FPIB © All rights reserved
FPIB
  • Home
  • Artikel
  • Opini
  • Esai
  • Info
  • Berita
  • Ramadhan
  • About
Join Grup
FPIB
Join Grup

Fpib

Home / Artikel / Fpib
25Nov

FPIB Gelar Bakti Sosial, Wujud Dedikasi Islam untuk Masyarakat

25 November 2024 buutsfpib Berita 129

Kamis, 14 November 2024 – Forum Pelajar Indonesia Buuts (FPIB) melalui Divisi Hubungan Masyarakat (Humas) sukses menggelar kegiatan bakti sosial sebagai bentuk nyata pengabdian kepada masyarakat. Acara ini terlaksana atas kerja sama dengan lembaga sosial lokal di Mesir, di antaranya Dār Aytam dan Jam’iyah Risalah Li-l-A’mal Khairiyah.

Pada kegiatan bakti sosial pertama, bantuan disalurkan ke Dār Aytam yang berlokasi di Asyir. Sedangkan pada Kamis, 14 November 2024, bantuan disalurkan ke Jam’iyah Risalah Li-l-A’mal Khairiyah yang berkantor di daerah 16 Oktober dengan cabang di Abbas Aqad.

Acara ini berlangsung hanya dalam satu hari, tetapi persiapannya dilakukan dengan matang selama satu minggu. Para anggota FPIB aktif mengumpulkan berbagai donasi seperti pakaian layak pakai, alat tulis, buku bacaan, dan barang-barang lainnya. Dengan penuh semangat, mereka mengemas dan menyalurkan bantuan kepada lembaga yang dituju.

Momen penyerahan bantuan bakti sosial oleh pengurus FPIB

Selain penyerahan bantuan, kegiatan ini juga menjadi ajang untuk mempererat tali silaturahmi dan ukhuwah Islamiyah. Ketua panitia menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan menumbuhkan rasa cinta dan kepedulian antar sesama umat Nabi Muhammad.

“Acara ini adalah bentuk nyata dedikasi nilai-nilai Islam dan pengabdian kami, FPIB, kepada masyarakat sekitar. Kami berharap, FPIB terus menjadi jembatan penghubung, wadah penyalur, serta tangan penebar kebaikan bagi anggotanya dan lingkungan sekitar,” ujar salah satu perwakilan FPIB.

Meskipun persiapan berjalan dengan baik, panitia menghadapi sejumlah kendala teknis yang berhasil diatasi berkat kerja sama tim. Antusiasme anggota FPIB dan masyarakat menjadi kunci kesuksesan acara ini.

Dengan terlaksananya bakti sosial ini, FPIB berharap dapat terus berkontribusi secara aktif dalam kegiatan serupa di masa depan.

Penulis & Editor : Dimas Dwi Gustanto

Read more
15Nov

FPIB Sukses Gelar Short Course Pemikiran Islam di Kairo, Kupas Tantangan Modernitas terhadap Umat Islam

15 November 2024 buutsfpib Berita, Info 151

Kairo, Mesir – Forum Pelajar Indonesia Buuts (FPIB) dengan sukses menyelenggarakan acara bertajuk “Short Course Pemikiran Islam” pada Rabu dan Kamis, 13-14 November 2024. Bertempat di Qo’ah 7 Buuts, kegiatan ini berlangsung dari pukul 14.00 hingga 16.00 CLT dan mendapat antusiasme besar dari para pelajar Indonesia di Kairo.

Acara ini menghadirkan dua tema penting yang relevan dengan tantangan umat Islam di era modern, yakni “Pengantar Orientalisme, Islamic Studies, dan Tantangan Islam di Era Modern” serta “Problem Sekulerisme dan Tantangan Umat Islam.” Kedua topik ini disampaikan secara mendalam oleh dua pembicara yang kompeten, Ustadz Lubab Hud Abdullah, Lc., dan Ustadz Muhammad Aulia Rozaq.

Ust. Lubab Hud Abdullah, Lc. (atas), dan Ust. Muhammad Aulia Rozaq (bawah).

Melalui paparan yang lugas dan interaktif, para pembicara menjelaskan bahwa orientalisme dan sekulerisme adalah dua arus pemikiran yang perlu diwaspadai oleh umat Islam. Kedua ideologi ini sering kali dikemas dalam balutan modernitas yang memikat, sehingga tanpa disadari dapat memengaruhi dan menggerus pemahaman Islam yang autentik. Peserta diajak untuk memahami dampak dari ideologi tersebut serta cara bersikap kritis terhadap pemikiran-pemikiran yang berpotensi menyimpang dari ajaran Islam.

Selain menambah wawasan, acara ini juga menjadi ruang diskusi bagi peserta untuk mendalami tantangan intelektual yang dihadapi umat Islam di tengah derasnya arus globalisasi dan modernitas. Para peserta mengaku sangat terbantu dengan pemaparan yang diberikan dan merasa lebih siap menghadapi perkembangan pemikiran yang kompleks di era kontemporer.

Penyerahan piagam oleh ketua FPIB, Arya Wira Nugraha kepada para pembicara “Short Course Pemikiran Islam”.

FPIB, sebagai penyelenggara, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman keislaman dan membekali para pelajar dengan wawasan kritis terhadap tantangan intelektual. Dengan keberhasilan acara ini, FPIB berencana untuk terus mengadakan program serupa di masa depan guna menjaga semangat belajar dan mengembangkan kapasitas intelektual pelajar Indonesia di Kairo.

Penulis : Dimas Dwi Gustanto

Read more
03Nov

Rubu’ FPIB “Sirah Nabawiyah”

3 November 2024 buutsfpib Berita, Info 142
Ustadz Fajar Ilman Nafi’, pemateri pada kajian kali ini sedang memberikan materi tentang Sirah Nabawiyah.

Buuts, Kairo — Antusiasme warga Buuts terhadap kajian Sirah semakin terasa dengan diselenggarakannya program “Rubu’ Sirah Nabawiyyah” yang dipandu oleh Ustadz Fajar Ilman Nafi’, seorang mahasiswa Prodi Sejarah Peradaban Islam dan penulis buku Mustalahat Imaroh dan Jejak-Jejak Qol’ah. Kegiatan ini direncanakan berlangsung dalam enam pertemuan yang akan digelar setiap hari Sabtu, mulai pukul 20.00 hingga 22.00 WIB, dengan pertemuan perdana pada tanggal 2 November 2024.

Dalam program ini, peserta akan menikmati suasana kajian yang hangat di Sekretariat El-Qudwah, tepatnya di Kamar 42, Imaroh Tolaat. Kajian juga didukung dengan fasilitas seperti papan tulis, snack ringan, dan es teh untuk menambah kenyamanan peserta.

Antusiasme peserta dalam mengikuti kajian Sirah Nabawiyah

Program ini diikuti oleh belasan peserta yang antusias mempelajari sirah lebih mendalam. Salah satu peserta, Iqbal, menyampaikan kesan positifnya, “Materinya keren, pematerinya benar-benar pakar.”

Dengan semangat warga Buuts yang tinggi, diharapkan program kajian Rubu’ Sirah Nabawiyyah ini dapat menjadi wadah inspiratif dalam memperdalam ilmu sirah dan memperkuat kecintaan terhadap sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW.

Penulis : Gaza Satria Lutfi

Editor : Dimas Dwi Gustanto

Read more
03Nov

Upgrading Fotografi FPIB di Syari’ Muiz: Meningkatkan Kemampuan Anggota dalam Seni Fotografi

3 November 2024 buutsfpib Berita, Info 134
Momen kegiatan upgrading fotografi yang bertempat di Syari’ Muiz.

Kairo — Untuk memperdalam keterampilan fotografi para anggotanya, Forum Pelajar Indonesia Buuts (FPIB) melalui divisi media mengadakan kegiatan “Upgrading Fotografi” yang berlangsung di Syari’ Muiz pada Jumat (1/11). Kegiatan ini diikuti oleh sembilan peserta dan dimulai pukul 08.30 hingga menjelang waktu salat Jumat.

Pada sesi kali ini, tiga tutor berpengalaman, yaitu Muhammad Said Nabil, Ibrahim Adham, dan Arya Wira Nugraha, hadir untuk berbagi ilmu seputar teknik dasar fotografi. Materi yang disampaikan mencakup pemahaman tentang segitiga exposure dan komponen-komponen penting kamera, seperti jenis lensa, pengaturan angle, hingga praktik pengambilan gambar.

Para peserta mengikuti acara ini dengan antusias. Selain teori, kegiatan juga diisi dengan sesi sharing di mana peserta dapat berdiskusi dan bertukar pengalaman mengenai dunia fotografi.

Muhamad Soleh, salah satu peserta, menyampaikan kesannya, “Acara Upgrading Fotografi divisi media ini benar-benar menambah wawasan kami soal dunia fotografi, mulai dari pengaturan dasar kamera, segitiga exposure, sampai ke berbagai angle dalam pemotretan. Semoga dengan acara ini kami, khususnya divisi media FPIB, bisa terus mengembangkan skill fotografi kami ke depannya.”

Melalui kegiatan ini, FPIB berharap para anggotanya dapat meningkatkan kualitas dokumentasi dan visual, mendukung kegiatan-kegiatan yang akan datang, dan terus berkarya dalam bidang fotografi.

Penulis : Dimas Dwi Gustanto

Read more
02Nov

FPIB Awali Bulan dengan Gowes Bersama untuk Kesehatan dan Kebersamaan

2 November 2024 buutsfpib Berita, Info 96

Kairo – Jumat, 1 November 2024, Forum Pelajar Indonesia Buuts (FPIB) mengawali bulan dengan mengadakan kegiatan olahraga bersama, yaitu gowes sepeda. Kegiatan ini diikuti oleh 17 anggota FPIB yang terdiri dari 5 orang banin dan 12 orang banat. Acara dimulai pada pukul 07.00 pagi dengan berjalan kaki dari Madinah al-Buuts al-Islamiyyah menuju kawasan Darrasah untuk menyewa sepeda.

Setelah pemanasan dengan jalan pagi, kegiatan gowes dimulai pada pukul 08.30. Para peserta melintasi rute dari Darrasah menuju beberapa ikon Kairo, yaitu Attaba, Ramses, Mamsya Nil, hingga tujuan akhir di jembatan Nil. Selain berolahraga, para peserta dapat menikmati pemandangan indah di sepanjang perjalanan.

Koordinator kegiatan, Muhammad Dura, mahasiswa angkatan Athena, menjelaskan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mempererat tali silaturahmi antar anggota FPIB dan menjaga kebugaran fisik para peserta. “Kegiatan gowes ini merupakan inovasi dari Divisi Kesenian dan Olahraga FPIB Azeemah 2023-2024 yang belum pernah diadakan oleh kabinet-kabinet sebelumnya,” ujar Dura.

Para peserta mengaku bahwa kegiatan ini sangat menyenangkan dan berhasil memperkuat ikatan persaudaraan antar anggota FPIB. Selain itu, pemandangan kota Kairo yang mereka nikmati selama perjalanan memberikan penyegaran tersendiri di tengah kesibukan.

Tempat penyewaan sepeda yang dipilih berlokasi di daerah Gamaliya dan Khadrawi, dengan biaya sewa sebesar 75 LE untuk lima jam pemakaian.

Dokumentasi Kegiatan Gowes Bersama FPIB

Penulis : Gaza Satria

Editor : Dimas Dwi

Read more
31Agu

“Menguak Keindahan Al-Qur’an Melalui Syair: Seminar Maqro Bersama Ustadz Syihab Syaibani, Lc.”

31 Agustus 2024 buutsfpib Berita, Info 117
Penyerahan Piagam oleh Ketua FPIB, Arya Wira Nugraha kepada pemateri, Ustadz Syihab Syaibani, Lc.

Rabu, 28 Agustus 2024, Forum Pelajar Indonesia Buuts (FPIB) bekerja sama dengan Keluarga Mathaliul Falah (KMF) Mesir mengadakan sebuah seminar bertajuk “Seminar Maqro: Memahami Al-Qur’an Melalui Syair” di sekretariat KMF Mesir, Gamaliya, Kairo. Pemateri yang dihadirkan pada kesempatan kali ini adalah Ustadz Syihab Syaibani, Lc., atau yang lebih dikenal di kalangan masisir sebagai Ustadz Beben, sang maestro syair dari Indonesia. Hebatnya, beliau pernah mendapat pujian dari Syekh Fauzi Konate terkait kemampuannya dalam berbahasa Arab. Syekh Fauzi Konate bahkan menyebut bahwa Ustadz Beben sudah memiliki saliqoh arabiy (watak berbahasa Arab asli), menjadikannya hampir seperti penutur asli saat membuat syair dalam bahasa Arab.

Seminar ini diadakan untuk mengenali Al-Qur’an dari segi keindahan bahasanya. Kita tahu bahwa syair adalah tempat berkumpulnya keindahan kata yang dibalut oleh manisnya ilmu balaghah, dan Al-Qur’an berada di puncak tertinggi balaghah. Seseorang tidak akan mungkin mencapai tingkat tertinggi sebelum menapaki tingkat-tingkat sebelumnya. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini FPIB bersama KMF Mesir ingin memperkenalkan kepada para masisir cara memahami keindahan Al-Qur’an melalui syair.

Ketika diwawancarai, salah satu anggota divisi keilmuan FPIB menyatakan bahwa kolaborasi kali ini dilakukan karena pengurus FPIB tidak mendapatkan izin dari amid Madinatul Buuts untuk menggunakan qo’ah yang biasa dipakai untuk seminar. Untuk tetap menjaga semangat memahami Al-Qur’an, FPIB mencari kolaborator untuk tetap melaksanakan seminar yang penting ini. Akhirnya, setelah mengadakan pembicaraan dengan pihak KMF Mesir, FPIB sepakat untuk berkolaborasi dengan mereka.

Seminar diadakan dalam satu hari selama 90 menit, ditambah sesi tanya jawab setelahnya. Adapun peserta yang diundang adalah seluruh masisir yang ingin lebih mendalami keindahan bahasa Al-Qur’an. Salah satu poin penting yang bisa diambil dari seminar ini adalah bahwa mempelajari syair Arab, terutama syair jahiliyah, sangat penting untuk menyingkap beberapa makna Al-Qur’an yang tersembunyi.

Penulis: Gaza Satria Lutfi

Read more
19Mar

Mengapa Kami Berbuka dengan Darah?

19 Maret 2024 buutsfpib Ramadhan 179
picture by: m.rediff.com

Mengapa Kami Berbuka dengan Darah?
Oleh: Mohammad Ghibran Alwi

Sinar pagi jatuh lembut dalam pelukan reruntuhan bangunan Rafah. Darah yang mengering kian terlihat di ujung puing-puing. Hari demi hari, matahari kian merasa bersalah untuk kembali terbit di langit Rafah, sebab, sinarnyalah yang justru membuat raut-raut penderitaan semakin jelas. “Salahkah aku?” pikir matahari, mungkin.

Terdengar alunan merdu Al-Qur’an dari depan tenda yang menenangkan, suara gadis itu menerbangkan jiwa menuju dimensi yang berbeda dari dunia ini, tenang dan damai. Jangan kasihani kami, kami tak butuh belas kasihanmu! Kami adalah pejuang yang tangguh. Jika memang tak ada yang bisa kau lakukan, setidaknya, tengadahkan doa kepada Sang Pemilik Tanah ini dan berbaiksangkalah bahwa kami akan merdeka, suatu saat nanti, meskipun entah kapan.

Matahari mulai meninggi. “Yoseph, oper bolanya ke sini!” seruku sambil berlari ke arah depan gawang mencari celah. Hamparan tanah di samping reruntuhan dekat tenda itu cukup luas, hingga bisa kami jadikan tempat bermain bola untuk 5 lawan 5.

Yoseph adalah teman sebayaku, di umur yang masih 12 tahun dia harus kehilangan kedua orang tuanya. Hal yang memilukan mungkin untuk orang-orang di belahan bumi yang lain. Namun, entahlah, kami sudah sangat terbiasa dengan keadaan seperti ini. Tentu saja kami sedih, tiada hari yang kami lewati tanpa kesedihan. Namun, dunia tetap bergerak, kami harus terus kuat bertahan, setidaknya untuk hidup sampai esok hari, hari dimana kami menyambut bulan suci penuh berkah.

“Goooll!!” teriak Yoseph setelah melihat umpan darinya berhasil kukonversikan menjadi gol.

Kedua orang tuanya meninggal saat mengantre dalam pembagian tepung. Para warga yang bertarung dengan kelaparan dipaksa untuk mengantre kantong-kantong tepung, saat semuanya berkumpul di satu titik, mereka diledakkan.

Apa yang salah dari mencari tepung? Apakah dengan kami memakan roti dari tepung-tepung itu lantas membuat bala tentara mereka tewas? Tidak kan. Kami hanya lapar. Itu saja.

Barangkali, itu adalah tepung termahal yang pernah ada dalam sejarah umat manusia, di mana satu tepung seharga setidaknya 150 orang tewas dan 1000 orang luka-luka.

“Tentara-tentara!” teriak salah satu bapak di depan tenda.

Belum selesai aku berselebrasi atas gol yang membalikkan kedudukan timku pada kemenangan, segerombolan tentara menggunakan mobil tentaranya melintas. Formasi tim berantakan, semuanya kembali ke tenda. “Ah sialan, mengganggu orang main bola saja!” ujarku dalam hati, tentu dengan perasaan panik, karena siapa yang tahu kapan mereka akan menembak?

Suasana mencekam seperti ini sudah berlangsung sejak 155 hari yang lalu. Sudah lebih dari 30 ribu orang syahid dalam pembantaian ini. Tujuan kami saat ini hanyalah bertahan hidup. Kami sudah berpuasa sejak dua bulan yang lalu. Dengan datangnya bulan Ramadhan, setidaknya kelaparan kami menjadi lebih berarti.

Juga, tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku, bagaimana adik dari Husein, teman sebayaku, yang mati dalam keadaan kelaparan dan kurang gizi. Bayangkan, mati karena kelaparan! Sesuatu yang pasti tak pernah terbesit di pikiranmu tentang keadaan kau meninggal. Rahangnya tinggal tengkorak dan terbujur kaku. Mirisnya, aku melihatnya dalam keadaan seperti itu saat aku ingin mengambil jatah roti yang terbuat dari adonan yang dicampur dengan pakan ternak. Alhamdulillah aku masih hidup hingga saat ini dari serangan musuh, kelaparan dan kedinginan.

Namaku Ahmad. Aku asli Gaza dan tumbuh di sana, sebelum tanah kami dirampas dan kami dipaksa untuk mengungsi di Rafah sekarang. Pengungsi yang berada di Rafah kini lebih dari 1,2 Juta. Tinggal di tenda-tenda berbahan plastik di tengah reruntuhan bangunan. Bahkan adonan roti yang dicampur dengan makanan ternak menjadi barang mewah hanya untuk melanjutkan hidup. Listrik tak ada, air hanya dua botol minum sehari, itupun kami bagi-bagi untuk wudhu, minum dan mandi. Sekedar main bola pun tak bisa.

Aku cukup beruntung karena bisa selamat dalam perjalanan ke Rafah bersama kedua orang tuaku dan satu adik perempuanku. Berbeda dengan Yoseph yang kini hanya hidup berdua dengan kakak laki-lakinya. Oh iya, Yoseph adalah seorang kristiani. Aku sering diajak ke gereja, karena pastur di tempat dia biasa beribadah sering membagi-bagikan jajanan untuk anak kecil. Hidup senasib menjadikan persaudaraan kami terasa tanpa sekat, saling bahu-membahu untuk bisa bertahan hidup.

“Ahmad! Ke sini, ada makanan!” Teriak ibuku dari tenda sebelah sambil melambai-lambaikan tangannya bersemangat. “Ajak Yoseph sekalian,” tambahnya.

Tak terasa langit kian meredup. Senja yang berkilau mulai pamit undur diri. Ramadhan telah ditentukan, besok kami puasa, yang artinya malam ini kami akan melaksanakan sholat tarawih berjamaah.

“Thola’al badru alaina…” Anak-anak seusiaku berkumpul dan merayakan datangnya bulan Ramadhan. Pemuda yang memakai topi khas Turki itu memandu kami melantunkan nasyid sembari membagi-bagikan permen. Bendera-bendera Palestina dengan ukuran kecil-kecil dipasang. Semuanya bergembira, seolah lupa bahwa kami sedang bergembira di atas reruntuhan.

Dengan penerangan seadanya dan satu pengeras suara, kami melaksanakan shalat tarawih. Ayahku yang menjadi imam. Suaranya lembut, membacakan ayat “Syahru ramadhanalladzi unzila fiihil qur’an….”  Beberapa terisak saat memasuki ayat “wa idza saalaka ‘ibãdi ‘annii fainnii qoriib, ujiibu da’watad-daa’i idza da’aan, falyastajiibuu lii wal yu’minuu bii la’allahum yarsyuduun.”

Aku hanya berdoa untuk bebasnya tanah kelahiranku dari penjajahan. Aku tak tahu sama sekali soal politik maupun perang, yang aku tahu, aku tak bisa lagi melanjutkan sekolah. Sekolahku telah dihancurkan. Sebagian teman-teman kecilku telah tiada. Sebagian tertimpa reruntuhan, sebagian langsung mati di tempat saat dilepaskan rudal-rudal mereka.

Meskipun hidup dalam suasana yang sangat mencekam, tapi setidaknya kami masih memiliki iman yang bisa kami pegang hingga nafas ini berhenti nanti.

***

“Ahmad, Ahmad, bangun, yuk sahur.” Ayahku membangunkanku. Perapian kecil untuk merebus air dengan punggung ayahku adalah pemandangan pertama setelah aku keluar dari tenda pengungsian.

“Ini, minum air hangat dulu, dingin kan?” kata Ayah sambil memberikan segelas air putih hangat. Aku mengangguk sambil meraihnya.

Kami bertahan di musim dingin tanpa jaket-jaket tebal yang mahal, apalagi penghangat ruangan, bahkan ruangan saja kami tak punya. Angin yang berhembus sangat menusuk hingga ke tulang-tulang. Beberapa hari yang lalu aku bertanya ke salah satu jurnalis di sini yang aku sudah akrab dengannya, namanya Kak Sherin, tentang berapa derajat suhu waktu itu dan kenapa dingin sekali? Dia menjawab 10 derajat. Pantas saja dingin sekali.

Tapi kabar baiknya kami masih memiliki iman yang kokoh, sebaik-baiknya pelindung. Dan air hangat adalah pelindungku kali ini.

“Yah, kenapa kita harus hidup seperti ini?” tanyaku memecah keheningan. Ayahku menghampiriku setelah mematikan perapian itu.

“Seperti ini bagaimana yang kamu maksudkan?” Tanyanya balik.

Aku membiarkan suasana lengang sejenak, sambil memikirkan diksi paling baik yang bisa aku ucapkan. “Kaya, aku main bola saja harus takut sama tentara, kita kedinginan karena tidak punya dinding yang kokoh, aku melihat sendiri adik Husein meninggal dalam keadaan seperti itu. Padahal sekarang adalah bulan di mana umat Islam bergembira, tapi kenapa kita bergembira saja tidak boleh?” Sial, mataku tiba-tiba basah. Pandanganku mengabur.

Ayahku mengelus pundakku, lalu mencium keningku, memberiku kekuatan. Entah, mungkin sisa kekuatannya yang ditransfer ke dalam diriku, semoga kekuatannya tak habis.

“Ini makan dulu, Ahmad,” ibuku tiba-tiba menghampiri kami sambil membopong beberapa roti dan sayuran untuk sahur. Ia lalu duduk di sampingku. Dua manusia yang sangat aku cintai duduk menghimpitku.

“Semoga Allah selalu memberikan kita kekuatan untuk menghadapi ini, Nak. Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.”

Alih-alih menjawab pertanyaanku, ia justru berdoa, menyerahkan pertanyaanku kepada Sang Maha Pelindung. Kini giliran ibu yang mencium keningku dan memelukku. “Allahummarhamhuma,” batinku.

***

Setelah sholat ashar, tiba-tiba di depan tenda ramai dengan jurnalis-jurnalis yang sedang meliput keadaan Rafah saat ini. Ada Kak Sherin juga disana. Anak-anak dikumpulkan untuk diajak bermain bersama mereka, tak terkecuali aku bersama Yoseph dan Husein juga.

Setelah beberapa game yang dipandu oleh para jurnalis itu, lalu Kak Sherin bersama satu jurnalis yang membawa kamera menanyai kami tentang cita-cita kami. Sebuah pertanyaan yang mungkin sangat sering ditanyakan kepada anak-anak. “tapi memangnya kami boleh untuk memiliki cita-cita?” pikirku spontan.

“Apa cita-cita kamu?” tanya Kak Sherin kepada Yoseph.

“Aku ingin menjadi pemain sepak bola profesional seperti Ronaldo!” Jawabnya antusias sambil ‘tos’ dengan kakak kameramen.

“Kenapa pemain sepak bola?”

“Karena aku suka sepak bola,” jawabnya polos. Kak Sherin hanya geleng-geleng melihat tingkahnya.

Lalu ada gadis kecil yang menghampiri Kak Sherin yang langsung disambutnya dengan pelukan. Aku perkirakan dia masih 5 tahunan.

“Dimana ayahmu?” tanya Kak Sherin.

Gadis itu terdiam sejenak. Matanya tiba-tiba berlinang, tak bisa ditahan lagi.

“Ayahku di surga,” jawabnya sambil tersenyum kecil, tentu masih dengan mata yang berlinang.

“Ayahmu di surga? Lalu bagaimana kamu menjalani harimu? Cerita ke Kakak.” Kak Sherin mengelus kepala gadis itu.

“Aku tinggal dengan adik laki-lakiku.” Jawabnya sambil menunjuk ke arah tenda.

“Kenapa kamu bersedih? Kamu pengen apa?”

“Aku ingin semuanya,”

“Bilang lagi coba?”

“Aku rindu roti putih, aku rindu semuanya. Mainanku di rumah sudah tertimbun reruntuhan,”

Kini giliran Kak Sherin yang terisak. Ia peluk erat-erat gadis itu. Tangan gadis itu menggenggam erat tangan Kak Sherin, sepertinya ia ketakutan, mengharap kekuatan.

Gadis itu lalu menarik tangan Kak Sherin menuju tenda adiknya. Bahkan ia meninggalkanku yang belum ditanya tentang cita-citaku.

Sinar senja menyelimuti bumi. Mungkin 15 menit lagi adzan maghrib. Meja-meja kecil di depan tenda-tenda pengungsian disiapkan untuk berbuka. “Ayah sama ibu mau mengantre makanan untuk buka puasa dulu ya, kamu di sini saja tunggu.” Kata ayahku sambil mengelus kepalaku lalu meninggalkanku.

Aku dan anak-anak lainnya sedang mengulang hafalan juz 30 didampingi orang-orang dewasa yang rata-rata mereka hafal Al-Qur’an.

“Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah, irji’ii ila rabbiki radhiyatan mardhiyyah, fadkhulii fii ‘ibaadi, fadkhulii jannatii” (Al-Fajr 89: 27-30)

Buuummmmm

Tanah yang kuinjak bergetar. Semuanya panik keluar dari tenda. Namun, dari tenda kami asal suara rudal itu.

Buuumm buumm

Tiga kali suara rudal jatuh dan ledakan itu memekakkan telinga. Orang-orang berbondong-bondong memeriksa asal suara yang ternyata berasal dari titik dimana orang-orang berkumpul untuk mengantre makanan.

Naluriku bergemuruh, hatiku tak kuasa untuk melihat para korban, tapi otakku mencundangiku untuk tetap mencari yang barangkali di antara korban itu ada yang aku kenal.

Dadaku berdegup kencang sekali, air mataku tak terbendung lagi melihat darah dan jasad para korban yang tergeletak akibat ledakan itu, hingga pandanganku tertuju pada satu arah. Jasad orang sangat aku kenal, sangat aku cintai, ayah dan ibuku.

“Ibuuu!! Ayaaahh!!” Teriakku yang keluar begitu saja tanpa kuperintah.

Aku berlari sekuat tenaga menghampiri, tapi tiba-tiba orang-orang dewasa mencegahku dan membopong jasad mereka berdua. Ketakutanku selama ini akhirnya menjadi kenyataan juga. Padahal kalau boleh, aku berharap kalau aku saja yang lebih dulu meninggalkan mereka. Kak Sherin yang menemukanku langsung memelukku dengan isakannya.

“Allahuakbar allaahuakbar.” Suara adzan berkumandang. Buka puasa pertama kami yang sudah ditunggu-tunggu justru penuh dengan darah.

Malam itu, kami sholat maghrib berjamaah, diteruskan dengan sholat jenazah di hadapan para syuhada’. Pemandangan inilah yang kulihat setiap hari. Kepada siapa kami mengadu jika bukan kepadamu ya Rabb? 

Aku akan tetap melanjutkan hidupku, meski tanpa kedua orang tuaku, seperti anak-anak Palestina yang lainnya. Kalau kebanyakan orang berpikiran tentang nanti berbuka dengan apa, pikiran kami setiap hari hanyalah, “Apakah aku bisa berbuka puasa nanti?”

Aku menceritakan ini semua bukan untuk dikasihani. Aku tak butuh itu, karena aku yakin aku berada di jalan yang benar dan suatu hari nanti bangsaku pasti akan terbebas dan merayakan hari raya idul fitri dengan megah di Masjid Al-Aqsa. Justru imanmulah yang harusnya kamu kasihani. Dengan segala kemewahan, kemudahan, kebebasan dan segalanya, justru tak ada ruang untukmu bersyukur. Lupa caranya sujud dan bahkan berdoa untuk saudaramu pun tak sempat. Apa yang akan kau jawab jika ditanya oleh Allah tentang saudaramu yang sedang dibantai? Apakah setidaknya mereka ada di setiap doa di lima waktumu? Atau bahkan untuk berdoa saja kamu tak sempat?

Aku akan tetap hidup, di antara hidup dan matiku, dengan iman yang akan kubawa sampai ke hadapan Tuhan meskipun nyawa sebagai taruhan. Kami pasti akan menang.

Dari saudaramu, di tanah Palestina, tanah yang segera merdeka.



Editor: Gaza Satria Lutfi

Read more
11Mar

Fenomena dan Tradisi Unik Ramadhan di Negeri Para Nabi

11 Maret 2024 buutsfpib Ramadhan 144
Gambar Oleh: Muhammad Aghisna ‘Aunil Hakim

Fenomena dan Tradisi Unik Ramadhan di Negeri Para Nabi

(Oleh: M. Ilfan Rusyaidi)

Bulan suci Ramadhan merupakan momen yang dinanti-nanti oleh seluruh umat muslim di penjuru dunia. Setiap umat muslim di berbagai tempat menyambut Ramadhan dengan tradisi dan ciri khas yang berbeda-beda. Begitu juga Mesir yang merupakah salah satu negara tertua dengan sejarah peradaban yang begitu panjang. Dalam artikel ini penulis akan berbagi cerita menarik seputar tradisi unik masyarakat Mesir dalam menyambut dan mengisi bulan Ramadhan sehingga memberi kesan tak terlupakan bagi siapapun. 

Berikut beberapa tradisi Ramadhan yang akan kita temukan di Negeri Piramid ini :

Lentera Ramadhan
Lentera Ramadhan merupakan salah satu aksesoris Ramadhan yang berbentuk lampion berwarna-warni, lentera ini juga disebut dengan istilah fanous yang dalam bahasa Arab artinya lampu atau cahaya.  Lampion ini sangat populer dan istimewa bagi masyarakat Mesir, khususnya di bulan Ramadhan. Fanous ramadhan dibuat dengan cara khusus untuk menggabungkan antara cerita rakyat Mesir dengan design yang islami. Lentera-lentera ini akan tergantung di setiap sudut Mesir, seperti di kafe, jalanan, toko-toko, pasar, bahkan di jendela dan balkon rumah masyarakat. Fenomena fanous ramadhan ini sebagai tanda dekatnya bulan Ramadhan dan akan selalu mewarnai setiap sudut Mesir selama bulan Ramadhan berlangsung.

Gambar oleh: Muhammad Al Fatih
Lentera Ramadhan raksasa di komplek Madinatul Buuts al-Islamiyyah

El-Mesaharaty
Tradisi membangunkan sahur merupakan hal yang sering kita temukan di bulan Ramadhan. Penduduk Mesir menyebutnya dengan tradisi El-Mesaharaty yaitu tradisi membangunkan warga untuk sahur dengan menabuh genderang atau drum atau alat-alat lainnya. Kegiatan ini merupakan tradisi kuno yang bermula di negara Mesir kemudian merambah ke berbagai negara Arab bahkan ke negara yang mayoritas penduduknya muslim, salah satunya Indonesia.

El Mesaharty, Hussien, 40, wakes up residents for their pre-dawn meals during the first day of Ramadan in Cairo, Egypt June 6, 2016. REUTERS/Amr Abdallah Dalsh – RTSG7D8

Musa’adah
Tak dapat dipungkiri bahwa Ramadhan merupakan momen umat muslim berlomba-lomba dalam kebaikan, terlebih di Negeri Nabi Musa ini. Dalam hal ini kita akan mendapati antusias masyarakat Mesir dengan berbagai macam bentuk kebaikan; salah satunya tradisi musa’adah. Tradisi musa’adah  adalah kegiatan memberi bantuan berupa makanan pokok ataupun uang tunai dan akan kita temui di berbagai sudut jalanan Mesir. Pada hakikatnya, momen ini tidak mutlak menjadi tradisi Ramadhan karena di bulan lainpun orang-orang dermawan Mesir akan berlomba dalam kebaikan. Namun, pada bulan yang mulia ini, musa’adah akan meningkat hingga 70 % dari bulan biasanya sehingga ini menjadi momen yang dinantikan oleh masyarakat di bulan Ramadhan.

Gambar Oleh: Muhammad Aghisna ‘Aunil Hakim
Pembagian Musa’adah di Masjid Jami’ Azhar

Maidatur Rahman
Berbicara mengenai bulan suci Ramadhan, maka tidak terlepas dari kata sedekah karena dalam hadist Nabi SAW:

أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ صَدَقَةٌ فِيْ رَمَضَانَ

Dan berbicara tentang sedekah, di Negeri Piramida ini ada sebuah tradisi yang bisa di katakan “sangat jarang” di negara lain. Tradisi yang sudah melekat di tubuh masyarakat Mesir ini tidak lain adalah maidatur rahman. Maidatur rahman secara bahasa dapat diartikan sebagai hidangan tuhan. Selain musa’adah Ramadhan,  masyarakat dermawan Mesir juga kerap membagikan makanan untuk berbuka puasa yang disebut maidatur rahman. Mereka menyiapkan dan menyajikan berbagai jenis makanan seperti: nasi daging; ayam; kuftah; isy’; dan makanan berat lainnya. Keistimewaan dari tradisi ini adalah semua jamuan makanan dihidangkan di atas meja panjang  yang berjejer di pinggir jalan di waktu berbuka puasa, jadi siapapun bisa mengikutinya tanpa syarat tertentu. Bahkan Al-Azhar sendiripun menyiapkan 1000 porsi makanan berbuka puasa setiap harinya. Dikatakan bahwa masyarakat Mesir akan menabung selama setahun agar mereka bisa menyiapkan maidatur rahman di bulan Ramadhan. Ini pun menjadi bukti akan kedermawanan masyarakat Mesir.

Meriam Ramadhan
Fenomena unik lainnya yang akan kita temukan di negeri ini yaitu suara meriam yang akan kita dengar saat waktu imsak dan berbuka puasa. Fenomena ini menjadi ciri khas Ramadhan di Mesir yang jarang bahkan tidak kita temui di negara-negara muslim lainnya. Fenomena suara meriam ini merupakan tradisi kuno yang sudah ada sejak abad ke-15. Meriam ini diberi nama hajjah fatima yang merupakan warisan dari Muhammad Ali Pasha, yang menurut sejarah adalah nama putri Utsman Khos Qodam yaitu salah satu penguasa Dinasti Utsmani dan sampai saat ini nama istilah tersebut tetap digunakan oleh masyarakat Mesir sebagai penghormatan kepada hajjah fatima yang telah mengesahkan tradisi tersebut. Tradisi unik ini mencerminkan semangat dan solidaritas masyarakat Mesir dalam menyambut bulan suci Ramadhan.

Qatayef
Berbicara tentang kuliner ramadhan, setiap negara dan tempat memiliki kuliner khas yang biasanya hanya kita temukan di bulan Ramadhan saja. Begitu juga di Negeri Kinanah ini diantaranya adalah Qatayef. Menurut sejarah qatayef adalah salah satu kuliner khas Arab yang muncul sejak akhir dinasti umawi. Qatayef merupakah kuliner khas Ramadhan yang terbuat dari gandum dan biasanya dimakan menggunankan coklat atau kacang. Saat Ramadhan kita akan sering menemukan penjual qatayef di setiap sudut jalan, sehingga kuliner ini menjadi fenomena khas yang hanya kita temui di bulan Ramadhan.

Demikian lah beberapa fenomena dan tradisi unik yang akan kita temui di negeri para nabi ini, sehingga  momen Ramadhan di Mesir ini menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh seluruh lapisan masyarakat muslim.

Editor: Gaza Satria Lutfi

Read more
18Mar

Sport Day FPIB, Damam Syah: Semoga Selalu Menjadi Sarana Penyambung Silaturrahmi

18 Maret 2023 buutsfpib Berita 67

“Alhamdulillah Sport Day bersama FPIB yang pertama berlangsung meriah. Semoga Sport Day ke depannya bisa menjadi sarana penyambung silaturrahmi antar warga FPIB di samping MFD,” ungkap Damam Syah, Ketua I Forum Pelajar Indonesia Bu’uts (FPIB).

Sport Day diadakan pada Sabtu pagi di lapangan Bu’uts (18/03/2023) oleh divisi olahraga dan Bu’uts Sporting Club (BSC) guna mewadahi minat olahraga warga FPIB. Beberapa cabang olahraga seperti voli, sepakbola, handball, catur, dan basket meramaikan lapangan dengan antusias penuh dari para warga FPIB.

“Sebenarnya sasaran utama Sport Day perdana ini adalah anak baru, tapi tadi secara umum bukan hanya anak baru yang ikut, semoga ke depannya semakin antusias,” jelas Ainul Mamnu’ah, Ketua II FPIB.

Ainul menjelaskan bahwa sasaran utama adalah anak-anak baru guna memperkenalkan kekeluargaan FPIB, akan tetapi sebagian dari mereka berhalangan hadir. Kendati demikian, berkat antusias warga FPIB lainnya, Sport Day berjalan Meriah.

Devi Zulaikha dari divisi olahraga dan minat bakat mengatakan bahwa selain pelatihan hadrah, Badminton Day, dan Sport Day, program kerja selanjutnya adalah pelatihan khot dan agenda renang.

“Langkah selanjutnya adalah agenda renang warga FPIB yang InsyaAllah berkawasan di Muqattam untuk banin, dan di Madinat Nasr untuk banat,” ujarnya.

Devi juga mengatakan bahwa agenda pagi ini sangat bernilai karena merupakan suatu ajang untuk membangun miliu hidup sehat, juga merupakan medan silaturrahmi bagi warga FPIB terlebih untuk mengenalkan anggota baru kepada kegiatan FPIB.

reporter: Nidya Al Khairi

editor: Muhammad Aulia Rozaq

Read more
12Mar

Dua Jam Terasa Kurang, Afifah: Next Time Kita Adakan Badminton Day Lagi

12 Maret 2023 buutsfpib Berita 76

“Alhamdulillah warga FPIB semangat sekali, sehingga kita pesan dua jam terasa kurang, InsyaAllah next time kita adakan lagi Badminton Day,” ungkap Afifah Maulidina selaku Ketua II Forum Pelajar Indonesia Bu’uts (FPIB).

Program Badminton Day yang diadakan pada Sabtu (11/03/2023) oleh Divisi Olahraga di Nadi Syabab, Hay Sadis, mendapat antusias penuh dari warga FPIB. Hal itu karena para peminat bulutangkis dapat bermain di lapangan khusus secara gratis, yang mana selama ini mereka hanya bermain di lapangan voli bu’uts.

“Selanjutnya minggu depan kita akan mengadakan Sport Day, kemudian akan ada latihan renang,” jelas Luthfiatul Azizah dari Divisi Olahraga.

Azizah menjelaskan bahwa yang mereka adakan adalah latihan bersama untuk seluruh warga FPIB, sedangkan untuk latihan khusus klub cabang olahraga tertentu akan didampingi oleh badan otonom Bu’uts Sporting Club (BSC).

Selaku bagian dari Divisi Olahraga Azizah berharap latihan-latihan yang diadakan ke depannya tak hanya menumbuhkan minat dan semangat warga FPIB dalam berolahraga, tapi juga menguatkan silaturahmi antar sesama.

“Buat warga ya semoga kedepannya bisa solid terus, terutama kita di tanah orang. InsyaAllah FPIB selalu dinamis dalam pemanfaatan fasilitas di bu’uts demi pengembangan dan pemanfaatan SDM kita sendiri,” jelas Feri Putra Ketua Umum FPIB.

reporter: Nidya Al Khairi

editor: Muhammad Aulia Rozaq

Read more
  • 12
Logo FPIB Kecil Web

FPIB (Forum Pelajar Indonesia Bu’uts) merupakan forum sosial yang mewadahi seluruh pelajar Indonesia yang terdaftar di Madinatul Bu’uts Al Islamiyyah.

FPIB © All rights reserved

Kategori

  • News
  • Info

Info

  • Ijroat Adventure Minhah Dakhili
  • Ijroat Adventure Minhah Khoriji
  • Taqdim Minhah

Tentang Kami

  • About FPIB
  • Kontak