FPIB © All rights reserved
FPIB
  • Home
  • Artikel
  • Opini
  • Esai
  • Info
  • Berita
  • Ramadhan
  • About
Join Grup
FPIB
Join Grup

Buuts

Home / Artikel / Buuts
17Mar

Upgrading Skill : Mengenal Dasar-Dasar Tulisan Opini

17 Maret 2026 Zefa Nawareza Berita 1

Pada Senin, 16 Maret 2026 divisi Web & Jurnalistik telah melaksanakan webinar Upgrading Skill dengan tujuan meningkatkan keterampilan anggota. Kegiatan ini dihadiri oleh Ahmad Miftahul Jannah, Lc., selaku pemateri utama sekaligus lulusan Universitas Al-Azhar Cairo Mesir tahun 2025 yang memiliki wawasan dan pengetahuan luas tentang kepenulisan baik di Mesir maupun di Indonesia. Beliau juga pernah menyanding sebagai ketua Website Bedug yang kini sedang mengelola Warung Aksara – sebuah toko buku online.

Dalam sesi materi, beliau menjelaskan tulisan opini merupakan tulisan yang berisi pandangan atau sikap penulis terhadap sebuah isu tertentu yang disampaikan secara lugas dan argumentatif. Menurutnya, opini memiliki tujuan untuk mengajak pembaca berpikir kritis, memengaruhi dan meyakinkan audiens terhadap suatu sudut pandang, serta memperkaya diskursus publik di tengah masyarakat.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan struktur dasar dalam penulisan opini. Struktur tersebut meliputi: judul, pembuka, isi, dan penutup. Judul bersifat tegas atau netral sesuai dengan sudut pandang penulis. Sedangkan bagian pembuka umumnya berisi pengantar terhadap isu faktual atau gambaran umum yang relevan. Lebih lanjut, bagian isi memuat penjelasan yang bersifat informatif, edukatif, dan reflektif dengan memanfaatkan objek material serta objek formal sebagai pisau analisis. Terakhir, tulisan ditutup dengan penutup yang berisi kesimpulan atau refleksi dari pembahasan yang telah disampaikan.

Selain membahas struktur tulisan, beliau juga menekankan pentingnya memerhatikan norma dalam penulisan opini. Penulis opini perlu menghindari plagiarisme, menyampaikan argumen secara logis, menggunakan bahasa yang sopan, serta mencantumkan sumber referensi yang jelas. Hal tersebut penting agar tulisan memiliki kredibilitas serta dapat dipertanggungjawabkan secara intelektual.

Dalam sesi tersebut, beliau juga menjelaskan perbedaan antara opini, esai, dan kolom. Penjelasan tersebut disertai dengan beberapa contoh tulisan dari media seperti Kompas dan Bedug agar peserta dapat memahami karakteristik masing-masing bentuk tulisan secara lebih konkrit. Selain itu, beliau juga menjelaskan tentang prinsip penting dalam memilih isu untuk sebuah tulisan opini. Menurutnya, hal yang paling utama bukan terletak pada besar atau kecilnya suatu isu, melainkan pada kemampuan penulis dalam merumuskan pertanyaan terhadap isu tersebut. “Merumuskan pertanyaan yang baik seringkali lebih sulit daripada memberikan jawaban,” ungkapnya dalam webinar upgrading skill, Senin (16/3/2026).

Sebuah isu kecil dapat menjadi penting apabila penulis mampu mengajukan pertanyaan yang tepat. Sebagai contoh, kasus tabrakan di jalan raya dapat diangkat menjadi opini yang lebih luas dengan pertanyaan, “Mengapa kecelakaan di lalu lintas sering terjadi di Indonesia? Apakah hal tersebut berkaitan dengan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap ketertiban umum?”.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan beberapa kriteria isu yang kaya untuk diangkat menjadi sebuah tulisan opini. Isu sebaiknya bersifat aktual dan masih berada dalam rentang waktu yang relatif dekat seperti sekitar satu bulan terakhir, sehingga tetap relevan untuk dibahas.

Selain itu, penulis juga disarankan untuk memilih isu yang sesuai dengan bidang pengetahuan yang dikuasai agar analisis yang diberikan lebih kredibel. Dalam menjelaskan pentingnya analisis, beliau juga menggunakan beberapa pisau analisis yang dapat digunakan dalam menulis opini. Diantaranya adalah: teori relasi kuasa dari Michelle Foucault yang menjelaskan antara pengetahuan dan kekuasaan, pendekatan Maqashid Syariat untuk menganalisis isu-isu yang berkaitan dengan hukum islam, hukum fikih sebagai objek formal dalam persoalan keagamaan, dan pendekatan ekologis untuk mengkaji isu lingkungan seperti pertambangan.

Terakhir, kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab bersama para peserta. Salah satu pertanyaan disampaikan oleh saudara Izzat Isa terkait batas kebebasan dalam menyampaikan opini dan kriteria isu yang layak diangkat menjadi tulisan opini. Secara umum, kegiatan ini memberikan sebuah pemahaman awal kepada peserta mengenai dasar-dasar penulisan opini, mulai dari pemilihan isu hingga pentingnya penggunaan kerangka analisis dalam membangun argumentasi yang kuat.

Read more
11Mar

Ma’idah Ar-Rahman: Ketika Jalanan Mesir Menjadi Hamparan Rahmat

11 Maret 2026 Admin Web FPIB Ramadhan 9
Suasana jamuan makan gratis Maidah Ar-Rahman di Mesir

Oleh: Izzat Isa Ismail
Mahasiswa Universitas Al-Azhar

Ramadan di Mesir bukan sekadar momentum ibadah individual, melainkan peristiwa sosial yang berulang setiap tahun dengan spirit yang sama: menghadirkan kebersamaan. Di bulan ini, ruang publik mengalami transformasi. Jalanan, pelataran masjid, bahkan halaman rumah berubah menjadi ruang berbagi. Salah satu wajah paling khas dari transformasi itu adalah tradisi Ma’idah ar-Rahman.

Secara umum, Ma’idah ar-Rahman adalah hidangan berbuka yang disediakan selama bulan Ramadan untuk kaum Muslimin. Biasanya ditujukan bagi fakir dan miskin, namun dalam praktiknya terbuka bagi siapa pun yang belum sempat tiba di rumah saat waktu berbuka, termasuk musafir atau pekerja. Tradisi ini bukan sekadar fenomena musiman, melainkan jejak historis yang panjang dalam kebudayaan masyarakat Mesir.

Sejarah mencatat bahwa salah satu pelopor jamuan berbuka terorganisir adalah Khalifah Al-‘Aziz Billah Al-Fathimi, yang menyediakannya bagi jamaah jami’ Amr bin Ash1. Dari sana, praktik memberi makan di bulan Ramadan berkembang menjadi budaya sosial yang mengakar dan diwariskan lintas generasi. Secara normatif, semangat ini berakar pada ajaran Islam tentang keutamaan memberi makan. Al-Qur’an menggambarkan orang beriman sebagai: mereka yang memberi makan karena cinta kepada Allah.

(…وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا)

“Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin…” (Al-Insan: 8)

Ayat ini singkat, tetapi dalam konteks Ramadan di Mesir, ia menemukan bentuk sosialnya yang nyata. Sebagai mahasiswa Universitas Al-Azhar yang tinggal di Madinatul Bu’uts (Islamic Mission City), penulis menyaksikan Ramadan bukan sekadar musim ibadah saja, melainkan juga sebagai laboratorium sosial tempat nilai-nilai agama diuji dalam kenyataan.

Di Bu’uts sendiri, Ma’idah ar-Rahman tidak selalu hadir dalam bentuk formal dan besar seperti di pusat kota. Saya pribadi lebih sering mengikuti ma’idah di luar kawasan Bu’uts, termasuk di sekitar Masjid Al-Azhar. Di sana, suasana terasa egaliter. Orang-orang duduk berderet tanpa memandang latar belakang: pekerja, mahasiswa, musafir—semua berbagi ruang dan waktu yang sama. Serta di tempat lain, seperti kediaman Ali Gom’a atau kawasan Jalan Darrasah maupun Abdu Pasha, tradisi ini tetap menunjukkan kesinambungan nilai: ulama dan tokoh masyarakat turut menjaga budaya memberi makan sebagai bagian dari etika Ramadan.

Sebagai mahasiswa kita memang terbiasa membaca teks: menelaah tafsir; mengkaji hadis; serta mendiskusikan hukum dan hikmah. Namun, ketika duduk di salah satu Ma’idah ar-Rahman, saya menyadari bahwa teks tidak berhenti di ruang kelas. Ia turun ke jalan. Ia menjelma menjadi tindakan. Ilmu menjelaskan keutamaannya. Masyarakat mewujudkannya.

Yang menarik, semua itu dilakukan dengan kesadaran sosial yang matang. Meja serta tenda disusun tanpa merampas ruang publik, tempat dirapikan setelah selesai. Kedermawanan berjalan beriringan dengan keteraturan. Tradisi ini bukan sekadar luapan emosi Ramadan, tetapi bagian dari etos sosial yang terpelihara.

Ramadan Menulis, Ramadan Menginspirasi

Inspirasi itu lahir dari perjumpaan antara ilmu dan realitas. Dari ruang kuliah Al-Azhar menuju jalanan Kairo. Dari pembahasan ayat memberi makan menuju sepiring hidangan yang benar-benar dibagikan. Ketika jalanan Mesir menjadi hamparan rahmat, saya belajar bahwa agama tidak hanya dimengerti melalui argumentasi, tetapi juga melalui partisipasi. Nilai-nilai yang kami kaji dalam kitab-kitab klasik menemukan relevansinya justru ketika hadir di tengah masyarakat.

Ramadan akhirnya bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang mengubah lapar menjadi jembatan: jembatan antara ilmu dan amal, antara individu dan masyarakat, antara teks dan kehidupan. Di sanalah, Ramadan benar-benar menginspirasi—diam-diam, tetapi terasa dalam setiap langkah yang memberi dan menerima.

  1.  Al-Arabiya, “قصة موائد الرحمن وأول مائدة افطار في تاريخ مصر,” https://www.alarabiya.net/last-page/2025/03/06/قصة-موائد-الرحمن-وأول-مائدة-افطار-في-تاريخ-مصر. ↩︎
Read more
26Feb

Space Jurnalistik, dari Acta Diurna hingga Web Jurnal

26 Februari 2026 Lisan Aisharul Ibadilla Berita 5

Kairo – Divisi Web dan Jurnalistik Forum Pelajar Indonesia Buuts (FPIB) menyelenggarakan kegiatan pelatihan dan bincang hangat kepenulisan pada acara buka puasa hari ini (25/2/2026) di Space Cafe.

Kegiatan ini mengambil tema “Asas Jurnalistik” yang disampaikan oleh Ilmi Hatta selaku Ketua Ikatan Jurnalistik Masisir (IJMA). Tujuan acara ini adalah untuk meningkatkan kemampuan menulis serta pemahaman tentang perkembangan jurnalistik dari masa klasik hingga era digital. Acara diisi dengan sesi pembelajaran teori dan diskusi yang interaktif antaranggota.

Divisi Web dan Jurnalistik menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pemberian hak untuk membangun jurnalistik komunitas pelajar Indonesia-Buuts yang memiliki kemampuan literasi dan menulis informasi dengan baik, sekaligus penyusunan program kerja Divisi Web dan Jurnalistik.

Read more
22Sep

Diaspora Indonesia Bahas Peran Strategis dalam Membangun Negeri: Fajruna Batch ke-7 di Kairo

22 September 2025 buutsfpib Artikel, Berita, Esai, Info 17

Kairo, 21 September 2025 — Sore itu, langit Kairo perlahan meredup, menyisakan sinar matahari yang hangat di halaman hijau Bustan Thol’at, Madinatul Buuts. Permadani terhampar, dan beberapa mahasiswa Indonesia duduk rapi melingkar. Tidak ada panggung megah, tidak ada peralatan mewah. Namun suasana diskusi yang berlangsung justru penuh khidmat, sarat semangat, dan kaya gagasan.

Forum bulanan Fajruna kembali hadir. Kali ini, Fajruna Batch ke-7 mengangkat tema yang menyentuh inti kesadaran mahasiswa perantau: “Potensi dan Peran Diaspora Indonesia dalam Membangun Negeri dari Luar Negeri.”

Acara yang dipandu oleh Ustadz Khubaib ini menghadirkan dua narasumber utama. Ustadz Ach. Muhajir membawakan paparan dengan sudut pandang syariat, sementara Ustadz Ihsanul Fikri menyoroti potensi dan dimensi sejarah diaspora. Diskusi berjalan dinamis; para peserta tidak hanya mendengarkan, tetapi juga aktif bertanya dan berdialog, menciptakan ruang interaksi intelektual yang hangat.

*Diaspora dalam Tinjauan Syariat: Warisan Sejak Rasulullah*

Dalam sesi pertamanya, Ustadz Ach. Muhajir membuka cakrawala dengan membawa peserta kembali ke masa awal Islam. Ia menekankan bahwa fenomena diaspora bukanlah hal baru. Sejak zaman Rasulullah SAW, umat Islam telah membuktikan peran besar mereka sebagai perantau yang berkontribusi bagi dakwah dan peradaban.

“Hijrah ke Habsyah adalah salah satu bentuk diaspora awal dalam Islam. Begitu pula hijrah ke Madinah, yang justru menjadi titik awal lahirnya masyarakat Islam yang kuat. Dari sinilah kita belajar bahwa perantauan bukanlah keterputusan, melainkan kelanjutan perjuangan,” jelasnya.

Menurut beliau, mahasiswa Indonesia di luar negeri hari ini memiliki tanggung jawab moral dan spiritual yang sama. Keberadaan mereka bukan hanya untuk menuntut ilmu, tetapi juga bagian dari amanah dakwah dan pengabdian, baik bagi umat setempat maupun bagi tanah air yang mereka tinggalkan.

*Potensi Diaspora di Era Teknologi: Menembus Batas Jarak*

Setelah itu, Ustadz Ihsanul Fikri mengajak peserta menatap masa kini dan masa depan. Ia menyoroti betapa besar peluang yang dimiliki diaspora Indonesia, terutama di era digital saat ini.

“Hari ini, teknologi telah menjembatani jarak. Diaspora tidak lagi terhalang oleh batas geografis. Dari Kairo, dari Timur Tengah, bahkan dari benua mana pun, kita bisa tetap hadir untuk bangsa. Ilmu bisa dibagikan, gagasan bisa disebarkan, jejaring bisa dibangun, dan kontribusi nyata bisa terus mengalir,” ujarnya.

Beliau juga mengingatkan bahwa diaspora memiliki dua kekuatan strategis: modal intelektual dan modal jaringan. Di luar negeri, mahasiswa dan pekerja Indonesia memiliki akses pada ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan hubungan lintas bangsa. Jika semua ini dikelola dengan baik, diaspora dapat menjadi lokomotif yang mempercepat kemajuan Indonesia.

*Fajruna: Forum yang Menyulam Kesadaran dan Kebersamaan*

Fajruna bukan sekadar diskusi. Forum ini telah menjadi ruang belajar bersama, tempat mahasiswa Indonesia di Kairo saling menguatkan dan menyadarkan diri tentang peran yang mereka emban.

Di bawah pepohonan Bustan Thol’at yang rindang, suasana diskusi kali ini terasa akrab sekaligus reflektif. Peserta merasakan bahwa meski berada jauh dari tanah air, rasa cinta kepada Indonesia justru semakin tumbuh. Kerinduan itu melahirkan tekad untuk berbuat sesuatu, sekecil apa pun, bagi bangsa.

Acara ditutup dengan Sholat Maghrib bersama. Tidak ada sorak-sorai, tetapi tersisa cahaya semangat dalam hati setiap peserta: keyakinan bahwa diaspora adalah bagian penting dari sejarah dan masa depan Indonesia.

*Diaspora: Jembatan Indonesia dengan Dunia*

Diskusi ini meninggalkan kesimpulan kuat bahwa diaspora bukan sekadar status “perantau.” Ia adalah peran, peluang, sekaligus amanah. Mahasiswa Indonesia di luar negeri adalah duta bangsa, pembawa wajah Indonesia di mata dunia. Mereka adalah jembatan yang menghubungkan Indonesia dengan peradaban global.

Fajruna Batch ke-7 di Kairo telah menegaskan kembali pesan itu. Bahwa dari tanah rantau, cinta kepada tanah air tidak pernah padam. Justru di situlah ia ditempa, diperkuat, dan akhirnya siap untuk diwujudkan dalam kontribusi nyata.

Read more
17Feb

Bukan Sekadar Orientasi! Ormaba Buuts 2025 Cetak Pemimpin Baru

17 Februari 2025 buutsfpib Berita, Info 100

Kairo – Setelah rangkaian acara Orientasi Mahasiswa Baru Buuts 2025 terselenggara, hari ini digelar penutupan di Hadiqoh Ad-Dawleyya, Heyy Sabi’, Nasr City, pada Ahad, 16 Februari 2025. Acara ini menjadi momentum penting dalam membangun solidaritas dan kesiapan mahasiswa baru dalam menghadapi kehidupan di Al-Azhar.

Dengan mengusung tema “Bekal Diri Menjadi Azhari Sejati”, Ormaba Buuts 2025 menghadirkan rangkaian kegiatan yang tidak hanya menghibur tetapi juga memperkuat karakter dan kepemimpinan mahasiswa. Fun games yang diadakan mencairkan suasana dan mempererat hubungan antar mahasiswa dari berbagai latar belakang.

Puncak acara adalah pemilihan ketua angkatan, yang diikuti oleh sembilan kandidat dari berbagai jalur keberangkatan. Setelah melalui proses pemilihan yang kompetitif, akhirnya terpilihlah ketua angkatan mahasiswa baru tahun ini, dengan formasi yakni Muhammad Rizka Fadly sebagai Ketua Umum, Teuku Alfiana sebagai Ketua I, Azida Rachma sebagai Ketua II dan Fadhilah Husna sebagai Ketua III. Keempatnya diharapkan mampu menjadi jembatan komunikasi antara mahasiswa dan mahasiswi baru serta membangun atmosfer akademik yang lebih kondusif.

Dalam sesi sambutan oleh ketua Forum Pelajar Indonesia Buuts (FPIB), beliau berharap kepada para mahasiswa dan mahasiswi baru bahwa keberagaman jalur harus dimanfaatkan sebagai kekuatan, bukan perpecahan. “Kami berharap dengan banyaknya jalur, kalian membuat kekuatan baru seperti pelangi yang mempunyai banyak warna. Jangan sampai karena banyaknya jalur itu membuat kalian terpecah karena kita ada di satu atap, satu naungan yaitu Forum Pelajar Indonesia Bu’uts (FPIB).” Jelas Rafi Satrio Putra sebagai ketua FPIB.

Dengan terpilihnya ketua angkatan yang baru dan selesainya Ormaba Buuts, mahasiswa dan mahasiswi baru kini bersiap memasuki dunia akademik dengan semangat baru dan kesadaran akan tanggung jawab besar yang mereka emban.

Oleh: Nuraaisyah

Read more
11Feb

Siap Bermisi! 118 Penerima Beasiswa Universitas Al-Azhar Ikuti Orientasi

11 Februari 2025 buutsfpib Berita, Info 103

Kairo, Mesir – Hari ini, Senin (10/2/2025), bertempat di Qoah 7, menandai dimulainya Orientasi Mahasiswa Baru Universitas Al-Azhar (ORMABA BUUTS). Orientasi ini diadakan oleh Forum Pelajar Indonesia Buuts (FPIB) sebagai wadah perkenalan mahasiswa baru mengenai segala sesuatu yang berkenaan dengan Al-Azhar dan kehidupan di Mesir.

Dengan mengusung tema “Bekal Diri Menjadi Azhari Sejati,” kegiatan ini menjanjikan pengalaman tak terlupakan bagi para mahasiswa baru. “Kita semua di sini satu baju, jangan pernah ada yang membeda-bedakan,” jelas Kak Devi Nur Azizah, salah satu pendiri FPIB.

ORMABA BUUTS dirancang untuk memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan yang relevan, memastikan mahasiswa siap menghadapi tantangan ke depan. Demisioner Badan Otonom KPBA (Komite Pemberkasan Beasiswa Al-Azhar), Fajar Ilman Nafi’ menegaskan, “Berapa pun umur kalian, datang ke negeri Kinanah ini harus seperti gelas kosong! Jangan nekat! Fatal akibatnya jika tidak mengerti alur administrasi. Bertanya adalah jalan terbaik.”

Suasana akhir acara semakin aktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta. “The real ORMABA! Bermanfaat banget materinya, di luar ekspektasi,” kata Almas, salah seorang peserta.

Pada hari pertama ini rangkaian kegiatan diisi dengan berbagai materi penting untuk membekali mahasiswa baru, diantaranya pengenalan Forum Pelajar Indonesia Buuts (FPIB), penjelasan terkait Komite Pemberkasan Beasiswa Al-Azhar (KPBA), serta informasi mengenai keamanan, kesehatan, dan keazharan. Kegiatan ini akan berlangsung hingga 16 Februari 2025 dan ditutup dengan pengangkatan ketua angkatan mahasiswa baru.

Dengan bekal yang diberikan, mereka diharapkan menjadi generasi Azhari yang berintegritas, berwawasan luas, serta mampu membawa manfaat bagi masyarakat

Oleh: Aisharullisan

Read more
29Jan

Era Baru Forum Pelajar Indonesia Buust (FPIB): Siap Bawa Perubahan Positif

29 Januari 2025 buutsfpib Berita 111

Kairo, Mesir – Forum Pelajar Indonesia Buust (FPIB) telah memberikan wajah baru organisasi pada acara Pelantikan Dewan Pengurus Baru periode 2025 yang bertepatan pada (28/01/2025) di Aula Daha KMJ. Pelantikan wajah baru kepengurusan FPIB dan Badan Usaha Milik FPIB (BUMF) ini tak lain untuk mengestafetkan nilai-nilai organisasi dan merealisasikan visi dan misi organisasi.

Era baru kepengurusan FPIB diusung oleh Berkah Muhammad Akbar sebagai Ketua Umum, Rafi Satrio Putra sebagai Ketua I, Rizka Salzabila sebagai Ketua II, dan Aisyah Putri Adzkia sebagai Ketua III. Sedangkan wajah baru BUMF adalah Muhammad Elangga Buana sebagai Ketua I, dan Aisyah Maharani sebagai Ketua II.

Pelantikan ini disambut dengan pidato inspiratif dari Dewan Konsultatif FPIB ustadz Husni Mubarak, Lc., yang menekankan pentingnya kolaborasi dan inovasi setiap formasinya dalam membawa organisasi menuju masa depan yang lebih baik.

Bara semangat 67 Dewan Pengurus FPIB dan 7 BUMF yang baru berkomitmen untuk bekerja dengan dedikasi tinggi demi kemajuan organisasi dan tercapainya visi dan misi bersama. Seperti yang digambarkan wajah baru FPIB dalam pidatonya “Amanat bukanlah urusan yang mudah, namun dengan kebersamaan dan keikhlasan kita bisa mewujudkan kegiatan-kegiatan yang positif”.

Dengan tekad membaja, seluruh pengurus baru berkomitmen untuk bekerja dengan dedikasi tinggi demi kemajuan organisasi. Selamat atas pelantikan ini, semoga seluruh pengurus baru dapat memberikan kontribusi terbaik bagi FPIB.

Penulis : aisharullisan

Read more
25Nov

FPIB Gelar Bakti Sosial, Wujud Dedikasi Islam untuk Masyarakat

25 November 2024 buutsfpib Berita 129

Kamis, 14 November 2024 – Forum Pelajar Indonesia Buuts (FPIB) melalui Divisi Hubungan Masyarakat (Humas) sukses menggelar kegiatan bakti sosial sebagai bentuk nyata pengabdian kepada masyarakat. Acara ini terlaksana atas kerja sama dengan lembaga sosial lokal di Mesir, di antaranya Dār Aytam dan Jam’iyah Risalah Li-l-A’mal Khairiyah.

Pada kegiatan bakti sosial pertama, bantuan disalurkan ke Dār Aytam yang berlokasi di Asyir. Sedangkan pada Kamis, 14 November 2024, bantuan disalurkan ke Jam’iyah Risalah Li-l-A’mal Khairiyah yang berkantor di daerah 16 Oktober dengan cabang di Abbas Aqad.

Acara ini berlangsung hanya dalam satu hari, tetapi persiapannya dilakukan dengan matang selama satu minggu. Para anggota FPIB aktif mengumpulkan berbagai donasi seperti pakaian layak pakai, alat tulis, buku bacaan, dan barang-barang lainnya. Dengan penuh semangat, mereka mengemas dan menyalurkan bantuan kepada lembaga yang dituju.

Momen penyerahan bantuan bakti sosial oleh pengurus FPIB

Selain penyerahan bantuan, kegiatan ini juga menjadi ajang untuk mempererat tali silaturahmi dan ukhuwah Islamiyah. Ketua panitia menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan menumbuhkan rasa cinta dan kepedulian antar sesama umat Nabi Muhammad.

“Acara ini adalah bentuk nyata dedikasi nilai-nilai Islam dan pengabdian kami, FPIB, kepada masyarakat sekitar. Kami berharap, FPIB terus menjadi jembatan penghubung, wadah penyalur, serta tangan penebar kebaikan bagi anggotanya dan lingkungan sekitar,” ujar salah satu perwakilan FPIB.

Meskipun persiapan berjalan dengan baik, panitia menghadapi sejumlah kendala teknis yang berhasil diatasi berkat kerja sama tim. Antusiasme anggota FPIB dan masyarakat menjadi kunci kesuksesan acara ini.

Dengan terlaksananya bakti sosial ini, FPIB berharap dapat terus berkontribusi secara aktif dalam kegiatan serupa di masa depan.

Penulis & Editor : Dimas Dwi Gustanto

Read more
15Nov

FPIB Sukses Gelar Short Course Pemikiran Islam di Kairo, Kupas Tantangan Modernitas terhadap Umat Islam

15 November 2024 buutsfpib Berita, Info 151

Kairo, Mesir – Forum Pelajar Indonesia Buuts (FPIB) dengan sukses menyelenggarakan acara bertajuk “Short Course Pemikiran Islam” pada Rabu dan Kamis, 13-14 November 2024. Bertempat di Qo’ah 7 Buuts, kegiatan ini berlangsung dari pukul 14.00 hingga 16.00 CLT dan mendapat antusiasme besar dari para pelajar Indonesia di Kairo.

Acara ini menghadirkan dua tema penting yang relevan dengan tantangan umat Islam di era modern, yakni “Pengantar Orientalisme, Islamic Studies, dan Tantangan Islam di Era Modern” serta “Problem Sekulerisme dan Tantangan Umat Islam.” Kedua topik ini disampaikan secara mendalam oleh dua pembicara yang kompeten, Ustadz Lubab Hud Abdullah, Lc., dan Ustadz Muhammad Aulia Rozaq.

Ust. Lubab Hud Abdullah, Lc. (atas), dan Ust. Muhammad Aulia Rozaq (bawah).

Melalui paparan yang lugas dan interaktif, para pembicara menjelaskan bahwa orientalisme dan sekulerisme adalah dua arus pemikiran yang perlu diwaspadai oleh umat Islam. Kedua ideologi ini sering kali dikemas dalam balutan modernitas yang memikat, sehingga tanpa disadari dapat memengaruhi dan menggerus pemahaman Islam yang autentik. Peserta diajak untuk memahami dampak dari ideologi tersebut serta cara bersikap kritis terhadap pemikiran-pemikiran yang berpotensi menyimpang dari ajaran Islam.

Selain menambah wawasan, acara ini juga menjadi ruang diskusi bagi peserta untuk mendalami tantangan intelektual yang dihadapi umat Islam di tengah derasnya arus globalisasi dan modernitas. Para peserta mengaku sangat terbantu dengan pemaparan yang diberikan dan merasa lebih siap menghadapi perkembangan pemikiran yang kompleks di era kontemporer.

Penyerahan piagam oleh ketua FPIB, Arya Wira Nugraha kepada para pembicara “Short Course Pemikiran Islam”.

FPIB, sebagai penyelenggara, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman keislaman dan membekali para pelajar dengan wawasan kritis terhadap tantangan intelektual. Dengan keberhasilan acara ini, FPIB berencana untuk terus mengadakan program serupa di masa depan guna menjaga semangat belajar dan mengembangkan kapasitas intelektual pelajar Indonesia di Kairo.

Penulis : Dimas Dwi Gustanto

Read more
03Nov

Rubu’ FPIB “Sirah Nabawiyah”

3 November 2024 buutsfpib Berita, Info 142
Ustadz Fajar Ilman Nafi’, pemateri pada kajian kali ini sedang memberikan materi tentang Sirah Nabawiyah.

Buuts, Kairo — Antusiasme warga Buuts terhadap kajian Sirah semakin terasa dengan diselenggarakannya program “Rubu’ Sirah Nabawiyyah” yang dipandu oleh Ustadz Fajar Ilman Nafi’, seorang mahasiswa Prodi Sejarah Peradaban Islam dan penulis buku Mustalahat Imaroh dan Jejak-Jejak Qol’ah. Kegiatan ini direncanakan berlangsung dalam enam pertemuan yang akan digelar setiap hari Sabtu, mulai pukul 20.00 hingga 22.00 WIB, dengan pertemuan perdana pada tanggal 2 November 2024.

Dalam program ini, peserta akan menikmati suasana kajian yang hangat di Sekretariat El-Qudwah, tepatnya di Kamar 42, Imaroh Tolaat. Kajian juga didukung dengan fasilitas seperti papan tulis, snack ringan, dan es teh untuk menambah kenyamanan peserta.

Antusiasme peserta dalam mengikuti kajian Sirah Nabawiyah

Program ini diikuti oleh belasan peserta yang antusias mempelajari sirah lebih mendalam. Salah satu peserta, Iqbal, menyampaikan kesan positifnya, “Materinya keren, pematerinya benar-benar pakar.”

Dengan semangat warga Buuts yang tinggi, diharapkan program kajian Rubu’ Sirah Nabawiyyah ini dapat menjadi wadah inspiratif dalam memperdalam ilmu sirah dan memperkuat kecintaan terhadap sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW.

Penulis : Gaza Satria Lutfi

Editor : Dimas Dwi Gustanto

Read more
    12
Logo FPIB Kecil Web

FPIB (Forum Pelajar Indonesia Bu’uts) merupakan forum sosial yang mewadahi seluruh pelajar Indonesia yang terdaftar di Madinatul Bu’uts Al Islamiyyah.

FPIB © All rights reserved

Kategori

  • News
  • Info

Info

  • Ijroat Adventure Minhah Dakhili
  • Ijroat Adventure Minhah Khoriji
  • Taqdim Minhah

Tentang Kami

  • About FPIB
  • Kontak