FPIB © All rights reserved
FPIB
  • Home
  • Artikel
  • Opini
  • Esai
  • Info
  • Berita
  • Ramadhan
  • About
Join Grup
FPIB
Join Grup

Ramadhan

Home / Artikel / Ramadhan
13Mar

Puasa Sebagai Perisai Pelindung Seorang Muslim

13 Maret 2026 Admin Web FPIB Ramadhan 2
Puasa sebagai pelindung seorang muslim

Oleh: Mohammad Kafanal Kafi

Bulan puasa merupakan bulan yang sangat istimewa bagi umat Islam, terutama bagi kita para mahasiswa Indonesia di Mesir (masisir) yang sedang melangsungkan studi di Negeri Kinanah. Bagaimana tidak, nuansa Ramadan di Mesir ini sangatlah terasa, mulai dari jalanan yang dihias, salat tarawih menggunakan qira’at ‘asyrah, sampai banyaknya maidaturrahman yang seakan turun dari langit. Terlebih lagi di masjid Al-Azhar yang selalu menjadi favorit para masisir untuk berbuka dan melaksanakan salat tarawih setelah seharian melaksanakan ibadah puasa. 

Puasa adalah ibadah yang memiliki sangat banyak hikmah dan keutamaan baik dari sisi medis, sosial, maupun spiritual. Di antara hikmah dan keutamaan ibadah puasa yang akan kita bahas salah satunya adalah puasa sebagai perisai pelindung bagi seorang muslim. Dalam sebuah hadis, Rasulullah S.A.W. bersabda:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ المِسْكِ يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي، الصِّيَامُ لِي، وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

“Puasa adalah perisai. Maka janganlah berkata kotor dan jangan bertindak bodoh. Jika ada orang yang mengajaknya berkelahi atau mencacinya maka hendaklah ia mengucapkan “saya berpuasa” dua kali. Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah S.W.T. daripada wangi minyak kasturi, dia meninggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya karena-Ku. Puasa adalah milik-Ku dan Aku akan membalasnya. Satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipatnya.” (HR. Al-Bukhari) 

Lantas, apa sebenarnya makna جُنَّة (perisai) dalam hadits tersebut? Dalam kamus Lisanul Arab karya Ibnu Manzhur, disebutkan bahwa setiap kalimat yang tersusun dari huruf (ج ن ن) memiliki makna dasar menutupi atau menghalangi. Seperti contoh kata الجِنّ yang berarti dia tertutupi dan terhalangi dari pandangan mata manusia, juga الجَنِيْن yang berarti dia tertutupi di dalam perut ibunya, ataupun المجنون yang berarti tertutup akalnya dan beberapa kata lain yang memiliki akar yang sama.

Sedangkan, kata جُنَّة sendiri memiliki makna: sesuatu yang menghalangi dan melindungi seseorang dari pedang musuh, sehingga makna hadis di atas: puasa merupakan perisai yang melindungi seorang muslim dari serangan musuh yang akan mencelakainya. Akan tetapi musuh yang dimaksud dalam konteks ini bukanlah musuh secara fisik, melainkan hawa nafsunya sendiri.

Sebagaimana yang kita ketahui, hawa nafsu memang diciptakan untuk mengajak manusia pada kesenangan sesaat yang akan berakibat pada kerugian dan kerusakan baik di dunia maupun di akhirat. Maka sudah selayaknya kita sebagai seorang muslim untuk senantiasa berjuang melindungi diri kita dari serangan hawa nafsu ini.

Ketika berpuasa, kita menahan diri dari makan, minum, ataupun bersenggama dengan istri mulai dari terbit hingga terbenamnya matahari. Hal-hal tersebut, yang memang halal dilakukan saat tidak berpuasa, kita malah menahannya bahkan sampai 30 hari berturut-turut saat di bulan Ramadan. Lalu bagaimana mungkin seorang muslim yang mampu menahan diri dari makanan dan minuman halal selama berpuasa, bisa tergoda oleh makanan dan minuman haram? Bagaimana mungkin seorang yang mampu menahan diri dari istrinya sendiri selama berpuasa bisa tergoda oleh perzinaan?

Sungguh ibadah puasa yang kita laksanakan satu bulan penuh di bulan suci Ramadan ini telah menjadi tameng yang kokoh dalam melindungi kita dari nafsu kita sendiri. Ibadah yang mendidik kita untuk selalu berjuang melawan dan mengalahkan hawa nafsu, sehingga kita bisa keluar dari bulan mulia ini dalam keadaan suci dan bersih lagi sebagaimana ketika kita baru dilahirkan ke dunia.

Salah seorang masyayikh Azhar pernah menyampaikan dalam kultumnya di sela-sela tarawih di masjid Madinatul Buuts:

سُئِلَ أَحَدُ المَشَايِخْ مَا هُوَ النَّجَاحُ؟ قَالَ النَّجَاحُ أَنْ تَذْبَحَ نَفْسَكَ بِسَيْفِ الْمُخَالَفَةِ

“Salah seorang masyayikh ditanya, ‘Apa itu kesuksesan?’ Beliau menjawab, ‘Yaitu ketika kamu menebas nafsumu dengan pedang perlawanan’”.

Dengan mengalahkan hawa nafsu dan meninggalkan godaan-godaannya di dunia, maka kita telah menjauhkan diri kita dari murka Allah dan siksa-Nya di akhirat. Dengan melaksanakan puasa juga berarti kita telah menaati perintah-Nya dan berhak mendapatkan rida dan surga-Nya sebagaimana janji yang telah Allah berikan. Jika amal baik saja akan dibalas sepuluh kali lipat, maka entah apa balasan yang Allah S.W.T. siapkan untuk hamba-hamba-Nya yang telah beruntung melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh karena perintah-Nya.

Demikianlah ibadah puasa bisa menjadi perisai pelindung bagi seorang muslim. Ibadah yang tidak ada yang tahu balasan sebenarnya kecuali Allah S.W.T. Semoga kita bisa mendapatkan manfaat dari puasa kita kali ini dan bisa menjadi bagian dari golongan yang beruntung saat berpisah dengan bulan suci Ramadan. Mungkin cukup sekian, semoga bermanfaat.

Read more
11Mar

Ma’idah Ar-Rahman: Ketika Jalanan Mesir Menjadi Hamparan Rahmat

11 Maret 2026 Admin Web FPIB Ramadhan 9
Suasana jamuan makan gratis Maidah Ar-Rahman di Mesir

Oleh: Izzat Isa Ismail
Mahasiswa Universitas Al-Azhar

Ramadan di Mesir bukan sekadar momentum ibadah individual, melainkan peristiwa sosial yang berulang setiap tahun dengan spirit yang sama: menghadirkan kebersamaan. Di bulan ini, ruang publik mengalami transformasi. Jalanan, pelataran masjid, bahkan halaman rumah berubah menjadi ruang berbagi. Salah satu wajah paling khas dari transformasi itu adalah tradisi Ma’idah ar-Rahman.

Secara umum, Ma’idah ar-Rahman adalah hidangan berbuka yang disediakan selama bulan Ramadan untuk kaum Muslimin. Biasanya ditujukan bagi fakir dan miskin, namun dalam praktiknya terbuka bagi siapa pun yang belum sempat tiba di rumah saat waktu berbuka, termasuk musafir atau pekerja. Tradisi ini bukan sekadar fenomena musiman, melainkan jejak historis yang panjang dalam kebudayaan masyarakat Mesir.

Sejarah mencatat bahwa salah satu pelopor jamuan berbuka terorganisir adalah Khalifah Al-‘Aziz Billah Al-Fathimi, yang menyediakannya bagi jamaah jami’ Amr bin Ash1. Dari sana, praktik memberi makan di bulan Ramadan berkembang menjadi budaya sosial yang mengakar dan diwariskan lintas generasi. Secara normatif, semangat ini berakar pada ajaran Islam tentang keutamaan memberi makan. Al-Qur’an menggambarkan orang beriman sebagai: mereka yang memberi makan karena cinta kepada Allah.

(…وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا)

“Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin…” (Al-Insan: 8)

Ayat ini singkat, tetapi dalam konteks Ramadan di Mesir, ia menemukan bentuk sosialnya yang nyata. Sebagai mahasiswa Universitas Al-Azhar yang tinggal di Madinatul Bu’uts (Islamic Mission City), penulis menyaksikan Ramadan bukan sekadar musim ibadah saja, melainkan juga sebagai laboratorium sosial tempat nilai-nilai agama diuji dalam kenyataan.

Di Bu’uts sendiri, Ma’idah ar-Rahman tidak selalu hadir dalam bentuk formal dan besar seperti di pusat kota. Saya pribadi lebih sering mengikuti ma’idah di luar kawasan Bu’uts, termasuk di sekitar Masjid Al-Azhar. Di sana, suasana terasa egaliter. Orang-orang duduk berderet tanpa memandang latar belakang: pekerja, mahasiswa, musafir—semua berbagi ruang dan waktu yang sama. Serta di tempat lain, seperti kediaman Ali Gom’a atau kawasan Jalan Darrasah maupun Abdu Pasha, tradisi ini tetap menunjukkan kesinambungan nilai: ulama dan tokoh masyarakat turut menjaga budaya memberi makan sebagai bagian dari etika Ramadan.

Sebagai mahasiswa kita memang terbiasa membaca teks: menelaah tafsir; mengkaji hadis; serta mendiskusikan hukum dan hikmah. Namun, ketika duduk di salah satu Ma’idah ar-Rahman, saya menyadari bahwa teks tidak berhenti di ruang kelas. Ia turun ke jalan. Ia menjelma menjadi tindakan. Ilmu menjelaskan keutamaannya. Masyarakat mewujudkannya.

Yang menarik, semua itu dilakukan dengan kesadaran sosial yang matang. Meja serta tenda disusun tanpa merampas ruang publik, tempat dirapikan setelah selesai. Kedermawanan berjalan beriringan dengan keteraturan. Tradisi ini bukan sekadar luapan emosi Ramadan, tetapi bagian dari etos sosial yang terpelihara.

Ramadan Menulis, Ramadan Menginspirasi

Inspirasi itu lahir dari perjumpaan antara ilmu dan realitas. Dari ruang kuliah Al-Azhar menuju jalanan Kairo. Dari pembahasan ayat memberi makan menuju sepiring hidangan yang benar-benar dibagikan. Ketika jalanan Mesir menjadi hamparan rahmat, saya belajar bahwa agama tidak hanya dimengerti melalui argumentasi, tetapi juga melalui partisipasi. Nilai-nilai yang kami kaji dalam kitab-kitab klasik menemukan relevansinya justru ketika hadir di tengah masyarakat.

Ramadan akhirnya bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang mengubah lapar menjadi jembatan: jembatan antara ilmu dan amal, antara individu dan masyarakat, antara teks dan kehidupan. Di sanalah, Ramadan benar-benar menginspirasi—diam-diam, tetapi terasa dalam setiap langkah yang memberi dan menerima.

  1.  Al-Arabiya, “قصة موائد الرحمن وأول مائدة افطار في تاريخ مصر,” https://www.alarabiya.net/last-page/2025/03/06/قصة-موائد-الرحمن-وأول-مائدة-افطار-في-تاريخ-مصر. ↩︎
Read more
07Mar

Resmikan Nama Kabinet Baru, DP FPIB 2025/2026 Gelar Rapat Kerja dan Buka Bersama.

7 Maret 2026 Izzat Isa Berita 2

Kairo – Dewan Pengurus Forum Pelajar Indonesia Bu’uts (DP FPIB) periode 2025/2026 resmi menyelenggarakan Rapat Kerja dan Buka Bersama perdana yang bertempat di lingkungan Sekretariat Wihdah PPMI Mesir hari ini, Selasa (3 Februari 2026).

Acara yang berlangsung sejak pukul 13.30 CLT ini memuat agenda krusial, mulai dari pemaparan program kerja tiap divisi hingga pemilihan serta pengesahan nama dan logo kabinet untuk satu masa bakti ke depan. Kegiatan ini ditutup dengan khidmat melalui agenda Sholat Maghrib berjamaah dan buka puasa bersama seluruh pengurus.

Read more
17Apr

Seminar Maqra’ Hadirkan Ustadzah Devi Nur Azizah, Lc., Dipl.: “Satu Jam Lebih Dekat dengan Ilmu Qira’at”

17 April 2025 buutsfpib Berita, Info 74

Buuts – Forum Pelajar Indonesia Buuts (FPIB) kembali menggeliat seminar keilmuan bertajuk Seminar Maqra’ pada Rabu, 16 April 2025 di Qoah 15, Buuts Banin. Acara ini menjadi bagian dari program keilmuan FPIB yang bertujuan untuk memperdalam pemahaman pelajar terhadap ilmu-ilmu Al-Qur’an khususnya dalam bidang Qira’at.

Seminar ini mengusung tema “Satu Jam Lebih Dekat dengan Ilmu Qira’at” dan menghadirkan Ustadzah Devi Nur Azizah, Lc., Dipl. sebagai pemateri. Beliau merupakan mahasiswi pascasarjana yang sedang menempuh studi S2 pada jurusan Kritik Sastra, Universitas Al-Azhar dan telah memiliki banyak pengalaman dalam bidang keilmuan, khususnya yang berkaitan dengan studi Al-Qur’an.

Rangkaian acara dimulai dengan pembukaan oleh Ketua FPIB, Al-Ustadz Berkah Muhammad Akbar yang menyampaikan bahwa seminar ini merupakan bagian dari program kerja bidang keilmuan di bawah naungan FPIB untuk menekankan pentingnya meningkatkan kualitas diri masing-masing mahasiswa dalam perjalanan menuntut ilmu di Al-Azhar.

Acara dilanjutkan dengan sesi penyampaian materi oleh Ustadzah Devi. Dalam pemaparannya, beliau menyampaikan bahwa memahami ilmu Qira’at tidak harus selalu rumit. “Kita cukup kembalikan ke ushul-nya, dilihat dari mushaf seperti apa. Kalau ada farsy-nya, baru dibaca berbeda,” jelasnya. Ia juga menegaskan bahwa ilmu Qira’at memiliki manfaat yang sangat luas dan luar biasa sehingga penting bagi setiap pelajar untuk mendalaminya lebih jauh.

Setelah sesi diskusi yang berlangsung interaktif, seminar ditutup dengan penyerahan sertifikat kepada pemateri sebagai bentuk apresiasi dari panitia, dan kemudian ditutup secara resmi.

Dengan terselenggaranya Seminar Maqra’, diharapkan para peserta dapat membawa pulang bekal pemahaman yang lebih kokoh tentang Al-Qur’an dan termotivasi untuk terus mengembangkan ilmu mereka selama menempuh studi di Mesir.

Read more
17Mar

Timnas Indonesia Buuts Raih Kemenangan Dramatis di Asia Cup

17 Maret 2025 buutsfpib Berita 105

Islamic Mission City, Cairo – Tim Nasional Sepak Bola Indonesia Buuts (dibawah naungan Forum Pelajar Indonesia Buuts – FPIB) berhasil meraih kemenangan dramatis atas Kyrgystan dalam pertandingan Asia Cup 2025.  Pertandingan yang digelar pada Sabtu, 15 Maret 2025 pukul 22.00 waktu Cairo (WLK) berakhir dengan skor imbang 1-1, dan dimenangkan Indonesia melalui adu penalti dengan skor 12-11.

Asia Cup bulan Ramadhan ini diselenggarakan oleh Markaz Syabab Madeenat Buuts (Pusat Pemuda Kota Buuts), sebuah divisi di bawah naungan Al-Azhar yang berfokus pada pemberdayaan pemuda.  Turnamen ini selain bertujuan untuk meningkatkan kualitas olahraga juga membawa misi dalam mempromosikan persahabatan antarnegara.

Timnas Indonesia Buuts, yang dikenal dengan bakat ciamiknya, menampilkan permainan yang gigih dan penuh semangat.  Meskipun skor akhir menunjukkan pertandingan yang ketat, Timnas Indonesia Buuts menunjukkan soliditas tim dan mental juara dalam menghadapi adu penalti.

Timnas Indonesia Buuts akan melanjutkan perjuangannya di putaran babak kedua Asia Cup pada Rabu, 19 Maret 2025.  Publik sepak bola menantikan penampilan selanjutnya dari tim ini.

Narasumber: Muhammad Nasir Putra, Penulis: Aisharullisan

Read more
07Apr

Maidah Rahman; Tradisi Buka Bersama ala Warga Mesir(?)

7 April 2024 buutsfpib Ramadhan 171

“Marhaban yaa ramadan.. Marhaban yaa ramadan..” begitulah kiranya tulisan-tulisan yang terpajang hampir di seluruh sudut negara Mesir. Hal ini menunjukkan bahwa bulan Ramadan telah tiba, pun berbagai hiasan seperti lampu fanus turut mewarnai. Selain itu, kemeriahan Ramadan di Mesir juga tak luput dari masyarakatnya, dimana mereka memiliki tradisi khas-unik yang diperuntukkan sebagai wujud penyambutan bulan suci Ramadan. Salah satu tradisinya ialah, berlomba-lomba berbuat kebaikan, terutama dengan membagikan makanan untuk berbuka puasa.

Dalam berbuka, masyarakat di Negeri Piramida ini mengenal tradisi maidah rahman (hidangan kasih sayang atau hidangan Tuhan atau meja Al-Rahman), yakni hidangan yang dibagikan secara gratis untuk orang yang berpuasa, Ia sama seperti bagi-bagi takjil buka puasa jika kita bandingkan dengan di Indonesia. Paket hidangan ini melambangkan rasa kasih di antara sesama muslim. Paket hidangan ini biasanya disediakan oleh masjid, rumah makan, hingga resto berbintang. Siapa pun yang berpuasa boleh mencicipinya, tanpa kecuali.

Menunya beragam, dari yang sederhana hingga makanan bercita rasa bintang lima. Dari hidangan manis hingga makanan utama yang terbuat dari daging sapi, daging kambing, ayam, hingga ikan, tersedia. Sedangkan untuk minumannya, selalu tersedia susu, jus dan lainnya. Lantas, apa esensi adanya tradisi maidah rahman? serta bagaimana sejarah munculnya tradisi maidah rahman yang mulia ini hingga dapat terus berlanjut sampai saat ini?

Mengutip dari laman Bawwabah Al-Ahram, Maidatur Rahman merupakan sebutan untuk meja buka puasa yang diselenggarakan pada hari-hari puasa di kalangan umat Islam, baik pada bulan Ramadan maupun pada hari Arafah. Pun terkadang ada yang sukarela melakukannya di waktu lain. Menurut pendapat warga lokal dikatakan, bahwa Maidatur Rahman bukan hanya ditujukan untuk orang miskin dan membutuhkan, akan tetapi juga untuk orang-orang yang dalam perjalanan seperti orang-orang yang pulang dari bekerja serta untuk para wafidin dan wafidat.

Adapun akar dari tradisi ini bermula pada masa Nabi Muhammad SAW dan para khalifah yang mendapatkan petunjuk. Sementara di Mesir, bermula dari Ahmed Ibn Tulun yang mengambil alih kekuasaan di Mesir pada tahun 868 M. Selanjutnya, kebiasaan ini berkembang dan meluas pada masa Dinasti Fatimiyah, hal ini seiring dengan perintah Khalifah Fatimiyah Al-Aziz Billah terhadap warga Mesir untuk membentangkan taplak meja di “masjid tua” atau disebut dengan Masjid Amr Ibn Al-Ash, dimana masjid ini menjadi masjid pertama yang menyediakan maidah rahman, kemudian meja lainnya baru diadakan di Masjid Al-Azhar.

Lebih dari seribu panci—peralatan yang digunakan untuk memasak makanan—dibawa keluar dari dapur Istana Khalifah setiap hari untuk memberi makan orang miskin dan membutuhkan dan ini diulangi pada saat sahur juga. Al-Aziz Billah pun mendirikan Dar Al-Fitr yang terletak di luar istana di sebrang Bab Al-Dylam. Tempat ini digunakan untuk menghidangkan makanan yang disajikan selama bulan Ramadan dan manisan serta kue untuk dibagikan pada Idul Fitri.

Maidah rahman atau meja makan Yang Maha Penyayang terus berlanjut diadakan pada masa Mamluk. Pada masa ini beberapa sultan mewakafkan harta bendanya untuk dibelanjakan segala keperluan meja makan tersebut. Misalnya, Sultan Hassan bin Qalawun yang mewakafkan hartanya untuk membeli daging, sayur, beras, dan lain-lainnya. Hal ini berlangsung sepanjang bulan, pun para penguasa setelahnya mencoba untuk tetap mempertahankan tradisi ini hingga tak hanya di halaman istana saja, melainkan di tempat-tempat umum juga, walaupun ukuran meja dan jumlah orang yang menghadirinya bervariasi dari satu periode ke periode lainnya.

Misalnya, pada abad ke-20, Raja Farouk tertarik untuk menghidupkan kembali tradisi ini, sehingga ia mengadakan sarapan di halaman Istana Abdeen. Ia meminta para direktorat-direktorat—yakni para gubernur—mengadakan meja Yang Maha Penyayang di sejumlah pusat kota yang berafiliasi dengan masing-masing direktorat. Hal ini dibuktikan dengan beredarnya surat kabar Al-Mokattam pada tanggal 23 juli 1947, yang menerbitkan keputusan Dewan Distrik Giza untuk mendirikan paviliun di pusat Imbaba, Giza, Hawamdiya, Badrashin, Al-Saff, dan lain-lainnya, dengan ketentuan adanya pembacaan Al-Quran di setiap paviliunnya sebelum azan maghrib, kemudian diikuti dengan “meja kerajaan” untuk memberi makan orang miskin.

Setelah revolusi tahun 1952, Dewan Redaksi—organisasi politik yang didirikan oleh revolusi setelah pembubaran partai—menyelenggarakan jamuan makan Al-Rahman di kegubernuran. Dalam surat kabar Al-Masry pada tanggal 6 Juni 1953 menerbitkan, bahwa adanya otoritas dari pemerintah untuk menyelenggarakan sarapan di kota Kafr Al-Dawwar. Nampaknya, para pemegang otoritas ini berkerja sama dengan keluarga besarnya dalam mengatur meja-meja ini, sehingga berita tersebut mengindikasikan bahwa “wali” dalam keluarga harus menyiapkan meja makan Yang Maha Penyayang untuk dua malam.

Adapun dalam berita lain di penerbit yang sama, surat kabar tersebut mengindikasikan bahwa dewan redaksi telah menyelenggarakan jamuan buka puasa di lingkungan Kairo Lama yang dihadiri oleh banyak orang miskin, warga negara Kristen dan Yahudi guna untuk memperkuat hubungan antara anggota sekte ini. “Meja Yang Maha Penyayang” tidak terbatas di Kairo saja, tetapi juga meluas ke gubernuran dan wali kota yang berlangsung sepanjang bulan. Contohnya, pada tahun 1960-an, Nasser Bank melakukan pendirian puluhan meja Al-Rahman sebagai salah satu aspek sosialnya.

Pada era kontemporer, pelaksana meja Al-Rahman tidak hanya dari kalangan pemerintahan, melainkan juga dilaksanakan oleh orang-orang yang mampu secara finansial. Mereka berlomba-lomba mendirikan ribuan meja Al-Rahman di seluruh provinsi Republik Arab Mesir tanpa terkecuali. Di provinsi Kairo misalnya, beberapa penelitian memperkirakan jumlah meja tersebut mencapai empat puluh ribu meja. Salah satu yang paling terkenal dan terbesar dari segi cakupan dan jumlahnya adalah meja yang diadakan di halaman Stadion Kairo, dimana meja ini diselenggarakan oleh kaum bangsawan Mahdi yang dapat menampung sekitar lima ribu orang.

Adapun meja-meja Al-Rahman yang paling terkenal sampai saat ini adalah hidangan di Masjid Al-Azhar, Al-Fath, dan Mustafa Mahmoud di Kairo, Masjid Al-Sayyid Al-Badawi di Tanta, dan Masjid Abdel Rahim Al-Qenawi di Qena. Tak hanya itu, kadang-kadang pihak penyelenggara meja-meja ini mengirimkan makanan ke rumah-rumah para lansia dan orang-orang yang kondisinya tidak memungkinkan untuk hadir. Akan tetapi, secara masifnya kita dapat menemukan meja Al-Rahman ini di sepanjang jalan perkotaan. Wal-akhir, Maidah Ar-Rahman di Mesir tetap menjadi tanda solidaritas sosial serta kasih sayang antarumat.

Penulis : Ainul Mamnuah

Editor : Dimas Dwi Gustanto

Read more
30Mar

Ramadhan Membentuk Mu’min Yang Ulul Albab

30 Maret 2024 buutsfpib Ramadhan 171

Bulan Ramadhan, momentum yang amat sangat dinantikan oleh umat muslim dan mu’min diseluruh dunia. Hanya saja, sebagian dari kita masih menganggap bahwa bulan suci ini sebagai rutinitas ibadah tahunan semata dan tidak memaksimalkan kebaikan-kebaikan di dalamnya. Kita tahu dan sudah belajar bahwasanya puasa dan ibadah-ibadah yang ditunaikan ketika bulan Ramadhan mengandung hikmah dan keutamaan yang berlipat ganda.

Salah satu keutamaan tersebut disampaikan dalam riwayat Abu Hurairah yang menjelaskan tentang terbukanya pintu-pintu surga serta ditutupnya segala pintu neraka. Rasulullah SAW bersabda:


عن أبي هريرة رضي الله عنه : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ، فُتِحَتْ أبْوَاب الجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أبْوَابُ النَّارِ، وَصفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ. (متفق عليه)

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Apabila Ramadan datang maka pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup, serta setan-setan dibelenggu.” (Muttafaq Alaih)

Hakikatnya, Allah mewajibkan kita berpuasa karena belas kasih dan rahmat Allah kepada kita, sama halnya belas kasih orang tua terhadap anaknya. Orang tua akan bertindak tegas jika anaknya tak mengikuti perintah. Orang tua akan melarang anaknya minum es jika sang anak sedang sakit batuk atau pilek, itu bertujuan agar sang anak cepat sembuh dari sakit yang dideritanya. Sang anak tentu tak mengerti tentang larangan tersebut. Ia hanya mengerti, bahwa minum es itu enak dalam keadaan apapun. Itu karena sang anak tak memiliki pengalaman dan pengetahuan sebagaimana pengalaman dan pengetahuan orang tua.

Begitu juga Allah terhadap hamba-Nya, perintah puasa ini semata-mata untuk kebaikan para hamba-Nya. Allah mewajibkan kaum muslimin di seluruh dunia untuk berpuasa pada bulan Ramadhan demi kepentingan hamba-Nya seperti yang telah tertuang dalam firman Allah surat Al-Baqarah Ayat 183:


ياَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”

Dalam ayat ini, tujuan kita berpuasa adalah agar kita meningkatkan ketaqwaan kepada-Nya. Maksudnya, mengikuti perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Baik saat kita sendirian maupun tidak sedang sendirian. Itulah hakikat berpuasa. Namun sayangnya, beberapa dari umat muslim setelah berakhirnya bulan suci Ramadhan tidak sedikit diantara mereka kembali melakukan aktivitas-aktivitas sebelumnya yang cenderung menggiring kepada kemaksiatan. Mereka menganggap bahwa perkara yang dilarang di bulan suci Ramadhan, dihalakan setelah bulan Ramadhan. Naudzublillah tsumma naudzubillah. Seharusnya setelah Ramadhan tingkat amal baik mereka bertambah dan dorongan untuk menjauhi larangan Allah meningkat.

Penyebabnya tak lain karena mereka belum faham dengan hakikat Ramadhan itu sendiri. Seperti yang dipaparkan diatas, bahwa puasa di bulan Ramadhan itu akan meningkatkan ketaqwaan kepada Allah. Kalau dikaji lebih dalam, taqwa merupakan sifat yang urgen dalam kehidupan beragama. Orang akan tetap tenang hidupnya jika memiliki sifat taqwa dalam dirinya. Apapun bentuk cobaannya. Entah orang itu kurang mampu, kelaparan, ditindas dan diuji sedemikian rupa, orang tersebut tetap tenang dalam menjalaninya.
Jika kita termasuk orang-orang yang berpuasa di bulan suci Ramadhan namun tidak membuat iman dan taqwa kita bertambah, tentu ada yang harus diintrospeksi dan dikoreksi dalam diri kita. Dalam surat Al-Baqarah Ayat 269 Allah berfirman:


يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Allah menganugerahkan Al-Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakal lah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). Menurut ahli tafsir, makna kata hikmah adalah ilmu-ilmu yang bermanfaat, sedangkan Ulul Albab diartikan sebagai sekelompok manusia yang diciptakan oleh Allah SWT dengan segala kelebihannya serta manusia yang mau menggunakan akal pikirannya untuk mengambil faedah, hidayah dan menggambarkan keagungan Allah SWT, atau dengan kata lain ialah berpikir dan berzikir.

Dengan demikian, jelas sudah penyebab mereka yang tak tetap taqwanya setelah Ramadhan, itu karena tidak memilliki hikmah dalam dirinya, melakukan ibadah di bulan Ramadhan sekedar kewajiban. Asal tidak berdosa semata. Setelah kewajiban dilaksanakan, orang tersebut tidak meningkat taqwanya dan tidak memikirkan hikmah yang terkandung dalam perintah Alqur’an dan sunnah. Akibatnya, ibadah yang dikerjakannya hanya sampai tenggorokannya dan tidak sampai pada hatinya. Maka dari itu, agar bulan Ramadhan ini menjadikan kita mu’min yang ulul albab, marilah kita sibukkan diri kita dengan menghadiri kajian-kajian ataupun talaqqi kepada Syekh ataupun ustadz kita. dan kita sibukkan dengan hal-hal yang positif. Semoga kita termasuk dari golonagan Ulul Albab. Aamiiin…..

Penulis : Wahyu Cahyo

Editor : Dimas Dwi Gustanto

Read more
25Mar

Apakah Bangsa Mesir Kuno Mengenal Puasa?

25 Maret 2024 buutsfpib Ramadhan 172

Apakah Bangsa Mesir Kuno Mengenal Puasa?
Oleh: Fajar Ilman Nafi’

Mendengar kata puasa sama halnya mendengar kata Ramadhan; salah satu bulan berkah, penuh rahmat serta ampunan bagi umat Islam di seluruh dunia. Syariat ini sendiri turun dua tahun setelah Rasulullah Saw. imigrasi dari Mekkah ke Yathrib, berdekatan sebelum meletusnya perang Badar Kubra. Dengan demikian, semenjak saat itu diwajibkan bagi seluruh umat muslim untuk berpuasa menahan lapar dahaga dari waktu fajar hingga tenggelamnya sang surya dan masuk salah satu rukun dari rukun-rukun Islam yang lima.

Jikalau kita berpendapat bahwasanya praktik puasa hanya rangkaian ibadah umat Islam saja, maka argumen tersebut kemungkinan perlu kita kembangkan. Karena sejatinya banyak dari agama-agama terdahulu sebelum Islam maupun agama lain yang sezaman dengannya pun melakukan ritual yang serupa. Karena bisa dikatakan puasa merupakan pelaksanaan praktik dalam keagamaan yang paling ampuh untuk mengolah spiritual bathin yaitu melatih disiplin dan kesabaran. Katakanlah agama Buddha, mereka menyebutnya dengan uposatha, namun bedanya mereka masih diperbolehkan minum tapi tidak boleh makan. Kemudian ada agama Katholik, dimana mereka baru diwajibkan puasa ketika sudah mencapai usia 18 tahun dengan durasi waktu 40 hari. Lalu ada agama Yahudi, pelaksanaannya hampir sama seperti ajaran Islam, tapi ada beberapa pengkhususan hari-harinya, seperti dilarang puasa pada hari Sabtu.

Kembali ke pertanyaan awal, apakah bangsa Mesir kuno juga mengenal praktik puasa? Kita sebagai para mahasiswa yang sedang belajar di Kairo pastilah tidak asing dengan terminologi Firaun, Mishra Qadimah, Mumifikasi, dst. Tapi pertanyaan di atas sepertinya cukup membuat penasaran hebat yang mungkin belum terpikirkan di benak kita.

Sejak disatukannya antara wilayah shaid dan delta pada tahun 3200 SM. oleh Raja Nermer, bangsa Mesir Kuno sudah banyak mengenal para dewa. Ketika sudah mengenal dewa maka otomatis tidak jauh-jauh akidah atau agama yang mereka yakini, dan bab agama tidak akan terlepas dari tradisi maupun ritual-ritual kegamaan yang mereka jalani sepanjang hidup mereka.

Kita tahu bahwa bangsa Mesir Kuno sangat mengagungkan matahari. Mereka menganggap seluruh aktifitas peredaran matahari adalah wujud muraqabah dari tuhan kepada para hambanya. Di waktu terbitnya dianggap sebagai awal kehidupan baru, sedangkan tenggelamnya di barat merupakan wujud dari akhir kehidupan manusia, dan mereka menyebutnya sebagai dewa Amun – Ra. Maka, tak heran jika para rezim phraonic membagi antara wilayah timur Sungai Nil sebagai pemukiman penduduk, dan baratnya sebagai lembah kematian atau pekuburan para raja.

Maka, terbit dan tenggelamnya matahari menjadi patokan utama para penduduk Mesir Kuno untuk melaksanakan kegiatannya dari sisi spiritual maupun sosial. Adapun dari sisi spiritual, mereka (bangsa Mesir Kuno) menjadikan peredaran matahari menjadi batas waktu praktik keagamaan mereka yaitu puasa. Dr. Wasim Rusydi Sisi mengatakan bahwa para penduduk Mesir melakukan puasa dari terbitnya gugusan cahaya awal matahari (fajar) hingga terbenamnya matahari. Dengan demikian, hal itu mampu membuat mereka lebih dekat dengan para tuhan/dewa dan melatih kesabaran dan tahdzibu-l-nufus.

Adapaun puasa dalam bahasa Mesir Kuno yang tercatat pada tulisan hieroglif adalah “Sh-w” yang berarti al-imtina’. Tentu ini menjadi rambu atas adanya ritual tersebut di masa itu. Salah seorang akademisi dan peneliti arkeologi bernama Husein Daqiel mengatakan bahwa Bangsa Mesir Kuno memang sudah mengenal praktik puasa dengan penetapan hukum yang beragam – wajib dan mustahabb. Dari segi durasi waktu puasa pun, mereka memiliki perbedaan antara tiga hari sebulan sekali sebagai pengembangan metabolisme tubuh, serta ada yang berpuasa 70 hari.

Sekarang saatnya para pembaca harus bersiap menerima fakta dari semua argumen di atas, bahwa tidak pernah ada praktik puasa dalam al-diyanah al-mishriyyah al-qadimah (agama Mesir Kuno). Merujuk pada pendapat Dr. Wasim Sisi dan Husein Daqiel, bahwa terdapat ritual puasa di zaman Mesir Kuno dengan segala hal yang berkaitan dengannya, ternyata mampu diruntuhkan dengan argumen salah satu Pakar Egyptologi/Mesir Kuno dan menjadi salah satu dosen Universitas Al-Azhar Kairo prodi Sejarah dan Peradaban yang bernama Dr. Ahmad Rif’at Abdul Jawwad. Beliau mengatakan, untuk perihal puasa hingga berhari-hari yang dilaksanakan bangsa Mesir Kuno tidaklah benar. Meskipun memiliki makna mencegah/menahan makan dan minum, tapi konteks yang tepat adalah mencegah diri dari makanan-makanan yang diharamkan di masing-masing wilayah, contoh ada istilah qudsu-l-samak (sakralitas ikan) di wilayah Mandis, provinsi Daqahlia, mereka pun mengharamkan makan ikan karena dianggap sebagai hewan yang suci.

Kesimpulan dari semua kesimpulan, bahwa makna al-imtina’ di sini bukanlah mencegah diri dari makan dan minum dari terbit fajar hingga tenggelamnya matahari, tapi mencegah memakan bahan konsumsi yang dilarang dan diharamkan, wallahu a’lam.

Sumber:

Mishra allati La Ta’rufuuha – Dr. Wasim Rusydi al-Sisi.

Diyanatu Qudama’i-l-Mishriyyin – George Staindruff (terjemah Dr. Salim Hasan).

Diskusi di Bangku Perkuliahan dengan Dr. Ahmad Rif’at Abdul Jawwad – Darrasaah, 24 Februari 2024.

Penulis : Fajar Ilman Nafi’

Editor : Dimas Dwi Gustanto

Read more
21Mar

“Meraih Puasa yang Otentik: Penghayatan Penuh Atas Waktu”

21 Maret 2024 buutsfpib Ramadhan 164

Sebagai seorang muslim, bulan puasa atau bulan Ramadhan adalah tamu tahunan yang lazim kita temui di paruh akhir tahun hijriyah. Kita biasa menyambutnya dengan spanduk-spanduk bertuliskan Ramadhan Kareem, Marhaban ya Ramadhan, Marhaban ya Syahrassiyam, dan slogan-slogan lain yang menunjukkan antusiasme dan rasa rindu kita akan bulan yang mulia ini. Namun dari sana timbul pertanyaan skeptis yang perlu kita sadari betul: seberapa sadar kita menjalani puasa?

Mungkin kebanyakan dari kita sudah menjalani puasa di bulan Ramadhan, belasan atau puluhan kali. Ada dari kita yang masa kecilnya diawali dengan berpuasa setengah hari (puasa bedug kalau dalam budaya Jawa), hingga bisa menjalaninya seharian penuh, dari awal hingga akhir bulan Ramadhan. Ada pula yang sejak kecil sudah bisa menjalaninya sehari penuh, dari terbitnya fajar hingga maghrib. Namun, saya sebagai bagian dari umat muslim yang menjalani ibadah puasa ini kadang belum sadar betul, apa yang sebenarnya saya puasai? Apa itu puasa? Bagaimana seharusnya saya menjalani puasa? Apa dampak puasa bagi diri saya dalam kehidupan sehari-hari?

Untuk menjawab pertanyaan itu, kiranya kita harus bisa memahami dulu, bahwa puasa itu adalah ibadah yang terbatas dalam waktu tertentu. Dalam kitab Fathul Qarib, puasa adalah menahan diri dan hal-hal yang membatalkan puasa (makan, minum, dan lainnya), yang dilakukan sepanjang siang (dari terbitnya fajar sadiq hingga terbenamnya matahari pada waktu maghrib), yang dilakukan oleh muslim dan muslimah berakal, yang suci dari haid dan nifas. Lebih dari itu, di kala kita tidak berpuasa pada malam harinya, banyak ibadah yang bisa kita lakukan, seperti membaca Al-Qur’an, beri’tikaf, mendirikan salat malam, bersedekah, dan amal kebaikan lain, karena ibarat ‘event tahunan’, Allah memberi kita banyak bonus pahala di waktu yang terbatas ini. Tidak hanya pada siang harinya di saat berpuasa, tapi juga pada malam harinya.

Dari pengertian tersebut, saya ingin memaknai puasa Ramadhan dari perspektif waktu: bahwa Allah membatasi ibadah puasa ini dalam waktu yang relatif singkat dan terbatas, dan jika kita berusaha pahami lebih jauh, Allah menginginkan kita untuk bisa menghargai dan menghayati waktu yang singkat ini secara penuh. Jika kita sedikit saja mencoba menghayati puasa yang sedang dijalani, kita akan melupakan makan, minum, dan hal-hal yang bisa membangkitkan syahwat. Kita akan berusaha menghindari hal-hal yang tidak berguna, dan beralih pada hal yang memberi manfaat. Dengan demikian, secara tidak langsung, kita akan merasakan penghayatan dan konsentrasi yang lebih atas waktu yang sedang dijalani, atau mengalami ‘augenblick’¬,—meminjam istilah Martin Heidegger.

Martin Heidegger – author of ‘Being and Time’

Dalam Sein und Zeit (Being and Time), Heidegger menjadikan waktu sebagai salah satu objek penelitiannya. Manusia sebagai dasein, adalah ‘subjek’ yang, alih-alih sekadar pasif ‘ada’ di dalam waktu, ia justru aktif mewaktu. Dasein yang eksis adalah ia yang menghayati waktu yang dijalaninya tanpa terbuang sia-sia. Walaupun ia sedang menunggu sesuatu, hendaknya ia menunggu dengan menikmati tiap-tiap detiknya dengan penuh kesadaran.

Seorang muslim pun hendaknya begitu; tidak seharusnya sekedar menunggu matahari terbenam untuk mengakhiri puasanya. Ia sebagai manusia yang eksis dan aktif, bisa memaknai puasa lebih dari sekadar menahan lapar dan haus; yakni bisa menjadikan waktu yang terbatas ini lebih bermakna dan otentik. Singkat kata, untuk meraih puasa yang otentik, kita perlu menyadari betul tiap waktu yang kita jalani di bulan puasa ini, dengan melakukan kebaikan dan sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Saya ingat betul, saya pernah menjalani puasa tanpa kesadaran penuh. Pada tahun 2021 misalnya, saya menjalani puasa di bulan Ramadhan kebanyakan dengan tidur. Musim pandemi yang baru saja lewat pada saat itu membuat saya terbiasa untuk tidak melakukan apa-apa. Hidup saya pada saat itu hanya berkutat pada tidur, buka puasa, begadang, dan sahur. Saya tidak berusaha menentukan ibadah atau kebaikan apa yang berusaha saya raih. Saya hanya menjadi dasein yang das gegenwartigen; hanya ‘hadir’ secara pasif, sehingga waktu di bulan yang lebih berharga dari apapun itu terlewat sia-sia. Mungkin yang saya dapat pada bulan itu hanya lapar dan haus belaka.

Ramadhan yang telah berlalu itu menjadi semacam refleksi bagi saya di Ramadhan kali ini sebagai die eigentliche gewesenheit; bahwa pada kenyataannya, cuma saya sendiri yang bisa melakukannya: tetap di sana sebagai manusia pasif yang larut dalam keseharian, atau manusia aktif, yaitu yang bisa mewaktu dengan penuh kesadaran. Alih-alih melupakannya dan membuang ia sebagai das Vergessen atau ‘keterlupaan’, lebih baik saya menggunakannya sebagai peranti untuk evaluasi. Dengan demikian, saya menggunakan kesadaran akan masa lalu saya sebagai refleksi untuk lebih menghayati masa kini, dan menentukan apa yang akan saya lakukan di kemudian hari.

Saya jadi teringat kata-kata dosen Filsafat Islam saya, Dr. Suhair, tentang penghayatan penuh atas suatu ibadah. Beliau pernah mengemukakan pertanyaan yang membuat saya, dan teman-teman sekelas termenung: “Mengapa Allah menggunakan diksi ‘wa aqomu ash-shalah’?” seisi kelas tak bisa menjawab. Beliau pun menjawab, ”Karena iqamah atau mendirikan itu sejatinya betul-betul berbeda dengan ada’ atau menjalankan belaka. Ada’ hanyalah sekadar menjalankan gerakan dan doa yang membuat salatmu sah secara hukum. Sampai situ saja. Berbeda dengan iqamah ash-shalah. Mendirikan salat melebihi sekedar gerakan dan doa: ia berupa pemaknaan yang membentuk akhlakmu, menghindarkanmu dari perbuatan yang buruk dan menjagamu dari perbuatan yang mungkar. Makanya, “inna ash-shalata tanha ‘an al-fahsya’ wal munkar”, salat itu menjagamu dari perbuatan buruk dan keji. Jika selama ini kamu rutin menjalani salat, tapi akhlak dan perbuatan burukmu lebih banyak daripada perbuatan baikmu, maka sebaiknya perlu direnungkan lagi, mungkin ada yang salah dari salatmu.”

Yang ingin saya garisbawahi dari perkataan beliau adalah nilai dan efek yang ditimbulkan dari penghayatan penuh atas ibadah. Jika mengambil dari perspektif Dr. Suhair yang menyatakan bahwa salat yang ‘otentik’ adalah salat yang bisa mempengaruhi perangai kita dalam kehidupan kita yang menyehari, seharusnya puasa Ramadhan juga bisa seperti itu. Penghayatan penuh atas Puasa di bulan Ramadhan lebih dari sekadar menahan haus dan lapar, dan seterusnya, dan seterusnya: ia seharusnya menjadi sarana penggemblengan jiwa untuk menghadapi hari-hari yang bergulir setelahnya, selepas bulan Ramadhan berlalu.

Sepeninggal bulan Ramadhan, kita hendaknya bisa menetapkan esensi puasa yang otentik itu dalam diri kita; mampu menundukkan hawa nafsu, memperbaiki akhlak dan perangai kita dengan menjaga lisan dan badan dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia, dan lebih dari itu: menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran dan penghayatan dalam tiap detik waktu yang bergulir dalam keseharian, sehingga kita bisa menjalani kehidupan yang lebih otentik, alih-alih hanya terlempar dan tenggelam dalam aliran waktu yang fana.

Allah SWT berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ (الحشر : ١٨)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hasyr 59:18)

*Penulis adalah mahasiswa pascasarjana di Fakultas Ulum Al-Islamiyyah, Jurusan Aqidah dan Filsafat, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Bercita-cita jadi seniman dan pemikir.

Penulis : M. Khairuman Wahhada

Editor : Dimas Dwi Gustanto

Read more
19Mar

Mengapa Kami Berbuka dengan Darah?

19 Maret 2024 buutsfpib Ramadhan 179
picture by: m.rediff.com

Mengapa Kami Berbuka dengan Darah?
Oleh: Mohammad Ghibran Alwi

Sinar pagi jatuh lembut dalam pelukan reruntuhan bangunan Rafah. Darah yang mengering kian terlihat di ujung puing-puing. Hari demi hari, matahari kian merasa bersalah untuk kembali terbit di langit Rafah, sebab, sinarnyalah yang justru membuat raut-raut penderitaan semakin jelas. “Salahkah aku?” pikir matahari, mungkin.

Terdengar alunan merdu Al-Qur’an dari depan tenda yang menenangkan, suara gadis itu menerbangkan jiwa menuju dimensi yang berbeda dari dunia ini, tenang dan damai. Jangan kasihani kami, kami tak butuh belas kasihanmu! Kami adalah pejuang yang tangguh. Jika memang tak ada yang bisa kau lakukan, setidaknya, tengadahkan doa kepada Sang Pemilik Tanah ini dan berbaiksangkalah bahwa kami akan merdeka, suatu saat nanti, meskipun entah kapan.

Matahari mulai meninggi. “Yoseph, oper bolanya ke sini!” seruku sambil berlari ke arah depan gawang mencari celah. Hamparan tanah di samping reruntuhan dekat tenda itu cukup luas, hingga bisa kami jadikan tempat bermain bola untuk 5 lawan 5.

Yoseph adalah teman sebayaku, di umur yang masih 12 tahun dia harus kehilangan kedua orang tuanya. Hal yang memilukan mungkin untuk orang-orang di belahan bumi yang lain. Namun, entahlah, kami sudah sangat terbiasa dengan keadaan seperti ini. Tentu saja kami sedih, tiada hari yang kami lewati tanpa kesedihan. Namun, dunia tetap bergerak, kami harus terus kuat bertahan, setidaknya untuk hidup sampai esok hari, hari dimana kami menyambut bulan suci penuh berkah.

“Goooll!!” teriak Yoseph setelah melihat umpan darinya berhasil kukonversikan menjadi gol.

Kedua orang tuanya meninggal saat mengantre dalam pembagian tepung. Para warga yang bertarung dengan kelaparan dipaksa untuk mengantre kantong-kantong tepung, saat semuanya berkumpul di satu titik, mereka diledakkan.

Apa yang salah dari mencari tepung? Apakah dengan kami memakan roti dari tepung-tepung itu lantas membuat bala tentara mereka tewas? Tidak kan. Kami hanya lapar. Itu saja.

Barangkali, itu adalah tepung termahal yang pernah ada dalam sejarah umat manusia, di mana satu tepung seharga setidaknya 150 orang tewas dan 1000 orang luka-luka.

“Tentara-tentara!” teriak salah satu bapak di depan tenda.

Belum selesai aku berselebrasi atas gol yang membalikkan kedudukan timku pada kemenangan, segerombolan tentara menggunakan mobil tentaranya melintas. Formasi tim berantakan, semuanya kembali ke tenda. “Ah sialan, mengganggu orang main bola saja!” ujarku dalam hati, tentu dengan perasaan panik, karena siapa yang tahu kapan mereka akan menembak?

Suasana mencekam seperti ini sudah berlangsung sejak 155 hari yang lalu. Sudah lebih dari 30 ribu orang syahid dalam pembantaian ini. Tujuan kami saat ini hanyalah bertahan hidup. Kami sudah berpuasa sejak dua bulan yang lalu. Dengan datangnya bulan Ramadhan, setidaknya kelaparan kami menjadi lebih berarti.

Juga, tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku, bagaimana adik dari Husein, teman sebayaku, yang mati dalam keadaan kelaparan dan kurang gizi. Bayangkan, mati karena kelaparan! Sesuatu yang pasti tak pernah terbesit di pikiranmu tentang keadaan kau meninggal. Rahangnya tinggal tengkorak dan terbujur kaku. Mirisnya, aku melihatnya dalam keadaan seperti itu saat aku ingin mengambil jatah roti yang terbuat dari adonan yang dicampur dengan pakan ternak. Alhamdulillah aku masih hidup hingga saat ini dari serangan musuh, kelaparan dan kedinginan.

Namaku Ahmad. Aku asli Gaza dan tumbuh di sana, sebelum tanah kami dirampas dan kami dipaksa untuk mengungsi di Rafah sekarang. Pengungsi yang berada di Rafah kini lebih dari 1,2 Juta. Tinggal di tenda-tenda berbahan plastik di tengah reruntuhan bangunan. Bahkan adonan roti yang dicampur dengan makanan ternak menjadi barang mewah hanya untuk melanjutkan hidup. Listrik tak ada, air hanya dua botol minum sehari, itupun kami bagi-bagi untuk wudhu, minum dan mandi. Sekedar main bola pun tak bisa.

Aku cukup beruntung karena bisa selamat dalam perjalanan ke Rafah bersama kedua orang tuaku dan satu adik perempuanku. Berbeda dengan Yoseph yang kini hanya hidup berdua dengan kakak laki-lakinya. Oh iya, Yoseph adalah seorang kristiani. Aku sering diajak ke gereja, karena pastur di tempat dia biasa beribadah sering membagi-bagikan jajanan untuk anak kecil. Hidup senasib menjadikan persaudaraan kami terasa tanpa sekat, saling bahu-membahu untuk bisa bertahan hidup.

“Ahmad! Ke sini, ada makanan!” Teriak ibuku dari tenda sebelah sambil melambai-lambaikan tangannya bersemangat. “Ajak Yoseph sekalian,” tambahnya.

Tak terasa langit kian meredup. Senja yang berkilau mulai pamit undur diri. Ramadhan telah ditentukan, besok kami puasa, yang artinya malam ini kami akan melaksanakan sholat tarawih berjamaah.

“Thola’al badru alaina…” Anak-anak seusiaku berkumpul dan merayakan datangnya bulan Ramadhan. Pemuda yang memakai topi khas Turki itu memandu kami melantunkan nasyid sembari membagi-bagikan permen. Bendera-bendera Palestina dengan ukuran kecil-kecil dipasang. Semuanya bergembira, seolah lupa bahwa kami sedang bergembira di atas reruntuhan.

Dengan penerangan seadanya dan satu pengeras suara, kami melaksanakan shalat tarawih. Ayahku yang menjadi imam. Suaranya lembut, membacakan ayat “Syahru ramadhanalladzi unzila fiihil qur’an….”  Beberapa terisak saat memasuki ayat “wa idza saalaka ‘ibãdi ‘annii fainnii qoriib, ujiibu da’watad-daa’i idza da’aan, falyastajiibuu lii wal yu’minuu bii la’allahum yarsyuduun.”

Aku hanya berdoa untuk bebasnya tanah kelahiranku dari penjajahan. Aku tak tahu sama sekali soal politik maupun perang, yang aku tahu, aku tak bisa lagi melanjutkan sekolah. Sekolahku telah dihancurkan. Sebagian teman-teman kecilku telah tiada. Sebagian tertimpa reruntuhan, sebagian langsung mati di tempat saat dilepaskan rudal-rudal mereka.

Meskipun hidup dalam suasana yang sangat mencekam, tapi setidaknya kami masih memiliki iman yang bisa kami pegang hingga nafas ini berhenti nanti.

***

“Ahmad, Ahmad, bangun, yuk sahur.” Ayahku membangunkanku. Perapian kecil untuk merebus air dengan punggung ayahku adalah pemandangan pertama setelah aku keluar dari tenda pengungsian.

“Ini, minum air hangat dulu, dingin kan?” kata Ayah sambil memberikan segelas air putih hangat. Aku mengangguk sambil meraihnya.

Kami bertahan di musim dingin tanpa jaket-jaket tebal yang mahal, apalagi penghangat ruangan, bahkan ruangan saja kami tak punya. Angin yang berhembus sangat menusuk hingga ke tulang-tulang. Beberapa hari yang lalu aku bertanya ke salah satu jurnalis di sini yang aku sudah akrab dengannya, namanya Kak Sherin, tentang berapa derajat suhu waktu itu dan kenapa dingin sekali? Dia menjawab 10 derajat. Pantas saja dingin sekali.

Tapi kabar baiknya kami masih memiliki iman yang kokoh, sebaik-baiknya pelindung. Dan air hangat adalah pelindungku kali ini.

“Yah, kenapa kita harus hidup seperti ini?” tanyaku memecah keheningan. Ayahku menghampiriku setelah mematikan perapian itu.

“Seperti ini bagaimana yang kamu maksudkan?” Tanyanya balik.

Aku membiarkan suasana lengang sejenak, sambil memikirkan diksi paling baik yang bisa aku ucapkan. “Kaya, aku main bola saja harus takut sama tentara, kita kedinginan karena tidak punya dinding yang kokoh, aku melihat sendiri adik Husein meninggal dalam keadaan seperti itu. Padahal sekarang adalah bulan di mana umat Islam bergembira, tapi kenapa kita bergembira saja tidak boleh?” Sial, mataku tiba-tiba basah. Pandanganku mengabur.

Ayahku mengelus pundakku, lalu mencium keningku, memberiku kekuatan. Entah, mungkin sisa kekuatannya yang ditransfer ke dalam diriku, semoga kekuatannya tak habis.

“Ini makan dulu, Ahmad,” ibuku tiba-tiba menghampiri kami sambil membopong beberapa roti dan sayuran untuk sahur. Ia lalu duduk di sampingku. Dua manusia yang sangat aku cintai duduk menghimpitku.

“Semoga Allah selalu memberikan kita kekuatan untuk menghadapi ini, Nak. Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.”

Alih-alih menjawab pertanyaanku, ia justru berdoa, menyerahkan pertanyaanku kepada Sang Maha Pelindung. Kini giliran ibu yang mencium keningku dan memelukku. “Allahummarhamhuma,” batinku.

***

Setelah sholat ashar, tiba-tiba di depan tenda ramai dengan jurnalis-jurnalis yang sedang meliput keadaan Rafah saat ini. Ada Kak Sherin juga disana. Anak-anak dikumpulkan untuk diajak bermain bersama mereka, tak terkecuali aku bersama Yoseph dan Husein juga.

Setelah beberapa game yang dipandu oleh para jurnalis itu, lalu Kak Sherin bersama satu jurnalis yang membawa kamera menanyai kami tentang cita-cita kami. Sebuah pertanyaan yang mungkin sangat sering ditanyakan kepada anak-anak. “tapi memangnya kami boleh untuk memiliki cita-cita?” pikirku spontan.

“Apa cita-cita kamu?” tanya Kak Sherin kepada Yoseph.

“Aku ingin menjadi pemain sepak bola profesional seperti Ronaldo!” Jawabnya antusias sambil ‘tos’ dengan kakak kameramen.

“Kenapa pemain sepak bola?”

“Karena aku suka sepak bola,” jawabnya polos. Kak Sherin hanya geleng-geleng melihat tingkahnya.

Lalu ada gadis kecil yang menghampiri Kak Sherin yang langsung disambutnya dengan pelukan. Aku perkirakan dia masih 5 tahunan.

“Dimana ayahmu?” tanya Kak Sherin.

Gadis itu terdiam sejenak. Matanya tiba-tiba berlinang, tak bisa ditahan lagi.

“Ayahku di surga,” jawabnya sambil tersenyum kecil, tentu masih dengan mata yang berlinang.

“Ayahmu di surga? Lalu bagaimana kamu menjalani harimu? Cerita ke Kakak.” Kak Sherin mengelus kepala gadis itu.

“Aku tinggal dengan adik laki-lakiku.” Jawabnya sambil menunjuk ke arah tenda.

“Kenapa kamu bersedih? Kamu pengen apa?”

“Aku ingin semuanya,”

“Bilang lagi coba?”

“Aku rindu roti putih, aku rindu semuanya. Mainanku di rumah sudah tertimbun reruntuhan,”

Kini giliran Kak Sherin yang terisak. Ia peluk erat-erat gadis itu. Tangan gadis itu menggenggam erat tangan Kak Sherin, sepertinya ia ketakutan, mengharap kekuatan.

Gadis itu lalu menarik tangan Kak Sherin menuju tenda adiknya. Bahkan ia meninggalkanku yang belum ditanya tentang cita-citaku.

Sinar senja menyelimuti bumi. Mungkin 15 menit lagi adzan maghrib. Meja-meja kecil di depan tenda-tenda pengungsian disiapkan untuk berbuka. “Ayah sama ibu mau mengantre makanan untuk buka puasa dulu ya, kamu di sini saja tunggu.” Kata ayahku sambil mengelus kepalaku lalu meninggalkanku.

Aku dan anak-anak lainnya sedang mengulang hafalan juz 30 didampingi orang-orang dewasa yang rata-rata mereka hafal Al-Qur’an.

“Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah, irji’ii ila rabbiki radhiyatan mardhiyyah, fadkhulii fii ‘ibaadi, fadkhulii jannatii” (Al-Fajr 89: 27-30)

Buuummmmm

Tanah yang kuinjak bergetar. Semuanya panik keluar dari tenda. Namun, dari tenda kami asal suara rudal itu.

Buuumm buumm

Tiga kali suara rudal jatuh dan ledakan itu memekakkan telinga. Orang-orang berbondong-bondong memeriksa asal suara yang ternyata berasal dari titik dimana orang-orang berkumpul untuk mengantre makanan.

Naluriku bergemuruh, hatiku tak kuasa untuk melihat para korban, tapi otakku mencundangiku untuk tetap mencari yang barangkali di antara korban itu ada yang aku kenal.

Dadaku berdegup kencang sekali, air mataku tak terbendung lagi melihat darah dan jasad para korban yang tergeletak akibat ledakan itu, hingga pandanganku tertuju pada satu arah. Jasad orang sangat aku kenal, sangat aku cintai, ayah dan ibuku.

“Ibuuu!! Ayaaahh!!” Teriakku yang keluar begitu saja tanpa kuperintah.

Aku berlari sekuat tenaga menghampiri, tapi tiba-tiba orang-orang dewasa mencegahku dan membopong jasad mereka berdua. Ketakutanku selama ini akhirnya menjadi kenyataan juga. Padahal kalau boleh, aku berharap kalau aku saja yang lebih dulu meninggalkan mereka. Kak Sherin yang menemukanku langsung memelukku dengan isakannya.

“Allahuakbar allaahuakbar.” Suara adzan berkumandang. Buka puasa pertama kami yang sudah ditunggu-tunggu justru penuh dengan darah.

Malam itu, kami sholat maghrib berjamaah, diteruskan dengan sholat jenazah di hadapan para syuhada’. Pemandangan inilah yang kulihat setiap hari. Kepada siapa kami mengadu jika bukan kepadamu ya Rabb? 

Aku akan tetap melanjutkan hidupku, meski tanpa kedua orang tuaku, seperti anak-anak Palestina yang lainnya. Kalau kebanyakan orang berpikiran tentang nanti berbuka dengan apa, pikiran kami setiap hari hanyalah, “Apakah aku bisa berbuka puasa nanti?”

Aku menceritakan ini semua bukan untuk dikasihani. Aku tak butuh itu, karena aku yakin aku berada di jalan yang benar dan suatu hari nanti bangsaku pasti akan terbebas dan merayakan hari raya idul fitri dengan megah di Masjid Al-Aqsa. Justru imanmulah yang harusnya kamu kasihani. Dengan segala kemewahan, kemudahan, kebebasan dan segalanya, justru tak ada ruang untukmu bersyukur. Lupa caranya sujud dan bahkan berdoa untuk saudaramu pun tak sempat. Apa yang akan kau jawab jika ditanya oleh Allah tentang saudaramu yang sedang dibantai? Apakah setidaknya mereka ada di setiap doa di lima waktumu? Atau bahkan untuk berdoa saja kamu tak sempat?

Aku akan tetap hidup, di antara hidup dan matiku, dengan iman yang akan kubawa sampai ke hadapan Tuhan meskipun nyawa sebagai taruhan. Kami pasti akan menang.

Dari saudaramu, di tanah Palestina, tanah yang segera merdeka.



Editor: Gaza Satria Lutfi

Read more
    12
Logo FPIB Kecil Web

FPIB (Forum Pelajar Indonesia Bu’uts) merupakan forum sosial yang mewadahi seluruh pelajar Indonesia yang terdaftar di Madinatul Bu’uts Al Islamiyyah.

FPIB © All rights reserved

Kategori

  • News
  • Info

Info

  • Ijroat Adventure Minhah Dakhili
  • Ijroat Adventure Minhah Khoriji
  • Taqdim Minhah

Tentang Kami

  • About FPIB
  • Kontak