FPIB © All rights reserved
FPIB
  • Home
  • Artikel
  • Opini
  • Esai
  • Info
  • Berita
  • Ramadhan
  • About
Join Grup
FPIB
Join Grup

Tiga Derajat Orang Berpuasa, Begini Kata Imam Al-Ghazali

Home / Artikel / Ramadhan / Tiga Derajat Orang Berpuasa, Begini Kata Imam Al-Ghazali

Oleh: Muhammad Aulia Rozaq

Ramadhan merupakan bulan yang sangat dinantikan oleh umat Islam di seluruh belahan dunia. Bagaimana tidak? Di bulan tersebut pahala dilipatgandakan, pintu neraka ditutup rapat, pintu surga dibuka luas, dari orang yang biasa saja di bulan-bulan lainnya, tiba-tiba berubah menjadi orang yang rajin beribadah, yang paling ajib, ada sebagian orang yang berkelakuan bak Abu Jahal, tiba-tiba berubah menjadi orang yang paling rajin dan taat beribadah.

Kendati demikian, Ramadhan tidak boleh hanya dipandang sebagai euforia saja, ia harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Berbicara mengenai amal sholeh, hal yang harus diutamakan tentunya amal ibadah puasa itu sendiri, sebab banyak orang lalai dan tidak memperhatikan shaumnya, sehingga ibadahnya hanya menghasilkan lapar dan dahaga saja. Pahalanya digerogoti dosa-dosa, sejak terbit fajar diisi oleh ghibah, mencela, dan lain sebagainya. Hingga terbenamnya matahari yang tersisa hanyalah lelah, haus, dan lapar saja.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui derajat orang yang berpuasa guna mengukur diri, sejauh mana kita berpuasa? Dan harus seperti apa kita berpuasa. Dalam hal ini, Imam Al-Ghazali menuliskan bab khusus dalam kitabnya Ihya ‘Ulumiddin dengan tajuk “Fi Asrāris s-Shaum wa Syurūthul l-Bāthinah” [Penjelasan mengenai Rahasia-rahasia Shaum dan Syarat-syarat Samarnya]. Beliau menyatakan bahwa orang yang berpuasa terbagi menjadi tiga derajat. Pertama, shaumul l-‘umūm (puasa orang pada umumnya), yakni menahan perut dan kemaluan dari melakukan perbuatan yang didasarkan pada syahwat.

Kedua, shaumul l-khusūs (puasa orang tertentu) yaitu menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan-perbuatan dosa.

Ketiga, shaumu khusūsul l-khusūs (puasanya orang paling khusus dan tertentu), maka puasanya orang-orang ini adalah puasanya hati dari hasrat-hasrat yang hina dan pikiran-pikiran duniawi, mencegah hati dari selain Allah secara menyeluruh, dan puasanya orang-orang ini batal ketika memikirkan sesuatu selain Allah, dalam artian memikirkan sesuatu yang bukan karena Allah dan cenderung menyebabkan keterikatan hati seorang hamba pada selain dari-Nya. Jenis puasa ini adalah puasanya para Nabi, Shiddiqīn, dan para Muqorrobīn.

Adapun puasanya orang-orang shalih adalah jenis puasa yang kedua, yaitu puasanya orang tertentu, mengapa demikian? Sebab tidak semua orang berpuasa mampu mencapai derajat ini. Imam Ghazali kemudian melanjutkan bahwa kesempurnaan dalam derajat yang kedua ini terdiri dari enam perkara.

Pertama, ghadul l-bashar (menundukan pandangan) baik bagi laki-laki ataupun perempuan, serta mencegah meluasnya pandangan pada sesuatu yang tercela dan dibenci, dalam hal ini termasuk juga pandangan pada sesuatu yang menyebabkan hati sibuk dan berpaling dari mengingat Allah.

Kedua, menjaga lisan dari ocehan-ocehan, berbohong, ghibah, adu domba, perkataan keji, perkataan kasar, permusuhan dan debat kusir. Maka dalam hal ini diwajibkan diam, dan diwajibkan pula untuk menyibukkan diri dengan dzikir dan tilawah Al-Qur’an.

Ketiga, mencegah pendengaran dari menyimak sesuatu yang tidak bermanfaat dan tidak disukai Allah.

Keempat, mencegah sisa anggota tubuh dari perbuatan-perbuatan dosa, semisal tangan dan kaki dari perbuatan yang tidak disukai Allah, mencegah perut dari syubhat ketika berbuka puasa, sebab tidaklah bermakna puasa jika bersahur dengan yang halal namun berbuka dengan yang haram.

Kelima, memperbanyak makan makanan yang halal ketika berbuka puasa, sebab dengan memakan makanan yang halal, puasa orang tersebut akan menjadi berkah dan menjadi sebab tercapainya ridho Allah SWT.

Keenam, terakhir, agar hatinya selalu bergantung kepada Allah setelah berbuka puasa, – maksudnya – hendaknya dia menggantungkan hatinya kepada Allah dengan diisi dengan harapan dan ketakutan akan kebesaran Allah SWT, seraya berkata “Apakah puasaku ini diterima oleh Allah? Ataukah puasaku ini ditolak sebab aku tergolong pada golongan yang dimurkai?”

Demikian pembahasan Imam Al-Ghazali mengenai derajat orang yang berpuasa, dari sini kita bisa mengukur harus seperti apa kita berpuasa, Cukupkah hanya dengan menahan dahaga dan lapar? Atau kita berjuang dan berjihad pada hal yang melebihi kedua itu, yakni menjaga diri dari setiap perkara dosa agar dapat mencapai ridho-Nya semata.

editor: redaktur

BerpuasaHukum puasaMasisirPuasaRamadhan
66
Like this pos

Recent posts

Upgrading Skill : Mengenal Dasar-Dasar Tulisan Opini

Puasa Sebagai Perisai Pelindung Seorang Muslim

Puasa Sebagai Perisai Pelindung Seorang Muslim

Ma’idah Ar-Rahman: Ketika Jalanan Mesir Menjadi Hamparan Rahmat

Ma’idah Ar-Rahman: Ketika Jalanan Mesir Menjadi Hamparan Rahmat

Kategori

  • Artikel (15)
  • Berita (63)
  • Esai (2)
  • Info (26)
  • Opini (1)
  • Ramadhan (29)

Pos-pos Terbaru

  • Upgrading Skill : Mengenal Dasar-Dasar Tulisan Opini
  • Puasa Sebagai Perisai Pelindung Seorang Muslim
  • Ma’idah Ar-Rahman: Ketika Jalanan Mesir Menjadi Hamparan Rahmat
  • Resmikan Nama Kabinet Baru, DP FPIB 2025/2026 Gelar Rapat Kerja dan Buka Bersama.
  • Space Jurnalistik, dari Acta Diurna hingga Web Jurnal

Komentar Terbaru

  • Ahmad Yani pada Resmikan Nama Kabinet Baru, DP FPIB 2025/2026 Gelar Rapat Kerja dan Buka Bersama.
  • 3 Madrasah di Masjid Al-Azhar pada Era Mamalik - FPIB pada Masjid Al-Azhar dari Syiah Fatimiyah hingga Ayubbiyyah
  • Fatih Khaufi Rahman pada Masjid Al-Azhar dari Syiah Fatimiyah hingga Ayubbiyyah
  • Nikmah pada Sebab Didirikan dan Sebab Penamaan Masjid Al-Azhar Kairo
  • Zaki pada Ijroat Adventure Minhah Khoriji
  • Ruwaq Bu'uts Selesai, Kajian Banyak Menjawab Permasalahan yang Kerap Terjadi
    Previous PosRuwaq Bu'uts Selesai, Kajian Banyak Menjawab Permasalahan yang Kerap Terjadi
  • Next PosMemaksimalkan Amal Di Bulan Suci
    Ruwaq Bu'uts Selesai, Kajian Banyak Menjawab Permasalahan yang Kerap Terjadi

Related Posts

Puasa Sebagai Perisai Pelindung Seorang Muslim
Ramadhan

Puasa Sebagai Perisai Pelindung Seorang Muslim

Ma’idah Ar-Rahman: Ketika Jalanan Mesir Menjadi Hamparan Rahmat
Ramadhan

Ma’idah Ar-Rahman: Ketika Jalanan Mesir Menjadi Hamparan Rahmat

Maidah Rahman; Tradisi Buka Bersama ala Warga Mesir(?)
Ramadhan

Maidah Rahman; Tradisi Buka Bersama ala Warga Mesir(?)

Ramadhan Membentuk Mu’min Yang Ulul Albab
Ramadhan

Ramadhan Membentuk Mu’min Yang Ulul Albab

Tinggalkan Balasan (Cancel reply)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

Logo FPIB Kecil Web

FPIB (Forum Pelajar Indonesia Bu’uts) merupakan forum sosial yang mewadahi seluruh pelajar Indonesia yang terdaftar di Madinatul Bu’uts Al Islamiyyah.

FPIB © All rights reserved

Kategori

  • News
  • Info

Info

  • Ijroat Adventure Minhah Dakhili
  • Ijroat Adventure Minhah Khoriji
  • Taqdim Minhah

Tentang Kami

  • About FPIB
  • Kontak
Copy