksa sepuasnya.

Kedua pusat keilmuan itu runtuh.

Pada masa Saladin al-Ayyubi al-Syafii al-Asy’ari, beliau menciptakan madrasah-madrasah di Mesir. Jumlahnya mencapai puluhan. Tujuannya tak lain untuk menandingi Al-Azhar yang pada masa itu masih memegang erat pemahaman Syiah.

Al-Azhar akhirnya ditutup selama hampir seabad. Lockdown yang amat lama sekali. Akan tetapi, madrasah-madrasah yang dibuat oleh Saladin di Mesir tetap berjalan sebagaimana biasa. Hingga pada suatu hari, Al-Azhar dibuka kembali.

Imam Suyuthi mengatakan:

وقد غدا الأزهر منذ أواخر القرن السابع أي منذ غلق معاهد بغداد وقرطبة كعبة الأساتذة والطلاب من سائر العالم. وغدا أعظم مركز للدراسات الإسلامية العامة حتى أطلق عليه في عصر الممالك العصر الذهبي للأزهر.

“Sungguh Al-Azhar di akhir abad ke tujuh, yaitu sejak ditutupnya madrasah-madrasah Baghdad dan Cordoba (Andalus), Al-Azhar telah menjadi kiblat para ulama dan pencari ilmu di seluruh persada bumi. Dia telah menjadi pusat pembelajaran Islam secara umum sampai-sampai disebutkan bahwa al-Azhar yang ada pada masa Mamalik itu sebagai masa keemasan bagi Al-Azhar.”

Pernyataan itu tidaklah berlebihan. Sebab akhir abad ketujuh, memang banyak bermunculan ulama-ulama kibar yang mengunjunginya Al-Azhar atau lahir di sana. ‘Allamah Ibnu Khaldun menginjakkan kakinya di teras Al-Azhar sekitar pada tahun 783 H. Di Al-Azhar beliau menuliskan beberapa karyanya. Abad ketujuh muncul juga ulama sekaliber Imam Ibnu Hajar Asqalani, Imam Mahalli, Badruddin Zarkasyi, dan lain-lain.

Ibnu Mandhur, seorang ulama lughah (bahasa) yang memiliki kitab fenomenal;  Lisan al-Arab yang mencakup sekitar 80 ribu akar kata bahasa Arab, menuliskan kitabnya di Al-Azhar. Fairruzabadi sempat menuliskan kamusnya yang fenomenal, Qamus al-Muhith, di Al-Azhar. Demikian pula al-Damamini dan Ibnu Aqil, dua pakar bahasa kenamaan yang sempat mengajar di Al-Azhar. Imam Murtadha al-Zabidi menulis kitab Tajul Arus, Syarah Qamus al-Muhith milik Fairuzabadi juga di Al-Azhar. Demikian ditulis dalam buku Al-Azhar Fi Alfi ‘Am. Al-Azhar, lautan ilmu lughah. Para ulama lughah mencari keberkahan dengan menulis kitabnya di sana.

Syaikhul Azhar, Maulana Ahmad Thayyib mengatakan:

فمن المعلوم تاريخا: أن مركز الثقل في تراث المسلمين كان في بغداد، وفي بلاد فيما وراء النهرين، وأن زعيم المغول دمر بجيشه الوثني تراث المسلمين في هذه البلاد، ومحاه من الوجود عام ٦١٦ ه – ١٢٢٠ م، ثم جاء حفيده هولاكو عام ٦٥٦ ه – ١٢٥٨ فدمر بغداد برجالها ونسائها واطفالها ومدارسها ومكتباتها.

ولك أن تتساءل: أين قدر لهذا التراث أن ينبعث ويتماسك من جديد، ويستعيد دوره في حماية أمة بحجم أمة المسلمين؟

والإجابة التي لا يعرف التاريخ إجابة غيرها: إنه الأزهر الشريف وعلماؤه وأروقته، ولولاه لأصبحت الأمة بلا رأس، وأصبح اندماجها في الحضارات الأخرى وانسحاقها في تراثها أمرا محتوما تفرضه عوامل التطور وحركات التاريخ.

“Sudah diketahui dalam sejarah bahwa pusat besar turats umat Islam di Baghdad dan di Bilad Fi Ma Waraa al-Nahr (Transoxiania). Panglima Mongol menghancurkan turats umat Islam. Meluluhlantakkan Baghdad, rakyatnya, anak-anak kecil dan perempuan di dalamnya, beserta perpustakaannya.

Kalian bisa bertanya-tanya: ‘Di mana turats mampu kembali dan dapat dicengkeram kembali seperti semula serta mengembalikan perannya untuk menjaga umat Islam?’

Satu-satunya jawabnya yang diketahui oleh sejarah: ‘Ya. Dialah Al-Azhar, ulamanya, ruwaq-ruwaqnya. Tanpa Al-Azhar, umat Islam akan menjadi umat tanpa kepala. Dan keberadaannya dalam peradaban-peradaban dan keterbelakangan umat Islam dalam turatsnya menjadi sebuah kenyataan yang tak bisa dielakkan tanpa Al-Azhar yang bisa dibuktikan dengan aspek-aspek sebuah kemajuan dan pergerakan sejarah’.”

Setelah itu, Syaikhul Islam wa Al-Azhar melanjutkan dengan mengutip perkataan Zaki Najib Mahmud, Filsuf modern,

“Barangkali para pembaca mengira saya sedang membanggakan peran madrasah ini (Al-Azhar), atau memujinya melebihi batas. Saya akan mengutip perkataan filsuf Mesir yang dikenal dengan ensiklopedisnya, kepakaran dan penggabungannya antara dua kebudayaan barat dan timur,

‘Peradaban Islam datang dan tiap muslim mengetahui bahwa sumbangsih Mesir bagi peradaban Islam. Sekiranya tidak ada sumbangsih dan peran Al-Azhar pada abad 12, 13 dan 14 H, tidak akan ada turats Arab Islam. Di mana kita menemuinya sementara Tartar membakar turats Islam dan Andalusia telah hilang di tangan orang-orang yang berperang. Akan tetapi Al-Azhar bersegera mengumpulkan kembali turats itu sebelum hilang. Dikumpulkan kembali. Tapi pengumpulan apa yang dimaksud? Yaitu tidak sekedar mengumpulkan, melainkan menciptakan hal yang baru dan tujuan’.”

Qultu: Itu bisa disaksikan gencar keilmuan pada zaman Utsmaniyah di Al-Azhar. Para ulama Azhar berlomba-lomba membuat kitab matan, syarah, hasyiah, taqrir di fan-fan keilmuan yang bermacam-macam. Bahkan tak berlebihan jika dikatakan bahwa zaman itu adalah zaman penghasyiahan sebuah fan ilmu. Syekh Athhar, Syekh Mallawi, Syekh Amir Kabir, Syekh Baijuri, Syekh Suja’i, dan ribuan nama lainnya menghiasi dinding peradaban Islam hingga saat ini.

Jika dilihat di abad sembilan belas, dua puluh dan dua puluh satu, kita akan menemukan seabrek nama-nama ulama yang telah menjaga agama ini pernah menghirup udara dan debu Al-Azhar. Di Mesir, kita menemui Syekh Bakhit, Syekh Musthafa Imran (guru Syekh Azhar Ahmad Thayyib, Syekh Hasan Syafi’i dan Syekh Muallim Syekh Husam). Di Syiria, kita menemukan Syekh Hassan Hanabakeh, Syekh Buthi, Syekh Wahbah Zuhail, Syekh Nurudin ‘Ithr. Di Tunisia, kita temukan Syekh Kimtir, Syekh Jami’ Zaitunah sekarang. Di Indonesia, Syekh Nawawi al-Bantani al-Azhary, Syekh Mahmud Yunus, Syekh al-Habib Muhammad Quraish Shihab dan lain-lain.

Jika ditelusuri lagi, akan banyak kita temukan. Namun, sebagaimana bintang-gemintang di langit sulit dihitung, demikian pula para ulama Al-Azhar.

وامدح بأمدح ما في الشعرِ أَزهَــرَنَا

فأمدح الشعر عن أوصـافه عــجــزا!

[الشيباني الإندونيسي]

Pujilah Al-Azhar kita dengan pujian yang maha memuji yang terdapat dalam sebuah syair

Paling memujinya syair telah lemah dalam menyifati Al-Azhar!

Paling terpenting bukan bagaimana kita hanya membanggakan al-Azhar, tapi yang jauh lebih penting dari itu, bagaimana Al-Azhar bisa bangga kepada kita. Dengan apa? Menjaga turast-turats yang mereka tinggalkan kepada kita dengan memahaminya dan menyelam dalam samudera rahasia-rahasianya.

Hari ini ulang tahun Al-Azhar yang ke 1082 tahun. Tepatnya pada 7 Ramadhan. Selamat ulang tahun, Sayyidina Al-Azhar!

(Syihab Syaibani-Beben/ Mahasiswa Universitas Al-Azhar Jurusan Dirasat Islamiyah wal Arabiyah)

Sumber:

Al-Azhar Fi Alfi ‘Am

Al-Azhar Wa Dauruh Fi Nasyr Tsaqafah

Read more
06Apr

Al Azhar dan Wakafnya

6 April 2022 buutsfpib Artikel

(Edisi Spesial Ramadhan: Milad Al-Azhar ke-1082 Vol. 03)

Memasuki 1082 tahun sebagai kiblat ilmu pengetahuan, Al-Azhar tetap eksis mengawal perkembangan zaman dalam bidang kelimuan. Selain sebagai kiblat ilmu pengetahuan, al-Azhar juga terkenal dengan wakafnya. Karena wakafnya itulah, Al-Azhar dijadikan tonggak perwakafan dalam bidang pendidikan.

Sistem perwakafan menjadi salah satu faktor dari maju dan bertahannya suatu lembaga. Untuk itu, mengetahui bagaimana Al-Azhar dalam sistem perwakafan dan penerapannya adalah sesuatu yang perlu dikaji. Di sini penulis akan mencoba membahas secara singkat bagaimana Al-Azhar dan wakafnya dalam bidang pendidikan dan pengajaran.

Perekonomian Al-Azhar menuju ke sistem perwakafan dialami secara bertahap. Saat berdirinya, pemasukan keuangan masjid Al-Azhar didapatkan dari Daulah Fathimiyah, seperti halnya masjid-masjid lainnya. Ketika masuk kepemimpinan khalifah kedua Daulah Fathimiyah, Al-Aziz Billah, halaqah keilmuan diadakan dengan saran dari Ibnu Kilis. Adapun keuangan Al-Azhar saat itu didapatkan dari infaq pribadi Khalifah dan Perdana Menteri, baik untuk para muridnya, tempat tinggal, sandang pangan, serta hal-hal lain yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pengajar dan murid.

Masuk ke pemerintahan Khalifah ketiga -Hakim bi Amrillah- sistem perwakafan mulai diterapkan agar keuangan yang masuk ke Al-Azhar bisa terus menerus berputar dan tidak tergantung dengan seorang khalifah. Sejak itulah Al-Azhar menganut sistem perwakafan sebagai masjid dan tempat belajar-mengajar di Daulah Fathimiyah.

Terkait wakaf pertama al-Azhar, Dr. Abdul Aziz Muhammad al-Sinawy dalam bukunya Al-Azhar Jami’ wa Jami’ah, mengutip dari Maqrizi dalam bukunya Al-Khothoth, menjelaskan mengenai piagam wakaf bahwa Hakim bi Amrillah memberikan sebagian hartanya sebagai wakaf –tertulis di pembukaan piagam-. Yaitu diwakafkan untuk tiga masjid: pertama Al-Azhar, yang kedua Masjid Rasyidah, dan yang ketiga Masjid Muqish, kemudian disusul dengan Dar Hikmah. Piagam tersebut dikeluarkan ketika bulan Ramadhan tahun 400 H (sekitar 18 April – 17 Mei 1010 M).

Wakaf tersebut berupa harta yang tetap, seperti tanah pertanian, pasar, dan lain sebagainya. Harta yang telah diwakafkan tersebut tidak diperjualbelikan, namun dikelola agar terus berputar dan hasilnya kembali ke Al-Azhar sendiri. Dari Al-Azhar untuk Al-Azhar dan umat Islam. Akhirnya keuangan berputar secara terus-menerus tanpa bergantung pada seseorang yang menginfakkan hartanya.

Sistem tersebut diterapkan Al-Azhar sepanjang perjalanannya hingga saat ini kecuali ketika Daulah Ayyubiyyah, yaitu ketika Al-Azhar ditutup dan menghentikan wakafnya untuk menepis penyebaran madzhab Syiah. Sejak saat itulah sistem keuangan dan perputaran ekonomi Al-Azhar tidak terbatas dari seorang Khalifah atau perdana menteri yang menyokong keuangannya. Melainkan dari pemilik harta tetap yang mewakafkan pada Al-Azhar secara umum untuk dikelola, atau secara khusus diberikan kepada para pengajar, murid, atau halaqah dan ruwaq tertentu.

Sistem perwakafan tersebut dikelola oleh para qudhat, atau sekarang ini dikenal sebagai menteri. Tak lain seperti Al-Azhar saat ini yang telah dikelola oleh Kementerian Wakaf Mesir. Wakaf berkembang pesat, tak hanya diterapkan oleh Al-Azhar, melainkan Mesir pun mengembangkan dan mengelola wakaf secara produktif. Wakaf berkembang pesat ketika pemerintah Mesir menerbitkan Undang-undang No. 80 Tahun 1971 yang mengatur pembentukan Badan Wakaf Mesir yang khusus menangani masalah wakaf dan pengembangannya, berserta struktur, tugas, tanggung jawab dan wewenangnya. (ZISWAF, Vol. 4 No. 1, Juni 2017).

Setelah dipaparkan bagaimana sejarah dan permulaan sistem perekonomian dan wakaf al-Azhar secara singkat, kita bisa melihat sekilas gambaran sistem perwakafan dalam bidang pendidikan dan pengajaran sebagai penunjang keduanya.

Eksistensi Al-Azhar dalam bidang perwakafan dan keilmuannya tidak disempitkan dalam bentuk harta yang tetap seperti tanah pertanian, pasar atau toko dan lain-lainnya. Melainkan wakaf dimaknai secara luas sebagai gaya hidup dalam segala lini pendidikan. Selain perputaran keuangan yang mandiri atau ekonomi proteksi, wakaf tercerminkan hampir di setiap lini Al-Azhar, baik wakaf harta, tenaga, ide atau gagasan.

Harta tetap yang merupakan wakaf tersebut –seperti tanah dll- dikelola hingga berputar terus menerus hingga memiliki perekonomian yang mandiri. Hasilnya dikelola dan kembali pada lembaga itu sendiri, bahkan kembali kepada umat Islam. Begitupula seorang guru, telah mengajar dengan ikhlas, ia telah mewakafkan tenaga, ilmu atau ide untuk kesejahteraan umat dengan ilmu yang ia sampaikan pada muridnya. Begitupula ide dan gagasan dari seseorang yang mengelola sistem pengajaran dan pendidikan tersebut pun termasuk wakaf, wakaf ide dan gagasan. Wakaf yang berasal dari diri umat tersebut akan kembali ke umat dan bahkan kebermanfaatannya akan menyebar lebih luas dan terus menerus. Begitulah sekiranya kita mampu mengambil pelajaran dari al-Azhar.

Tapi bukan berarti, belajar di Al-Azhar itu sesuatu yang murah dan bisa kita remehkan. Akan tetapi termasuk hal mahal, karena ukuran mahal dan murahnya suatu hal bukan hanya pada harta/ materil yang dibayarkan atau tidak. Disebut mahal karena kualitas kelimuan dengan guru yang mempunyai otoritas di bidangnya melimpah ruah dan tinggal kita memilihnya. Karena sesuatu yang berkualitas bukanlah hal yang murah. Itu hal Mahal. Itulah wakaf al-Azhar yang telah membantu kita belajar, melalui sistem perwakafan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang meringankan beban para penuntut ilmu, terlebih para mahasiswa rantau. Wallahu a’lam bi al-showwab. (Ummu Maghfiroh/ Mahasiswi Universitas Al-Azhar Jurusan Sastra Arab)

Read more
26Mar

‘Kutubun Sihhah’, Alasan FPIB Adakan ‘Rihlah Maktabah’

26 Maret 2022 buutsfpib Artikel

Kairo, Fpib.web.id-Kamis (24/3) untuk petama kalinya, FPIB (Forum Pelajar Indonesia Bu’uts) mengadakan rihlah maktabah yang berada di kawasan Darrasah, khususnya maktabah belakang kampus Al Azhar. Rihlah ini diwajibkan bagi para calon mahasiswa/i Al Azhar kedatangan di tahun 2022, dan dibolehkan untuk siapa saja yang ingin berpartisipasi. PSDM (Pemberdayaan Sumber Daya Manusia), sebuah bagian dari FPIB yang mempelopori kegiatan ini, menyiapkan 6 pembimbing untuk 6 kelompok yang sudah dibagi khusus anak baru. Di antaranya, Ustadz Roisul, Ustadz Probo, Ustadz Kamil, Ustadz Irfan Wahid, Ustadz Wildan Edi, dan Ustadz Aqil Palembang.

Abdul Ghofur Musthofa, sebagai ketua koordinasi bagian PSDM, mengatakan,

“Dengan rihlah maktabah ini, kami semua berharap agar anak-anak baru mampu untuk memilih buku secara benar. Sehingga mereka mampu mendapatkan ilmu yang sesuai dengan metode Azhar nantinya.”

Ghofur menjelaskan, bahwa dalam menuntut ilmu, setiap tholib harus memilliki empat macam ini, yaitu:

Guru yang membuka pintu ilmu ( شيخ فتاح ), akal yang mampu menerima secara baik ( عقل رجاح ), buku yang benar dan sesuai ( كتب صحاح ), selalu mengulang apa yang dipelajari ( مداومة و إلحاح ).

Ustadz Roisul Amin, sebagai salah satu pembimbing, menjelaskan bahwa rihlah ini sangat penting bagi semua masisir, khususnya bagi anak-anak baru. Untuk menyadarkan, bahwasanya kita hidup di sebuah kota yang memiliki buku-buku yang tersebar ke seluruh penjuru dunia. Sebagaimana julukannya, ‘kota sejuta buku.’

“Rihlah ini untuk memperkenalkan kepada mereka, bagaimana cara memilih penerbit-penerbit buku dan muhaqqiq yang terbaik dan sesuai metode Azhar. Bahkan terhadap setiap maktabah yang sejalur dengan pemikiran Azhar, sehingga mereka tidak salah pilih di kemudian hari,”

Reporter : Muhammad Awwabinhafizh

Editor : Nusaibah Masyfu’ah

Read more
24Sep

Madinat el Bu’uts al Islamiyyah, Asrama para Duta Al-Azhar

24 September 2021 buutsfpib Artikel

Universitas Al-Azhar merupakan salah satu universitas tertua di dunia. Manhajnya dalam menyebarluaskan ajaran agama Islam banyak diminati oleh pelajar-pelajar muslim dari berbagai negara, yaitu moderat. Dengan manhajnya ini, lahir banyak ulama dan para tokoh intelektual yang tau agama, yang sedikit banyaknya mampu memberi dampak positif bagi lingkungannya. Maka tak heran, jumlah pelajar Al-Azhar terus meningkat setiap tahunnya. Bukan hanya dari negara-negara Timur Tengah, pelajar Al-Azhar datang dari berbagai macam benua.

Melihat pesatnya perkembangan jumlah pelajar dan mahasiswa, maka muncullah gagasan bahwa diperlukannya tindakan untuk menaungi para duta Azhar tersebut dengan menyediakan fasilitas-fasilitas yang diperlukan, seperti kamar, rumah sakit, perpustakaan, masjid, dsb.

Gagasan ini mendapat respon yang sangat baik. Pada November tahun 1954, Dewan Perdana Mentri Mesir mengeluarkan keputusan untuk dibangunnya asrama khusus mahasiswa asing Universitas Al-Azhar, yang pada akhirnya dinamai Madinatul Bu’uts al Islamiyyah atau yang sering disebut dengan Bu’uts. Sekarang, asrama di bawah naungan Universitas al-Azhar ini terdapat di dua ibukota Mesir, yaitu Alexandria dan Kairo, dan sedang dicanangkan pembangunan asrama ketiga di ibukota Qina. Di Kairo, asrama ini terletak di Jalan Ahmad Saeed, Hayy Abbasiyyah, dekat dengan Masjid Al-Azhar.

Pembangunan asrama di Kairo ini dimulai pada tahun 1954 dan mulai dihuni pada 15 September tahun 1959, yaitu saat pemerintahan Presiden Gamal Abd Nasheer dan Grand Syekh Mahmud Syaltut, dengan jumlah pemukim pertama kurang lebih 5000 orang pelajar dari 40 negara.

Selain menaungi sejumlah pelajar asing, pendirian asrama ini juga bertujuan untuk mempererat persaudaraan pelajar antar negara, salah satunya dengan mengadakan nadwah dan kegiatan-kegiatan lain yang dapat menunjang keakraban antar pelajar suatu negara dengan negara lainnya.

Kegiatan-kegiatan asrama ini berlangsung di bawah naungan Grand Syekh Al-Azhar, bahkan tak jarang utusan/perwakilan Grand Syekh datang ke asrama para dutanya hanya sekedar melihat-lihat kondisi sekitar atau bahkan mendengarkan keluh kesah mereka.

Pada masa pemerintahan Presiden Sisi dan Syekh Ahmad at Thayyeb, tepatnya pada April 2016, keluar pernyataan bahwa Bu’uts harus direnovasi karena semakin banyaknya jumlah pelajar asing Al-Azhar. Lahannya diperluas hingga 17 hektar (hitungan Mesir). Pada awalnya, asrama ini hanya dapat menampung sekitar 5000 orang. Namun, setelah direnovasi, asrama ini dapat menampung jumlah yang sangat fantastis, yaitu sekitar 40.000 orang pelajar pertahun.

Bukan tak bermakna, Bu’ust dan semua orang yang didalamnya berharap bahwa setelah kembali ke negara masing-masing, pelajar-pelajar ini “bisa diandalkan” untuk menjadi utusan Al-Azhar (mab’ust al Al-Azhar), yang dapat menyebarkan dan mengaplikasikan wajah islam yang sesungguhnya, yaitu Islam yang damai. (Khairunnisa Panjaitan/Syari’ah al Islamiyah-Tk 2)

Read more
05Sep

Merujuk Arus Lalu Jami’ Al-Azhar

5 September 2021 buutsfpib Artikel

Sebuah kesyukuran yang mendalam kami mahasiswi Al-Azhar, Kairo dapat mengkuti kajian tentang sejarah Al-Azhar bersama Dr. Khalaf Jalal, dibuka dengan penjelasan singkat tentang sejarah Al-Azhar yang berdiri di 3 masa kerajaan Fatimiyyah, Utsmaniyyah dan Mamalik. Bangunan tua ini berhiaskan ukiran ayat-ayat  suci al-Qur’an pada setiap sudut atap dan dinding. Terdapat pula di sudut atas bangunan beberapa corong yang dulunya dikenakan untuk menaruh wewangian dan lampu-lampu lilin.

Ruwaq-ruwaq yang mengitari masjid ini dulunya adalah sebuah asrama tempat tinggal para mahasiswa asing. Hidup, belajar dan menghabiskan penuh waktu mereka sampai pada makan, minum dan mandi di sini. Madinatul Buuts Al-Islamiyyah, bangunan yang sekarang menjadi salah satu tempat tinggal para wafidin dan wafidat atau mahasiswa dan mahasiswi luar Kairo ini merupakan penjelmaan dari wujud Azhar pada zaman dahulu.

Mereka belajar di ruwaq yang berbeda sesuai dengan asal negara kedatangan dan diajar oleh seorang guru yang berasal dari negara mereka masing-masing, maka tidak heran apabila ditemukan beberapa ruwaq seperti ruwaq syawam, magharibah, atrak, dan beberapa ruwaq lain yang sekarang tidak ditemukan lagi dalam lingkup bangunan ini.

Seperti halnya sebuah roti yang mengalami beberapa fase pembuatan hingga menghasilkan kue yang cantik, indah dan enak dimakan. Al-Azhar pun dulunya hanya terdiri dari satu ruwaq yaitu ruwaq Fatimiyyah yang kemudian berkembang seiring majunya zaman sehingga dapat berdiri seperti saat ini.

Bukan hanya asrama, terdapat beberapa madrasah dan maqam di dalam bangunan ini. Diantaranya madrasah Jauhariyyah yang didirikan oleh Jauhar Al-Qurtuby, madrasah Tibrisiyyah yang didirikan oleh Ala’u-d-Din at-Tibrisiyyah, madrasah al-Aqbaghawiyyah dan terdapat maqam Jauhar Al-Qurtuby, Ala’u-d-Din at-Tibrisiyyah dan Abdurrahman Al-Katkudi.

Acara ini pun ditutup dengan sesi perfotoan dan mengulang kajian secara singkat tentang sejarah bangunan ini “Jami’ Al-Azhar”. Semoga apa yang telah diusahakan oleh orang-orang terdahulu dapat kita gunakan dan manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Maka sampailah kita pada titik beruntung apabila kita dapat mengamalkan perbuatan lebih baik dari para ulama terdahulu. Usiikum Wa Iyyaaya Nafsi.

(Berliana Putri Permatasari/Psikologi tk.3)

Read more
24Agu

Madinatul Buuts dan Warna-Warninya yang Melahirkan Energi

24 Agustus 2021 buutsfpib Artikel

Menjalani keseharian sebagai mahasiswa Universitas Al-Azhar Kairo tentu membuat kita turut menikmati segala hal yang ada pada Mesir.

Pancaindra yang ada pada diri kita pun tidak terlewatkan ikut merasakannya, Telinga kita barangkali tidak lagi asing dengan suara dan bunyi keramaian kota Kairo, bunyi klakson yang menemani tiap perjalanan, bahkan siulan khas ‘Zagrudah” yang disenandungkan penduduk Mesir sebagai bentuk kegembiraan dan sukacita. Hidung kita barangkali tidak lagi asing dengan aroma kota Kairo, termasuk harum wewangi yang menguar dari dupa yang dibakar. Lidah kita barangkali tidak lagi asing dengan kuliner kota Kairo, berbagai sajian murah yang disajikan pedagang ramah, dan kusyari yang oleh mahasiswa seperti saya seringkali dicari-cari. Kulit kita barangkali tidak lagi asing dengan tekstur Kairo, pasir yang sering menyelinap di sandal kita, juga debu yang kerap kali menempel di kulit wajah kita, lembut kasarnya kita cukup mengenalnya. Dan, mata kita pun barangkali tidak lagi asing dengan pemandangan warna-warni Kairo, warna-warni yang barangkali tidak seindah pelangi, tapi cukup membuat kita merindukan Kairo berkali-kali.

Warna Kairo dan Buuts

Di Kairo kita melihat bagaimana warna yang mendominasi Kairo adalah warna coklat muda,  tentu yang paling kentara adalah bangunannya –meskipun tidak jarang mobil-mobil yang terparkir lelap di pinggiran jalan Kairo juga berwarna coklat–  pertama kali menyadari hal itu, saya bertanya kepada diri sendiri, “eh, kok coklat semua ya?”

Selanjutnya muncul beberapa asumsi pribadi yang barangkali berusaha menjawab pertanyaan tadi, barangkali memang ada peraturan dari pemerintah setempat untuk kompak serempak mewarnai seluruh bangunan dengan warna coklat muda, barangkali cat warna coklat muda adalah yang paling murah harganya sekaligus paling mudah dijangkau pengelola bangunan di Kairo, hingga asumsi kalau sebenarnya tidak semua bangunan awalnya berwarna coklat, namun karena badai pasir yang rutin mampir, warna-warna dasar itu kini tertutup warna pasir, coklat muda. Sehingga berbagai asumsi terus bermunculan, tapi rasa-rasanya belum ada yang cukup untuk menjadi jawaban.

Namun untuk semua warna-warna di Kairo, saya belakangan menyadari warna-warni Madinatul Buuts memiliki perbedaan. Bangunan-bangunan di Madinatul Buuts mayoritas berwarna senada yakni warna dominan coklat muda plus dengan sentuhan krem di beberapa bagian, juga di beberapa sudut di antara bangunan-bangunan tersebut, mudah mata kita temukan kaligrafi yang menghias, ditambah dengan warna-warni alami yang diberikan oleh tumbuhan-tumbuhan di taman-taman dan pepohonan yang turut mewarnai Madinatul Buuts, seolah memiliki energi, energi yang menular begitu saya merasakannya. Rasanya mirip dorongan energi yang anda dapatkan dari meminum soda dingin di tengah musim panas Mesir.

            Kekuatan Warna

Pernahkah kalian merasa betapa lebih mudahnya bangun di pagi hari yang cerah dibanding bangun pagi di hari yang mendung?

Pernahkah kalian terpikirkan sesuatu yang sesederhana warna bisa mendatangkan perubahan yang barangkali tidak pernah kita pikirkan sebelumnya?

            Edi Rama memenangkan penghargaan sebagai Wali Kota Terbaik tahun 2004 atas keberhasilannya yang menakjubkan dalam merestorasi Tirana, ibu kota Albania, hanya dalam empat tahun setelah ia terpilih. Tirana yang diwariskan ketika Edi Rama mulai menjabat adalah kota yang hancur akibat puluhan tahun kediktatoran yang menekan, dan kehabisan sumber daya akibat puluhan tahun kekacauan, Tirana telah menjadi surga bagi kriminalitas dan korupsi yang terorganisir sejak 1900-an. Edi Rama ketika itu adalah seorang pejabat yang berpendidikan seniman, dia menggambar sendiri desain pertamanya, memilih warna-warna cerah serta mencolok sebagai pemutus kemurungan dari pemandangan kota. Sebenarnya tidak ada yang berubah di Tirana, kecuali di permukaannya saja, seperti sentuhan warna merah dan kuning, hijau zamrud di sana-sini. Namun hanya dengan itu segalanya berubah, kota itu jadi hidup, bersemangat. Berenergi. Bersukacita.

            Ketika pertama kali membaca cerita tentang Tirana, saya terkesima dengan keajaibannya. Ternyata sesuatu sesederhana warna mampu mendatangkan perubahan yang begitu dramatis. Setelah itu, saya menyadari cerita tersebut selaras dengan pengalaman yang saya alami selama hidup di Kairo dan tinggal di Madinatul Buuts. Kemudian saya memikirikan cerita itu dengan sudut pandang yang saya bagikan di bagian akhir artikel ini.

Kita sering memikirkan energi sebagai sesuatu yang datang dari apa yang kita konsumsi, seperti suntikan tenaga dari kopi atau lapisan gula pada kue. Namun, terkadang energi di sekeliling kita memang memengaruhi energi di dalam kita. Seperti yang dikatakan pelukis jerman, Johannes Itten, “warna adalah bagian kehidupan, karena dunia tanpa warna tampak mati bagi kita.” Inti dari estetika energi adalah getaran yang membuat kita tahu bahwa lingkungan sekitar kita ini hidup dan dapat membantu kita untuk tetap tumbuh.

Meski kita jarang memikirkan hubungan antara warna dan perasaan, rasanya mustahil untuk memisahkan keduanya. Bahkan tidak jarang bahasa kita mempertemukan keduanya. Kita menggambarkan suasana hati kita cerah atau sebaliknya, mendung. Di hari yang sedih, mungkin awan yang gelap menyelubungi kita, atau kita hanya merasa agak kelabu. Dan ketika semuanya berjalan baik-baik saja, kita mengatakan hari kita secerah sinar matahari pagi di permulaan hari. Kita bisa “melihat segala sesuatu dalam cahaya gelap” atau “melihat sisi terangnya”. Meski makna berbagai warna bisa berbeda tergantung budaya, tapi warna cerah adalah sebuah dimensi yang dipahami secara universal sebagai sukacita.

Jika warna-warna terang mengangkat energi kita, tidak mengejutkan bahwa orang-orang bersedia mengeluarkan banyak usaha demi mendapatkan warna cerah yang mereka inginkan. Suku Diyari dari Aborigin Australia dikenal melakukan ziarah tahunan dengan berjalan kaki untuk mengumpulkan pigmen tanah kuning kemerahan dari sebuah tambang di Bookartoo, suatu perjalanan pulang-pergi yang ditempuh barangkali melewati ratusan kilometer. Ada banyak tambang tanah kuning kemerahan di sepanjang area itu, tetapi Suku Diyari menginginkan warna yang paling terang berkilau, untuk digunakan dalam ritual mewarnai tubuh mereka.

Bahkan sekarang ini, warna masih terus menginspirasi perjalanan-perjalanan manusia. Seperti orang-orang melakukan perjalanan puluhan bahkan ratusan kilometer dari Kairo untuk menemukan warna biru laut dan sepaket pemandangan warna-warna suasana pantai yang mereka dambakan. Baru-baru ini saya turut belajar bahwa energi dapat berasal dari hal sesederhana warna-warni yang menghidupkan benda mati, warna-warni yang hangat seolah memancarkan sinar matahari yang kita sukai, dan –mungkin hanya perasaan saya saja—juga sedikit optimisme untuk menjalani hari.(Hilmi Ghifaria/Syariah wal Qonun tk.3)

Read more
21Nov

Madinat al-Bu’uts

21 November 2019 buutsfpib Artikel
img-20190303-wa00251498980131
burhanyusuf____bd_nlskfqad___1032471749
IMG_20200619_061120-min
IMG_20200618_045830-min

Pada awal mulanya para pelajar yang datang ke Al Azhar untuk menuntut ilmu; mereka di tempatkan dalam Ruwaq Masjid Al Azhar atau rumah yang secara khusus disewa oleh Al Azhar untuk tempat tinggal murid-murid nya.

Secara bahasa, kata Ruwaq adalah serambi yang memiliki tiang-tiang atau galeri terbuka. Kata Ruwaq juga berarti sebagai koridor dan juga gang. Selain itu, kata Ruwaq juga memiliki arti sebagai tempat atau ruangan belajar yang ada di pelataran masjid.

Dalam sejarahnya, kata Ruwaq digunakan untuk penyebutan ruangan atau tempat belajar yang ada di Masjid Al Azhar Mesir seperti Ruwaq Atrak, Ruwaq Magharibah dan juga Ruwaq Jawi.

Para penuntut ilmu yang datang dari penjuru dunia nantinya akan tinggal di Ruwaq Masjid Azhar sesuai dengan negerinya. Contoh lah Ruwaq Atrak untuk orang-orang Turki, Ruwak Jawi untuk orang Melayu dan seterusnya.

Pada Awalnya, pengajaran dalam masjid Al Azhar dikenakan biaya. Walau tidak mahal, Sultan Hakim bi Amrillah menilai pemungutan biaya ini kurang etis dan mulai memikirkan dana wakaf untuk pengajaran di Al Azhar. Bermula dari Sultan Hakim bi Amrillah, dana wakaf dari Negara pun mengalir yang terus berlangsung hingga kini. Para Muhsinin atau orang-orang dermawan banyak yang menitipkan hartanya untuk kemajuan pendidikan di Al Azhar. Bahkan, kekayaan dana wakaf untuk Al Azhar pernah mencapai sepertiga kekayaan Mesir.

Para pelajar yang tinggal di Ruwaq Azhar hanya menetap dan belajar, tanpa adanya aktivitas penunjang pembelajaran seperti kegiatan olahraga, tsaqofah, atau organisasi tempat aspirasi para pelajar ditumpahkan.

Hal ini masih terus berlanjut hingga tahun 1952 M. Al Azhar sebagai pemerhati para pelajar menilai perlunya sebuah pembaharuan dalam Ruwaq Azhar, oleh karena itu mulailah pembangunan asrama pada tanah yang cukup luas berlokasi di Abbasia – Darrasa pada tahun 1954 M dan mulai di resmikan pada September 1959 M dengan nama Madinet Bouth El Islameyya.

Para pelajar yang sebelum nya menetap di Ruwaq Azhar mulai dipindahkan ke Asrama Buuts dan mendapatkan fasilitas yang jauh lebih layak dari sebelum nya.

Asrama dengan fasilitas yang cukup lengkap menghadirkan tunjangan kesehatan berupa rumah sakit khusus, kantin, warung internet, kantor pos, kantin jahit, perpustakaan, serta berbagai kegiatan yang menunjang proses belajar mengajar. Tak lupa pula, mukafaah atau uang saku tiap bulan dan tiket pulang gratis menjadi daya tarik tersendiri.

Jadi, Madinatul Bu’uts adalah bentuk implementasi baru dari Ruwaq Azhar yang di harapkan bisa mendorong semangat para pelajar serta mencetak hasil didikan Al Azhar yang bersinar dalam masyarakat Islam.

Dengan adanya perhatian khusus ini bukan malah menjadikan para pelajar manja dan bersantai-santai, anggap lah jika Ruwaq yang sederhana bisa menghasilkan Ibnu Khaldun dan Imam Suyuthi.. Maka dengan Madinat Buuts harus lebih dari itu.

Inilah amanah yang di emban bagi setiap pelajar yang menjadikan Al Azhar sebagai tujuan. Amanah Ummat ada di pundak para Azhari dan Azhariyah. Jadilah Azhari Tholibul Ilmi bukan Tholibul Ismi.

في إطار حرص اللواء ابراهيم الجارحي رئيس قطاع مدينة البعوث الإسلامية علي العناية والاهتمام وتذليل كافة المعوقات للطالب الوافد وتسهيل الاجراءات المتعلقة بالمنحة والسكن بالمدينة ورفع مستوي الخدمة للطلاب ، تقوم إدارة المنح والاسكان تحت اشراف الاستاذ حسام الدين عبدالمجيد مدير الادارة باستخراج تذاكرة الاستقدام للجنسيات المختلفة ، وتجديد سراكي الطلاب والطالبات داخل المدينة طبقاً للتصديقات والتدرجات وتحديث قواعد البيانات بها التي يقوم بها الاستاذ صلاح شوري، كما تعمل ايضا علي استخراج تذاكر السفر النهائي للطلاب الوافدين بجنسياتهم المختلفة ، ذهاب وعودة .
و تحرير منح الاستقدام للطلاب الجدد و عمل إجراءات العودة من السفر ، بالاضافة الي تحرير المنح الشهرية لطلاب وطالبات (معاهد إفريقيا – كليات إفريقيا – معاهد أسيا- كليات أسيا – الدول العربية – الدراسات العليا – معاهد وكليات الطالبات ) داخل المدينة لأكثر من (3408) طالب وطالبة وتحرير منح معاهد وكليات خارج المدينة لأكثر من (2056) طالبة وطالبة .
وعمل إثبات قيد لطلاب المدينة وذلك لتقديمها للجهات المختلفة
و تحديث وتطوير نظام قواعد البيانات الخاص بالإدارة وتحديث قواعد بيانات الطلاب طبقاً للحركات المختلفة من فتح غرف وإخلاءات الطرف، و تسكين الطلاب والطالبات من خارج المدينة من مختلف الجنسيات وكذلك عمل إحصائية عددية للطلاب وطالبات داخل وخارج المدينة والاستضافة ومراجعة سجلات الجنسيات ومطابقتها بالأعداد على قواعد البيانات بالإدارة ومراجعة حركات الطلاب المختلفة بها ، و حجز غرف السفر والعودة ، و حصر التخلفات والحضور والسفر والعودة لطلاب المدينة فى دفتر خرائط المدينة والمدون على برنامج الحاسب الالى ، وعمل إخطارات التغذية يوميا لتغذية طلاب المدينة حسب الإعداد الفعلية ، و استخراج (فيزا كارت ) جديدة ، بالاضافة الي عقد جلسات حوار شهرية بين الموظفين بالإدارة لإبداء ملاحظاتهم على برنامج الإدارة الجديد.

Wallahu a’lam.

Sumber : https://misteriegypt.wordpress.com/2019/03/06/buuts-yastohh/
Facebook

Read more
  • 12
Logo FPIB Kecil Web

FPIB (Forum Pelajar Indonesia Bu’uts) merupakan forum sosial yang mewadahi seluruh pelajar Indonesia yang terdaftar di Madinatul Bu’uts Al Islamiyyah.

FPIB © All rights reserved

Kategori

  • News
  • Info

Info

  • Ijroat Adventure Minhah Dakhili
  • Ijroat Adventure Minhah Khoriji
  • Taqdim Minhah

Tentang Kami

  • About FPIB
  • Kontak