Oleh: Mohammad Arif Baroya (mahasiswa Kedokteran universitas Al-Azhar Cairo Mesir)
I.Hidup Sehat sebagai Mahasiswa Diaspora di Mesir
الصحة تاج على رؤوس الأصحاء لا يراها إلا المرضى
“Kesehatan layaknya sebuah mahkota di atas kepala orang-orang yang sehat, yang tidak akan terlihat kecuali oleh orang yang sedang sakit.”
Ungkapan ini mungkin sudah sering kita dengar kala menuntut ilmu dulu. Bahkan masih sering kita temui hingga saat ini.
Sebagai mahasiswa yang belajar dan tinggal jauh dari tanah kelahiran, kesehatan menjadi salah satu hal yang paling penting untuk diperhatikan. Di Mesir ini kita punya segudang kesibukan: kuliah, organisasi, kegiatan sosial, bepergian, belum lagi berbagai urusan pribadi yang harus diselesaikan sendiri. Hari-hari terasa sangat padat, dan tanpa sadar kesehatan sering diabaikan.
Padahal, sebagai mahasiswa diaspora di Mesir, kita dituntut untuk beradaptasi dengan banyak hal: cuaca, kualitas udara, jenis makanan, begitu juga dengan pola hidup yang kita jalani sekarang.
Indonesia secara umum dikenal dengan dua musim, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Udara yang kita rasakan juga cenderung lembap. Di Mesir, kondisinya berbeda. Negara ini mengalami empat musim, meskipun hanya musim panas dan musim dingin yang paling terasa bagi kita yang tinggal di sini, terutama di Kairo. Udara yang lebih kering juga membuat kulit sebagai pelindung kita yang pertama kehilangan kelembapannya, sehingga sering mengalami pecah-pecah, dan mudah terkena infeksi bakteri.
Tantangan hidup di Mesir ternyata bukan hanya berasal dari lingkungan.
Terkadang kita sendiri sering menjadi bagian dari masalahnya. Jadwal makan yang berantakan, tidur yang kurang, terlalu lama duduk belajar, dan jarang berolahraga.
“Santai aja kali, orang masih muda.”
Kalimat seperti ini mungkin terdengar sepele. Tapi kalau terus diulang, tubuh juga yang akhirnya membayar. Akhirnya apa?, jatuh sakit, dan “terpaksa” istirahat. Jadi mau istirahat sendiri atau dipaksa “istirahat”?
Sebagai Tholibu-l-Ilmi, kesehatan adalah salah satu modal penting yang kita bawa dalam perjalanan ini. Sebanyak apa pun target yang ingin dicapai, semuanya akan menjadi mustahil, jika tubuh tidak berada dalam kondisi yang prima.
Karena itu, menjaga kesehatan bukan berarti mengurangi produktivitas. Justru sebaliknya. Kita ingin tetap bisa belajar, beraktivitas, dan berkontribusi tanpa mengorbankan kesehatan tubuh sendiri.
II.Menjaga Pernapasan di Tengah Udara Mesir
Salah satu hal yang tidak asing pada kehidupan sehari-hari kita di Mesir adalah debu dan buruknya kualitas udara.
Bagi mahasiswa yang setiap hari bepergian, berjalan kaki, menggunakan transportasi umum, atau beraktivitas di luar ruangan, paparan terhadap debu dan asap kendaraan hampir sulit dihindari. Terlebih ketika melewati jalan dengan lalu lintas yang padat.
Pada waktu atau kondisi tertentu, udara bisa terasa jauh lebih buruk. Debu lebih banyak, kendaraan lebih padat, dan asap lebih terasa. Bagi sebagian orang, kondisi seperti ini bisa memicu batuk, iritasi pada mata atau saluran pernapasan, bahkan memperburuk keluhan pernapasan yang sudah ada.
Hal sederhana yang kita bisa lakukan adalah mengenakan masker ketika keluar, terutama saat kualitas udara sedang buruk atau ketika kita berada di kawasan yang banyak debu dan asap kendaraan.
Bagi teman-teman yang memiliki masalah atau masalah pada saluran pernapasan, tentu perlu lebih memperhatikan kondisi tubuh. Jika muncul batuk, sesak, atau iritasi saluran pernapasan yang semakin berat, jangan dianggap sepele, segeralah ke dokter untuk berobat.
Prinsipnya sederhana:
Kalau udara sedang buruk, jangan memaksakan diri. Gunakan masker, kurangi paparan diluar ruangan, dan berikan perlindungan terbaik bagi tubuh. Mengenakan masker memang tidak secara mutlak menyelamatkan kita dari masalah polusi. Tapi sebagai langkah sederhana, penggunaannya dapat membantu mengurangi terhirupnya paparan terhadap partikel berbahaya di udara.
III.Jangan Sampai Lupa Minum
Mesir punya cuaca yang panas dan kering. Dalam kondisi seperti ini, kebutuhan cairan menjadi sesuatu yang tidak boleh kita abaikan.
Masalahnya, mahasiswa sering terlalu fokus dengan aktivitas. Berangkat kuliah, pindah tempat, mengurus organisasi, belajar, lalu tiba-tiba sadar bahwa dari pagi belum banyak minum.
Padahal tubuh sudah memberikan sinyal dehirasi: mulut terasa kering, kepala mulai pusing, badan terasa lemas, urine menjadi lebih gelap. Kadang kita baru sadar setelah tubuh benar-benar terasa tidak nyaman.
Karena itu, biasakan membawa air minum ketika bepergian. Buatlah kebiasaan sederhana sebelum keluar kamar dengan memeriksa tiga hal:
HP, dompet (termasuk iqomah ya), dan botol minum.
Kebiasaan kecil seperti ini justru yang paling mudah dipertahankan dalam kehidupan mahasiswa yang serba cepat.
IV.Makan Seadanya Boleh, Asal Jangan Terlalu Sering
Kesibukan juga sering membuat urusan makanan menjadi nomor sekian.
Ada kuliah pagi, kemudian ada kegiatan organisasi di kekeluargaan, lalu pulang sudah sore. Akhirnya tidak sempat mengambil makan di dapur, lalu pilihan makanan jatuh pada apa yang paling cepat, dan mudah didapat yang biasanya tinggi natrium dan karbohidrat.
Hal seperti ini tentu sangat manusiawi. Kita tidak harus memiliki pola makan yang sempurna setiap hari.
Yang penting, secara keseluruhan kita tetap berusaha memenuhi kebutuhan tubuh. Usahakan ada sumber karbohidrat, protein, serta sayur atau buah dalam makanan sehari-hari. Makanan yang tinggi gula, garam, dan minyak juga sebaiknya tidak menjadi pilihan utama terlalu sering.
Jadi, bukan soal harus makan “sempurna”. Yang lebih penting adalah punya pola makan yang cukup, seimbang, dan realistis untuk dijalani sebagai mahasiswa.
V.Tidur Bukan Waktu yang Terbuang
“Masih ada tugas.”
“Besok ada kuliah.”
“Sekalian begadang saja lah.”
Kalau mahasiswa punya kalimat favorit, mungkin tiga kalimat ini termasuk dalam daftar di urutan teratas.
Tidur sering menjadi hal pertama yang dikorbankan ketika jadwal sedang padat. Padahal, setelah seharian belajar dan beraktivitas, tubuh membutuhkan waktu untuk memulihkan diri.
Kurang tidur juga bisa membuat kita sulit berkonsentrasi dan akhirnya belajar menjadi tidak efektif. Kita memang berhasil menambah beberapa jam untuk mengerjakan tugas, tetapi belum tentu kualitas pekerjaan kita ikut bertambah.
Karena itu, sebisa mungkin buat jadwal tidur yang teratur. Hindari begadang jika memang tidak diperlukan dan kurangi konsumsi kafein seperti kopi atau minuman energi saat mendekati waktu tidur, karena tentu akan membuat sulit tidur.
Tidak semua tugas harus diselesaikan dengan mengorbankan waktu istirahat.
Istirahat bukan berarti malas. Kadang, tidur adalah bagian dari persiapan untuk kembali berjuang besok.
Jangan Lupa Menggerakkan Tubuh
Menjaga kesehatan tidak berarti kita harus pergi ke gym setiap hari.
Jalan kaki ke kampus, stretching setelah duduk lama, olahraga ringan bersama teman, atau aktivitas fisik lainnya tetap berarti. Yang terpenting adalah tubuh tidak terus-menerus berada dalam posisi yang sama sepanjang hari.
Kita sering menghabiskan berjam-jam duduk membaca muqorror, mengerjakan tugas di laptop, atau menulis tesis. Lama-lama tubuh terasa pegal, tetapi tetap saja kita lanjutkan karena masih ada yang harus dipelajari dan masih ada goal yang harus dikejar.
Sesekali berdirilah. Jalan sebentar. Lakukan stretching.
Sederhana, tetapi tubuh kita membutuhkannya.
VI.Kesehatan Mental Juga Perlu Dijaga
Ada satu hal yang kadang lebih sulit terlihat daripada sakit secara fisik, yaitu kondisi mental. Menjadi mahasiswa diaspora berarti hidup jauh dari keluarga dan lingkungan yang sudah kita kenal sejak lama. Kita harus beradaptasi dengan tempat baru, bahasa, budaya, sistem pendidikan, tuntutan akademik, hingga kehidupan sosial.
Ada hari-hari ketika semuanya terasa baik-baik saja.
Ada juga hari ketika rasanya ingin pulang.
Homesick, tekanan di kuliah, kesibukan organisasi, atau sekadar merasa lelah dengan rutinitas bisa dialami oleh siapa saja. Dan tidak semua masalah harus kita hadapi sendirian.
Tetaplah jaga komunikasi yang baik dengan keluarga di Indonesia. Cari teman yang bisa diajak berbicara. Luangkan waktu untuk melakukan hal-hal yang kita sukai, meskipun hanya sebentar.
Yang juga penting, jangan merasa malu untuk meminta bantuan.
Jika suatu masalah sudah mulai mengganggu aktivitas sehari-hari dan terasa sulit untuk ditangani sendiri, berbicara dengan orang yang dipercaya atau mencari bantuan profesional bukanlah tanda bahwa kita lemah. Justru itu merupakan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.
VII.Kebersihan Dimulai dari Hal yang Sederhana
Menjaga kesehatan juga tidak bisa dipisahkan dari kebersihan.
Cuci tangan sebelum makan dan setelah beraktivitas di luar. Perhatikan kebersihan makanan, dapur dan tempat makan. Jaga kamar dan tempat tinggal tetap bersih.
Kebiasaan-kebiasaan seperti ini memang terlihat sepele. Tapi justru karena sederhana, kita sering meremehkannya.
Ketika sedang sakit, jangan merasa harus tetap memaksakan diri untuk beraktivitas seperti biasa. Berikan tubuh waktu untuk beristirahat. Jika penyakit yang dialami berpotensi menular, membatasi kontak dengan orang lain juga merupakan bentuk kepedulian kepada teman-teman di sekitar kita.
Kita hidup bersama sebagai masyarakat. Apa yang terjadi pada diri kita juga bisa berdampak kepada orang lain.
Jangan Tunggu Sampai Parah
Sebagai mahasiswa, mungkin kita pernah mengalami sesuatu seperti ini:
“Nanti juga sembuh sendiri.”
Untuk penyakit ringan, mungkin memang begitu. Tubuh memiliki kemampuan untuk recovery sendiri. Namun, ada beberapa kondisi yang sebaiknya tidak kita abaikan.
Jika mengalami sesak napas berat, nyeri dada, demam tinggi yang lama, tanda dehidrasi berat, penurunan kesadaran, atau gejala yang semakin memburuk dan tidak kunjung membaik, segera cari pertolongan medis, jika belum sempat ke rumah sakit, minimal periksakan diri ke dokter buust. Paling tidak bisa mendapatkan pertolongan pertama
Kita tidak perlu menunggu sampai kondisi benar-benar parah.
Mengenali kapan harus berhenti, beristirahat, dan mencari bantuan juga merupakan bagian dari menjaga kesehatan.
Sehat adalah Bagian dari Perjuangan. Pada akhirnya, hidup sehat sebagai mahasiswa diaspora tidak harus dimulai dengan perubahan besar. Kita bisa mulai dari hal yang sederhana.
VIII.Protect. Hydrate. Rest.
Ada tiga prinsip dasar yang bisa kita biasakan:
Protect: lindungi diri dari debu, udara yang buruk, dan lingkungan yang kurang sehat.
Hydrate: cukup minum dan perhatikan apa yang kita makan.
Rest: tidurlah yang cukup dan berikan tubuh waktu untuk beristirahat.
Kita datang ke Mesir bukan sekadar untuk tinggal di negeri orang. Kita datang untuk belajar, menuntut ilmu, mengejar cita-cita, dan membawa pulang sesuatu yang bermanfaat untuk negeri kita tercinta, Indonesia.
Perjalanannya mungkin panjang. Akan ada ujian, organisasi, kegiatan, dan banyak hal lain yang menunggu.
Jangan sampai dalam perjalanan mengejar tujuan dan mimpi, kita malah lupa menjaga diri sendiri.
karena pada akhirnya, menjaga kesehatan bukan sesuatu yang menghambat perjuangan kita, melainkan bahan bakar untuk mencapainya. Mari belajar dengan sungguh-sungguh. Beraktivitas sesuai kemampuan kita. Berkontribusi untuk sekitar. Dan jangan lupa, di tengah semua kesibukan itu, tetap jaga tubuh yang telah menemani kita sejauh ini.
Terimakasih sudah membaca, dan stay safe ya..
Lihat kualitas udara di Mesir
Baca lebih lanjut perihal durasi istirahat
Sering ovt? Coba ikuti psikotest dari satu persen ini (bukan iklan ya), siapa tahu bisa menjadi solusi awal dari masalah yang selama ini membayangimu


