FPIB © All rights reserved
FPIB
  • Home
  • Artikel
  • Opini
  • Esai
  • Info
  • Berita
  • Ramadhan
  • About
Join Grup
FPIB
Join Grup

Fenomena dan Tradisi Unik Ramadhan di Negeri Para Nabi

Home / Artikel / Ramadhan / Fenomena dan Tradisi Unik Ramadhan di Negeri Para Nabi
Gambar Oleh: Muhammad Aghisna ‘Aunil Hakim

Fenomena dan Tradisi Unik Ramadhan di Negeri Para Nabi

(Oleh: M. Ilfan Rusyaidi)

Bulan suci Ramadhan merupakan momen yang dinanti-nanti oleh seluruh umat muslim di penjuru dunia. Setiap umat muslim di berbagai tempat menyambut Ramadhan dengan tradisi dan ciri khas yang berbeda-beda. Begitu juga Mesir yang merupakah salah satu negara tertua dengan sejarah peradaban yang begitu panjang. Dalam artikel ini penulis akan berbagi cerita menarik seputar tradisi unik masyarakat Mesir dalam menyambut dan mengisi bulan Ramadhan sehingga memberi kesan tak terlupakan bagi siapapun. 

Berikut beberapa tradisi Ramadhan yang akan kita temukan di Negeri Piramid ini :

Lentera Ramadhan
Lentera Ramadhan merupakan salah satu aksesoris Ramadhan yang berbentuk lampion berwarna-warni, lentera ini juga disebut dengan istilah fanous yang dalam bahasa Arab artinya lampu atau cahaya.  Lampion ini sangat populer dan istimewa bagi masyarakat Mesir, khususnya di bulan Ramadhan. Fanous ramadhan dibuat dengan cara khusus untuk menggabungkan antara cerita rakyat Mesir dengan design yang islami. Lentera-lentera ini akan tergantung di setiap sudut Mesir, seperti di kafe, jalanan, toko-toko, pasar, bahkan di jendela dan balkon rumah masyarakat. Fenomena fanous ramadhan ini sebagai tanda dekatnya bulan Ramadhan dan akan selalu mewarnai setiap sudut Mesir selama bulan Ramadhan berlangsung.

Gambar oleh: Muhammad Al Fatih
Lentera Ramadhan raksasa di komplek Madinatul Buuts al-Islamiyyah

El-Mesaharaty
Tradisi membangunkan sahur merupakan hal yang sering kita temukan di bulan Ramadhan. Penduduk Mesir menyebutnya dengan tradisi El-Mesaharaty yaitu tradisi membangunkan warga untuk sahur dengan menabuh genderang atau drum atau alat-alat lainnya. Kegiatan ini merupakan tradisi kuno yang bermula di negara Mesir kemudian merambah ke berbagai negara Arab bahkan ke negara yang mayoritas penduduknya muslim, salah satunya Indonesia.

El Mesaharty, Hussien, 40, wakes up residents for their pre-dawn meals during the first day of Ramadan in Cairo, Egypt June 6, 2016. REUTERS/Amr Abdallah Dalsh – RTSG7D8

Musa’adah
Tak dapat dipungkiri bahwa Ramadhan merupakan momen umat muslim berlomba-lomba dalam kebaikan, terlebih di Negeri Nabi Musa ini. Dalam hal ini kita akan mendapati antusias masyarakat Mesir dengan berbagai macam bentuk kebaikan; salah satunya tradisi musa’adah. Tradisi musa’adah  adalah kegiatan memberi bantuan berupa makanan pokok ataupun uang tunai dan akan kita temui di berbagai sudut jalanan Mesir. Pada hakikatnya, momen ini tidak mutlak menjadi tradisi Ramadhan karena di bulan lainpun orang-orang dermawan Mesir akan berlomba dalam kebaikan. Namun, pada bulan yang mulia ini, musa’adah akan meningkat hingga 70 % dari bulan biasanya sehingga ini menjadi momen yang dinantikan oleh masyarakat di bulan Ramadhan.

Gambar Oleh: Muhammad Aghisna ‘Aunil Hakim
Pembagian Musa’adah di Masjid Jami’ Azhar

Maidatur Rahman
Berbicara mengenai bulan suci Ramadhan, maka tidak terlepas dari kata sedekah karena dalam hadist Nabi SAW:

أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ صَدَقَةٌ فِيْ رَمَضَانَ

Dan berbicara tentang sedekah, di Negeri Piramida ini ada sebuah tradisi yang bisa di katakan “sangat jarang” di negara lain. Tradisi yang sudah melekat di tubuh masyarakat Mesir ini tidak lain adalah maidatur rahman. Maidatur rahman secara bahasa dapat diartikan sebagai hidangan tuhan. Selain musa’adah Ramadhan,  masyarakat dermawan Mesir juga kerap membagikan makanan untuk berbuka puasa yang disebut maidatur rahman. Mereka menyiapkan dan menyajikan berbagai jenis makanan seperti: nasi daging; ayam; kuftah; isy’; dan makanan berat lainnya. Keistimewaan dari tradisi ini adalah semua jamuan makanan dihidangkan di atas meja panjang  yang berjejer di pinggir jalan di waktu berbuka puasa, jadi siapapun bisa mengikutinya tanpa syarat tertentu. Bahkan Al-Azhar sendiripun menyiapkan 1000 porsi makanan berbuka puasa setiap harinya. Dikatakan bahwa masyarakat Mesir akan menabung selama setahun agar mereka bisa menyiapkan maidatur rahman di bulan Ramadhan. Ini pun menjadi bukti akan kedermawanan masyarakat Mesir.

Meriam Ramadhan
Fenomena unik lainnya yang akan kita temukan di negeri ini yaitu suara meriam yang akan kita dengar saat waktu imsak dan berbuka puasa. Fenomena ini menjadi ciri khas Ramadhan di Mesir yang jarang bahkan tidak kita temui di negara-negara muslim lainnya. Fenomena suara meriam ini merupakan tradisi kuno yang sudah ada sejak abad ke-15. Meriam ini diberi nama hajjah fatima yang merupakan warisan dari Muhammad Ali Pasha, yang menurut sejarah adalah nama putri Utsman Khos Qodam yaitu salah satu penguasa Dinasti Utsmani dan sampai saat ini nama istilah tersebut tetap digunakan oleh masyarakat Mesir sebagai penghormatan kepada hajjah fatima yang telah mengesahkan tradisi tersebut. Tradisi unik ini mencerminkan semangat dan solidaritas masyarakat Mesir dalam menyambut bulan suci Ramadhan.

Qatayef
Berbicara tentang kuliner ramadhan, setiap negara dan tempat memiliki kuliner khas yang biasanya hanya kita temukan di bulan Ramadhan saja. Begitu juga di Negeri Kinanah ini diantaranya adalah Qatayef. Menurut sejarah qatayef adalah salah satu kuliner khas Arab yang muncul sejak akhir dinasti umawi. Qatayef merupakah kuliner khas Ramadhan yang terbuat dari gandum dan biasanya dimakan menggunankan coklat atau kacang. Saat Ramadhan kita akan sering menemukan penjual qatayef di setiap sudut jalan, sehingga kuliner ini menjadi fenomena khas yang hanya kita temui di bulan Ramadhan.

Demikian lah beberapa fenomena dan tradisi unik yang akan kita temui di negeri para nabi ini, sehingga  momen Ramadhan di Mesir ini menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh seluruh lapisan masyarakat muslim.

Editor: Gaza Satria Lutfi

BuutsFpibMasisirPuasaRamadhan
143
Like this pos

Recent posts

Ma’idah Ar-Rahman: Ketika Jalanan Mesir Menjadi Hamparan Rahmat

Ma’idah Ar-Rahman: Ketika Jalanan Mesir Menjadi Hamparan Rahmat

Resmikan Nama Kabinet Baru, DP FPIB 2025/2026 Gelar Rapat Kerja dan Buka Bersama.

Resmikan Nama Kabinet Baru, DP FPIB 2025/2026 Gelar Rapat Kerja dan Buka Bersama.

Space Jurnalistik, dari Acta Diurna hingga Web Jurnal

Space Jurnalistik, dari Acta Diurna hingga Web Jurnal

Kategori

  • Artikel (15)
  • Berita (62)
  • Esai (2)
  • Info (26)
  • Opini (1)
  • Ramadhan (28)

Pos-pos Terbaru

  • Ma’idah Ar-Rahman: Ketika Jalanan Mesir Menjadi Hamparan Rahmat
  • Resmikan Nama Kabinet Baru, DP FPIB 2025/2026 Gelar Rapat Kerja dan Buka Bersama.
  • Space Jurnalistik, dari Acta Diurna hingga Web Jurnal
  • FPIB dan KPBA Audiensi dengan Atdikbud KBRI Kairo Bahas Solusi Percepatan Keberangkatan dan Program Dauroh Lughah Gratis
  • Kebangkitan Pengurus Baru FPIB, Potensi Jadi Fokus Utama

Komentar Terbaru

  • Ahmad Yani pada Resmikan Nama Kabinet Baru, DP FPIB 2025/2026 Gelar Rapat Kerja dan Buka Bersama.
  • 3 Madrasah di Masjid Al-Azhar pada Era Mamalik - FPIB pada Masjid Al-Azhar dari Syiah Fatimiyah hingga Ayubbiyyah
  • Fatih Khaufi Rahman pada Masjid Al-Azhar dari Syiah Fatimiyah hingga Ayubbiyyah
  • Nikmah pada Sebab Didirikan dan Sebab Penamaan Masjid Al-Azhar Kairo
  • Zaki pada Ijroat Adventure Minhah Khoriji
  • Ruwaq Bu'uts: "Prioritaskan yang Sulit didapatkan di Indonesia"
    Previous PosRuwaq Bu'uts: "Prioritaskan yang Sulit didapatkan di Indonesia"
  • Next PosSyaikhul Akbar Muhyiddin Ibnu Arabiy Dalam Puasa Adalah Preogratif-Nya
    Ruwaq Bu'uts: "Prioritaskan yang Sulit didapatkan di Indonesia"

Related Posts

Ma’idah Ar-Rahman: Ketika Jalanan Mesir Menjadi Hamparan Rahmat
Ramadhan

Ma’idah Ar-Rahman: Ketika Jalanan Mesir Menjadi Hamparan Rahmat

Maidah Rahman; Tradisi Buka Bersama ala Warga Mesir(?)
Ramadhan

Maidah Rahman; Tradisi Buka Bersama ala Warga Mesir(?)

Ramadhan Membentuk Mu’min Yang Ulul Albab
Ramadhan

Ramadhan Membentuk Mu’min Yang Ulul Albab

Apakah Bangsa Mesir Kuno Mengenal Puasa?
Ramadhan

Apakah Bangsa Mesir Kuno Mengenal Puasa?

Tinggalkan Balasan (Cancel reply)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

Logo FPIB Kecil Web

FPIB (Forum Pelajar Indonesia Bu’uts) merupakan forum sosial yang mewadahi seluruh pelajar Indonesia yang terdaftar di Madinatul Bu’uts Al Islamiyyah.

FPIB © All rights reserved

Kategori

  • News
  • Info

Info

  • Ijroat Adventure Minhah Dakhili
  • Ijroat Adventure Minhah Khoriji
  • Taqdim Minhah

Tentang Kami

  • About FPIB
  • Kontak
Copy