FPIB © All rights reserved
FPIB
  • Home
  • Artikel
  • Opini
  • Esai
  • Info
  • Berita
  • Ramadhan
  • About
Join Grup
FPIB
Join Grup

Fpib

Home / Artikel / Fpib
11Mar

Fenomena dan Tradisi Unik Ramadhan di Negeri Para Nabi

11 Maret 2024 buutsfpib Ramadhan 145
Gambar Oleh: Muhammad Aghisna ‘Aunil Hakim

Fenomena dan Tradisi Unik Ramadhan di Negeri Para Nabi

(Oleh: M. Ilfan Rusyaidi)

Bulan suci Ramadhan merupakan momen yang dinanti-nanti oleh seluruh umat muslim di penjuru dunia. Setiap umat muslim di berbagai tempat menyambut Ramadhan dengan tradisi dan ciri khas yang berbeda-beda. Begitu juga Mesir yang merupakah salah satu negara tertua dengan sejarah peradaban yang begitu panjang. Dalam artikel ini penulis akan berbagi cerita menarik seputar tradisi unik masyarakat Mesir dalam menyambut dan mengisi bulan Ramadhan sehingga memberi kesan tak terlupakan bagi siapapun. 

Berikut beberapa tradisi Ramadhan yang akan kita temukan di Negeri Piramid ini :

Lentera Ramadhan
Lentera Ramadhan merupakan salah satu aksesoris Ramadhan yang berbentuk lampion berwarna-warni, lentera ini juga disebut dengan istilah fanous yang dalam bahasa Arab artinya lampu atau cahaya.  Lampion ini sangat populer dan istimewa bagi masyarakat Mesir, khususnya di bulan Ramadhan. Fanous ramadhan dibuat dengan cara khusus untuk menggabungkan antara cerita rakyat Mesir dengan design yang islami. Lentera-lentera ini akan tergantung di setiap sudut Mesir, seperti di kafe, jalanan, toko-toko, pasar, bahkan di jendela dan balkon rumah masyarakat. Fenomena fanous ramadhan ini sebagai tanda dekatnya bulan Ramadhan dan akan selalu mewarnai setiap sudut Mesir selama bulan Ramadhan berlangsung.

Gambar oleh: Muhammad Al Fatih
Lentera Ramadhan raksasa di komplek Madinatul Buuts al-Islamiyyah

El-Mesaharaty
Tradisi membangunkan sahur merupakan hal yang sering kita temukan di bulan Ramadhan. Penduduk Mesir menyebutnya dengan tradisi El-Mesaharaty yaitu tradisi membangunkan warga untuk sahur dengan menabuh genderang atau drum atau alat-alat lainnya. Kegiatan ini merupakan tradisi kuno yang bermula di negara Mesir kemudian merambah ke berbagai negara Arab bahkan ke negara yang mayoritas penduduknya muslim, salah satunya Indonesia.

El Mesaharty, Hussien, 40, wakes up residents for their pre-dawn meals during the first day of Ramadan in Cairo, Egypt June 6, 2016. REUTERS/Amr Abdallah Dalsh – RTSG7D8

Musa’adah
Tak dapat dipungkiri bahwa Ramadhan merupakan momen umat muslim berlomba-lomba dalam kebaikan, terlebih di Negeri Nabi Musa ini. Dalam hal ini kita akan mendapati antusias masyarakat Mesir dengan berbagai macam bentuk kebaikan; salah satunya tradisi musa’adah. Tradisi musa’adah  adalah kegiatan memberi bantuan berupa makanan pokok ataupun uang tunai dan akan kita temui di berbagai sudut jalanan Mesir. Pada hakikatnya, momen ini tidak mutlak menjadi tradisi Ramadhan karena di bulan lainpun orang-orang dermawan Mesir akan berlomba dalam kebaikan. Namun, pada bulan yang mulia ini, musa’adah akan meningkat hingga 70 % dari bulan biasanya sehingga ini menjadi momen yang dinantikan oleh masyarakat di bulan Ramadhan.

Gambar Oleh: Muhammad Aghisna ‘Aunil Hakim
Pembagian Musa’adah di Masjid Jami’ Azhar

Maidatur Rahman
Berbicara mengenai bulan suci Ramadhan, maka tidak terlepas dari kata sedekah karena dalam hadist Nabi SAW:

أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ صَدَقَةٌ فِيْ رَمَضَانَ

Dan berbicara tentang sedekah, di Negeri Piramida ini ada sebuah tradisi yang bisa di katakan “sangat jarang” di negara lain. Tradisi yang sudah melekat di tubuh masyarakat Mesir ini tidak lain adalah maidatur rahman. Maidatur rahman secara bahasa dapat diartikan sebagai hidangan tuhan. Selain musa’adah Ramadhan,  masyarakat dermawan Mesir juga kerap membagikan makanan untuk berbuka puasa yang disebut maidatur rahman. Mereka menyiapkan dan menyajikan berbagai jenis makanan seperti: nasi daging; ayam; kuftah; isy’; dan makanan berat lainnya. Keistimewaan dari tradisi ini adalah semua jamuan makanan dihidangkan di atas meja panjang  yang berjejer di pinggir jalan di waktu berbuka puasa, jadi siapapun bisa mengikutinya tanpa syarat tertentu. Bahkan Al-Azhar sendiripun menyiapkan 1000 porsi makanan berbuka puasa setiap harinya. Dikatakan bahwa masyarakat Mesir akan menabung selama setahun agar mereka bisa menyiapkan maidatur rahman di bulan Ramadhan. Ini pun menjadi bukti akan kedermawanan masyarakat Mesir.

Meriam Ramadhan
Fenomena unik lainnya yang akan kita temukan di negeri ini yaitu suara meriam yang akan kita dengar saat waktu imsak dan berbuka puasa. Fenomena ini menjadi ciri khas Ramadhan di Mesir yang jarang bahkan tidak kita temui di negara-negara muslim lainnya. Fenomena suara meriam ini merupakan tradisi kuno yang sudah ada sejak abad ke-15. Meriam ini diberi nama hajjah fatima yang merupakan warisan dari Muhammad Ali Pasha, yang menurut sejarah adalah nama putri Utsman Khos Qodam yaitu salah satu penguasa Dinasti Utsmani dan sampai saat ini nama istilah tersebut tetap digunakan oleh masyarakat Mesir sebagai penghormatan kepada hajjah fatima yang telah mengesahkan tradisi tersebut. Tradisi unik ini mencerminkan semangat dan solidaritas masyarakat Mesir dalam menyambut bulan suci Ramadhan.

Qatayef
Berbicara tentang kuliner ramadhan, setiap negara dan tempat memiliki kuliner khas yang biasanya hanya kita temukan di bulan Ramadhan saja. Begitu juga di Negeri Kinanah ini diantaranya adalah Qatayef. Menurut sejarah qatayef adalah salah satu kuliner khas Arab yang muncul sejak akhir dinasti umawi. Qatayef merupakah kuliner khas Ramadhan yang terbuat dari gandum dan biasanya dimakan menggunankan coklat atau kacang. Saat Ramadhan kita akan sering menemukan penjual qatayef di setiap sudut jalan, sehingga kuliner ini menjadi fenomena khas yang hanya kita temui di bulan Ramadhan.

Demikian lah beberapa fenomena dan tradisi unik yang akan kita temui di negeri para nabi ini, sehingga  momen Ramadhan di Mesir ini menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh seluruh lapisan masyarakat muslim.

Editor: Gaza Satria Lutfi

Read more
18Mar

Sport Day FPIB, Damam Syah: Semoga Selalu Menjadi Sarana Penyambung Silaturrahmi

18 Maret 2023 buutsfpib Berita 67

“Alhamdulillah Sport Day bersama FPIB yang pertama berlangsung meriah. Semoga Sport Day ke depannya bisa menjadi sarana penyambung silaturrahmi antar warga FPIB di samping MFD,” ungkap Damam Syah, Ketua I Forum Pelajar Indonesia Bu’uts (FPIB).

Sport Day diadakan pada Sabtu pagi di lapangan Bu’uts (18/03/2023) oleh divisi olahraga dan Bu’uts Sporting Club (BSC) guna mewadahi minat olahraga warga FPIB. Beberapa cabang olahraga seperti voli, sepakbola, handball, catur, dan basket meramaikan lapangan dengan antusias penuh dari para warga FPIB.

“Sebenarnya sasaran utama Sport Day perdana ini adalah anak baru, tapi tadi secara umum bukan hanya anak baru yang ikut, semoga ke depannya semakin antusias,” jelas Ainul Mamnu’ah, Ketua II FPIB.

Ainul menjelaskan bahwa sasaran utama adalah anak-anak baru guna memperkenalkan kekeluargaan FPIB, akan tetapi sebagian dari mereka berhalangan hadir. Kendati demikian, berkat antusias warga FPIB lainnya, Sport Day berjalan Meriah.

Devi Zulaikha dari divisi olahraga dan minat bakat mengatakan bahwa selain pelatihan hadrah, Badminton Day, dan Sport Day, program kerja selanjutnya adalah pelatihan khot dan agenda renang.

“Langkah selanjutnya adalah agenda renang warga FPIB yang InsyaAllah berkawasan di Muqattam untuk banin, dan di Madinat Nasr untuk banat,” ujarnya.

Devi juga mengatakan bahwa agenda pagi ini sangat bernilai karena merupakan suatu ajang untuk membangun miliu hidup sehat, juga merupakan medan silaturrahmi bagi warga FPIB terlebih untuk mengenalkan anggota baru kepada kegiatan FPIB.

reporter: Nidya Al Khairi

editor: Muhammad Aulia Rozaq

Read more
12Mar

Dua Jam Terasa Kurang, Afifah: Next Time Kita Adakan Badminton Day Lagi

12 Maret 2023 buutsfpib Berita 76

“Alhamdulillah warga FPIB semangat sekali, sehingga kita pesan dua jam terasa kurang, InsyaAllah next time kita adakan lagi Badminton Day,” ungkap Afifah Maulidina selaku Ketua II Forum Pelajar Indonesia Bu’uts (FPIB).

Program Badminton Day yang diadakan pada Sabtu (11/03/2023) oleh Divisi Olahraga di Nadi Syabab, Hay Sadis, mendapat antusias penuh dari warga FPIB. Hal itu karena para peminat bulutangkis dapat bermain di lapangan khusus secara gratis, yang mana selama ini mereka hanya bermain di lapangan voli bu’uts.

“Selanjutnya minggu depan kita akan mengadakan Sport Day, kemudian akan ada latihan renang,” jelas Luthfiatul Azizah dari Divisi Olahraga.

Azizah menjelaskan bahwa yang mereka adakan adalah latihan bersama untuk seluruh warga FPIB, sedangkan untuk latihan khusus klub cabang olahraga tertentu akan didampingi oleh badan otonom Bu’uts Sporting Club (BSC).

Selaku bagian dari Divisi Olahraga Azizah berharap latihan-latihan yang diadakan ke depannya tak hanya menumbuhkan minat dan semangat warga FPIB dalam berolahraga, tapi juga menguatkan silaturahmi antar sesama.

“Buat warga ya semoga kedepannya bisa solid terus, terutama kita di tanah orang. InsyaAllah FPIB selalu dinamis dalam pemanfaatan fasilitas di bu’uts demi pengembangan dan pemanfaatan SDM kita sendiri,” jelas Feri Putra Ketua Umum FPIB.

reporter: Nidya Al Khairi

editor: Muhammad Aulia Rozaq

Read more
  • 123
Logo FPIB Kecil Web

FPIB (Forum Pelajar Indonesia Bu’uts) merupakan forum sosial yang mewadahi seluruh pelajar Indonesia yang terdaftar di Madinatul Bu’uts Al Islamiyyah.

FPIB © All rights reserved

Kategori

  • News
  • Info

Info

  • Ijroat Adventure Minhah Dakhili
  • Ijroat Adventure Minhah Khoriji
  • Taqdim Minhah

Tentang Kami

  • About FPIB
  • Kontak