FPIB © All rights reserved
FPIB
  • Home
  • Artikel
  • Opini
  • Esai
  • Info
  • Berita
  • Ramadhan
  • About
Join Grup
FPIB
Join Grup

Fpib

Home / Artikel / Fpib
17Mar

Upgrading Skill : Mengenal Dasar-Dasar Tulisan Opini

17 Maret 2026 Zefa Nawareza Berita 1

Pada Senin, 16 Maret 2026 divisi Web & Jurnalistik telah melaksanakan webinar Upgrading Skill dengan tujuan meningkatkan keterampilan anggota. Kegiatan ini dihadiri oleh Ahmad Miftahul Jannah, Lc., selaku pemateri utama sekaligus lulusan Universitas Al-Azhar Cairo Mesir tahun 2025 yang memiliki wawasan dan pengetahuan luas tentang kepenulisan baik di Mesir maupun di Indonesia. Beliau juga pernah menyanding sebagai ketua Website Bedug yang kini sedang mengelola Warung Aksara – sebuah toko buku online.

Dalam sesi materi, beliau menjelaskan tulisan opini merupakan tulisan yang berisi pandangan atau sikap penulis terhadap sebuah isu tertentu yang disampaikan secara lugas dan argumentatif. Menurutnya, opini memiliki tujuan untuk mengajak pembaca berpikir kritis, memengaruhi dan meyakinkan audiens terhadap suatu sudut pandang, serta memperkaya diskursus publik di tengah masyarakat.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan struktur dasar dalam penulisan opini. Struktur tersebut meliputi: judul, pembuka, isi, dan penutup. Judul bersifat tegas atau netral sesuai dengan sudut pandang penulis. Sedangkan bagian pembuka umumnya berisi pengantar terhadap isu faktual atau gambaran umum yang relevan. Lebih lanjut, bagian isi memuat penjelasan yang bersifat informatif, edukatif, dan reflektif dengan memanfaatkan objek material serta objek formal sebagai pisau analisis. Terakhir, tulisan ditutup dengan penutup yang berisi kesimpulan atau refleksi dari pembahasan yang telah disampaikan.

Selain membahas struktur tulisan, beliau juga menekankan pentingnya memerhatikan norma dalam penulisan opini. Penulis opini perlu menghindari plagiarisme, menyampaikan argumen secara logis, menggunakan bahasa yang sopan, serta mencantumkan sumber referensi yang jelas. Hal tersebut penting agar tulisan memiliki kredibilitas serta dapat dipertanggungjawabkan secara intelektual.

Dalam sesi tersebut, beliau juga menjelaskan perbedaan antara opini, esai, dan kolom. Penjelasan tersebut disertai dengan beberapa contoh tulisan dari media seperti Kompas dan Bedug agar peserta dapat memahami karakteristik masing-masing bentuk tulisan secara lebih konkrit. Selain itu, beliau juga menjelaskan tentang prinsip penting dalam memilih isu untuk sebuah tulisan opini. Menurutnya, hal yang paling utama bukan terletak pada besar atau kecilnya suatu isu, melainkan pada kemampuan penulis dalam merumuskan pertanyaan terhadap isu tersebut. “Merumuskan pertanyaan yang baik seringkali lebih sulit daripada memberikan jawaban,” ungkapnya dalam webinar upgrading skill, Senin (16/3/2026).

Sebuah isu kecil dapat menjadi penting apabila penulis mampu mengajukan pertanyaan yang tepat. Sebagai contoh, kasus tabrakan di jalan raya dapat diangkat menjadi opini yang lebih luas dengan pertanyaan, “Mengapa kecelakaan di lalu lintas sering terjadi di Indonesia? Apakah hal tersebut berkaitan dengan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap ketertiban umum?”.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan beberapa kriteria isu yang kaya untuk diangkat menjadi sebuah tulisan opini. Isu sebaiknya bersifat aktual dan masih berada dalam rentang waktu yang relatif dekat seperti sekitar satu bulan terakhir, sehingga tetap relevan untuk dibahas.

Selain itu, penulis juga disarankan untuk memilih isu yang sesuai dengan bidang pengetahuan yang dikuasai agar analisis yang diberikan lebih kredibel. Dalam menjelaskan pentingnya analisis, beliau juga menggunakan beberapa pisau analisis yang dapat digunakan dalam menulis opini. Diantaranya adalah: teori relasi kuasa dari Michelle Foucault yang menjelaskan antara pengetahuan dan kekuasaan, pendekatan Maqashid Syariat untuk menganalisis isu-isu yang berkaitan dengan hukum islam, hukum fikih sebagai objek formal dalam persoalan keagamaan, dan pendekatan ekologis untuk mengkaji isu lingkungan seperti pertambangan.

Terakhir, kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab bersama para peserta. Salah satu pertanyaan disampaikan oleh saudara Izzat Isa terkait batas kebebasan dalam menyampaikan opini dan kriteria isu yang layak diangkat menjadi tulisan opini. Secara umum, kegiatan ini memberikan sebuah pemahaman awal kepada peserta mengenai dasar-dasar penulisan opini, mulai dari pemilihan isu hingga pentingnya penggunaan kerangka analisis dalam membangun argumentasi yang kuat.

Read more
13Mar

Puasa Sebagai Perisai Pelindung Seorang Muslim

13 Maret 2026 Admin Web FPIB Ramadhan 2
Puasa sebagai pelindung seorang muslim

Oleh: Mohammad Kafanal Kafi

Bulan puasa merupakan bulan yang sangat istimewa bagi umat Islam, terutama bagi kita para mahasiswa Indonesia di Mesir (masisir) yang sedang melangsungkan studi di Negeri Kinanah. Bagaimana tidak, nuansa Ramadan di Mesir ini sangatlah terasa, mulai dari jalanan yang dihias, salat tarawih menggunakan qira’at ‘asyrah, sampai banyaknya maidaturrahman yang seakan turun dari langit. Terlebih lagi di masjid Al-Azhar yang selalu menjadi favorit para masisir untuk berbuka dan melaksanakan salat tarawih setelah seharian melaksanakan ibadah puasa. 

Puasa adalah ibadah yang memiliki sangat banyak hikmah dan keutamaan baik dari sisi medis, sosial, maupun spiritual. Di antara hikmah dan keutamaan ibadah puasa yang akan kita bahas salah satunya adalah puasa sebagai perisai pelindung bagi seorang muslim. Dalam sebuah hadis, Rasulullah S.A.W. bersabda:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ المِسْكِ يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي، الصِّيَامُ لِي، وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

“Puasa adalah perisai. Maka janganlah berkata kotor dan jangan bertindak bodoh. Jika ada orang yang mengajaknya berkelahi atau mencacinya maka hendaklah ia mengucapkan “saya berpuasa” dua kali. Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah S.W.T. daripada wangi minyak kasturi, dia meninggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya karena-Ku. Puasa adalah milik-Ku dan Aku akan membalasnya. Satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipatnya.” (HR. Al-Bukhari) 

Lantas, apa sebenarnya makna جُنَّة (perisai) dalam hadits tersebut? Dalam kamus Lisanul Arab karya Ibnu Manzhur, disebutkan bahwa setiap kalimat yang tersusun dari huruf (ج ن ن) memiliki makna dasar menutupi atau menghalangi. Seperti contoh kata الجِنّ yang berarti dia tertutupi dan terhalangi dari pandangan mata manusia, juga الجَنِيْن yang berarti dia tertutupi di dalam perut ibunya, ataupun المجنون yang berarti tertutup akalnya dan beberapa kata lain yang memiliki akar yang sama.

Sedangkan, kata جُنَّة sendiri memiliki makna: sesuatu yang menghalangi dan melindungi seseorang dari pedang musuh, sehingga makna hadis di atas: puasa merupakan perisai yang melindungi seorang muslim dari serangan musuh yang akan mencelakainya. Akan tetapi musuh yang dimaksud dalam konteks ini bukanlah musuh secara fisik, melainkan hawa nafsunya sendiri.

Sebagaimana yang kita ketahui, hawa nafsu memang diciptakan untuk mengajak manusia pada kesenangan sesaat yang akan berakibat pada kerugian dan kerusakan baik di dunia maupun di akhirat. Maka sudah selayaknya kita sebagai seorang muslim untuk senantiasa berjuang melindungi diri kita dari serangan hawa nafsu ini.

Ketika berpuasa, kita menahan diri dari makan, minum, ataupun bersenggama dengan istri mulai dari terbit hingga terbenamnya matahari. Hal-hal tersebut, yang memang halal dilakukan saat tidak berpuasa, kita malah menahannya bahkan sampai 30 hari berturut-turut saat di bulan Ramadan. Lalu bagaimana mungkin seorang muslim yang mampu menahan diri dari makanan dan minuman halal selama berpuasa, bisa tergoda oleh makanan dan minuman haram? Bagaimana mungkin seorang yang mampu menahan diri dari istrinya sendiri selama berpuasa bisa tergoda oleh perzinaan?

Sungguh ibadah puasa yang kita laksanakan satu bulan penuh di bulan suci Ramadan ini telah menjadi tameng yang kokoh dalam melindungi kita dari nafsu kita sendiri. Ibadah yang mendidik kita untuk selalu berjuang melawan dan mengalahkan hawa nafsu, sehingga kita bisa keluar dari bulan mulia ini dalam keadaan suci dan bersih lagi sebagaimana ketika kita baru dilahirkan ke dunia.

Salah seorang masyayikh Azhar pernah menyampaikan dalam kultumnya di sela-sela tarawih di masjid Madinatul Buuts:

سُئِلَ أَحَدُ المَشَايِخْ مَا هُوَ النَّجَاحُ؟ قَالَ النَّجَاحُ أَنْ تَذْبَحَ نَفْسَكَ بِسَيْفِ الْمُخَالَفَةِ

“Salah seorang masyayikh ditanya, ‘Apa itu kesuksesan?’ Beliau menjawab, ‘Yaitu ketika kamu menebas nafsumu dengan pedang perlawanan’”.

Dengan mengalahkan hawa nafsu dan meninggalkan godaan-godaannya di dunia, maka kita telah menjauhkan diri kita dari murka Allah dan siksa-Nya di akhirat. Dengan melaksanakan puasa juga berarti kita telah menaati perintah-Nya dan berhak mendapatkan rida dan surga-Nya sebagaimana janji yang telah Allah berikan. Jika amal baik saja akan dibalas sepuluh kali lipat, maka entah apa balasan yang Allah S.W.T. siapkan untuk hamba-hamba-Nya yang telah beruntung melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh karena perintah-Nya.

Demikianlah ibadah puasa bisa menjadi perisai pelindung bagi seorang muslim. Ibadah yang tidak ada yang tahu balasan sebenarnya kecuali Allah S.W.T. Semoga kita bisa mendapatkan manfaat dari puasa kita kali ini dan bisa menjadi bagian dari golongan yang beruntung saat berpisah dengan bulan suci Ramadan. Mungkin cukup sekian, semoga bermanfaat.

Read more
11Mar

Ma’idah Ar-Rahman: Ketika Jalanan Mesir Menjadi Hamparan Rahmat

11 Maret 2026 Admin Web FPIB Ramadhan 9
Suasana jamuan makan gratis Maidah Ar-Rahman di Mesir

Oleh: Izzat Isa Ismail
Mahasiswa Universitas Al-Azhar

Ramadan di Mesir bukan sekadar momentum ibadah individual, melainkan peristiwa sosial yang berulang setiap tahun dengan spirit yang sama: menghadirkan kebersamaan. Di bulan ini, ruang publik mengalami transformasi. Jalanan, pelataran masjid, bahkan halaman rumah berubah menjadi ruang berbagi. Salah satu wajah paling khas dari transformasi itu adalah tradisi Ma’idah ar-Rahman.

Secara umum, Ma’idah ar-Rahman adalah hidangan berbuka yang disediakan selama bulan Ramadan untuk kaum Muslimin. Biasanya ditujukan bagi fakir dan miskin, namun dalam praktiknya terbuka bagi siapa pun yang belum sempat tiba di rumah saat waktu berbuka, termasuk musafir atau pekerja. Tradisi ini bukan sekadar fenomena musiman, melainkan jejak historis yang panjang dalam kebudayaan masyarakat Mesir.

Sejarah mencatat bahwa salah satu pelopor jamuan berbuka terorganisir adalah Khalifah Al-‘Aziz Billah Al-Fathimi, yang menyediakannya bagi jamaah jami’ Amr bin Ash1. Dari sana, praktik memberi makan di bulan Ramadan berkembang menjadi budaya sosial yang mengakar dan diwariskan lintas generasi. Secara normatif, semangat ini berakar pada ajaran Islam tentang keutamaan memberi makan. Al-Qur’an menggambarkan orang beriman sebagai: mereka yang memberi makan karena cinta kepada Allah.

(…وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا)

“Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin…” (Al-Insan: 8)

Ayat ini singkat, tetapi dalam konteks Ramadan di Mesir, ia menemukan bentuk sosialnya yang nyata. Sebagai mahasiswa Universitas Al-Azhar yang tinggal di Madinatul Bu’uts (Islamic Mission City), penulis menyaksikan Ramadan bukan sekadar musim ibadah saja, melainkan juga sebagai laboratorium sosial tempat nilai-nilai agama diuji dalam kenyataan.

Di Bu’uts sendiri, Ma’idah ar-Rahman tidak selalu hadir dalam bentuk formal dan besar seperti di pusat kota. Saya pribadi lebih sering mengikuti ma’idah di luar kawasan Bu’uts, termasuk di sekitar Masjid Al-Azhar. Di sana, suasana terasa egaliter. Orang-orang duduk berderet tanpa memandang latar belakang: pekerja, mahasiswa, musafir—semua berbagi ruang dan waktu yang sama. Serta di tempat lain, seperti kediaman Ali Gom’a atau kawasan Jalan Darrasah maupun Abdu Pasha, tradisi ini tetap menunjukkan kesinambungan nilai: ulama dan tokoh masyarakat turut menjaga budaya memberi makan sebagai bagian dari etika Ramadan.

Sebagai mahasiswa kita memang terbiasa membaca teks: menelaah tafsir; mengkaji hadis; serta mendiskusikan hukum dan hikmah. Namun, ketika duduk di salah satu Ma’idah ar-Rahman, saya menyadari bahwa teks tidak berhenti di ruang kelas. Ia turun ke jalan. Ia menjelma menjadi tindakan. Ilmu menjelaskan keutamaannya. Masyarakat mewujudkannya.

Yang menarik, semua itu dilakukan dengan kesadaran sosial yang matang. Meja serta tenda disusun tanpa merampas ruang publik, tempat dirapikan setelah selesai. Kedermawanan berjalan beriringan dengan keteraturan. Tradisi ini bukan sekadar luapan emosi Ramadan, tetapi bagian dari etos sosial yang terpelihara.

Ramadan Menulis, Ramadan Menginspirasi

Inspirasi itu lahir dari perjumpaan antara ilmu dan realitas. Dari ruang kuliah Al-Azhar menuju jalanan Kairo. Dari pembahasan ayat memberi makan menuju sepiring hidangan yang benar-benar dibagikan. Ketika jalanan Mesir menjadi hamparan rahmat, saya belajar bahwa agama tidak hanya dimengerti melalui argumentasi, tetapi juga melalui partisipasi. Nilai-nilai yang kami kaji dalam kitab-kitab klasik menemukan relevansinya justru ketika hadir di tengah masyarakat.

Ramadan akhirnya bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang mengubah lapar menjadi jembatan: jembatan antara ilmu dan amal, antara individu dan masyarakat, antara teks dan kehidupan. Di sanalah, Ramadan benar-benar menginspirasi—diam-diam, tetapi terasa dalam setiap langkah yang memberi dan menerima.

  1.  Al-Arabiya, “قصة موائد الرحمن وأول مائدة افطار في تاريخ مصر,” https://www.alarabiya.net/last-page/2025/03/06/قصة-موائد-الرحمن-وأول-مائدة-افطار-في-تاريخ-مصر. ↩︎
Read more
07Mar

Resmikan Nama Kabinet Baru, DP FPIB 2025/2026 Gelar Rapat Kerja dan Buka Bersama.

7 Maret 2026 Izzat Isa Berita 2

Kairo – Dewan Pengurus Forum Pelajar Indonesia Bu’uts (DP FPIB) periode 2025/2026 resmi menyelenggarakan Rapat Kerja dan Buka Bersama perdana yang bertempat di lingkungan Sekretariat Wihdah PPMI Mesir hari ini, Selasa (3 Februari 2026).

Acara yang berlangsung sejak pukul 13.30 CLT ini memuat agenda krusial, mulai dari pemaparan program kerja tiap divisi hingga pemilihan serta pengesahan nama dan logo kabinet untuk satu masa bakti ke depan. Kegiatan ini ditutup dengan khidmat melalui agenda Sholat Maghrib berjamaah dan buka puasa bersama seluruh pengurus.

Read more
26Feb

Space Jurnalistik, dari Acta Diurna hingga Web Jurnal

26 Februari 2026 Lisan Aisharul Ibadilla Berita 5

Kairo – Divisi Web dan Jurnalistik Forum Pelajar Indonesia Buuts (FPIB) menyelenggarakan kegiatan pelatihan dan bincang hangat kepenulisan pada acara buka puasa hari ini (25/2/2026) di Space Cafe.

Kegiatan ini mengambil tema “Asas Jurnalistik” yang disampaikan oleh Ilmi Hatta selaku Ketua Ikatan Jurnalistik Masisir (IJMA). Tujuan acara ini adalah untuk meningkatkan kemampuan menulis serta pemahaman tentang perkembangan jurnalistik dari masa klasik hingga era digital. Acara diisi dengan sesi pembelajaran teori dan diskusi yang interaktif antaranggota.

Divisi Web dan Jurnalistik menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pemberian hak untuk membangun jurnalistik komunitas pelajar Indonesia-Buuts yang memiliki kemampuan literasi dan menulis informasi dengan baik, sekaligus penyusunan program kerja Divisi Web dan Jurnalistik.

Read more
22Sep

Diaspora Indonesia Bahas Peran Strategis dalam Membangun Negeri: Fajruna Batch ke-7 di Kairo

22 September 2025 buutsfpib Artikel, Berita, Esai, Info 17

Kairo, 21 September 2025 — Sore itu, langit Kairo perlahan meredup, menyisakan sinar matahari yang hangat di halaman hijau Bustan Thol’at, Madinatul Buuts. Permadani terhampar, dan beberapa mahasiswa Indonesia duduk rapi melingkar. Tidak ada panggung megah, tidak ada peralatan mewah. Namun suasana diskusi yang berlangsung justru penuh khidmat, sarat semangat, dan kaya gagasan.

Forum bulanan Fajruna kembali hadir. Kali ini, Fajruna Batch ke-7 mengangkat tema yang menyentuh inti kesadaran mahasiswa perantau: “Potensi dan Peran Diaspora Indonesia dalam Membangun Negeri dari Luar Negeri.”

Acara yang dipandu oleh Ustadz Khubaib ini menghadirkan dua narasumber utama. Ustadz Ach. Muhajir membawakan paparan dengan sudut pandang syariat, sementara Ustadz Ihsanul Fikri menyoroti potensi dan dimensi sejarah diaspora. Diskusi berjalan dinamis; para peserta tidak hanya mendengarkan, tetapi juga aktif bertanya dan berdialog, menciptakan ruang interaksi intelektual yang hangat.

*Diaspora dalam Tinjauan Syariat: Warisan Sejak Rasulullah*

Dalam sesi pertamanya, Ustadz Ach. Muhajir membuka cakrawala dengan membawa peserta kembali ke masa awal Islam. Ia menekankan bahwa fenomena diaspora bukanlah hal baru. Sejak zaman Rasulullah SAW, umat Islam telah membuktikan peran besar mereka sebagai perantau yang berkontribusi bagi dakwah dan peradaban.

“Hijrah ke Habsyah adalah salah satu bentuk diaspora awal dalam Islam. Begitu pula hijrah ke Madinah, yang justru menjadi titik awal lahirnya masyarakat Islam yang kuat. Dari sinilah kita belajar bahwa perantauan bukanlah keterputusan, melainkan kelanjutan perjuangan,” jelasnya.

Menurut beliau, mahasiswa Indonesia di luar negeri hari ini memiliki tanggung jawab moral dan spiritual yang sama. Keberadaan mereka bukan hanya untuk menuntut ilmu, tetapi juga bagian dari amanah dakwah dan pengabdian, baik bagi umat setempat maupun bagi tanah air yang mereka tinggalkan.

*Potensi Diaspora di Era Teknologi: Menembus Batas Jarak*

Setelah itu, Ustadz Ihsanul Fikri mengajak peserta menatap masa kini dan masa depan. Ia menyoroti betapa besar peluang yang dimiliki diaspora Indonesia, terutama di era digital saat ini.

“Hari ini, teknologi telah menjembatani jarak. Diaspora tidak lagi terhalang oleh batas geografis. Dari Kairo, dari Timur Tengah, bahkan dari benua mana pun, kita bisa tetap hadir untuk bangsa. Ilmu bisa dibagikan, gagasan bisa disebarkan, jejaring bisa dibangun, dan kontribusi nyata bisa terus mengalir,” ujarnya.

Beliau juga mengingatkan bahwa diaspora memiliki dua kekuatan strategis: modal intelektual dan modal jaringan. Di luar negeri, mahasiswa dan pekerja Indonesia memiliki akses pada ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan hubungan lintas bangsa. Jika semua ini dikelola dengan baik, diaspora dapat menjadi lokomotif yang mempercepat kemajuan Indonesia.

*Fajruna: Forum yang Menyulam Kesadaran dan Kebersamaan*

Fajruna bukan sekadar diskusi. Forum ini telah menjadi ruang belajar bersama, tempat mahasiswa Indonesia di Kairo saling menguatkan dan menyadarkan diri tentang peran yang mereka emban.

Di bawah pepohonan Bustan Thol’at yang rindang, suasana diskusi kali ini terasa akrab sekaligus reflektif. Peserta merasakan bahwa meski berada jauh dari tanah air, rasa cinta kepada Indonesia justru semakin tumbuh. Kerinduan itu melahirkan tekad untuk berbuat sesuatu, sekecil apa pun, bagi bangsa.

Acara ditutup dengan Sholat Maghrib bersama. Tidak ada sorak-sorai, tetapi tersisa cahaya semangat dalam hati setiap peserta: keyakinan bahwa diaspora adalah bagian penting dari sejarah dan masa depan Indonesia.

*Diaspora: Jembatan Indonesia dengan Dunia*

Diskusi ini meninggalkan kesimpulan kuat bahwa diaspora bukan sekadar status “perantau.” Ia adalah peran, peluang, sekaligus amanah. Mahasiswa Indonesia di luar negeri adalah duta bangsa, pembawa wajah Indonesia di mata dunia. Mereka adalah jembatan yang menghubungkan Indonesia dengan peradaban global.

Fajruna Batch ke-7 di Kairo telah menegaskan kembali pesan itu. Bahwa dari tanah rantau, cinta kepada tanah air tidak pernah padam. Justru di situlah ia ditempa, diperkuat, dan akhirnya siap untuk diwujudkan dalam kontribusi nyata.

Read more
17Apr

Seminar Maqra’ Hadirkan Ustadzah Devi Nur Azizah, Lc., Dipl.: “Satu Jam Lebih Dekat dengan Ilmu Qira’at”

17 April 2025 buutsfpib Berita, Info 74

Buuts – Forum Pelajar Indonesia Buuts (FPIB) kembali menggeliat seminar keilmuan bertajuk Seminar Maqra’ pada Rabu, 16 April 2025 di Qoah 15, Buuts Banin. Acara ini menjadi bagian dari program keilmuan FPIB yang bertujuan untuk memperdalam pemahaman pelajar terhadap ilmu-ilmu Al-Qur’an khususnya dalam bidang Qira’at.

Seminar ini mengusung tema “Satu Jam Lebih Dekat dengan Ilmu Qira’at” dan menghadirkan Ustadzah Devi Nur Azizah, Lc., Dipl. sebagai pemateri. Beliau merupakan mahasiswi pascasarjana yang sedang menempuh studi S2 pada jurusan Kritik Sastra, Universitas Al-Azhar dan telah memiliki banyak pengalaman dalam bidang keilmuan, khususnya yang berkaitan dengan studi Al-Qur’an.

Rangkaian acara dimulai dengan pembukaan oleh Ketua FPIB, Al-Ustadz Berkah Muhammad Akbar yang menyampaikan bahwa seminar ini merupakan bagian dari program kerja bidang keilmuan di bawah naungan FPIB untuk menekankan pentingnya meningkatkan kualitas diri masing-masing mahasiswa dalam perjalanan menuntut ilmu di Al-Azhar.

Acara dilanjutkan dengan sesi penyampaian materi oleh Ustadzah Devi. Dalam pemaparannya, beliau menyampaikan bahwa memahami ilmu Qira’at tidak harus selalu rumit. “Kita cukup kembalikan ke ushul-nya, dilihat dari mushaf seperti apa. Kalau ada farsy-nya, baru dibaca berbeda,” jelasnya. Ia juga menegaskan bahwa ilmu Qira’at memiliki manfaat yang sangat luas dan luar biasa sehingga penting bagi setiap pelajar untuk mendalaminya lebih jauh.

Setelah sesi diskusi yang berlangsung interaktif, seminar ditutup dengan penyerahan sertifikat kepada pemateri sebagai bentuk apresiasi dari panitia, dan kemudian ditutup secara resmi.

Dengan terselenggaranya Seminar Maqra’, diharapkan para peserta dapat membawa pulang bekal pemahaman yang lebih kokoh tentang Al-Qur’an dan termotivasi untuk terus mengembangkan ilmu mereka selama menempuh studi di Mesir.

Read more
17Mar

Timnas Indonesia Buuts Raih Kemenangan Dramatis di Asia Cup

17 Maret 2025 buutsfpib Berita 105

Islamic Mission City, Cairo – Tim Nasional Sepak Bola Indonesia Buuts (dibawah naungan Forum Pelajar Indonesia Buuts – FPIB) berhasil meraih kemenangan dramatis atas Kyrgystan dalam pertandingan Asia Cup 2025.  Pertandingan yang digelar pada Sabtu, 15 Maret 2025 pukul 22.00 waktu Cairo (WLK) berakhir dengan skor imbang 1-1, dan dimenangkan Indonesia melalui adu penalti dengan skor 12-11.

Asia Cup bulan Ramadhan ini diselenggarakan oleh Markaz Syabab Madeenat Buuts (Pusat Pemuda Kota Buuts), sebuah divisi di bawah naungan Al-Azhar yang berfokus pada pemberdayaan pemuda.  Turnamen ini selain bertujuan untuk meningkatkan kualitas olahraga juga membawa misi dalam mempromosikan persahabatan antarnegara.

Timnas Indonesia Buuts, yang dikenal dengan bakat ciamiknya, menampilkan permainan yang gigih dan penuh semangat.  Meskipun skor akhir menunjukkan pertandingan yang ketat, Timnas Indonesia Buuts menunjukkan soliditas tim dan mental juara dalam menghadapi adu penalti.

Timnas Indonesia Buuts akan melanjutkan perjuangannya di putaran babak kedua Asia Cup pada Rabu, 19 Maret 2025.  Publik sepak bola menantikan penampilan selanjutnya dari tim ini.

Narasumber: Muhammad Nasir Putra, Penulis: Aisharullisan

Read more
11Feb

Siap Bermisi! 118 Penerima Beasiswa Universitas Al-Azhar Ikuti Orientasi

11 Februari 2025 buutsfpib Berita, Info 103

Kairo, Mesir – Hari ini, Senin (10/2/2025), bertempat di Qoah 7, menandai dimulainya Orientasi Mahasiswa Baru Universitas Al-Azhar (ORMABA BUUTS). Orientasi ini diadakan oleh Forum Pelajar Indonesia Buuts (FPIB) sebagai wadah perkenalan mahasiswa baru mengenai segala sesuatu yang berkenaan dengan Al-Azhar dan kehidupan di Mesir.

Dengan mengusung tema “Bekal Diri Menjadi Azhari Sejati,” kegiatan ini menjanjikan pengalaman tak terlupakan bagi para mahasiswa baru. “Kita semua di sini satu baju, jangan pernah ada yang membeda-bedakan,” jelas Kak Devi Nur Azizah, salah satu pendiri FPIB.

ORMABA BUUTS dirancang untuk memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan yang relevan, memastikan mahasiswa siap menghadapi tantangan ke depan. Demisioner Badan Otonom KPBA (Komite Pemberkasan Beasiswa Al-Azhar), Fajar Ilman Nafi’ menegaskan, “Berapa pun umur kalian, datang ke negeri Kinanah ini harus seperti gelas kosong! Jangan nekat! Fatal akibatnya jika tidak mengerti alur administrasi. Bertanya adalah jalan terbaik.”

Suasana akhir acara semakin aktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta. “The real ORMABA! Bermanfaat banget materinya, di luar ekspektasi,” kata Almas, salah seorang peserta.

Pada hari pertama ini rangkaian kegiatan diisi dengan berbagai materi penting untuk membekali mahasiswa baru, diantaranya pengenalan Forum Pelajar Indonesia Buuts (FPIB), penjelasan terkait Komite Pemberkasan Beasiswa Al-Azhar (KPBA), serta informasi mengenai keamanan, kesehatan, dan keazharan. Kegiatan ini akan berlangsung hingga 16 Februari 2025 dan ditutup dengan pengangkatan ketua angkatan mahasiswa baru.

Dengan bekal yang diberikan, mereka diharapkan menjadi generasi Azhari yang berintegritas, berwawasan luas, serta mampu membawa manfaat bagi masyarakat

Oleh: Aisharullisan

Read more
29Jan

Era Baru Forum Pelajar Indonesia Buust (FPIB): Siap Bawa Perubahan Positif

29 Januari 2025 buutsfpib Berita 111

Kairo, Mesir – Forum Pelajar Indonesia Buust (FPIB) telah memberikan wajah baru organisasi pada acara Pelantikan Dewan Pengurus Baru periode 2025 yang bertepatan pada (28/01/2025) di Aula Daha KMJ. Pelantikan wajah baru kepengurusan FPIB dan Badan Usaha Milik FPIB (BUMF) ini tak lain untuk mengestafetkan nilai-nilai organisasi dan merealisasikan visi dan misi organisasi.

Era baru kepengurusan FPIB diusung oleh Berkah Muhammad Akbar sebagai Ketua Umum, Rafi Satrio Putra sebagai Ketua I, Rizka Salzabila sebagai Ketua II, dan Aisyah Putri Adzkia sebagai Ketua III. Sedangkan wajah baru BUMF adalah Muhammad Elangga Buana sebagai Ketua I, dan Aisyah Maharani sebagai Ketua II.

Pelantikan ini disambut dengan pidato inspiratif dari Dewan Konsultatif FPIB ustadz Husni Mubarak, Lc., yang menekankan pentingnya kolaborasi dan inovasi setiap formasinya dalam membawa organisasi menuju masa depan yang lebih baik.

Bara semangat 67 Dewan Pengurus FPIB dan 7 BUMF yang baru berkomitmen untuk bekerja dengan dedikasi tinggi demi kemajuan organisasi dan tercapainya visi dan misi bersama. Seperti yang digambarkan wajah baru FPIB dalam pidatonya “Amanat bukanlah urusan yang mudah, namun dengan kebersamaan dan keikhlasan kita bisa mewujudkan kegiatan-kegiatan yang positif”.

Dengan tekad membaja, seluruh pengurus baru berkomitmen untuk bekerja dengan dedikasi tinggi demi kemajuan organisasi. Selamat atas pelantikan ini, semoga seluruh pengurus baru dapat memberikan kontribusi terbaik bagi FPIB.

Penulis : aisharullisan

Read more
    12
Logo FPIB Kecil Web

FPIB (Forum Pelajar Indonesia Bu’uts) merupakan forum sosial yang mewadahi seluruh pelajar Indonesia yang terdaftar di Madinatul Bu’uts Al Islamiyyah.

FPIB © All rights reserved

Kategori

  • News
  • Info

Info

  • Ijroat Adventure Minhah Dakhili
  • Ijroat Adventure Minhah Khoriji
  • Taqdim Minhah

Tentang Kami

  • About FPIB
  • Kontak