FPIB © All rights reserved
FPIB
  • Home
  • Artikel
  • Info
  • Berita
  • Ramadhan
  • About
Join Grup
FPIB
Join Grup

Artikel

Home / Artikel
11Apr

Rahasia Nuzulul Qur’an

11 April 2023 buutsfpib Ramadhan

Oleh: Fadilah Hana

Al-qur’an merupakan firman Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad di bulan Ramadhan. Maka dari itu di antara beberapa amalan pokok yang diajarkan Rasululah ketika ramadhan di antaranya adalah membaca al-qur’an, menghidupkan shalat-shalat sunnah, dan memperbanyak berinteraksi dengan al-qur’an. Agar kita lebih mencintai al-qur’an, yuk simak rahasia apa saja yang mengenai turunnya al qur’an!

Nuzul berati turun, di dalam Al-Qur’anqur’an setidaknya terdapat dua kata yang menunjukkan makna turun, yaitu هبط dan نزل. Namun هبط bermakna turun, yang secara fisikal digunakan untuk aktivitas yang sifatnya menetap. sedangkan نزل mencakup makna yang lebih umum.

Beberapa ulama berpendapat bahwa Al-Qur’an memiliki makna spesifik yang membedakan dengan karya-karya atau bacaan-bacaan lain, dan menunjukkan kepada firman Allah SWT bukan yang lain; karena itu disebutkan langsung dimulai dengan ال. Ada sebagian juga yang berpendapat berasal dari kata qur’un yang berati bunyi yang terdengar, yang mana kalau sengaja diperdengarkan disebut dengan qirāah. Dan apabila terus diperdengarkan berkali-kali tanpa henti, maka kalimatnya diubah menjadi kalimat yang superlatif dengan sighah mubalaghoh yaitu Al-Qur’an. Dari sini dapat disimpulkan bahwa penamaan Al-Qur’an memiliki pesan bahwa Al-Qur’an mengandung sebuah zat akan dibacakan terus menurus tanpa bosan, sebagaimana kita membaca al fatihah dan surat lainnya di dalam sholat dan selalu diulang berkali-kali.

Yang dimaksudkan Al-Qur’an adalah bunyinya ketika dilafadzkan, namun jika yang dimaksudkan adalah yang dituliskan dalam bentuk dua jilid yang berisi firman Allah maka dinamakan mushaf. kalau berasal dari susunan, bentuk dan petunjuk yang sempurna, indah, tidak ada yang keliru dalam penulisannya, dan begitu diamalkan bimbingannya jelas; maka susunan yang sempurna dan petunjuk itu disebut dengan kitab. Sebagaimana ditulis dalam Q. S al-Baqarah ayat 2:

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَارَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ (2)

“Kitab (al-qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang yang bertaqwa”

Bila mana yang disebutkan dalam ayat adalah أُنْزِلَ فِيْهِ مُصْحَفْ, maka yang dimaksud adalah tulisannya. Namun Allah berfirman أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنَ, maka yang dimakasud adalah firman Allah, dan dahsyatnya kalimat itu bisa disimpan dan dimasukkan dalam jiwa kita serta dihafalkan sehingga tanpa mushaf pun bisa dibawa dalam jiwa kita.

Diantara hal luar biasa yang ada dalam turunnya Al-Qur’an adalah:

  1. Keistimewaan Al-Qur’an. Karena istimewanya tidak diturunkan oleh Allah Al-Qur’an kecuali bersanding dengan hal-hal yang istimewa, diantaranya: waktu, pilihan Rasul, pilihan malaikat, agama, keutamaan mukjizat yang terkait dengan pahala.
  2. Dari segi waktu, Allah turunkan di bulan Ramadhan, yang merupakan bulan mulia di antara 12 bulan lainnya. Yang di siang dan malam harinya terdapat ampunan, sepuluh hari pertamanya adalah rahmat, sepuluh hari keduanya adalah ampunan dan sepuluh hari terakhir nya adalah dibebaskan dari api neraka.
  3. Rasul yang dipilih Allah bukanlah rasul yang biasa, melainkan Rasul yang paling utama yaitu Nabi Muhammad.
  4. Malaikat yang diutus untuk menurunkan Al-Qur’an dengan izin Allah adalah malaikat Jibril. begitu ditugaskan, malaikat Jibril seketika menjadi sayyidul malaikat. Karena itu ketika malam lailatu-l-qadr tiba, disebutkan dalam surat al-qadr bahwa malaikat turun ke bumi, sedangkan penyebutan malaikat jibril dispersifikan dengan sebutan ruhul malaikat.
  5. Agama Islam merupakan agama yang diutus oleh Rasulullah dengan mukjizatnya yaitu al-qur’an, sehingga Allah jadikan agama yang paling sempurna.
  6. Karena saking istimewanya Al-Qur’an sehingga segala yang berhubungan dengannya Allah jadikan istimewa juga, sebagaimana pada poin-poin yang telah disebutkan.
  7. Malaikat Jibril bersama para mailakat turun ke bumi. Pada malam diturunkannya Al-Qur’an di antaranya adalah pada malam lailatu-l-qadr, Susana pada malam itu tenang dan tentram serta Allah menurunkan malaikat ke bumi. Dalam Q. S Al-Qadr: 4-5 yang artinya: “Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah ( malam itu sampai terbit fajar).
  8. Malam diturunkannya Al-Qur’an adalah malam yang penuh berkah. sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Q.S Al-Dukhan: 3 ”Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkah Sunguh Kamilah yang memberi peringatan”.

“Jika semua yang berhubungan dengan Al-Qur’an saja menjadi istimewa, maka bagaimana kita tidak senang, karena Al-Qur’an ditujukan untuk umat Nabi Muhammad, maka berati kita pun termasuk istimewa. Namun, sudahkah kita mengistimewakan al-qur’an dan menjadikannya pedoman. Musik bisa menggambarkan keadaanmu, tapi Al-Qur’an bisa memberikan solusi bagimu”

Sumber:

https://pppa.id.kabardaqu

Ceramah Ustadz Adi Hidayat

Abu Fida Imaduddin Ismail bin Umar, Fadhail Qur’an, (Kairo: Perpustakaan Ibn Taimiiyah, 1416).

Sulaiman Muhammad, Fahmu Judzuuri-l-Bayan Li-Syaikh Ghozlani, (Kairo: Maktabah Iman: 2023).

editor: redaktur

Read more
08Apr

Seminar Tajwid dan Qira’ah ‘Asyrah: Mengulik Kesalahan-Kesalahan Pengucapan Huruf Hijaiyah

8 April 2023 buutsfpib Berita

Divisi Keilmuan FPIB baru saja menyelenggarakan Seminar Tajwid dan Qira’ah ‘Asyrah serta Tahsin Al-Fatihah pada Jum’at (07/04/2023) di Markaz LDTQN (Lembaga Dakwah Tarekat Qodiriah wa Naqsabandiyah). Seminar tersebut dibagi menjadi 3 sesi, yaitu sesi tajwid makharijul huruf dan sifatnya, sesi tahsin Al-Fatihah, lalu dilanjutkan sesi pengenalan qira’ah ‘asyrah. Kajian Ramadhan tersebut banyak mengulik kesalahan-kesalahan pengucapan huruf hijaiyah, baik dari segi cara pelafalan hingga kesalahan yang banyak tersebar.

Tgk. Fakkar Khaidir Zulkifli Madjid selaku pemateri yang juga muqri’ halaqah Qur’an Syekh Abdul Qadir, menekankan bahwa kesalahan yang kerap kali terjadi dan banyak tersebar adalah pelafalan huruf hijaiyah yang sama seperti pelafalan huruf alfabet Indonesia, “…kebanyakan dari kita mengira bahwa huruf-huruf tersebut sama seperti huruf di Indonesia,” jelasnya.

Selain itu, ia menambahkan bahwa penyempurnaan sifat huruf merupakan hal yang penting, mengingat kurang tepatnya dalam memberikan sifat atau bahkan menanggalkannya pada sebagian huruf dapat mengubah huruf lalu memberikan arti yang berbeda.

Hana Aprilia selaku panitia kegiatan berharap, manfaat dari kegiatan tersebut tak hanya dirasakan warga bu’uts saja, namun juga bisa dirasakan oleh masisir secara luas, “…Semoga FPIB dapat memberikan banyak manfaat, bukan hanya bagi warga Bu’ust namun juga masisir itu sendiri.” ujarnya.

reporter : Aisy Nabila Munawwarah

editor: Muhammad Aulia Rozaq

Read more
05Apr

Puasa; Momentum Recharghing Kebahagiaan, Memaknai Ramadhan ala Animator Jepang

5 April 2023 buutsfpib Ramadhan

oleh: Atina Husna

Ramadhan, merupakan salah satu bulan yang senantiasa dirindukan oleh umat islam. Suasana yang hangat dan teduh menjadikan ramadhan dirasa tepat sebagai momentum untuk refleksi diri dari segala pelik duniawi. Tak hanya itu, pernak-pernik yang meriah pun turut menghiasi jalanan atau rumah-rumah bahkan sejak jauh-jauh hari. Dilengkapi juga dengan berbagai ciri khas lainnya seperti makanan, minuman atau tradisi unik yang menambah kentalnya nuansa ramadhan khususnya di negara mayoritas muslim. Contohnya Mesir, terhitung kurang lebih sejak satu bulan menjelang Ramadhan kita sudah dapat melihat jajaran lampu fanus yang ditawarkan oleh penjual dalam bermacam bentuk. Semakin dekat dengan ramadhan, semarak itu semakin terasa ketika segala pernak-pernik mulai terpasang di jalanan dan pintu-pintu rumah. Nuansa itu bertambah hangat, ketika melihat umat muslim yang saling berlomba-lomba berbagi makanan untuk buka puasa atau biasa disebut maidatur rohman.

Lain halnya dengan Ramadhan di negeri-negeri minoritas, tak terkecuali di Jepang. Tidak ada yang membedakan antara Ramadhan dengan hari-hari biasa. Rutinitas berjalan seperti biasa, tanpa ada hiasan atau makanan khas yang menyambut Ramadhan. Mungkin akan sedikit beruntung bagi mereka yang bertempat tinggal dekat dengan masjid atau komunitas muslim, sesekali dapat merasakan buka puasa dan tarawih bersama ataupun menghadiri kajian-kajian keislaman yang diadakan oleh komunitas muslim setempat. Inilah yang dirasakan oleh Ima seorang Animator muda asal Indonesia yang bekerja di salah satu perusahaan animasi Jepang.

Jepang yang terkenal dengan disiplin waktunya, ditambah lagi pekerjaannya di bidang animasi membuat ia menjalani hari-hari ramadhan sama seperti hari biasanya. Walau tanpa dispensasi waktu kerja, Ima tetap enjoy dalam menjalani puasa. Justru padatnya kesibukan lah yang membuatnya lupa dengan waktu, sehingga tak terasa telah datang waktu berbuka. Dalam sehari ia bisa bekerja kurang lebih 8-9 jam, namun dunia animasi yang padat oleh deadline seringkali juga menuntutnya untuk lembur bahkan hingga akhir pekan. Padahal jika bulan ramadhan jatuh pada musim panas, maka waktu berpuasa bisa mencapai 17 jam, karena waktu siang yang lebih lama. Tapi, itu sama sekali bukan halangan baginya untuk tetap menjalankan apa yang sudah disyariatkan oleh agama.

Tak hanya puasa, tentunya ia juga melaksanakan shalat tarawih. Namun, karena tempat tinggal yang jauh dari masjid maka ia memilih melaksanakannya sendirian. Hal ini juga yang menjadi pertimbangannya agar bisa mengikuti shalat Id berjamaah di masjid. Butuh waktu sekitar satu jam berkendara untuk sampai di sana, oleh karena itu Ima mempersiapkan izin cuti jauh-jauh hari sebelum Hari Raya tiba. “Jepang tidak mengenal sesuatu yang dadakan.” begitu ujarnya. Bahkan ia harus izin maksimal sebulan sebelum hari cuti.

Banyak suka duka yang telah ia lewati, menjadi anak rantau yang jauh dari keluarga saja rasanya sudah sulit. Belum lagi perbedaan kultur dan budaya antar negara yang memaksa seorang anak rantau untuk lekas beradaptasi. Begitu pula dalam hal ibadah, khususnya umat islam. Keberadaan masjid yang bisa dihitung jari di setiap provinsi, menjadikan hal-hal seperti berwudhu di westafel ataupun minimnya tempat khusus untuk shalat menjadi sesuatu yang lumrah. Belum lagi sebagai seorang Muslimah yang juga berkewajiban mempertahankan hijabnya, tentu menjadi cerita tersendiri baginya. Namun, hal-hal tersebut tidak membuat semangatnya surut untuk beribadah, “Aku beribadah karena merasa aku butuh, aku butuh buat beribadah itu.” Ucapnya tegas.

Ramadhan selalu meninggalkan hikmah bagi siapa saja, ini pula yang dirasakan olehnya. Bahkan sudah sejak bulan Sya’ban ia mencium harum sukacita Ramadhan. Menurutnya puasa merupakan ajang refleksi diri di tengah padatnya rutinitas, ada kebahagiaan tersendiri manakala menjalaninya, “Ketika berbuka dan melepas dahaga, aku merasa ada ketenangan sendiri dalam jiwa. Karena puasa pun bukan hanya seputar menahan nafsu dari makan minum saja, tapi juga terkait psikis dan mental.” Ujarnya.

Selain berbagi cerita, Ima juga turut menuturkan harapannya di bulan Ramadhan ini “Walaupun hari-hariku tidak berbeda, tapi bulan Ramadhan lebih menampar aku dibanding bulan-bulan lainnya. Seperti ada dorongan dan bisikan, I must be better, and I must be happier then before.”. Karena, ia tidak memungkiri kesyukuran inilah yang menjadi kunci kebahagiaan di tengah padatnya rutinitas, selayaknya orang Jepang yang bahkan terkenal rentan dengan kebiasaan bunuh diri. “Dan pastinya kebahagiaan ini turut berdampak ke sekitar, dengan lingkungan kantor yang setiap individunya sibuk dengan isi kepalanya sendiri menjadi lebih tenang, karena tersalurkan oleh kebahagiaan dan ketenangan dari diri kita.” Lanjutnya lagi. Ia juga berharap semoga apa yang dijalaninya dari seluruh rangkaian ibadah dapat menjadi dakwah baik bagi dirinya sendiri atau orang lain. Ima hanya ingin berbagi dan mengenalkan kepada dunia khususnya Jepang bahwa Islam itu Indah.

Yups, Islam itu indah. Selalu ada hikmah dalam setiap ibadah yang disyariatkan. Di mana pun kaki kita berpijak, bagaimana pun dan siapa pun diri kita sudah sepantasnya untuk tidak lupa tujuan kita diciptakan.

editor: Muhammad Aulia Rozaq

Read more
01Apr

Amalan bagi Wanita Haid di Bulan Ramadhan agar Tetap Berkah dan Berpahala

1 April 2023 buutsfpib Ramadhan

oleh: Sayyida Aisyah Zahira

Haid adalah kodrat setiap perempuan dewasa. Keluarnya darah haid akan menghalangi dan membatalkan puasa bagi perempuan. Bahkan, puasa di Bulan Ramadhan yang terhalangi haid harus di-qadha atau diganti setelah selesainya bulan Ramadhan, sebanyak hari puasa yang ditinggalkannya.

Tak jarang, perempuan yang mengalami haid ketika bulan Ramadhan bersedih hati. Pasalnya, Bulan Ramadhan adalah bulan di mana dilipatgandakannya seluruh ibadah dan kebaikan, sedangkan haid menghalanginya untuk mengerjakan beberapa ibadah. Padahal, menjalani puasa dengan berbagai halangan saja sesungguhnya termasuk ibadah sendiri bagi perempuan, karena membutuhkan kesabaran dan keikhlasan untuk melewatinya.

Dalam kitab al-Ibaanah wal l-Ifaadhah fii ahkaamil l-Haidh wa an-Nifaas wal l-istihaadhah, dalam Madzhab Syafi’i disebutkan hal-hal yang diharamkan wanita haid dan nifas, di antaranya:

Sama seperti orang yang berhadats kecil, yaitu:

  1. Shalat
  2. Thawaf
  3. Menyentuh mushaf
  4. Membawa mushaf

Sama seperti orang yang berjunub, yaitu 4 hal yang sudah disebutkan di atas dan beberapa tambahan, di antaranya:

  1. Berdiam diri di masjid atau I’tikaf
  2. Membaca Al Qur’an dengan niat membaca atau beribadah
  3. Puasa
  4. Ditalaq oleh suaminya
  5. Berjalan atau melewati bagian dalam masjid jika takut mengotorinya
  6. Digauli suami di antara pusar sampai lutut
  7. Thaharah atau bersuci dengan niat ibadah

Bulan Ramadhan adalah momen dilipatgandakan kebaikan seseorang. Perempuan yang sedang haid atau nifas memang mendapat batasan untuk menunaikan ibadah-ibadah tersebut. Namun, ia bisa melakukan ibadah-ibadah lain yang jumlahnya lebih banyak. Contoh ibadah-ibadah tersebut, di antaranya:

Pertama, Menuntut Ilmu.

Menuntut ilmu adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Haid tidak menghalangi seorang perempuan untuk menuntut ilmu. Dan barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan untuknya jalan menuju surga, seperti sabda Rasulullah SAW:

مَن سلَكَ طريقًا يلتَمِسُ فيهِ علمًا ، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طريقًا إلى الجنَّةِ

Menuntut ilmu bisa dilakukan dengan banyak cara, di antaranya: membaca buku atau kitab, melalui bimbingan guru dengan mendatangi majelis-majelis ilmu, mendengarkan tausiyah di Youtube, dan lain sebagainya.

Kedua, Mendengarkan Murottal Al-Qur’an.

Mendengarkan lantunan Al-Qur’an merupakan amalan ringan yang mudah dilakukan wanita haid. Walaupun tidak bisa membaca al-Qur’an, wanita yang sedang haid bisa mendengarkan lantunan murottal Al-Qur’an. Bisa melalui Youtube, aplikasi Al-Qur’an, soundbox murottal, atau mendengarkan orang yang sedang membaca al- Qur’an.

Ketiga, Berdzikir, Berdoa dan Bershalawat.

Selama keadaan haid, wanita tetap diperbolehkan berdoa, berdzikir dan bersholawat. Ketiga ini merupakan kolaborasi luar biasa yang bisa dilakukan wanita haid dalam Bulan Ramadhan, karena berdzikir, berdoa dan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW tidak dibatasi oleh waktu dan bisa dilafalkan kapan pun dan di mana pun.

Seperti dzikir pagi dan petang atau bisa dikenal dengan sebutan al-Ma’tsurat, memperbanyak tasbih (subhaanallah), tahmid (alhamdulillah), tahlil (laa ilaaha illallah) dan dzikir lainnya. Berdoa juga bisa dilakukan siapa pun, kapan pun dan di mana pun, karena berdoa merupakan wujud penghambaan kita kepada Allah. Dengan berdoa, kita bisa meminta apa pun yang kita butuhkan dan ini adalah salah satu cara kita mendekatkan diri kepada Allah. Lalu shalawat, bacaan yang tak boleh luput dari kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW. Dengan bershalawat, berarti kita cinta, turut selalu mendoakan Nabi Muhammad SAW dan beberapa keutamaan lainnya.

Keempat, Menyiapkan Hidangan Buka Puasa

Nampaknya pahala memberikan hidangan buka puasa tidak terbatas kepada orang yang memberikan makanan dan memberikan buka puasa kepada orang-orang yang berpuasa dengan hartanya; bahkan jika seorang laki-laki membelanjakan hal itu dengan hartanya dan seorang wanita yang memasak makanannya dan menyiapkannya bagi orang-orang yang berpuasa, maka orang laki-laki tadi akan mendapatkan pahala membelanjakan hartanya dan berusaha untuk memberikan buka puasa kepada mereka yang sedang berpuasa dan bagi si wanita juga diharapkan juga akan mendapatkan pahala tersebut karena tenaga dan keletihannya dan memberikan makanan dengan hasil karya tangannya.

Yang menunjukkan hal tersebut adalah hadits berikut ini:

إِذَا أَطْعَمَتْ الْمَرْأَةُ مِنْ بَيْتِ زَوْجِهَا غَيْرَ مُفْسِدَةٍ: كَانَ لَهَا أَجْرُهَا ، وَلَهُ مِثْلُهُ، وَلِلْخَازِنِ مِثْلُ ذَلِكَ ، لَهُ بِمَا اكْتَسَبَ ، وَلَهَا بِمَا أَنْفَقَتْ

“Jika seorang wanita telah memberikan makanan yang belum rusak dari rumah suaminya, maka ia akan mendapatkan pahalanya, dan suaminya pun demikian, dan bagi yang menyimpanya juga demikian, bagi suaminya karena penghasilannya dan bagi istrinya karena ia mensedekahkannya”. (HR. Bukhori: 1440)

Kelima, Bersedekah.

Amalan wanita haid di Bulan Ramadhan yang masih bisa dilakukan adalah bersedekah. Bersedekah merupakan amalan yang mudah dilakukan dan pahalanya besar. Mulai dari berbagi makanan ke tetangga, memberi santunan kepada fakir, miskin dan anak yatim, dan bahkan hanya dengan menebar senyum kepada saudara sudah dihitung sedekah.

Allah SWT berfirman:

مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنۢبُلَةٍ مِّا۟ئَةُ حَبَّةٍ ۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 261)

Allah SWT akan melipatgandakan orang yang bersedekah di jalan Allah sebanyak 700 kali lipat. Lalu, jika sedekah itu dilakukan di Bulan Ramadhan, akan menjadi berapa kali lipat?

Keenam, Mengajar atau Berdakwah.

Wanita haid tetap bisa mengajar atau berdakwah di Bulan Ramadhan. Bentuk pengajaran ilmu yang bisa diberikan ada dua macam:

  1. Dengan lisan seperti mengajarkan, memberi nasehat dan memberikan fatwa.
  2. Dengan perbuatan atau tingkah laku yaitu dengan menjadi qudwah hasanah, memberi contoh kebaikan.

Khusus dakwah dengan qudwah hasanah, yaitu langsung memberikan teladan, maka jika ada orang yang mengikuti suatu amalan atau meninggalkan suatu amalan karena mencontoh kita, itu sama saja dengan bentuk dakwah pada mereka.

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amir Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1893).

Kebaikan yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah kebaikan agama maupun kebaikan dunia. Berarti kebaikan yang dimaksudkan bukan hanya termasuk pada kebaikan agama saja.

Demikianlah amalan-amalan pada Bulan Ramadhan yang bisa dikerjakan oleh wanita haid. Dan masih banyak akhlaqul karimah lainnya yang bisa diamalkan sehari- hari. Semoga dengan megerjakan amalan tersebut, pahala, keberkahan dan ridho Allah bisa terus mengalir kepada kita semua.

Sumber:

Bin ‘Abdillah, ‘Abdurrahman, 2013. al-Ibaanah wa-l-Ifaadhah fii ahkaami-l-Haidwa-n-nifaas wa-l-istihaadhah ‘ala madzhabi-l-Imam asy-Syafi’i.Cairo: Daar ath-Thaalib al- Azhary.

Home

https://islamqa.info

https://kompas.tv

https://islam.nu.or.id

https://merdeka.com

editor: Muhammad Aulia Rozaq

Read more
29Mar

Mendedah Esensi Puasa Ramadan dalam Bingkai Medis

29 Maret 2023 buutsfpib Ramadhan

oleh: Ainul Mamnuah

Seperti yang kita ketahui bersama, bulan yang kita tunggu-tunggu kehadirannya telah tiba. Bulan mulia yang akan menaungi kita semua, bulan di mana Allah SWT akan menambah pahala dan karunia, serta di mana Allah SWT akan membukakan pintu-pintu kebaikan bagi manusia yang mendambakannya, yakni bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan merupakan bulan yang mewajibkan umat muslim untuk berpuasa sebagai bentuk ketaatan hamba terhadap Tuhannya.

Sebagaimana yang kita pahami, bahwa diciptakannya manusia di bumi tidak lain ialah untuk beribadah kepada Allah SWT. Oleh karena itu, nilai dan martabat manusia sangat ditentukan oleh kapasitas peribadatannya. Setiap peribadatannya pun memiliki nilai pembentukan moral, dan moral inilah nilainya bagi manusia. Misalnya, berpuasa di bulan Ramadan. Puasa merupakan bentuk dari ibadah yang berguna untuk membina moral seorang hamba. Tersebab puasa yang dilakukan selama satu bulan penuh ini sangat efektif untuk pembinaan moral dan karakter manusia tersebut, apabila dilaksanakan secara ikhlas dan dengan niat semata-mata karena Allah SWT.

Selain sebagai pembinaan moral dan pembentukan karakter manusia, puasa juga memiliki banyak hikmah lain yang bisa kita temukan. Baik itu untuk kesehatan fisik, maupun untuk kesehatan mental spiritual (psikis). Maka, dari sini penulis akan mencoba mendedah bagaimana puasa itu bisa memberikan manfaat terhadap kedua hal tersebut—kesehatan fisik dan mental spiritual.

Tidak bisa dipungkiri jika puasa itu bisa membuat fisik menjadi lemah dan tidak berdaya. Namun, jika ditinjau secara mendalam dari segi kesehatan fisik, maka akan kita temukan banyak manfaat di dalamnya. Seperti halnya sabda Rasulullah SAW, ‘’Berpuasalah kamu, niscaya kamu akan sehat’’. Perihal manfaat puasa terhadap kesehatan fisik pun dapat dibuktikan secara ilmiah, walaupun harus menahan makan dan minum sekitar 12-24 jam.

Apabila seseorang lapar, perutnya akan memberikan refleks ke otak secara fisiologis. Dengan adanya pemberitahuan ke otak tersebut, otak akan merespon dan memerintahkan kelenjar perut untuk mengeluarkan enzim pencernaan. Zat inilah yang kemudian menimbulkan rasa nyeri, terkhusus bagi penderita mag. Sementara bagi orang yang berpuasa rasa sakit tersebut tidak muncul, tersebab otak tidak memberikan perintah kepada kelenjar perut untuk mengeluarkan enzim tersebut.

Meninjau dari penelitian medis, berpuasa terbukti dapat memberikan kesempatan bagi organ pencernaan untuk beristirahat, baik sistem enzim maupun hormon. Dalam keadaan tidak berpuasa, sistem pecernaan dalam perut akan terus aktif mencerna makanan, sehingga tidak sempat beristirahat, ampas yang tersisa pun menumpuk dan bisa menjadi racun bagi tubuh. Adapun ketika tubuh dalam kondisi berpuasa, sistem pencernaan akan beristirahat dan memberikan sel-sel tubuh untuk memperbaiki diri, terutama bagian pencernaan.

Dr. Muhammad Al-Jauhari seorang guru besar dari Universitas Kedokteran di Kairo mengatakan, bahwa puasa dapat menguatkan pertahanan kulit, sehingga dapat mencegah penyakit kulit yang disebabkan oleh kuman-kuman besar yang masuk dalam tubuh manusia. Dalam buku karya Imam Musbikin yang berjudul “Rahasia Puasa” dijelaskan, bahwa puasa juga bisa menghindarkan kita dari potensi terkena serangan jantung, karena kemampuan mengendalikan diri saat berpuasa akan memutus terjadinya peningkatan kadar hormon katekholamin dalam darah.

Dari sini kita dapat menyimpulkan, bahwa kondisi tubuh saat berpuasa itu merupakan keadaan pengistirahatan kinerja organ-organ tubuh, supaya tubuh manusia tersebut tetap stabil. Di lain sisi, kesehatan tidak hanya terkait tentang fisik namun juga bisa terkait dengan kesehatan mental spiritual. Puasa pun bisa berperan sebagai sarana efektif untuk memperbaiki jiwa-jiwa yang hampir terjerumus dalam lubang-lubang kemungkaran serta menyucikan diri dari segala dosa. Dalam artian, puasa dapat mengangkat seseorang yang telah berkubang dalam maksiat menuju fitrahnya sebagai manusia.

Selain itu, puasa dapat menjadi sarana untuk latihan, supaya seorang hamba mampu mengendalikan diri, menyesuaikan diri, serta sabar terhadap dorongan-dorongan atau rangsangan agresivitas yang mucul dari dalam diri manusia. Menurut Prof. Dr. H. Dadang Hawari seorang Psikiater Indonesia serta dosen di fakultas kedokteran Universitas Indonesia mengatakan, bahwa dalam setiap diri manusia terdapat naluri berupa dorongan agresivitas yang bentuknya bermacam-macam, seperti agresif dalam hal emosional, misalnya mengeluarkan kata-kata kasar, tidak senonoh, dan menyakitkan hati orang lain.

Oleh karena itu, salah satu ciri dari jiwa yang sehat yakni terletak pada kemampuan seseorang dalam mengendalikan diri. Pengendalian diri ini sangat penting terhadap kesehatan jiwa, sehingga daya tahan mental dalam menghadapi berbagai stres atau gangguan kehidupan meningkat karenanya. Tersebab saat berpuasa, kita banyak berlatih perihal kemampuan menyesuaikan diri terhadap tekanan tersebut dan hasilnya kita akan menjadi pribadi yang lebih sabar dan tahan terhadap berbagai tekanan kehidupan.

Walhasil, puasa Ramadan selama sebulan penuh ini memiliki banyak hikmah atau manfaat yang terkandung di dalamnya. Di mana hikmahnya tidak hanya berputar tentang hal-hal yang berbau tasawuf atau nilai-nilai agama, namun juga menjamah lingkar medis.

Editor: Muhammad Aulia Rozaq

Read more
25Mar

Memaksimalkan Amal Di Bulan Suci

25 Maret 2023 buutsfpib Ramadhan

oleh: M. Fikri Hasan Abdullah

bismillahirrahmanirrahim, alhamdulillahil karimil l-manān munzilil Qur’an fī atammil l-bayān. As-Sholatu al-Mashubah bissalām ‘alal habīb al-‘adzomi sayyidina Muhammadin wa ‘ala ālihi washahbih.

Kedatangan bulan suci Ramadhan adalah hal yang sangat dinantikan oleh umat Islam sedunia karena penuh akan keberkahannya. Akan tetapi apakah kawan-kawan tahu bahwa tidak semua orang mendapatkan keuntungan dengan datangnya bulan Ramadhan.Ya, memang pada bulan suci ini syaithan-syaithan akan dibelenggu, namun tetap saja begitu banyak orang yang lalai dan tetap pada kebiasaan buruknya.

Di suatu saat Rasulullah SAW sedang menaiki mimbar, banyak di antara para sahabat mendengar Rasulullah SAW mengucapkan amin sebanyak tiga kali, sehingga membuat para sahabat yang kala itu hadir merasa heran akan hal itu, Rasulullah SAW menjawab bahwasannya malaikat Jibril AS mendoakan tiga hal dan Rasulullah SAW mengamininya, salah satu dari doa-doa tersebut ialah “celakalah serta merugilah orang yang mendapatkan bulan Ramadhan namun hingga bulan Ramadhan selesai ia tidak mendapatkan ampunan Allah”. Oleh karena itu, sudah semestinya setiap muslim memaksimalkan ibadahnya dan menjadi lebih produktif saat berada di bulan Ramadhan.

Banyak kisah para ulama terdahulu bagaimana mereka menggunakan waktu mereka di bulan Ramadhan, seperti Imam Syafi’i yang biasa mengkhatamkan Al-Qur’an setiap hari sebanyak dua kali, dan ada juga yang mengkhatamkannya di sholat malam, dan masih banyak lagi kisah para ulama terdahulu di bulan suci Ramadhan. Seringkali kita merasa malas atau merasa tidak mampu untuk memaksimalkan ibadah kita di bulan Ramadhan.

Maka untuk menyiasatinya Rasulullah SAW sudah memberikan resep yang tepat bahkan untuk yang merasa tidak sanggup beribadah seperti para ulama generasi terdahulu, Rasulullah SAW bersabda:

(أحب الأعمال إلى الله أدومها و إن قل (صحيح مسلم

Dari hadits tersebut kita memahami bahwa yang lebih penting untuk diprioritaskan dalam sebuah aktivitas produktif adalah kontinuitas. Dalam hal ini Syaikh Abdul Aziz Asy-Syahawi pernah menasihati bahwa seseorang akan mendapatkan hasil yang diinginkan dari wiridnya jika ia mendawamkannya. Hal serupa juga seringkali kita dengarkan dari para penghafal qur’an, motivator, atlit, pelaku bisnis, dan juga elemen masyarakat lainnya bahwa kontinuitas itu sangat penting untuk diperhatikan jika kita menginginkan goal tertentu.

Namun kita juga seringkali menginginkan untuk segera bisa beramal sebanyak amal para pendahulu umat. Hal ini dirasa wajar karena manusia diberikan jiwa berlomba serta ingin menjadi yang paling baik, namun kita perlu menyadari bahwa para ulama memperbanyak amalan mereka bukan hanya sekali atau dua kali tapi sudah menjadi kebiasaan dalam keseharian mereka.

Jadi akan lebih efektif jika meriyadhahi serta melatih diri untuk memperbanyak ibadah secara rutin dimulai dari memaksimalkan ibadah fardhu kemudian ditambah ibadah-ibadah sunnah yang bisa kita lakukan dengan berkesinambungan kemudian kita tambahkan porsi ibadah-ibadah sunnah secara berkala agar kita mampu mendawamkannya.

Para ulama terdahulu terbiasa mempersiapkan diri untuk memasuki bulan Ramadhan jauh-jauh hari sebelum datangnya bulan Ramadhan dengan tujuan mampu memaksimalkan ibadah di Bulan Ramadhan, yang mana amal ibadah wajib dilipatgandakan menjadi tujuh puluh kali ibadah wajib di luar Ramadhan dan amal ibadah sunnah dilipatgandakan seakan-akan ia adalah ibadah fardhu di luar Ramadhan sebagaimana riwayat yang dinukil imam Ibnu Syahin dalam Fadha’il Syahri Ramadhan.

Semua yang tertera diatas hanyalah bagaimana kita berikhtiar untuk memaksimalkan Ramadhan, Adapun hakikatnya siapapun yang mampu beribadah dengan baik adalah karena taufiq Allah semata.

Imam Ibrahim Al-Laqqani dalam jauharahnya mengatakan:

و خالق لعبده و ما عمل ۞ موفق لمن أراد أن يصلو خاذل لمن أراد بعده ۞ و منجز لمن أراد وعده

Allah SWT berfirman:

وَلَوْلَا فَضْلُ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّى مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Juga Allah SWT berfirman:

وَقَالُوا۟ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى هَدَىٰنَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِىَ لَوْلَآ أَنْ هَدَىٰنَا ٱللَّهُ

Jadi di samping memaksimalkan ikhtiar kita sangat perlu bersyukur atas apa yang Allah berikan dari kemampuan untuk beramal serta memperbanyak doa, memperkuat keyakinan dan memperbaiki prasangka kepada Allah SWT.

editor: Muhammad Aulia Rozaq

Read more
23Mar

Tiga Derajat Orang Berpuasa, Begini Kata Imam Al-Ghazali

23 Maret 2023 buutsfpib Ramadhan

Oleh: Muhammad Aulia Rozaq

Ramadhan merupakan bulan yang sangat dinantikan oleh umat Islam di seluruh belahan dunia. Bagaimana tidak? Di bulan tersebut pahala dilipatgandakan, pintu neraka ditutup rapat, pintu surga dibuka luas, dari orang yang biasa saja di bulan-bulan lainnya, tiba-tiba berubah menjadi orang yang rajin beribadah, yang paling ajib, ada sebagian orang yang berkelakuan bak Abu Jahal, tiba-tiba berubah menjadi orang yang paling rajin dan taat beribadah.

Kendati demikian, Ramadhan tidak boleh hanya dipandang sebagai euforia saja, ia harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Berbicara mengenai amal sholeh, hal yang harus diutamakan tentunya amal ibadah puasa itu sendiri, sebab banyak orang lalai dan tidak memperhatikan shaumnya, sehingga ibadahnya hanya menghasilkan lapar dan dahaga saja. Pahalanya digerogoti dosa-dosa, sejak terbit fajar diisi oleh ghibah, mencela, dan lain sebagainya. Hingga terbenamnya matahari yang tersisa hanyalah lelah, haus, dan lapar saja.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui derajat orang yang berpuasa guna mengukur diri, sejauh mana kita berpuasa? Dan harus seperti apa kita berpuasa. Dalam hal ini, Imam Al-Ghazali menuliskan bab khusus dalam kitabnya Ihya ‘Ulumiddin dengan tajuk “Fi Asrāris s-Shaum wa Syurūthul l-Bāthinah” [Penjelasan mengenai Rahasia-rahasia Shaum dan Syarat-syarat Samarnya]. Beliau menyatakan bahwa orang yang berpuasa terbagi menjadi tiga derajat. Pertama, shaumul l-‘umūm (puasa orang pada umumnya), yakni menahan perut dan kemaluan dari melakukan perbuatan yang didasarkan pada syahwat.

Kedua, shaumul l-khusūs (puasa orang tertentu) yaitu menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan-perbuatan dosa.

Ketiga, shaumu khusūsul l-khusūs (puasanya orang paling khusus dan tertentu), maka puasanya orang-orang ini adalah puasanya hati dari hasrat-hasrat yang hina dan pikiran-pikiran duniawi, mencegah hati dari selain Allah secara menyeluruh, dan puasanya orang-orang ini batal ketika memikirkan sesuatu selain Allah, dalam artian memikirkan sesuatu yang bukan karena Allah dan cenderung menyebabkan keterikatan hati seorang hamba pada selain dari-Nya. Jenis puasa ini adalah puasanya para Nabi, Shiddiqīn, dan para Muqorrobīn.

Adapun puasanya orang-orang shalih adalah jenis puasa yang kedua, yaitu puasanya orang tertentu, mengapa demikian? Sebab tidak semua orang berpuasa mampu mencapai derajat ini. Imam Ghazali kemudian melanjutkan bahwa kesempurnaan dalam derajat yang kedua ini terdiri dari enam perkara.

Pertama, ghadul l-bashar (menundukan pandangan) baik bagi laki-laki ataupun perempuan, serta mencegah meluasnya pandangan pada sesuatu yang tercela dan dibenci, dalam hal ini termasuk juga pandangan pada sesuatu yang menyebabkan hati sibuk dan berpaling dari mengingat Allah.

Kedua, menjaga lisan dari ocehan-ocehan, berbohong, ghibah, adu domba, perkataan keji, perkataan kasar, permusuhan dan debat kusir. Maka dalam hal ini diwajibkan diam, dan diwajibkan pula untuk menyibukkan diri dengan dzikir dan tilawah Al-Qur’an.

Ketiga, mencegah pendengaran dari menyimak sesuatu yang tidak bermanfaat dan tidak disukai Allah.

Keempat, mencegah sisa anggota tubuh dari perbuatan-perbuatan dosa, semisal tangan dan kaki dari perbuatan yang tidak disukai Allah, mencegah perut dari syubhat ketika berbuka puasa, sebab tidaklah bermakna puasa jika bersahur dengan yang halal namun berbuka dengan yang haram.

Kelima, memperbanyak makan makanan yang halal ketika berbuka puasa, sebab dengan memakan makanan yang halal, puasa orang tersebut akan menjadi berkah dan menjadi sebab tercapainya ridho Allah SWT.

Keenam, terakhir, agar hatinya selalu bergantung kepada Allah setelah berbuka puasa, – maksudnya – hendaknya dia menggantungkan hatinya kepada Allah dengan diisi dengan harapan dan ketakutan akan kebesaran Allah SWT, seraya berkata “Apakah puasaku ini diterima oleh Allah? Ataukah puasaku ini ditolak sebab aku tergolong pada golongan yang dimurkai?”

Demikian pembahasan Imam Al-Ghazali mengenai derajat orang yang berpuasa, dari sini kita bisa mengukur harus seperti apa kita berpuasa, Cukupkah hanya dengan menahan dahaga dan lapar? Atau kita berjuang dan berjihad pada hal yang melebihi kedua itu, yakni menjaga diri dari setiap perkara dosa agar dapat mencapai ridho-Nya semata.

editor: redaktur

Read more
23Mar

Ruwaq Bu’uts Selesai, Kajian Banyak Menjawab Permasalahan yang Kerap Terjadi

23 Maret 2023 buutsfpib Berita

RUBU’ (Ruwaq Bu’uts) dengan kajian kitab Al Ibanah wal Ifadhah fi Ahkami Haidhi Wannifasi telah sukses dilaksanakan dan ditutup pada Senin (20/03/2023), kegiatan yang diikuti 38 peserta tersebut, diakhiri dengan ujian serta penyerahan penghargaan pada Rifa Rahmah Rasyidah sebagai peraih nilai tertinggi dan tercepat pada ujian tersebut, dan Aisyah Sabrina Andri sebagai peserta terajin dalam kajian RUBU’ kali ini di Gurfah Tilfaz, Imarah 3, Bu’uts Banat. Kajian fiqh wanita tersebut, banyak menjawab kebingungan yang kerap kali terjadi seputar hukum-hukum mengenai haidh, nifas, dan istihadhah.

Wanita yang telah berhenti darah haid atau nifas sebelum imsak, dapat mendahulukan sahur dan memasang niat, walaupun belum mandi besar dan mengakhirkannya sebelum subuh, “Misal ketika puasa Ramadhan, lalu kita sudah suci (darah berhenti) sebelum imsak, ya udah sahur dulu dan pasang niat, jadi mandi besarnya sebelum subuh itu tidak apa-apa…” Jelas Nurhara menjawab kebingungan yang kerap kali terjadi di bulan Ramadhan itu.

Hal tersebut dikuatkan lagi dengan kutipan penutup dalam pembahasan hal-hal yang tidak boleh dilakukan wanita dan nifas dari kitab tersebut, “Ketika darah haid atau nifas berhenti keluar, ia masih belum boleh melakukan semua ibadah sebelum mandi atau tayammum kecuali puasa dan thalaq”.

Kegiatan tersebut memiliki dampak positif bagi peserta, terlihat dari antusias peserta meminta materi tambahan lainnya pada pemateri dalam kegiatan RUBU’ selanjutnya.

reporter: Aisy Nabila Munawwarah

editor: Muhammad Aulia Rozaq

Read more
19Mar

Pelatihan Bahasa Amiyah, Bekal Penting untuk CAMABA

19 Maret 2023 buutsfpib Berita

Pelatihan bahasa amiyah telah usai dilaksanakan oleh divisi PSDM (Pengembangan Sumber Daya Manusia) FPIB untuk CAMABA Bu’uts kloter pertama kedatangan 2023 pada Jum’at (17/03/2023), kegiatan tersebut dilaksanakan terpisah pada pagi pukul 07.00 CLT untuk banat di Gurfah Muthalaah Ardiyah, Imarah 1, Bu’uts Banat dan malam pukul 19.30 CLT untuk banin kelompok 1 di Imarah Thal’at, 67, lt. 4, Bu’ust Banin dan Imarah Thal’at, 87, lt. 5, Bu’ust Banin untuk kelompok 2. Pelatihan bahasa amiyah melalui pengajaran materi kaidah-kaidah dasar tersebut menjadi bekal penting bagi CAMABA dalam berkomunikasi sehari-hari dengan masyarakat Mesir.

Fathina selaku salah satu panitia PSDM menjelaskan, bahwa meninjau dari kurangnya kecakapan CAMABA dalam berbahasa amiyah sebagai alat komunikasi sehari-hari menjadikan pelatihan bahasa amiyah merupakan hal penting.

Nahdlatus Solihah yang juga bagian dari panitia pelaksana menegaskan bahwa tujuan pembekalan tersebut merupakan penunjang kegiatan-kegiatan CAMABA selama di mesir, “karena di berbagai kegiatan, kita pasti akan bermuamalah dengan orang mesir, entah itu sekedar di baalah, kuliah, atau talaqqi…” ungkapnya.

Kegiatan tersebut merupakan salah satu kegiatan pembekalan dari serangkaian kegiatan pembekalan lainnya untuk setiap CAMABA Bu’uts.

reporter: Aisy Nabila Munawwarah

editor: Muhammad Aulia Rozaq

Read more
18Mar

Sport Day FPIB, Damam Syah: Semoga Selalu Menjadi Sarana Penyambung Silaturrahmi

18 Maret 2023 buutsfpib Berita

“Alhamdulillah Sport Day bersama FPIB yang pertama berlangsung meriah. Semoga Sport Day ke depannya bisa menjadi sarana penyambung silaturrahmi antar warga FPIB di samping MFD,” ungkap Damam Syah, Ketua I Forum Pelajar Indonesia Bu’uts (FPIB).

Sport Day diadakan pada Sabtu pagi di lapangan Bu’uts (18/03/2023) oleh divisi olahraga dan Bu’uts Sporting Club (BSC) guna mewadahi minat olahraga warga FPIB. Beberapa cabang olahraga seperti voli, sepakbola, handball, catur, dan basket meramaikan lapangan dengan antusias penuh dari para warga FPIB.

“Sebenarnya sasaran utama Sport Day perdana ini adalah anak baru, tapi tadi secara umum bukan hanya anak baru yang ikut, semoga ke depannya semakin antusias,” jelas Ainul Mamnu’ah, Ketua II FPIB.

Ainul menjelaskan bahwa sasaran utama adalah anak-anak baru guna memperkenalkan kekeluargaan FPIB, akan tetapi sebagian dari mereka berhalangan hadir. Kendati demikian, berkat antusias warga FPIB lainnya, Sport Day berjalan Meriah.

Devi Zulaikha dari divisi olahraga dan minat bakat mengatakan bahwa selain pelatihan hadrah, Badminton Day, dan Sport Day, program kerja selanjutnya adalah pelatihan khot dan agenda renang.

“Langkah selanjutnya adalah agenda renang warga FPIB yang InsyaAllah berkawasan di Muqattam untuk banin, dan di Madinat Nasr untuk banat,” ujarnya.

Devi juga mengatakan bahwa agenda pagi ini sangat bernilai karena merupakan suatu ajang untuk membangun miliu hidup sehat, juga merupakan medan silaturrahmi bagi warga FPIB terlebih untuk mengenalkan anggota baru kepada kegiatan FPIB.

reporter: Nidya Al Khairi

editor: Muhammad Aulia Rozaq

Read more
  • 1…45678…13
Logo FPIB Kecil Web

FPIB (Forum Pelajar Indonesia Bu’uts) merupakan forum sosial yang mewadahi seluruh pelajar Indonesia yang terdaftar di Madinatul Bu’uts Al Islamiyyah.

FPIB © All rights reserved

Kategori

  • News
  • Info

Info

  • Ijroat Adventure Minhah Dakhili
  • Ijroat Adventure Minhah Khoriji
  • Taqdim Minhah

Tentang Kami

  • About FPIB
  • Kontak