FPIB © All rights reserved
FPIB
  • Home
  • Artikel
  • Opini
  • Esai
  • Info
  • Berita
  • Ramadhan
  • About
Join Grup
FPIB
Join Grup

Esai

Home / Artikel / Esai
22Sep

Diaspora Indonesia Bahas Peran Strategis dalam Membangun Negeri: Fajruna Batch ke-7 di Kairo

22 September 2025 buutsfpib Artikel, Berita, Esai, Info 20

Kairo, 21 September 2025 — Sore itu, langit Kairo perlahan meredup, menyisakan sinar matahari yang hangat di halaman hijau Bustan Thol’at, Madinatul Buuts. Permadani terhampar, dan beberapa mahasiswa Indonesia duduk rapi melingkar. Tidak ada panggung megah, tidak ada peralatan mewah. Namun suasana diskusi yang berlangsung justru penuh khidmat, sarat semangat, dan kaya gagasan.

Forum bulanan Fajruna kembali hadir. Kali ini, Fajruna Batch ke-7 mengangkat tema yang menyentuh inti kesadaran mahasiswa perantau: “Potensi dan Peran Diaspora Indonesia dalam Membangun Negeri dari Luar Negeri.”

Acara yang dipandu oleh Ustadz Khubaib ini menghadirkan dua narasumber utama. Ustadz Ach. Muhajir membawakan paparan dengan sudut pandang syariat, sementara Ustadz Ihsanul Fikri menyoroti potensi dan dimensi sejarah diaspora. Diskusi berjalan dinamis; para peserta tidak hanya mendengarkan, tetapi juga aktif bertanya dan berdialog, menciptakan ruang interaksi intelektual yang hangat.

*Diaspora dalam Tinjauan Syariat: Warisan Sejak Rasulullah*

Dalam sesi pertamanya, Ustadz Ach. Muhajir membuka cakrawala dengan membawa peserta kembali ke masa awal Islam. Ia menekankan bahwa fenomena diaspora bukanlah hal baru. Sejak zaman Rasulullah SAW, umat Islam telah membuktikan peran besar mereka sebagai perantau yang berkontribusi bagi dakwah dan peradaban.

“Hijrah ke Habsyah adalah salah satu bentuk diaspora awal dalam Islam. Begitu pula hijrah ke Madinah, yang justru menjadi titik awal lahirnya masyarakat Islam yang kuat. Dari sinilah kita belajar bahwa perantauan bukanlah keterputusan, melainkan kelanjutan perjuangan,” jelasnya.

Menurut beliau, mahasiswa Indonesia di luar negeri hari ini memiliki tanggung jawab moral dan spiritual yang sama. Keberadaan mereka bukan hanya untuk menuntut ilmu, tetapi juga bagian dari amanah dakwah dan pengabdian, baik bagi umat setempat maupun bagi tanah air yang mereka tinggalkan.

*Potensi Diaspora di Era Teknologi: Menembus Batas Jarak*

Setelah itu, Ustadz Ihsanul Fikri mengajak peserta menatap masa kini dan masa depan. Ia menyoroti betapa besar peluang yang dimiliki diaspora Indonesia, terutama di era digital saat ini.

“Hari ini, teknologi telah menjembatani jarak. Diaspora tidak lagi terhalang oleh batas geografis. Dari Kairo, dari Timur Tengah, bahkan dari benua mana pun, kita bisa tetap hadir untuk bangsa. Ilmu bisa dibagikan, gagasan bisa disebarkan, jejaring bisa dibangun, dan kontribusi nyata bisa terus mengalir,” ujarnya.

Beliau juga mengingatkan bahwa diaspora memiliki dua kekuatan strategis: modal intelektual dan modal jaringan. Di luar negeri, mahasiswa dan pekerja Indonesia memiliki akses pada ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan hubungan lintas bangsa. Jika semua ini dikelola dengan baik, diaspora dapat menjadi lokomotif yang mempercepat kemajuan Indonesia.

*Fajruna: Forum yang Menyulam Kesadaran dan Kebersamaan*

Fajruna bukan sekadar diskusi. Forum ini telah menjadi ruang belajar bersama, tempat mahasiswa Indonesia di Kairo saling menguatkan dan menyadarkan diri tentang peran yang mereka emban.

Di bawah pepohonan Bustan Thol’at yang rindang, suasana diskusi kali ini terasa akrab sekaligus reflektif. Peserta merasakan bahwa meski berada jauh dari tanah air, rasa cinta kepada Indonesia justru semakin tumbuh. Kerinduan itu melahirkan tekad untuk berbuat sesuatu, sekecil apa pun, bagi bangsa.

Acara ditutup dengan Sholat Maghrib bersama. Tidak ada sorak-sorai, tetapi tersisa cahaya semangat dalam hati setiap peserta: keyakinan bahwa diaspora adalah bagian penting dari sejarah dan masa depan Indonesia.

*Diaspora: Jembatan Indonesia dengan Dunia*

Diskusi ini meninggalkan kesimpulan kuat bahwa diaspora bukan sekadar status “perantau.” Ia adalah peran, peluang, sekaligus amanah. Mahasiswa Indonesia di luar negeri adalah duta bangsa, pembawa wajah Indonesia di mata dunia. Mereka adalah jembatan yang menghubungkan Indonesia dengan peradaban global.

Fajruna Batch ke-7 di Kairo telah menegaskan kembali pesan itu. Bahwa dari tanah rantau, cinta kepada tanah air tidak pernah padam. Justru di situlah ia ditempa, diperkuat, dan akhirnya siap untuk diwujudkan dalam kontribusi nyata.

Read more
29Nov

Seminar Metodologi Penelitian Karya Ilmiah, Peserta Minta Tambahan Waktu

29 November 2022 buutsfpib Esai 67

Kairo, FPIB- Divisi Keilmuan FPIB mengadakan Seminar Kepenulisan dan Metodologi Penelitian Karya Ilmiah pada Selasa, 29 November 2022. Acara ini bertempat di Aula Majelis Burdah dan dimulai sejak pukul 10.30 waktu setempat.

Ustadz Fery Ramadhansyah Lc., M.A, pemateri yang diundang dalam acara ini adalah salah satu dosen bahasa Indonesia di Universitas Al Azhar, Kairo. Beliau mengenyam pendidikan sarjananya di Universitas Al-Azhar dan sekarang sedang menjalani program doktoral di Universitas Kairo.

Ketua FPIB, Rima Hasna yang turut menghadiri acara ini memberikan sambutan dan rasa terima kasih kepada pemateri. Khususnya terkait kesediaannya dalam meluangkan waktu untuk membagikan ilmunya. Ia juga menyebutkan, bahwa kemiskinan literasi dalam dunia masisir, lebih-lebih dalam karya ilmiah, yang menjadikan acara ini adalah kesempatan emas bagi semua peserta yang mengikutinya.

Membuka dalam seminarnya, Ustadz Fery menyampaikan pentingnya bagi mahasiswa untuk mampu menulis. Sebab, lazimnya seorang pelajar harus mampu menyampaikan secara baik pengetahuan mereka. Khususnya, bagi yang sudah berada di jenjang mahasiswa, ia dituntut untuk menuliskan sebuah karya ilmiah dan bersikap kritis. Namun beliau mengingatkan kepada mereka yang ingin menuliskan karya ilmiah, wajib untuk menyelami dunia kepenulisan sebelumnya.

“Menulis adalah seni dalam menyusun huruf demi huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf, paragraf menjadi sub tema, kemudian rangkaian sub tema itulah menjadi tema,” ucapnya.

Menurut beliau, data dan fakta yang terstruktur adalah nyawa dalam karya yang bersifat ilmiah. Tanpa keduanya, kesalahan dalam karya tulis tersebut adalah fatal. Maka, untuk menjadikan tulisan terstruktur dan sistematis dari pendahuluan, isi, dan penutup, dibutuhkan sebuah metodologi.

Di awal sesi, pemateri akan menyampaikan materi dalam waktu satu jam yang akan disambung dengan sesi tanya-jawab. Untuk menepati waktu durasi, beliau sengaja untuk tidak merincikan pembahasan dan menjelaskan apa yang sekiranya perlu diketahui untuk peserta seminar.

Setelah durasi berlalu, pemateri menghentikan penjelasan dan menyerahkan kembali kepada moderator. Namun, moderator memberikan tambahan waktu kepada pemateri atas permintaan peserta selama 45 menit. Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya-jawab oleh 4 peserta.

Reporter: Muhammad Awwabinhafizh

Editor: Nusaibah Masyfu’ah

Read more
Logo FPIB Kecil Web

FPIB (Forum Pelajar Indonesia Bu’uts) merupakan forum sosial yang mewadahi seluruh pelajar Indonesia yang terdaftar di Madinatul Bu’uts Al Islamiyyah.

FPIB © All rights reserved

Kategori

  • News
  • Info

Info

  • Ijroat Adventure Minhah Dakhili
  • Ijroat Adventure Minhah Khoriji
  • Taqdim Minhah

Tentang Kami

  • About FPIB
  • Kontak