FPIB © All rights reserved
FPIB
  • Home
  • Artikel
  • Opini
  • Esai
  • Info
  • Berita
  • Ramadhan
  • About
Join Grup
FPIB
Join Grup

Puasa

Home / Artikel / Puasa
13Mar

Puasa Sebagai Perisai Pelindung Seorang Muslim

13 Maret 2026 Admin Web FPIB Ramadhan 2
Puasa sebagai pelindung seorang muslim

Oleh: Mohammad Kafanal Kafi

Bulan puasa merupakan bulan yang sangat istimewa bagi umat Islam, terutama bagi kita para mahasiswa Indonesia di Mesir (masisir) yang sedang melangsungkan studi di Negeri Kinanah. Bagaimana tidak, nuansa Ramadan di Mesir ini sangatlah terasa, mulai dari jalanan yang dihias, salat tarawih menggunakan qira’at ‘asyrah, sampai banyaknya maidaturrahman yang seakan turun dari langit. Terlebih lagi di masjid Al-Azhar yang selalu menjadi favorit para masisir untuk berbuka dan melaksanakan salat tarawih setelah seharian melaksanakan ibadah puasa. 

Puasa adalah ibadah yang memiliki sangat banyak hikmah dan keutamaan baik dari sisi medis, sosial, maupun spiritual. Di antara hikmah dan keutamaan ibadah puasa yang akan kita bahas salah satunya adalah puasa sebagai perisai pelindung bagi seorang muslim. Dalam sebuah hadis, Rasulullah S.A.W. bersabda:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ المِسْكِ يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي، الصِّيَامُ لِي، وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

“Puasa adalah perisai. Maka janganlah berkata kotor dan jangan bertindak bodoh. Jika ada orang yang mengajaknya berkelahi atau mencacinya maka hendaklah ia mengucapkan “saya berpuasa” dua kali. Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah S.W.T. daripada wangi minyak kasturi, dia meninggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya karena-Ku. Puasa adalah milik-Ku dan Aku akan membalasnya. Satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipatnya.” (HR. Al-Bukhari) 

Lantas, apa sebenarnya makna جُنَّة (perisai) dalam hadits tersebut? Dalam kamus Lisanul Arab karya Ibnu Manzhur, disebutkan bahwa setiap kalimat yang tersusun dari huruf (ج ن ن) memiliki makna dasar menutupi atau menghalangi. Seperti contoh kata الجِنّ yang berarti dia tertutupi dan terhalangi dari pandangan mata manusia, juga الجَنِيْن yang berarti dia tertutupi di dalam perut ibunya, ataupun المجنون yang berarti tertutup akalnya dan beberapa kata lain yang memiliki akar yang sama.

Sedangkan, kata جُنَّة sendiri memiliki makna: sesuatu yang menghalangi dan melindungi seseorang dari pedang musuh, sehingga makna hadis di atas: puasa merupakan perisai yang melindungi seorang muslim dari serangan musuh yang akan mencelakainya. Akan tetapi musuh yang dimaksud dalam konteks ini bukanlah musuh secara fisik, melainkan hawa nafsunya sendiri.

Sebagaimana yang kita ketahui, hawa nafsu memang diciptakan untuk mengajak manusia pada kesenangan sesaat yang akan berakibat pada kerugian dan kerusakan baik di dunia maupun di akhirat. Maka sudah selayaknya kita sebagai seorang muslim untuk senantiasa berjuang melindungi diri kita dari serangan hawa nafsu ini.

Ketika berpuasa, kita menahan diri dari makan, minum, ataupun bersenggama dengan istri mulai dari terbit hingga terbenamnya matahari. Hal-hal tersebut, yang memang halal dilakukan saat tidak berpuasa, kita malah menahannya bahkan sampai 30 hari berturut-turut saat di bulan Ramadan. Lalu bagaimana mungkin seorang muslim yang mampu menahan diri dari makanan dan minuman halal selama berpuasa, bisa tergoda oleh makanan dan minuman haram? Bagaimana mungkin seorang yang mampu menahan diri dari istrinya sendiri selama berpuasa bisa tergoda oleh perzinaan?

Sungguh ibadah puasa yang kita laksanakan satu bulan penuh di bulan suci Ramadan ini telah menjadi tameng yang kokoh dalam melindungi kita dari nafsu kita sendiri. Ibadah yang mendidik kita untuk selalu berjuang melawan dan mengalahkan hawa nafsu, sehingga kita bisa keluar dari bulan mulia ini dalam keadaan suci dan bersih lagi sebagaimana ketika kita baru dilahirkan ke dunia.

Salah seorang masyayikh Azhar pernah menyampaikan dalam kultumnya di sela-sela tarawih di masjid Madinatul Buuts:

سُئِلَ أَحَدُ المَشَايِخْ مَا هُوَ النَّجَاحُ؟ قَالَ النَّجَاحُ أَنْ تَذْبَحَ نَفْسَكَ بِسَيْفِ الْمُخَالَفَةِ

“Salah seorang masyayikh ditanya, ‘Apa itu kesuksesan?’ Beliau menjawab, ‘Yaitu ketika kamu menebas nafsumu dengan pedang perlawanan’”.

Dengan mengalahkan hawa nafsu dan meninggalkan godaan-godaannya di dunia, maka kita telah menjauhkan diri kita dari murka Allah dan siksa-Nya di akhirat. Dengan melaksanakan puasa juga berarti kita telah menaati perintah-Nya dan berhak mendapatkan rida dan surga-Nya sebagaimana janji yang telah Allah berikan. Jika amal baik saja akan dibalas sepuluh kali lipat, maka entah apa balasan yang Allah S.W.T. siapkan untuk hamba-hamba-Nya yang telah beruntung melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh karena perintah-Nya.

Demikianlah ibadah puasa bisa menjadi perisai pelindung bagi seorang muslim. Ibadah yang tidak ada yang tahu balasan sebenarnya kecuali Allah S.W.T. Semoga kita bisa mendapatkan manfaat dari puasa kita kali ini dan bisa menjadi bagian dari golongan yang beruntung saat berpisah dengan bulan suci Ramadan. Mungkin cukup sekian, semoga bermanfaat.

Read more
11Mar

Ma’idah Ar-Rahman: Ketika Jalanan Mesir Menjadi Hamparan Rahmat

11 Maret 2026 Admin Web FPIB Ramadhan 9
Suasana jamuan makan gratis Maidah Ar-Rahman di Mesir

Oleh: Izzat Isa Ismail
Mahasiswa Universitas Al-Azhar

Ramadan di Mesir bukan sekadar momentum ibadah individual, melainkan peristiwa sosial yang berulang setiap tahun dengan spirit yang sama: menghadirkan kebersamaan. Di bulan ini, ruang publik mengalami transformasi. Jalanan, pelataran masjid, bahkan halaman rumah berubah menjadi ruang berbagi. Salah satu wajah paling khas dari transformasi itu adalah tradisi Ma’idah ar-Rahman.

Secara umum, Ma’idah ar-Rahman adalah hidangan berbuka yang disediakan selama bulan Ramadan untuk kaum Muslimin. Biasanya ditujukan bagi fakir dan miskin, namun dalam praktiknya terbuka bagi siapa pun yang belum sempat tiba di rumah saat waktu berbuka, termasuk musafir atau pekerja. Tradisi ini bukan sekadar fenomena musiman, melainkan jejak historis yang panjang dalam kebudayaan masyarakat Mesir.

Sejarah mencatat bahwa salah satu pelopor jamuan berbuka terorganisir adalah Khalifah Al-‘Aziz Billah Al-Fathimi, yang menyediakannya bagi jamaah jami’ Amr bin Ash1. Dari sana, praktik memberi makan di bulan Ramadan berkembang menjadi budaya sosial yang mengakar dan diwariskan lintas generasi. Secara normatif, semangat ini berakar pada ajaran Islam tentang keutamaan memberi makan. Al-Qur’an menggambarkan orang beriman sebagai: mereka yang memberi makan karena cinta kepada Allah.

(…وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا)

“Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin…” (Al-Insan: 8)

Ayat ini singkat, tetapi dalam konteks Ramadan di Mesir, ia menemukan bentuk sosialnya yang nyata. Sebagai mahasiswa Universitas Al-Azhar yang tinggal di Madinatul Bu’uts (Islamic Mission City), penulis menyaksikan Ramadan bukan sekadar musim ibadah saja, melainkan juga sebagai laboratorium sosial tempat nilai-nilai agama diuji dalam kenyataan.

Di Bu’uts sendiri, Ma’idah ar-Rahman tidak selalu hadir dalam bentuk formal dan besar seperti di pusat kota. Saya pribadi lebih sering mengikuti ma’idah di luar kawasan Bu’uts, termasuk di sekitar Masjid Al-Azhar. Di sana, suasana terasa egaliter. Orang-orang duduk berderet tanpa memandang latar belakang: pekerja, mahasiswa, musafir—semua berbagi ruang dan waktu yang sama. Serta di tempat lain, seperti kediaman Ali Gom’a atau kawasan Jalan Darrasah maupun Abdu Pasha, tradisi ini tetap menunjukkan kesinambungan nilai: ulama dan tokoh masyarakat turut menjaga budaya memberi makan sebagai bagian dari etika Ramadan.

Sebagai mahasiswa kita memang terbiasa membaca teks: menelaah tafsir; mengkaji hadis; serta mendiskusikan hukum dan hikmah. Namun, ketika duduk di salah satu Ma’idah ar-Rahman, saya menyadari bahwa teks tidak berhenti di ruang kelas. Ia turun ke jalan. Ia menjelma menjadi tindakan. Ilmu menjelaskan keutamaannya. Masyarakat mewujudkannya.

Yang menarik, semua itu dilakukan dengan kesadaran sosial yang matang. Meja serta tenda disusun tanpa merampas ruang publik, tempat dirapikan setelah selesai. Kedermawanan berjalan beriringan dengan keteraturan. Tradisi ini bukan sekadar luapan emosi Ramadan, tetapi bagian dari etos sosial yang terpelihara.

Ramadan Menulis, Ramadan Menginspirasi

Inspirasi itu lahir dari perjumpaan antara ilmu dan realitas. Dari ruang kuliah Al-Azhar menuju jalanan Kairo. Dari pembahasan ayat memberi makan menuju sepiring hidangan yang benar-benar dibagikan. Ketika jalanan Mesir menjadi hamparan rahmat, saya belajar bahwa agama tidak hanya dimengerti melalui argumentasi, tetapi juga melalui partisipasi. Nilai-nilai yang kami kaji dalam kitab-kitab klasik menemukan relevansinya justru ketika hadir di tengah masyarakat.

Ramadan akhirnya bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang mengubah lapar menjadi jembatan: jembatan antara ilmu dan amal, antara individu dan masyarakat, antara teks dan kehidupan. Di sanalah, Ramadan benar-benar menginspirasi—diam-diam, tetapi terasa dalam setiap langkah yang memberi dan menerima.

  1.  Al-Arabiya, “قصة موائد الرحمن وأول مائدة افطار في تاريخ مصر,” https://www.alarabiya.net/last-page/2025/03/06/قصة-موائد-الرحمن-وأول-مائدة-افطار-في-تاريخ-مصر. ↩︎
Read more
11Mar

Fenomena dan Tradisi Unik Ramadhan di Negeri Para Nabi

11 Maret 2024 buutsfpib Ramadhan 144
Gambar Oleh: Muhammad Aghisna ‘Aunil Hakim

Fenomena dan Tradisi Unik Ramadhan di Negeri Para Nabi

(Oleh: M. Ilfan Rusyaidi)

Bulan suci Ramadhan merupakan momen yang dinanti-nanti oleh seluruh umat muslim di penjuru dunia. Setiap umat muslim di berbagai tempat menyambut Ramadhan dengan tradisi dan ciri khas yang berbeda-beda. Begitu juga Mesir yang merupakah salah satu negara tertua dengan sejarah peradaban yang begitu panjang. Dalam artikel ini penulis akan berbagi cerita menarik seputar tradisi unik masyarakat Mesir dalam menyambut dan mengisi bulan Ramadhan sehingga memberi kesan tak terlupakan bagi siapapun. 

Berikut beberapa tradisi Ramadhan yang akan kita temukan di Negeri Piramid ini :

Lentera Ramadhan
Lentera Ramadhan merupakan salah satu aksesoris Ramadhan yang berbentuk lampion berwarna-warni, lentera ini juga disebut dengan istilah fanous yang dalam bahasa Arab artinya lampu atau cahaya.  Lampion ini sangat populer dan istimewa bagi masyarakat Mesir, khususnya di bulan Ramadhan. Fanous ramadhan dibuat dengan cara khusus untuk menggabungkan antara cerita rakyat Mesir dengan design yang islami. Lentera-lentera ini akan tergantung di setiap sudut Mesir, seperti di kafe, jalanan, toko-toko, pasar, bahkan di jendela dan balkon rumah masyarakat. Fenomena fanous ramadhan ini sebagai tanda dekatnya bulan Ramadhan dan akan selalu mewarnai setiap sudut Mesir selama bulan Ramadhan berlangsung.

Gambar oleh: Muhammad Al Fatih
Lentera Ramadhan raksasa di komplek Madinatul Buuts al-Islamiyyah

El-Mesaharaty
Tradisi membangunkan sahur merupakan hal yang sering kita temukan di bulan Ramadhan. Penduduk Mesir menyebutnya dengan tradisi El-Mesaharaty yaitu tradisi membangunkan warga untuk sahur dengan menabuh genderang atau drum atau alat-alat lainnya. Kegiatan ini merupakan tradisi kuno yang bermula di negara Mesir kemudian merambah ke berbagai negara Arab bahkan ke negara yang mayoritas penduduknya muslim, salah satunya Indonesia.

El Mesaharty, Hussien, 40, wakes up residents for their pre-dawn meals during the first day of Ramadan in Cairo, Egypt June 6, 2016. REUTERS/Amr Abdallah Dalsh – RTSG7D8

Musa’adah
Tak dapat dipungkiri bahwa Ramadhan merupakan momen umat muslim berlomba-lomba dalam kebaikan, terlebih di Negeri Nabi Musa ini. Dalam hal ini kita akan mendapati antusias masyarakat Mesir dengan berbagai macam bentuk kebaikan; salah satunya tradisi musa’adah. Tradisi musa’adah  adalah kegiatan memberi bantuan berupa makanan pokok ataupun uang tunai dan akan kita temui di berbagai sudut jalanan Mesir. Pada hakikatnya, momen ini tidak mutlak menjadi tradisi Ramadhan karena di bulan lainpun orang-orang dermawan Mesir akan berlomba dalam kebaikan. Namun, pada bulan yang mulia ini, musa’adah akan meningkat hingga 70 % dari bulan biasanya sehingga ini menjadi momen yang dinantikan oleh masyarakat di bulan Ramadhan.

Gambar Oleh: Muhammad Aghisna ‘Aunil Hakim
Pembagian Musa’adah di Masjid Jami’ Azhar

Maidatur Rahman
Berbicara mengenai bulan suci Ramadhan, maka tidak terlepas dari kata sedekah karena dalam hadist Nabi SAW:

أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ صَدَقَةٌ فِيْ رَمَضَانَ

Dan berbicara tentang sedekah, di Negeri Piramida ini ada sebuah tradisi yang bisa di katakan “sangat jarang” di negara lain. Tradisi yang sudah melekat di tubuh masyarakat Mesir ini tidak lain adalah maidatur rahman. Maidatur rahman secara bahasa dapat diartikan sebagai hidangan tuhan. Selain musa’adah Ramadhan,  masyarakat dermawan Mesir juga kerap membagikan makanan untuk berbuka puasa yang disebut maidatur rahman. Mereka menyiapkan dan menyajikan berbagai jenis makanan seperti: nasi daging; ayam; kuftah; isy’; dan makanan berat lainnya. Keistimewaan dari tradisi ini adalah semua jamuan makanan dihidangkan di atas meja panjang  yang berjejer di pinggir jalan di waktu berbuka puasa, jadi siapapun bisa mengikutinya tanpa syarat tertentu. Bahkan Al-Azhar sendiripun menyiapkan 1000 porsi makanan berbuka puasa setiap harinya. Dikatakan bahwa masyarakat Mesir akan menabung selama setahun agar mereka bisa menyiapkan maidatur rahman di bulan Ramadhan. Ini pun menjadi bukti akan kedermawanan masyarakat Mesir.

Meriam Ramadhan
Fenomena unik lainnya yang akan kita temukan di negeri ini yaitu suara meriam yang akan kita dengar saat waktu imsak dan berbuka puasa. Fenomena ini menjadi ciri khas Ramadhan di Mesir yang jarang bahkan tidak kita temui di negara-negara muslim lainnya. Fenomena suara meriam ini merupakan tradisi kuno yang sudah ada sejak abad ke-15. Meriam ini diberi nama hajjah fatima yang merupakan warisan dari Muhammad Ali Pasha, yang menurut sejarah adalah nama putri Utsman Khos Qodam yaitu salah satu penguasa Dinasti Utsmani dan sampai saat ini nama istilah tersebut tetap digunakan oleh masyarakat Mesir sebagai penghormatan kepada hajjah fatima yang telah mengesahkan tradisi tersebut. Tradisi unik ini mencerminkan semangat dan solidaritas masyarakat Mesir dalam menyambut bulan suci Ramadhan.

Qatayef
Berbicara tentang kuliner ramadhan, setiap negara dan tempat memiliki kuliner khas yang biasanya hanya kita temukan di bulan Ramadhan saja. Begitu juga di Negeri Kinanah ini diantaranya adalah Qatayef. Menurut sejarah qatayef adalah salah satu kuliner khas Arab yang muncul sejak akhir dinasti umawi. Qatayef merupakah kuliner khas Ramadhan yang terbuat dari gandum dan biasanya dimakan menggunankan coklat atau kacang. Saat Ramadhan kita akan sering menemukan penjual qatayef di setiap sudut jalan, sehingga kuliner ini menjadi fenomena khas yang hanya kita temui di bulan Ramadhan.

Demikian lah beberapa fenomena dan tradisi unik yang akan kita temui di negeri para nabi ini, sehingga  momen Ramadhan di Mesir ini menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh seluruh lapisan masyarakat muslim.

Editor: Gaza Satria Lutfi

Read more
29Mar

Mendedah Esensi Puasa Ramadan dalam Bingkai Medis

29 Maret 2023 buutsfpib Ramadhan 67

oleh: Ainul Mamnuah

Seperti yang kita ketahui bersama, bulan yang kita tunggu-tunggu kehadirannya telah tiba. Bulan mulia yang akan menaungi kita semua, bulan di mana Allah SWT akan menambah pahala dan karunia, serta di mana Allah SWT akan membukakan pintu-pintu kebaikan bagi manusia yang mendambakannya, yakni bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan merupakan bulan yang mewajibkan umat muslim untuk berpuasa sebagai bentuk ketaatan hamba terhadap Tuhannya.

Sebagaimana yang kita pahami, bahwa diciptakannya manusia di bumi tidak lain ialah untuk beribadah kepada Allah SWT. Oleh karena itu, nilai dan martabat manusia sangat ditentukan oleh kapasitas peribadatannya. Setiap peribadatannya pun memiliki nilai pembentukan moral, dan moral inilah nilainya bagi manusia. Misalnya, berpuasa di bulan Ramadan. Puasa merupakan bentuk dari ibadah yang berguna untuk membina moral seorang hamba. Tersebab puasa yang dilakukan selama satu bulan penuh ini sangat efektif untuk pembinaan moral dan karakter manusia tersebut, apabila dilaksanakan secara ikhlas dan dengan niat semata-mata karena Allah SWT.

Selain sebagai pembinaan moral dan pembentukan karakter manusia, puasa juga memiliki banyak hikmah lain yang bisa kita temukan. Baik itu untuk kesehatan fisik, maupun untuk kesehatan mental spiritual (psikis). Maka, dari sini penulis akan mencoba mendedah bagaimana puasa itu bisa memberikan manfaat terhadap kedua hal tersebut—kesehatan fisik dan mental spiritual.

Tidak bisa dipungkiri jika puasa itu bisa membuat fisik menjadi lemah dan tidak berdaya. Namun, jika ditinjau secara mendalam dari segi kesehatan fisik, maka akan kita temukan banyak manfaat di dalamnya. Seperti halnya sabda Rasulullah SAW, ‘’Berpuasalah kamu, niscaya kamu akan sehat’’. Perihal manfaat puasa terhadap kesehatan fisik pun dapat dibuktikan secara ilmiah, walaupun harus menahan makan dan minum sekitar 12-24 jam.

Apabila seseorang lapar, perutnya akan memberikan refleks ke otak secara fisiologis. Dengan adanya pemberitahuan ke otak tersebut, otak akan merespon dan memerintahkan kelenjar perut untuk mengeluarkan enzim pencernaan. Zat inilah yang kemudian menimbulkan rasa nyeri, terkhusus bagi penderita mag. Sementara bagi orang yang berpuasa rasa sakit tersebut tidak muncul, tersebab otak tidak memberikan perintah kepada kelenjar perut untuk mengeluarkan enzim tersebut.

Meninjau dari penelitian medis, berpuasa terbukti dapat memberikan kesempatan bagi organ pencernaan untuk beristirahat, baik sistem enzim maupun hormon. Dalam keadaan tidak berpuasa, sistem pecernaan dalam perut akan terus aktif mencerna makanan, sehingga tidak sempat beristirahat, ampas yang tersisa pun menumpuk dan bisa menjadi racun bagi tubuh. Adapun ketika tubuh dalam kondisi berpuasa, sistem pencernaan akan beristirahat dan memberikan sel-sel tubuh untuk memperbaiki diri, terutama bagian pencernaan.

Dr. Muhammad Al-Jauhari seorang guru besar dari Universitas Kedokteran di Kairo mengatakan, bahwa puasa dapat menguatkan pertahanan kulit, sehingga dapat mencegah penyakit kulit yang disebabkan oleh kuman-kuman besar yang masuk dalam tubuh manusia. Dalam buku karya Imam Musbikin yang berjudul “Rahasia Puasa” dijelaskan, bahwa puasa juga bisa menghindarkan kita dari potensi terkena serangan jantung, karena kemampuan mengendalikan diri saat berpuasa akan memutus terjadinya peningkatan kadar hormon katekholamin dalam darah.

Dari sini kita dapat menyimpulkan, bahwa kondisi tubuh saat berpuasa itu merupakan keadaan pengistirahatan kinerja organ-organ tubuh, supaya tubuh manusia tersebut tetap stabil. Di lain sisi, kesehatan tidak hanya terkait tentang fisik namun juga bisa terkait dengan kesehatan mental spiritual. Puasa pun bisa berperan sebagai sarana efektif untuk memperbaiki jiwa-jiwa yang hampir terjerumus dalam lubang-lubang kemungkaran serta menyucikan diri dari segala dosa. Dalam artian, puasa dapat mengangkat seseorang yang telah berkubang dalam maksiat menuju fitrahnya sebagai manusia.

Selain itu, puasa dapat menjadi sarana untuk latihan, supaya seorang hamba mampu mengendalikan diri, menyesuaikan diri, serta sabar terhadap dorongan-dorongan atau rangsangan agresivitas yang mucul dari dalam diri manusia. Menurut Prof. Dr. H. Dadang Hawari seorang Psikiater Indonesia serta dosen di fakultas kedokteran Universitas Indonesia mengatakan, bahwa dalam setiap diri manusia terdapat naluri berupa dorongan agresivitas yang bentuknya bermacam-macam, seperti agresif dalam hal emosional, misalnya mengeluarkan kata-kata kasar, tidak senonoh, dan menyakitkan hati orang lain.

Oleh karena itu, salah satu ciri dari jiwa yang sehat yakni terletak pada kemampuan seseorang dalam mengendalikan diri. Pengendalian diri ini sangat penting terhadap kesehatan jiwa, sehingga daya tahan mental dalam menghadapi berbagai stres atau gangguan kehidupan meningkat karenanya. Tersebab saat berpuasa, kita banyak berlatih perihal kemampuan menyesuaikan diri terhadap tekanan tersebut dan hasilnya kita akan menjadi pribadi yang lebih sabar dan tahan terhadap berbagai tekanan kehidupan.

Walhasil, puasa Ramadan selama sebulan penuh ini memiliki banyak hikmah atau manfaat yang terkandung di dalamnya. Di mana hikmahnya tidak hanya berputar tentang hal-hal yang berbau tasawuf atau nilai-nilai agama, namun juga menjamah lingkar medis.

Editor: Muhammad Aulia Rozaq

Read more
23Mar

Tiga Derajat Orang Berpuasa, Begini Kata Imam Al-Ghazali

23 Maret 2023 buutsfpib Ramadhan 66

Oleh: Muhammad Aulia Rozaq

Ramadhan merupakan bulan yang sangat dinantikan oleh umat Islam di seluruh belahan dunia. Bagaimana tidak? Di bulan tersebut pahala dilipatgandakan, pintu neraka ditutup rapat, pintu surga dibuka luas, dari orang yang biasa saja di bulan-bulan lainnya, tiba-tiba berubah menjadi orang yang rajin beribadah, yang paling ajib, ada sebagian orang yang berkelakuan bak Abu Jahal, tiba-tiba berubah menjadi orang yang paling rajin dan taat beribadah.

Kendati demikian, Ramadhan tidak boleh hanya dipandang sebagai euforia saja, ia harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Berbicara mengenai amal sholeh, hal yang harus diutamakan tentunya amal ibadah puasa itu sendiri, sebab banyak orang lalai dan tidak memperhatikan shaumnya, sehingga ibadahnya hanya menghasilkan lapar dan dahaga saja. Pahalanya digerogoti dosa-dosa, sejak terbit fajar diisi oleh ghibah, mencela, dan lain sebagainya. Hingga terbenamnya matahari yang tersisa hanyalah lelah, haus, dan lapar saja.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui derajat orang yang berpuasa guna mengukur diri, sejauh mana kita berpuasa? Dan harus seperti apa kita berpuasa. Dalam hal ini, Imam Al-Ghazali menuliskan bab khusus dalam kitabnya Ihya ‘Ulumiddin dengan tajuk “Fi Asrāris s-Shaum wa Syurūthul l-Bāthinah” [Penjelasan mengenai Rahasia-rahasia Shaum dan Syarat-syarat Samarnya]. Beliau menyatakan bahwa orang yang berpuasa terbagi menjadi tiga derajat. Pertama, shaumul l-‘umūm (puasa orang pada umumnya), yakni menahan perut dan kemaluan dari melakukan perbuatan yang didasarkan pada syahwat.

Kedua, shaumul l-khusūs (puasa orang tertentu) yaitu menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan-perbuatan dosa.

Ketiga, shaumu khusūsul l-khusūs (puasanya orang paling khusus dan tertentu), maka puasanya orang-orang ini adalah puasanya hati dari hasrat-hasrat yang hina dan pikiran-pikiran duniawi, mencegah hati dari selain Allah secara menyeluruh, dan puasanya orang-orang ini batal ketika memikirkan sesuatu selain Allah, dalam artian memikirkan sesuatu yang bukan karena Allah dan cenderung menyebabkan keterikatan hati seorang hamba pada selain dari-Nya. Jenis puasa ini adalah puasanya para Nabi, Shiddiqīn, dan para Muqorrobīn.

Adapun puasanya orang-orang shalih adalah jenis puasa yang kedua, yaitu puasanya orang tertentu, mengapa demikian? Sebab tidak semua orang berpuasa mampu mencapai derajat ini. Imam Ghazali kemudian melanjutkan bahwa kesempurnaan dalam derajat yang kedua ini terdiri dari enam perkara.

Pertama, ghadul l-bashar (menundukan pandangan) baik bagi laki-laki ataupun perempuan, serta mencegah meluasnya pandangan pada sesuatu yang tercela dan dibenci, dalam hal ini termasuk juga pandangan pada sesuatu yang menyebabkan hati sibuk dan berpaling dari mengingat Allah.

Kedua, menjaga lisan dari ocehan-ocehan, berbohong, ghibah, adu domba, perkataan keji, perkataan kasar, permusuhan dan debat kusir. Maka dalam hal ini diwajibkan diam, dan diwajibkan pula untuk menyibukkan diri dengan dzikir dan tilawah Al-Qur’an.

Ketiga, mencegah pendengaran dari menyimak sesuatu yang tidak bermanfaat dan tidak disukai Allah.

Keempat, mencegah sisa anggota tubuh dari perbuatan-perbuatan dosa, semisal tangan dan kaki dari perbuatan yang tidak disukai Allah, mencegah perut dari syubhat ketika berbuka puasa, sebab tidaklah bermakna puasa jika bersahur dengan yang halal namun berbuka dengan yang haram.

Kelima, memperbanyak makan makanan yang halal ketika berbuka puasa, sebab dengan memakan makanan yang halal, puasa orang tersebut akan menjadi berkah dan menjadi sebab tercapainya ridho Allah SWT.

Keenam, terakhir, agar hatinya selalu bergantung kepada Allah setelah berbuka puasa, – maksudnya – hendaknya dia menggantungkan hatinya kepada Allah dengan diisi dengan harapan dan ketakutan akan kebesaran Allah SWT, seraya berkata “Apakah puasaku ini diterima oleh Allah? Ataukah puasaku ini ditolak sebab aku tergolong pada golongan yang dimurkai?”

Demikian pembahasan Imam Al-Ghazali mengenai derajat orang yang berpuasa, dari sini kita bisa mengukur harus seperti apa kita berpuasa, Cukupkah hanya dengan menahan dahaga dan lapar? Atau kita berjuang dan berjihad pada hal yang melebihi kedua itu, yakni menjaga diri dari setiap perkara dosa agar dapat mencapai ridho-Nya semata.

editor: redaktur

Read more
01Mar

Probo Susanto: “Jika Seorang Melihatnya, Maka Satu Indonesia Bershaum”

1 Maret 2023 buutsfpib Ramadhan 67
“Jika satu orang melihatnya (hilal), maka cukup dengan itu, satu Indonesia bershaum,” terang Muhammad Probo Susanto dalam menjelaskan poin-poin penting pada bab pertama dari kitab Ithaful Anam biahkami Shiyam, sebagai pemateri dalam gelaran perdana (28/02/2023) pada kajian Ruwaq Bu’uts yang kali ini diselenggarakan di Gedung Sembilan, 608, Bu’uts Banin.
 
Pada gelaran RUBU’ kali ini, pemateri memulai bahasannya dengan membaca pembuka kitab (muqodimah), lalu dilanjutkan dengan pembacaan dan pembahasan bab pertama mengenai “Fil kalāmi ‘an ikhtilāf al-Mathāli’ wa Ittihadihā”.

“Kalau seandainya di Mesir nih, Dar al-Ifta mengatakan bahwa besok itu shaum, maka jelas hukumnya di sini, wajib bagi semua (yang berada di Mesir) untuk bershaum,” jelas beliau

Fatih Khaufi selaku penanggung jawab kegiatan menjelaskan bahwa pemateri merupakan seorang yang tidak lagi diragukan keilmuannya, “…Pemateri merupakan seorang yang mumpuni dalam bidangnya dan sudah bermulazamah dengan pentahqiq kitab tersebut, sehingga tidak diragukan lagi keilmuan beliau..,” ungkap Fatih. 

Adapun target dari kegiatan ini, Fatih menjelaskan, “agar para peserta mampu mendalami kembali hukum-hukum puasa hingga permasalahan kontemporer seputar shaum.”

Reporter : Muhammad Aulia Rozaq
Editor: Redaktur
Read more
Logo FPIB Kecil Web

FPIB (Forum Pelajar Indonesia Bu’uts) merupakan forum sosial yang mewadahi seluruh pelajar Indonesia yang terdaftar di Madinatul Bu’uts Al Islamiyyah.

FPIB © All rights reserved

Kategori

  • News
  • Info

Info

  • Ijroat Adventure Minhah Dakhili
  • Ijroat Adventure Minhah Khoriji
  • Taqdim Minhah

Tentang Kami

  • About FPIB
  • Kontak